Reincarnation of the Emperor

Reincarnation of the Emperor
Nekat...



Herald menepuk pipi Thustan, "Jika cinta itu memang ada. Saya yakin, cintamu adalah cinta yang tidak mungkin untuk bersatu. Kamu mengerti? Ingat, saya bisa melacak dimanapun kamu berada."


Deg,


Thustan terdiam.


Herald Tribune dan semua ajudan meninggalkan kediaman Thustan, namun pria tegap itu meminta para prajuritnya untuk memata-matai kediaman yang terletak tidak jauh dari kantor kesatuan mereka.


"Kamu jaga Thustan Boulanger. Kawal gerak gerik anak itu...! perintah Herald pada Ajudannya.


"Siap komandan...!" hormat Ajudan, memilih berpencar, mengatur strategi mereka.


.


Thustan memasuki kamar melihat dua wanita yang tengah meringkuk ketakutan. Dia bergegas mendekati Solenne kemudian memeluk tubuh gadis yang sangat dicintai.


"Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu. Sekarang bersiap siap, dan pergi melalui jendela yang sudah aku persiapkan untuk kalian," Thustan mengecup lembut bibir Solenne.


Gabriel dan Leonal hanya menelan salivanya, melihat kemesraan kedua insan yang saling mendecap mesra.


"Uuuugh..."


Gabriel menarik nafas panjang, bergegas dia menunju kamar mandi, sementara Leonal memilih keluar dari kamar.


Suara decapan kedua insan saling merindu, sangat menggangu konsentrasi kedua insan yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hmmm, kasihan sama Gabriel," Leonal tersenyum tipis, melirik wanita yang masih terlihat tenang akan memasuki kamar mandi.


Namun, tanpa disadari Leonal, Gabriel yang tidak bisa menghilangkan rasa penasaran dan jenuhnya. Dengan sangat berani wanita bertubuh ramping, melebihi kecantikan Solenne adiknya, mencium bibir pria yang tengah duduk disofa tanpa mampu berkata-kata, ataupun meminta.


Sontak Leonal membelalakkan matanya, saat bibir Gabriel mendarat dengan lembut, tanpa berbicara perasaan.


"Hmm, please... maaf, saya tidak bisa melanjutkan ciuman ini!" Leonal menolak tubuh Gabriel yang sudah duduk dipangkuannya.


Wajah Gabriel memerah, menahan rasa malu karena telah berani melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.


"Kenapa? Apa aku tidak penting bagimu? Bagaimana jika kita mulai hubungan ini dengan serius? Aku sangat menginginkannya," mohon Gabriel menahan rasa panas yang menyeruak didalam tubuhnya.


Leonal tampak bingung dan serba salah, "Apakah dengan bercinta kita akan menjadi lebih dekat? Apa kamu tidak takut, jika semua yang kita lakukan itu adalah sebuah kesalahan? Kamu terlalu nekat untuk memulai dengan pria yang baru kamu kenal, seperti aku."


Gabriel terdiam, wajahnya seketika memerah menahan rasa malu.


"Aku mengagumimu sejak pertama kali bertemu, namun aku hanya bisa jujur pada Solenne, aku tidak pernah merasakan jatuh hati. Satu lagi, kami melarikan diri dari kerajaan, agar tidak melanjutkan perjodohan kami yang sangat membingungkan. Jika aku atau Solenne menikah dengan Daniel, itu bentuk satu kehancuran untuk Kerajaan Bordeaux," Gabriel menyandarkan tubuhnya lebih dalam lagi.


Gabriel menarik nafas panjang, "Jika kamu tidak menginginkan aku, aku akan bersiap-siap sebelum mereka keluar dari kamar dengan keringat yang membasahi tubuh," tawanya menggelengkan kepala.


Leonal hanya tersenyum melihat tingkah laku Gabriel. Dalam hati pria itu, ada bentuk ingin melanjutkan cerita mereka, namun dia takut kehilangan dalam memperjuangkan hubungannya suatu hari nanti.


"Apa mungkin aku akan melakukannya dan harus berhadapan dengan Siclandus sang Pangeran Kerajaan Bordeaux?" Leonal masuk kedalam pikirannya sendiri.


Cukup lama mereka Leonal dan Gabriel saling bercerita, menunggu pasangan kekasih Thustan dan Solenne keluar dari kamar pribadi milik mereka, sambil menikmati sarapan pagi yang disediakan oleh Leonal untuk gadis cantik putri kerajaan Bordeaux.


"Bagaimana? Apa kamu menyukai masakan ku?" Leonal mengambil sepotong roti yang berisikan daging sapi bakar dilapisi keju mozzarella, menyuapkan kemulut Gabriel.


