
Duuaaar... duuaaar...
Duuuuar...
Sebuah ledakan terdengar sangat dahsyat dari kamar Pierre dan Anelle.
Situasi lantai empat, tampak seperti sebuah tempat tinggal cukup luas. Menjadi sore sangat tragis, seketika semua hancur berkeping-keping karena serangan tidak terduga, berasal dari kamar utama milik Pierre dan Anelle. Kedua pasangan suami-istri itu seketika hancur tidak berbentuk, ledakan yang sangat besar memporak porandakan tata ruang kediaman Boulanger.
Kamar putra kesayangan, yang terkena imbasnya, mengalami hal yang sama. Namun Thustan dan Solenne berhasil selamat, mereka hanya terkena serpihan kaca.
Bergegas Thustan mencari keberadaan Pierre dan Anelle, betapa terkejutnya dia melihat beberapa bagian tubuh yang hancur, dengan kobaran api masih menyala.
"Mamiiii.....!!!"
"Papiiii...!!!"
Teriak Thustan terdengar menggema hingga kelantai bawah. Semua sistem dikediaman Boulanger seketika tidak berfungsi. Lift tidak menyala, bahkan tidak terdengar tanda tanda ada kehidupan dilantai dasar tempat produksi roti seperti biasa.
Thustan seorang militer terbaik, tidak habis akal, dia mengambil seutas tali yang tersedia dikamarnya, menyambung dengan sehelai seprei kamar, menurunkan kelantai dasar untuk mencari bantuan.
Seluruh warga yang mendengar kejadian itu, membantu dua insan masih tersisa, untuk turun dari lantai empat.
Solenne tampak ketakutan, namun berusaha untuk tenang menghadapi semua yang baru mereka alami.
Setelah Solenne dipastikan selamat oleh Thustan, pria bertubuh tegap itu melihat tubuh kedua orangtuanya, yang hancur karena ledakan yang tidak disangka-sangka.
"Siapa pelakunya? Aku akan mencari tahu, dan membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuaku!" Thustan menggeram, hingga buku buku tangan pemuda itu tampak memutih.
Thustan bergegas meninggalkan kediamannya, membawa semua keperluan yang masih tersisa, dengan gerak cepat, dia turun melalui jalan yang sama dengan Solenne.
Semua orang, termasuk Leonal menghilang, tanpa tahu keberadaannya, "dimana para pekerja Papi? Apakah mereka mengetahui siapa yang meledakkan kedua orangtuaku?" Thustan bergumam sendiri, matanya liar mencari keberadaan Solenne.
"Dimana gadis itu? Kenapa dia menghilang?" Thustan semakin tersulut emosi.
Team pemadam kebakaran tiba, setelah beberapa warga meminta agar Keluarga Boulanger mendapatkan bantuan.
Pasukan militer turut berperan penting, dalam membantu mengeluarkan tubuh kedua orangtua Thustan, yang hancur karena ledakan.
Thustan kembali menangis, saat melihat dua kantong jenazah, yang merupakan keluarga dicinta, membuatnya menjadi lupa diri.
Tiba tiba pria tampan itu hanya diam, saat tiba disalah satu rumah sakit. Wajah penuh luka, bahkan tanpa dia rasakan, bahu dan kaki mengalami cedera luka cukup parah. Namun lebih perih hati seorang anak yang kehilangan kedua insan yang dicinta, tanpa sebab musabab yang pasti.
Dibenak pria bertubuh tegap itu, pelakunya adalah Solenne. Yang berpura-pura baik, kemudian menyakiti keluarganya, atas perintah Siclandus.
.
.
Team kesatuan militer Prancis, memberikan bela sungkawa atas meninggalnya Pierre Boulanger dan Anelle Boulanger. Semua keluarga dari Boulanger yang mengetahui kejadian ini, turut hadir saat memberikan penghormatan terakhir. Beberapa karangan bunga belasungkawa, dikirim kerumah duka Marseille Prancis.
Thustan menatap dua peti mati dihadapannya, wajah tampan itu kembali memerah, hatinya menunggu iktikad baik dari Solenne. Namun hanya Leonal dan beberapa pekerjaan keluarga Boulanger yang turut hadir saat peti akan tertutup.
Seorang Pastor Katolik, merupakan salah satu kerabat dekat Pierre mendekati Thustan disudut ruangan.
"Bagaimana kabarmu?" Tepuknya pada pundak Thustan.
