Reincarnation of the Emperor

Reincarnation of the Emperor
Pencarian kebenaran.



Thustan masih ditemani team prajurit, untuk memeriksa jenis ledakan, secara tiba tiba ada dikamar kedua orang tuanya.


Marseille Prancis memiliki alat bantu untuk melacak semua jenis ledakan yang ditimbulkan dalam bentuk apapun. Beberapa dari mereka mengambil serpihan, dan membawa ke laboratorium untuk mengetahui jenis ledakan tersebut.


Herald Tribune masih duduk dihadapan Thustan.


"Apa rencanamu saat ini?"


"Aku akan ke Bordeaux, untuk mencari keberadaan Solenne kekasihku, dan aku akan mencari kebenaran dalam kasus yang menimpa keluargaku," Thustan menunduk.


Herald tersenyum tipis, "sepertinya kamu jatuh cinta dengan seorang perawat."


Thustan menatap lekat mata Herald, "bagaimanapun dia menghilang saat kejadian. Aku yakin dia pelaku pembunuh kedua orang tuaku."


Tentu Herald Tribune yang menjabat sebagai atasan Thustan, sangat terkejut mendengar penuturan prajurit militer terbaiknya.


"Kenapa kamu berfikir begitu? Lebih baik kamu mencari kebenaran dari serpihan, jenis apa ledakan yang menghantam kedua orangtuamu. Bisa saja ini sebuah kebetulan, dan pelakunya bukan dia," Herald tersenyum menatap Thustan.


Thustan hanya terdiam, berfikir dalam hati, bahkan membuat dia berfikir ulang, siapa pelaku sebenarnya.


"Baiklah, mungkin saya akan berangkat ke laboratorium, untuk mengetahui jenis apa ledakan tersebut, dan saya akan mencari, Kerajaan atau penguasa mana yang tega menghabisi nyawa keluargaku," Thustan menegaskan.


Mereka berpisah, Thustan kembali kekediaman Boulanger, untuk menyelidiki kasus ini dengan caranya.


Leonal yang ada disana turut membantu Thustan, untuk mencari semua bukti.


.


.


Satu tahun kemudian, Thustan melakukan uji coba ledakan bom pertamanya, dibantu dengan team pasukan militer Prancis yang membantunya secara perlahan. Bom segera menjadi hal yang diwaspadai meski sangat berguna dalam mendukung kehidupan manusia.


Untuk mencegah jajaran senjata berkembang lebih jauh, Prancis dan negara-negara lain yang berpikiran sama menegosiasikan Perjanjian Nonproliferasi bom yang Thustan buat, untuk membalaskan dendamnya.


Selama Perang Dingin, Thustan berusaha untuk membuat senjata api dan sistem pengiriman sendiri, untuk memancing geliat pihak kerajaan mana yang menginginkan senjata buatannya. Bordeaux masih belum merespon tindakan Thustan.


Namun keluarga bangsawan dari Keluarga Dean Thomas Kind mengoperasikan dua kapal selam nuklir yang dapat menembakkan sepuluh rudal Trident buatan Inggris.


Pengusaha Inggris terkenal itu, sering memicu kemarahan Bordeaux di Eropa Barat, tetapi tidak memiliki militer konvensional yang sangat besar atau kuat.


Kind juga tidak memiliki musuh yang jelas. Sementara permusuhan perang dingin mereka baru-baru ini, mungkin mengingatkan bangsawan itu bukan tanpa musuh.


Sejauh doktrin yang dianut, Bangsawan Inggris itu bersumpah untuk menggunakan senjatanya hanya secara defensif dan telah menandatangani perjanjian nonproliferasi, yang berarti telah setuju untuk tidak menyebarkan teknologi berupa senjata api ataupun bom.


"Dean Thomas Kind memiliki koordinasi yang sangat erat dan perencanaan penargetan bom dengan Prancis, terutama Bordeaux," Daniel memberi pernyataan melalui media.


Pengusaha muda itu telah menentukan bahwa dia tidak memerlukan gudang senjata yang sangat besar dan tidak menggunakannya secara berlebihan, sehingga memberikan nilai tinggi pada kekuatannya yang kecil.


Thustan tersenyum tipis, saat melihat pernyataan Daniel dimedia televisi.


"Ternyata mereka masih perang dingin!" Thustan menatap lekat wajah Leonal, saat berada dikediamannya.


Leonal tertawa, "aku rasa kita harus menyelidiki lebih lanjut hasil laboratorium Tuan. Bagaimanapun, jangan sampai kita terjebak dengan kebohongan mereka. Buktinya, mereka masih sibuk memesan beberapa senjata, untuk berperang melawan sekutu yang saya anggap itu adalah Bordeaux."


Thustan mengangguk mengerti, dia menghubungi tangan kanan Daniel dari line yang berbeda.


.


.


