Reincarnation of the Emperor

Reincarnation of the Emperor
Mengingat masa lalu



"Cepat....! Katakan siapa yang membunuh kedua orang tuaku!!?" teriaknya.


Joshua susah payah menelan ludahnya, menahan Thustan agar tidak melakukan hal itu pada mereka berdua.


"Cepat katakan...!!!"


Petrus menatap tajam kearah Thustan, yang dengan tega akan menghujamkan pisau kecil pada leher Joshua.


"Dengar... kami tidak tahu siapa pelaku pengeboman dikediaman mu. Kami hanya ingin merebut Gabriel dan Solenne. Tolong, jangan sakiti Joshua sahabat ku."


Petrus memohon ketakutan, wajahnya tampak panik, merasakan akan kehilangan Joshua didepan mata kepalanya.


"Sruup....!"


"Arrrgh....!"


Joshua bersimbah darah karena hujaman pisau kecil ditangan Thustan.


"Kau....!"


Petrus mundur selangkah, namun.


"Sruuup....!"


"Arrrgh...!"


Thustan benar-benar membelah perut Petrus yang mengeluarkan darah karena sabetan pisau kecil merobeknya.


Dor... dor... dor...!


Terdengar suara tembakan dari arah luar, membuat Thustan bergegas meninggalkan kediamannya.


"Brengsek... itu pasti orang suruhan Herald Tribune. Dasar pemimpin pengkhianat! Aku akan membalasnya."


Thustan berlari melalui jendela dimana Solenne dan kedua sahabatnya berlari dengan sangat cepat, menuju stasiun kereta tempat yang telah dijanjikan.


.


Sementara ditempat yang berbeda, ketiga orang itu terus berlari kencang, meniti jalanan sepi dan melewati lorong sempit, membuat nafas Solenne dan Gabriel terasa sangat sesak.


Leonal menoleh kebelakang, melihat kedua gadis itu dengan nafas terengah, "Cepat... sebelum kita ditangkap oleh orang suruhan Kerajaan Bordeaux."


Gabriel menatap kearah Leonal, dadanya terasa sangat sesak, bahkan sangat menegangkan, "Bagaimana? Apa kamu masih kuat untuk berlari? Cepat, nanti mereka menemukan kita...!"


Solenne kembali berlari kencang mendekati Leonal yang masih menunggu dihadapannya.


"Cepat... lari!!"


Tidak berapa lama mereka lari dengan wajah bercucuran keringat, bahkan membuat nafas kedua wanita itu tersengal-sengal, mereka tiba di stasiun kereta Marseille.


"Tunggu....! Kita bersembunyi disini, sambil menunggu Thustan!"


Leonal menarik tangan Gabriel dan Solenne, memilih bersembunyi di balik pilar stasiun yang dikelilingi para tentara militer Prancis.


"Shiiit...! Ternyata kita telah dikepung, dan kita harus melakukan penyamaran. Gabriel, kamu masuk kedalam butik itu, belikan beberapa penutup kepala, agar tidak diketahui oleh mereka."


Leonal memberi perintah pada Gabriel, diangguki oleh wanita cantik itu.


Gabriel memasuki sebuah butik, yang menjual selendang, bahkan perhiasan wanita, membeli beberapa pernak pernik untuk menutupi wajah cantik putri kerajaan Bordeaux untuk segera meninggalkan Marseille.


BRAAAK....!


BHUUUUG...!


Gabriel terjatuh kelantai setelah menabrak seorang pria berwajah tampan.


"Sory Nona...! Apakah kamu Gabriel?" pria berwajah tampan itu membantu Gabriel, menatap lekat wajah cantik gadis yang ada dihadapannya.


Gabriel menyipitkan kedua matanya, menatap lekat wajah tampan itu. Wajah kejam, namun tidak tampak kejam, karena tertutup oleh kebaikan yang terpancar dari wajahnya.


Masson menatap iris mata biru Gabriel, "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Atau jangan-jangan kita memiliki hubungan, tapi aku tidak dapat mengingat dengan jelas. Sepertinya kamu sedang terburu-buru, apakah kamu akan menemui seseorang?"


Gabriel mencari-cari keberadaan Solenne, tentu Masson seperti kembali ke masa lalu saat melihat gadis rupawan nan cantik semakin mendekatinya dengan langkah sangat cepat.


"Apa kamu terluka, sis?"


Solenne menghampiri Gabriel dan menatap kearah Masson.


Mereka bertiga saling bertatapan, wajah cantik dan tampan bertatapan bergantian, namun Masson benar-benar seperti kembali ke masa lalu.


