
Esoknya...
Lea masih tak diperbolehkan untuk sekolah, sekolah pun masih mengusut tentang masalah tersebut.
Rhisa semakin menantangku, seperti kali ini.
"Masih berhubungan toh," ucap Rhisa sinis sembari bersedekap.
"Hmm begitulah, kenapa aku harus meninggalkannya? Aku tau dia nggak begitu. Meninggalkan temanmu yang sedang kesusahan, itu bukannya tindakan seorang pengecut," ucapku tenang serta tersenyum sinis.
Rhisa mulai geram dan pastinya sebentar lagi dia akan mengeluarkan amarahnya. Namun, ia malah pergi begitu saja meninggalkanku dengan senyum kemenangan.
Waktu terus berlalu masih belum ada kabar dari pihak sekolah, Lea pun kembali bersekolah namun, persepsi orang terhadapnya mulai berbeda.
Jijik
Satu kata yang pas ketika Lea melewati mereka semua. Aku sangat menghawatirkan Lea saat ini, namun Lea seakan tak peduli lagi tentang semua itu.
Rhisa pun tidak pernah mendekati Lea lagi. Takut terkena nyinyiran dari orang-orang mungkin. Dia berusaha untuk tidak berhubungan dengan Lea contohnya saja ketika ia bertukar tempat duduk dengan Lisna.
Rio pun sepertinya malu untuk bertemu dengan Lea, setelah putus mereka dilarang untuk berhubungan lagi. Walau aku tau Rio masih ingin berteman dengan Lea.
Rhisa semakin hari semakin menantangku, entahlah aku tak mengerti bagaimana pola pikirnya. Apakah dengan menantangku bisa mengembalikan semua?
Aku pun muak dengan Cyntya, ia semakin hari semakin sok dengan apa yang ia ketahui walaupun itu bukan hal yang benar. Aku benar-benar sangat membencinya.
Hari ini aku akan melabrak Cyntya, aku muak dengan sikap sok benarnya. Memojokkan kami tanpa merasa bersalah dan berlindung diantara orang-orang yang mendukungnya.
"Ternyata masih punya nyali, kenapa kamu harus repot-repot sih Kai, ini bukan urusan kamu juga," ucapnya sinis.
"Karena kamu mengusik sahabatku, saat kamu mengancam Nadira aku diam karena Nadira yang menginginkannya. Namun, Cyntya kamu telah mengusik tidurku melalui orang lain yang masih berhubungan denganku, bukannya begitu? Kamu tau kan apa yang akan terjadi ketika kamu mengusik tidurnya seekor macan? Sama sepertiku, Bumm kamu akan hancur." Ucapku dengan nada mengintimidasi.
"Hmm? Kamu yang sedari dulu pengecut ini berani? Hell, sudah kesusahan lalu memojokkanku ketika tak ada orang lain, berhijab tapi kelakuannya kok begitu. Hahahaha," ucapnya diakhiri dengan tawa.
Aku tersenyum menanggapinya. Aku berusaha setenang mungkin mengahadapi Cyntya. Membencinya? Sangat, bahkan saat mengetahui dia yang menyebarkan fitnah tersebut aku langsung ingin menjambaknya.
"Cyntya, kamu tau kan apa yang kamu lakukan itu merugikan diri kamu sendiri, bukannya Rio akan memandang rendah juga membeci kamu jika dia mengetahui hal ini," ucapku sinis padanya.
"Memangnya apa yang aku lakukan sampai akan merugikan diri aku sendiri? Benar kan apa yang aku bilang di grup angkatan? Heh," ucapnya dengan congkak.
Aku semakin geram, "Bukannya foto itu adalah kamu."
SKAKMAT
Tubuhnya terlihat membeku dan dia langsung saja menucapkan, "Cih, jangan menimbulkan fitnah-"
"KAMU YANG MENIMBULKAN FITNAHH, CYNTYA!!" teriakku dengan keras.
Kudorong tubuhnya hingga terbentur serta mencengkeram kerah bajunya. Tak lama Rhisa datang dan mendorongku menjauh dari Cyntya, hampir saja aku tersungkur namun, dapat kutahan.
"APA-APAAN KAMU, KAI!! bentaknya, sedangkan aku bersedekap seakan menantang.
"Oh jadi kamu membela Cyntya ya. Ah, atau jangan-jangan kamu ikut bekerja sama dengan Cyntya ya," ucapku sambil tersenyum sinis namun, tak bertahan lama wajahku kian berubah dingin.