Sementara di kerajaan Bordeaux, Solenne dan Gabriel masih menyesiasati satu persatu yang menjadi pusat perhatiannya beberapa waktu lalu.


Permintaan Gabriel atas penundaan pernikahan dengan Bangsawan Inggris Daniel Thomas Kind, menjadi satu penghinaan bagi pria tersebut, terhadap keputusan dua orang putri kesayangan Siclandus.


"Bagaimana jika Daniel akan menjadikan kita bulan bulanannya suatu hari nanti?" Solenne menatap Gabriel saat mereka berada diperkebunan anggur milik kerajaan.


Solenne tersenyum tipis. Dia mengusap lembut punggung kakak perempuan pertamanya.


"Oya, kenapa kamu tidak menghubungi kekasihmu? Apa kabar dia?" Gabriel menatap kearah Solenne.


Solenne membuang pandangannya lebih jauh, "dia tidak mencintai ku. Berbulan bulan, dia tidak memberi kabar padaku. Nomor yang biasa kami gunakan untuk menjalin komunikasi, sudah berubah. Thustan tidak seperti dulu."


Gabriel mengangguk mengerti, "kita kembali sekarang? Setidaknya Papi tidak akan memaksa keadaan kita, untuk terus menikahkan anaknya dengan pengusaha sebejad Daniel."


Solenne sepemikiran dengan Gabriel menanggapi seorang Daniel.


"Kenapa kita mesti dihadapkan dengan keadaan seperti saat ini? Aku sedikit bingung. Siapa sebenarnya pelaku peledakan pada keluarga Boulanger? Apakah orang suruhan Papi? Jika memang orang dari kerajaan kita, kenapa Papi tampak sedih dan sangat terpukul?" Solenne menanyakan pada Gabriel karena penasaran.


"Aku rasa ini ada hubungannya untuk mengalihkan perhatian kita, aku yakin itu dari musuh utama Keluarga Boulanger, atau justru musuh dalam selimut yang memiliki dendam sendiri pada keluarga kekasihmu," Gabriel menjelaskan.


Kekhawatiran Solenne terjawab, saat lengannya ditarik oleh tangan kekar seorang pria, yang berhasil menyelinap masuk kedalam perkebunan anggur tanpa izin.


"Baby....!" Solenne berteriak kaget.


Gabriel menatap wajah Thustan dan seorang pria bersamanya.


"Kalian masuk darimana? Ini akan mengancam keselamatan kalian berdua!" Gabriel membawa kedua pria itu menjauh dari mata mata Siclandus.


Mereka mendekati sebuah rumah lama, peninggalan Duffon dan keluarganya, sebelum keluarga itu menutup mata diumur yang sangat tua.


Cuaca dingin membuat mereka menyalakan unggun untuk menghangatkan suasana di dalam rumah tua yang ditinggal sejak berpuluh-puluh tahun lalu.


Thustan memeriksa semua kemanan disana, "apakah Pangeran Siclandus tidak akan tahu bahwa kalian berada disini?" tampak kekhawatiran diwajah tampannya.


Kedua gadis itu hanya menarik nafas panjang, "setidaknya kami tidak pernah mengaktifkan pembakaran api disini. Mungkin ini untuk yang pertama kali semenjak Grandpa menutup matanya."


Thustan mengangguk mengerti. Mendekati Solenne dengan perasaan rindu.


"Kenapa kamu menghilang dari Marseille? Apakah kamu mengetahui siapa pelaku peledakan pada kediaman keluargaku?" Thustan menatap kedua bola mata gadis dihadapannya.


"Aku dibawa paksa oleh Petrus dan Joshua saat tiba di bawah, tanpa harus menunggumu dibawah. Aku minta maaf," Solenne mendekap tubuh gagah Thustan dengan perasaan rindu yang teramat sangat.


Thustan mengecup lembut bibir Solenne, saat hati mulai berdamai.


Gabriel mengalihkan perhatiannya, dengan bercerita dengan Leonal, seputar sejarah masa lalu keluarga mereka.


Betapa terkejutnya Leonal mendengar bahwa kedua gadis itu adalah keturunan Kerjasama Bordeaux dari Pangeran Masson yang dia dengar dari orang lain, tanpa pernah mengetahui sejarah sesungguhnya.


Malam semakin larut, kedua pasang insan yang sedang jatuh cinta itu terlarut dalam hangatnya cinta.


Namun kemesraan mereka, harus gagal seketika, karena pengawal Siclandus menangkap mereka saat tengah menikmati keindahan malam.


BRAAAK,


Gabriel menatap tajam kearah Petrus, yang berani mendobrak pintu utama hingga roboh.


"Kau...!" Gabriel menggeram.


Leonal yang tengah duduk lebih dekat dengan perapian, sedikit takut.


Pengawal lainnya, mencari keberadaan Solenne yang lagi menikmati keindahan mereka disebuah kamar.


BRAAAK,


Kedua insan yang saling menikmati malam, justru terlonjak kaget.


_________