Gabriel menatap wajah tampan Leonal, membuka mulutnya, dengan tersipu malu, "Hmm, ini lezat sekali. Bahkan lebih lezat dari masakan Kerajaan Bordeaux. Koki kami hanya seorang ibu rumah tangga, yang biasa membuat ayam bakar kampung dan daging domba yang sangat besar."


"Kenapa kamu tertawa? Apakah aku salah telah menceritakan tentang koki kerajaan kami?" Gabriel memajukan bibir mungilnya, melirik kearah Leonal dengan tatapan manja.


Leonal menggelengkan kepalanya, "Aku menertawakan mu gadis manja. Bukan koki kerajaan. Jika kokimu tidak bisa memasak, kenapa tidak kamu saja yang melakukannya? Itu akan lebih baik, bahkan sangat menyenangkan."


Gabriel mengangguk setuju, memperlihatkan jemari indahnya yang tampak halus, karena tidak biasa melakukan pekerjaan rumah.


Keduanya hanya bercerita panjang lebar, bahkan Leonal beberapa kali menggedor pintu kamar sahabatnya.


Setelah menunggu lebih kurang tiga jam, kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu keluar dengan wajah segar walau tampak lelah.


Mereka saling tersipu malu, enggan membahas hubungan Gabriel dan Leonal.


"Bagaimana jika kita berangkat sekarang?" Leonal menatap lekat wajah Thustan.


Thustan mengintip dijendela, merasakan sesuatu yang semakin berbahaya.


Bergegas dia membawa ketiga orang yang sangat penting bagi hidupnya, melalui jendela dapur, menjelaskan pada ketiga insan itu, untuk menunggunya distasiun.


"Aku akan mengurus mereka yang diluar, kalian segera tinggalkan tempat ini, hati-hati."


Thustan memasangkan masker dan kacamata hitam diwajah Solenne, dibalut jaket kulit hangat, karena cuaca Marseille Prancis sangat dingin.


Solenne tampak ketakutan, "Aku tidak ingin berpisah darimu, baby. Jangan biarkan aku pergi bersama mereka. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


Thustan menangkup wajah Solenne, "Dengar honey, aku akan segera menyusul kalian ke Santo Stefano. Jika aku tidak datang pukul 11.00, silahkan pergi, aku akan segera menemui mu."


Solenne memeluk erat tubuh pria yang sangat dia cintai, kehangatan dari Thustan yang dia rasakan, mampu memberikan kenyamanan dan kedamaian dalam hatinya.


Thustan membuka jendela, membantu ketiga orang itu meninggalkan kediamannya, menuju Santo Stefano Italia. 


Thustan menyandarkan tubuhnya di dinding dapur, mengusap lembut wajahnya, menarik nafas dalam. Ada kekhawatiran dalam hatinya, untuk menyelamatkan seorang putri Kerajaan Bordeaux.


"Bagaimana jika kedua putri kerajaan itu tertangkap oleh pengawal Bordeaux? Aku yakin, Leonal akan ditembak mati oleh salah satu pengawalnya."


Saat Thustan masih larut dalam lamunannya, pintu rumahnya didobrak paksa oleh Petrus dan Joshua.


Thustan memilih bersembunyi, dibalik pintu kamar mandi, menahan nafas agar tidak mengeluarkan suara. Senjata api berada dipinggang, dan pisau berigi siap ditancapkan keotak kedua pria yang menerobos masuk.


Saat nafas berburu perlahan, telinganya mendengar ejekan dari pengawal kerajaan, membuat hatinya semakin merasa tidak nyaman, dan tersulut emosi.


"Aku tidak menemukan keberadaan Solenne dan Gabriel, apakah mereka telah meninggalkan kediaman laki-laki brengsek ini? Pantas Pangeran Siclandus tidak menyukai pria itu, ternyata dia adalah Pierre Boulanger ternyata sahabat Pangeran. Tapi kenapa pria itu tidak mati bersama Pierre?" Petrus dan Joshua saling berbisik pelan, namun dapat didengar oleh Thustan.


Thustan yang mendengar penuturan pengawal Kerajaan Bordeaux, dengan gerakan cepat memutar kepala Petrus dihadapan Joshua.


"Ulangi sekali lagi, jika tidak aku akan mengirim mu ke neraka!" Thustan meletakkan pisau kecil itu, tepat dileher Petrus.


"Cepat....! Katakan siapa yang membunuh kedua orang tuaku!!?" teriaknya.


Joshua susah payah menelan ludahnya, menahan Thustan agar tidak melakukan hal itu pada mereka berdua.


"Cepat katakan...!!!" 


***