
Perlahan Siclandus, mendekati seketika buku itu, mengeluarkan sinar yang sangat menyilaukan matanya.
"Aaaagh, apa ini? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Siclandus mencoba mengambil, namun tangannya terasa hangus terbakar.
"Oooogh, damn...!!!"
"Apa ini? Kenapa aku baru melihatnya? Apakah ini yang dikatakan oleh Duffon, saat dia akan menutup mata?"
"Aaaaagh....!!!"
Secepat kilat Siclandus berlari mencari keberadaan Solenne dan Luisa. Dia berteriak sepanjang lorong istana.
"Luiiissaaa....!" suara bariton Siclandus menggema, hingga seluruh pengawal terlonjak kaget.
"Ada apa Pangeran?" sapa pengawal berdiri didekatnya.
Siclandus terlonjak kaget, "bawa Gabriel turun kebawah!" perintahnya.
"Baik Pangeran."
Pengawal melakukan tugas, sesuai perintah. Dia membawa Gabriel menuju kamar Luisa sang permaisuri.
Luisa yang mendengar teriakan Siclandus, sedikit kesal dan penasaran. Tampak tangan kanannya memerah, bahkan terlihat seperti luka bakar.
"Ada apa denganmu Pangeran?" Luisa meniup pelan telapak tangan suaminya.
Siclandus menarik tangannya, "aku melihat buku peninggalan kerajaan kepemimpinan Pangeran Masson, tapi kenapa aku tidak bisa menyentuhnya?"
Solenne dan Luisa saling menatap, "Pi, apakah itu buku yang harus disentuh oleh orang suci? Atau mungkin oleh wanita masih virgin?"
Siclandus mengangguk mengerti, "apa kamu bisa menyentuhnya?"
Solenne menggeleng, tanpa menjawab.
"Gabriel, dia belum memiliki kekasih, berbeda denganku."
Siclandus dan Luisa hanya bisa menelan ludah, atas kejujuran putri keduanya.
"Ya, aku yakin Gabriel bisa menyentuhnya, karena dia sangat berbeda denganmu!"
Siclandus kembali berteriak kepada para pengawal, yang masih berada dilantai dua istana. Suara pria berwajah sadis namun memiliki kharisma itu kembali menggema di tiap sudut istana.
"Papi....!" Solenne menggeleng kesal.
Siclandus tertawa tipis, "pergi keruangan ku. Kita akan melihat buku itu bersama. Aku yakin, semua ini ada kaitannya dengan masa reinkarnasi."
Luisa dan Solenne semakin terkejut, tidak mengerti.
"Reinkarnasi?" tanya mereka bersamaan.
Saat Gabriel dibawa keluar dari lantai dua, mereka bergegas menuju ruangan pribadi milik Siclandus.
Benar saja, cahaya yang menyilaukan mata, hanya dapat disentuh oleh Gabriel yang masih virgin diusianya 24 tahun.
Perlahan wanita yang berkharisma itu, membuka kemasan berbahan kayu, namun lembut dan kaku. Terlihat jelas tulisan sedikit membingungkan.
Gabriel sangat menguasai sejarah, mencoba mengeja dan menguraikan secara rinci.
Seketika Solenne seperti merasakan sesuatu, saat nama Thustan kembali diucapkan oleh Gabriel.
Révolution française, adalah suatu periode sosial radikal dan pergolakan politik di Kerajaan yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Prancis dan lebih luas lagi, terhadap Eropa secara keseluruhan.
Revolusi ini merupakan salah satu dari revolusi besar dunia yang mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Monarki absolut yang telah memerintah Kerajaan selama berabad-abad runtuh dalam waktu tiga tahun.
Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrat dan Gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip baru, Liberté, égalité, fraternité atau bisa disebut, kebebasan, persamaan dan persaudaraan.
Ketakutan terhadap penggulingan menyebar pada monarki lainnya di seluruh Eropa, yang berupaya mengembalikan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat. Pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi terus terjadi selama dua abad berikutnya.
Di tengah-tengah krisis keuangan yang melanda beberapa wilayah kerajaan, Pangeran Masson dari Kerajaan Bordeaux naik takhta, begitu juga dengan Thustan dari Kerajaan Canbrai.
Pemerintahan Kerajaan Canbrai yang tidak kompeten semakin menambah kebencian rakyat terhadap monarki. Didorong oleh sedang berkembangnya ide pencerahan dan sentimen radikal, Revolusipun dimulai dengan diadakannya pertemuan Etats-Généraux.