"Apakah kamu Solenne?" Masson menatap lekat bola mata indah milik Solenne.


Solenne mengangguk, mengerutkan keningnya, mencoba mengingat siapa pria yang ada dihadapannya, "Apakah anda mengenal saya, Tuan?"


Masson mengangguk, dia seperti mengenal dekat dua wanita ini, "Siapa mereka? Apakah aku seperti dejavu? Apakah mereka benar-benar pernah hadir di kehidupanku? Tapi kapan? Aku tidak pernah bertemu mereka sebelumnya.


Thustan memasuki stasiun Marseille, dengan langkah tergesa-gesa, menghampiri Leonal. Kepala yang dia tutupi dengan topi, kaca mata hitam, dan masker menutupi wajahnya, membuat para prajurit militer Prancis tidak mengenalinya.


"Mana Solenne dan Gabriel?"


Thustan membuka kaca mata hitam yang menghiasi wajah tampannya, mencari keberadaan dua gadis cantik putri kerajaan Bordeaux.


Leonal menunjuk telunjuk kanannya kearah Gabriel dan Solenne yang masih berbicara dengan pria asing yang tidak mereka kenali.


"Siapa laki-laki itu Leonal? Jangan sampai mereka dekat dengan orang asing. Aku khawatir mereka akan dijebak, karena aku telah menghabisi orang suruhan Kerajaan Bordeaux."


Pernyataan Thustan sontak membuat Leonal terkejut, "Are you crazy? Bagaimana jika Pangeran Siclandus mengetahui jika orang mereka mati ditangan mu? Ini akan mengancam kita!"


Thustan tidak mengindahkan peringatan Leonal, dia bergegas menghampiri dua wanita tersebut, dengan sangat cepat.


Thustan menatap wajah Masson, dia menautkan kedua alisnya, "Apakah anda Pangeran Masson?"


Masson mengangguk, namun dia membalas dengan wajah penuh selidik, "Apa kamu mengenal dua wanita ini, Tuan? Siapa anda? Bagaimana kamu bisa mengenaliku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


Thustan hanya membuka kaca mata, membuat Masson benar-benar tidak bisa berucap. Wajahnya mirip dengan Thustan, apakah dia Thustan putra Kerajaan Canbrai?


Masson menyentuh kepalanya, dia tidak mampu mengingat dengan sangat jelas, "Ooogh shiit... kenapa kepala ku sakit sekali?"


Gabriel yang menyaksikan Masson tiba-tiba akan tumbang, dia menahan pria itu, dibantu oleh Thustan dan Leonal.


"Cepat, bawa dia naik keatas. Kita harus segera meninggalkan Marseille."


Thustan memberi perintah pada Leonal, dia justru menarik tangan Solenne agar ikut dengannya, melalui jalan yang berbeda. Thustan memberikan selendang biru dikepala Solenne, memakaikan kaca mata hitam, dan masker biru untuk menutupi wajah cantik gadis tersebut.


"Apakah kita akan selamat sampai Italia? Aku tidak mau berpisah denganmu! Jangan tinggalkan aku, baby!"


Thustan tersenyum, memeluk tubuh kekasihnya, bergegas menaiki eskalator segera meninggalkan Marseille.


Namun saat mereka tengah menanti kereta dipintu yang berbeda, Thustan dikejutkan dengan suara tembakan dilantai bawah tanah. Semua orang yang berada distasiun menjadi lebih ketakutan, bahkan ada yang terjatuh direl kereta.


"Tolong... tolong anakku! Tolong anakku, Tuan!" teriak seorang wanita yang tampak panik melihat putra kesayangan ada direl kereta, yang sebentar lagi menunjukkan kereta akan tiba di rel yang sama.


Dengan sangat cepat Thustan dan Leonal menolong anak kecil itu, disambut oleh Masson dan Gabriel yang menanti diatas.


Wanita paruh baya itu menunduk hormat, mereka seperti kembali kemasa lalu yang sangat mencekam. Wajah wanita itu seketika tampak ketakutan, saat Thustan membuka kaca mata dan menatapnya dengan lekat.


"Apakah kamu Thustan? King dari Kerajaan Canbrai?"


Pertanyaan wanita paruh baya itu, mengingatkan ke-tiganya pada masa lalu yang sama sekali tidak pernah teringat, bahkan jauh dari kata mengingat.


"Apakah saya salah orang? Maaf, saya tidak mengetahui siapa Anda. Terimakasih Tuan!"


Wanita itu pergi meninggalkan mereka dengan wajah ketakutan. Melihat berkali-kali kearah belakang, dengan penuh rasa penasaran.


"Siapa mereka? Aku seperti mengenal mereka!"