Thustan menatap sedikit tersenyum tipis, "yah, aku baik Pastor. Aku tidak menyangka akan menghadapi semua kejadian ini. Aku akan mencari tahu, siapa pelakunya. Saat ini kami sudah mendapatkan beberapa bukti, hanya saja masih dalam penyelidikan."
Thustan mendengus dingin, "jika anda mengalami kejadian seperti ini, saya pastikan, anda akan mencari keberadaan orang terdekat anda Tuan Pastor. Karena sudah dua hari aku disini, hanya pekerja Boulanger yang turut hadir. Sementara orang terdekat ku, wanita yang aku anggap kekasih, dia menghilang tanpa jejak."
"Aku akan membuat perhitungan!" seketika kedua bola mata nan teduh, berubah menjadi memerah menatap penuh kesatu arah yaitu peti jenazah.
"Tenanglah, kedua orang tua mu sudah bahagia di surgaNya."
Pastor menepuk pundak nan kokoh itu, kemudian berlalu, untuk segera memakamkan pasangan suami istri, yang berjanji sehidup semati.
.
.
Di Bordeaux, Pangeran Siclandus sangat terkejut, saat mendengar sahabatnya meninggal dunia dalam waktu yang sangat cepat. Berita yang dia dapatkan melalui Joshua dan Petrus, menyulut api amarah dihatinya. Saat melihat putri keduanya berada berdiri didepan Siclandus dan Luisa.
"Solenne...!" peluk Luisa pada putri kesayangannya.
"Mamiii...!" Solenne membalas pelukan Luisa.
Siclandus yang melihat putrinya kembali ke Bordeaux karena ditarik paksa oleh Petrus, akhirnya kembali kekerajaan meninggalkan Thustan sendiri dalam kedukaan yang dalam di Marseille.
Betapa bahagianya sang pangeran, melihat Luisa kembali tersenyum sumringah.
"Papi... Apakah Papi yang telah membunuh Tuan Pierre dan Nyonya Anelle?" teriak Solenne pada Siclandus.
Sontak pertanyaan itu, membuat tangan kekar Siclandus mengepal kuat.
"Kenapa kamu menuduhku? Aku hanya memberi kabar padanya, tentang pernikahan Gabriel dan Daniel yang akan kita adakan sehari lagi. Jika aku mau, aku akan membunuh kalian semua yang berada di kediaman Boulanger si pembuat roti itu!" Siclandus membela diri.
Solenne seketika mengingat, semua kejadian hari itu. Dalam pelukan Luisa, dia mencoba mengenang semua kejadian. Namun memory otaknya seketika mengalami perubahan.
"Kenapa aku tidak mengingat kejadian itu?" Solenne bergumam dalam hati.
Luisa terus mengusap manja, kepala sang putri, mencium wajah cantik Solenne. Entah mengapa, dia sangat menyayangi Solenne dibandingkan dengan Gabriel sang putri pertama.
Gabriel yang semakin keras kepala, membuat pihak kerajaan sedikit kewalahan menghadapi putri tercantik Siclandus.
Perlahan Luisa membawa Solenne kekamar miliknya, untuk mengobati semua luka yang membekas, karena serpihan kaca, bercerita semua kejadiannya, saat pertama kali berkencan dengan Thustan Boulanger sang cinta pertama.
Siclandus pergi kesebuah kamar pribadinya, untuk menangis sendiri, menenangkan pikiran dan hatinya, tanpa diketahui siapapun.
Air matanya masih mengalir karena kesedihan yang teramat dalam, karena belum pernah bertemu dengan Pierre semenjak mereka berpisah.
Matanya tertuju pada satu buku tebal, terbuat dari kulit kayu, dan masih dapat dibaca dalam penulisan yang tidak dimengerti oleh orang awam. Peninggalan kerajaan kepemimpinan Masson di abad delapan belas, berdebu disudut kanan lemari buku yang sangat besar dan kokoh, yang menjadi peninggalan Kerajaan Bordeaux sebelumnya.
Perlahan Siclandus, mendekati seketika buku itu, mengeluarkan sinar yang sangat menyilaukan matanya.
"Aaaagh, apa ini? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Siclandus mencoba mengambil, namun tangannya terasa hangus terbakar.
"Oooogh, damn...!!!"
"Apa ini? Kenapa aku baru melihatnya? Apakah ini yang dikatakan oleh Duffon, saat dia akan menutup mata?"
"Aaaaagh....!!!"
___________