Kini kudorong tubuh Rhisa tanpa ampun membentur tembok sekolah membuatnya mengaduh kesakitan. Kucengkeram kerahnya tak peduli ia akan tercekik atau tidak.
"Kamu berurusan dengan orang yang salah Rhis, sekarang aku tanya kenapa kamu benci sama aku?" tanyaku dengan nada dingin padanya.
"KARENA KAMU MEREBUT LEA, KAI. DIA SATU-SATUNYA TEMANKU." Teriaknya di depan mukaku membuatku muak akan sikapnya.
Lea datang dengan terburu-buru, melepaskan cengkeramanku dengan paksa, namun tak berhasil. Sekolah telah usai kini tak ada lagi siswa yang berlalu lalang.
"Udah Kai, aku nggak mau kita jadi begini," ucapnya sembari menangis memegang tanganku yang masih mencengkeram kerah Rhisa.
Aku lepaskan cengkeramanku pada kerah Rhisa, sementara Cyntya hanya diam bahkan tak peduli dengan Rhisa.
Aku beralih menghampiri Cyntya yang masih berlagak sok tenang dan menyelengkat kakinya membuatnya kini terjatuh dan mengaduh kesakitan, lalu aku pergi menuju Rhisa langsung saja aku menamparnya pelan.
"Jangan berurusan dengan gue lagi, der hund." Dan itu merupakan kata gue pertamaku yang muncul.
"Aku kecewa sama kalian," ucap Lea sembari memasang wajah pucat pasi kecewa akan perbuatan mereka berdua. Kami akhirnya pergi dari depan kelas menuju gerbang sekolah.
Kami pulang dengan keadaan kacau, Lea masih saja menangis sembari menggandeng tanganku, selalu. Sementara aku tak menangis lagi namun, masih terlihat sembab dan merah.
"Kai kamu nggak perlu ngelakuin hal itu lagi," ucap Lea sesenggukan. Aku hanya mengangguk pelan mengiyakan.
Disinilah kami dengan perasaan sendu. Dibawah senjanya langit bergulir seirama mentari terbenam bersemayam.
Kamu tau? Hubungan antara hujan dan angin? Hujan mungkin menyenangkan dan angin mungkin menyejukkan, namun bagaimana ketika hujan itu terlalu menumpahkan sedihnya dan angin yang memunculkan amarahnya.
Kisah ini bukan hanya tentang hujan dan angin saja, namun sebuah kisah ketika persahabatan kami diuji, juga tentang cinta dan kasih sayang yang tak mengenal batas kesabarannya.
"Kamu udah jangan berurusan lagi sama Rhisa dan Cyntya ya, Le. Apalagi sama Rio, sudah putus hubungan kamu sama dia oke?" nasihatku padanya.
"Oke Kai, aku akan ikutin kata kamu, aku nggak mau terulang lagi kesalahan yang sama karena meyepelekan kata-kata kamu. Aku akan main sama teman kamu aja." Putusnya.
Aku hanya menggeleng kecil, "Tetap berteman dengan yang lain, dengan semua orang."
Selanjutnya, kami berpisah di lapangan utama, semenjak ada kejadian seperti itu orang tua Lea seakan tak percaya padanya, hingga akhirnya Lea selalu dijemput kakak laki-lakinya yang kebetulan teman Mas Ajar
"Adek gue dah datang tuh, ucap Kakak Lea yang kudengar.
"Hm adek gue juga tuh," ucap Mas Ajar sembari tersenyum padaku dan kubalas dengan senyuman juga.
Kami pulang dengan keadaan tenang. Hingga akhirnya Mas Ajar memecah keheningan kala itu.
"Itu teman kamu yang baru itu, Pa?" Tanya Mas padaku.
"Hm.. iya. Maaf ya Mas tadi lama ada urusan," ucapku bersalah pada Mas Ajar.
"Iya nggak apa-apa, tutupi sembab kamu. Mas tau kamu habis berantem," ucap Mas yang membuatku terkejut setengah mati.
"Kenapa Mas bisa tau?" tanyaku sementara Mas hanya mengedikkan bahu sekilas tetap fokus pada jalanan.
Ah, hubungan kakak adik
🍀🍀🍀
**Hai guys, makasih buat kalian yang udah baca, like, rate dan favorite ceritaku.
Yang mau feedback silahkan tinggal komen dibawah. Aku orangnya timbal balik kok.
Jangan lupa ya like, komen, rate and klik favorite. boom like klo bisa ya hehe 😄😄
salam istrinya soobin 😙**