Tahun-tahun pertama Revolusi Kerajaan Bordeaux diawali dengan diproklamirkannya Sumpah Lapangan oleh Gounelle kala itu, diikuti dengan serangan terhadap Kerajaan Bastille, Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara dan mars kaum wanita di Marseille yang memaksa istana kerajaan pindah kembali menjadi Bordeaux.
Beberapa tahun kedepannya, Revolusi Kerajaan Bordeaux didominasi oleh perjuangan kaum liberal dan sayap kiri pendukung monarki yang berupaya menggagalkan reformasi.
Sebuah negara republik didirikan, dan Kaisar Thustan dieksekusi mati saat pemakaman Paduka Raja Frithestan.
Perang Revolusi Kerajaan Bordeaux dimulai dan berakhir dengan kemenangan dalam kepemimpinan Masson secara spektakuler.
Bordeaux berhasil menaklukkan semenanjung Italia, Negara-Negara Rendah, dan sebagian besar wilayah di sebelah barat Rhine-prestasi terbesar di Kerajaan Prancis selama berabad-abad.
Secara internal, sentimen radikal Revolusi berpuncak pada naiknya kekuasaan Kaisar muda Thustan, Daniel, dan kediktatoran virtual oleh Komite Keamanan Publik selama Pemerintahan Teror.
Selama periode ini, antara 16.000 hingga 40.000 rakyat Kerajaan Canbrai tewas. Setelah jatuhnya Daniel dan pengeksekusian sang kaisar muda Thustan.
Bordeaux mengambil alih kendali Kerajaan, lalu ia digantikan oleh Konsulat di bawah pimpinan Keturunan berikutnya.
Revolusi Bordeaux telah menimbulkan dampak yang mendalam terhadap perkembangan sejarah Modern.
Pertumbuhan republik dan demokrasi liberal, menyebarnya sekularisme, perkembangan ideologi modern, dan penemuan gagasan perang total adalah beberapa warisan Revolusi Bordeaux untuk Prancis.
Peristiwa berikutnya yang juga terkait dengan Revolusi ini adalah Perang Napoleon, dua peristiwa restorasi monarki terpisah, Restorasi Bordeaux dan Canbrai, serta dua revolusi lainnya yang melahirkan sebuah reinkarnasi pada seorang Kaisar diabad masa depan.
"Reinkarnasi....?"
Mata mereka saling menatap.
"Apakah Thustan mengetahui tentang ini?" Gabriel menatap Solenne penuh selidik.
Solenne menggeleng, tampak seperti memikirkan sesuatu, "entahlah, jika memang dia reikarnasi kenapa tidak terlahir dari keluarga kaya? Melainkan dia terlahir dari keluarga yang sederhana, bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang masa lalu. Berbeda dengan Papi."
Gabriel masih menyesiasati, satu persatu yang dia ingat tentang Thustan.
"Ya, aku yakin. Dia akan datang kesini, untuk menanyakan tentangmu. Apakah Thustan mengetahui bahwa kamu sudah kembali ke Bordeaux?" Gabriel terus menerus mengajukan pertanyaan pada Solenne.
"Hmm, Petrus dan Joshua yang membawa ku kesini? Apakah Daniel juga merupakan reinkarnasi?" Solenne semakin penasaran.
Gabriel menatap Siclandus, "aku yakin, ini adalah kenyataan pahit, bahwa kita akan mengalami kehancuran jika tidak dapat mengatasi peperangan ini."
Tentu Siclandus menarik nafas panjang, melihat kearah putrinya bergantian.
"Berperang melawan siapa? Apakah Thustan siap melawan Daniel dan Papi? Jika dia memang mampu untuk melakukannya, silahkan. Ini hanya kebetulan. Bukan kenyataan, Papi yakin bahwa kita adalah Kerajaan terkuat yang tidak mudah dihancurkan dari dulu hingga sekarang, bahkan selama lamanya." Sombongnya Siclandus dihadapan istri dan anaknya.
Jedeeeer.....⚡⚡
Bunyi petir terdengar sangat jelas didalam istana, setelah pria paruh baya itu, menyombongkan dirinya sebagai penguasa kerajaan hingga saat ini.
Tentu Luisa menepuk bahu Siclandus, "jangan begitu, nanti kamu mati seperti Pierre dan tidak bisa hidup lagi, hingga 200 tahun kemudian, untuk menjalani kutukan."
Solenne dan Gabriel terdiam, merasakan sesuatu yang aneh, saling menatap.
__________