Rain And Wind

Rain And Wind
Episode 1



 


"Untuk mereka yang datang sebagai luka"


Namaku Kaia dan aku memiliki sahabat bernama Lea. Hari itu merupakan hari pertama kami bersekolah setelah beberapa minggu liburan kenaikan kelas. Kami masuk seperti biasa pukul setengah 7 pagi dan akan pulang pukul setengah dua.


Aku memasuki kelas VIII D dengan semangat. Semua yang dikelas masih terasa kaku karena belum begitu mengenal satu sama lain.


Hari itu aku duduk dengan teman satu ekskulku, Nggit. Hari itu sekolah masih free untuk semua mata pelajaran karena masih adaptasi dengan kelas dan lingkungan baru. Pada hari itu juga jadwal dibagikan.


Hari kedua merupakan hari perkenalan kami. Kami berkenalan secara singkat dan ditempat yang tak akan kamu bayangkan tentunya. Toilet Wanita.


"Hai," sapa Lea mengagetkanku, jujur aku masih kikuk karena masih baru mengenal.


"Hai juga," balasku singkat. Hari ini kami akan mengikuti kelas Olahraga dan sekarang kami ada di toilet wanita untuk mengganti pakaian.


"Mau bareng?" Tanya Lea sembari menunjuk pintu toilet dengan ibu jarinya dan kubalas anggukan.


Didalam toilet, "Nama kamu siapa?" tanyaku berbasa-basi.


"Oh iya kita belum kenalan, Nama aku Lea, kamu?" tanyanya kembali.


"Kaia," ucapku sekaligus menjabat tangannya.


Setelah selesai mengganti baju, kami mulai melangkahkan kaki menuju lapangan untuk mengikuti kelas Olahraga. Kami memulai pelajaran dengan pemanasan dan dilanjutkan dengan lari. Pelajaran hari ini adalah Voli dan kami sudah bermain selama satu jam pelajaran.


"Lelah Kai," ujar Lea, sesekali mengibaskan tangannya.


"Sama," balasku sembari menghelas napas lelah.


Saat ini kami beristirahat di pinggir lapangan setelah bermain Voli beberapa putaran dengan tim lain, namun secara tiba-tiba ada yang menghampiri kami.


"Kalian kenapa duduk disini deh, Pak Bakri sebentar lagi datang lho," ujarnya ketus sembari berkacak pinggang.


"Sebentar lagi Rhis, lelah aku," balas Lea dengan nada yang dibuat-buat.


Aku saat itu sangat kebingungan, kenapa mereka sudah saling mengenal bahkan belum satu hari penuh kami berkenalan satu sama lain, sedangkan Lea yang menyadari kebingunganku menjawab.


"Ini Rhisa, Kai. Dia teman sebangku aku. Rhis ini Kaia, yang duduk dibelakang kita," jelasnya.


Aku hanya ber-oh ria, seraya mengenalkan diri dan berjabat tangan. Begitu pula dengan Rhisa.


Setelah kelas olahraga selesai aku, Lea, dan Rhisa menuju kantin dan memesan makanan, karena memang sudah jamnya untuk istirahat.


"Kenapa dulu aku nggak pernah liat kamu ya Kai?" Tanya Lea sembari menyendokkan sotonya.


"Kayaknya karena aku nggak pernah keluar kelas deh, aku sering kok liat kamu. Karena kelas kita sebelahan dulu. Biasanya juga aku liat kamu setelah bel pulang," jelasku padanya.


"Oh ya? Aku nggak pernah tau." Pikir Lea sembari mengernyit kecil.


Hari itu pertama kalinya aku mengenal Lea dan Rhisa, namun entah kenapa Rhisa seakan tak suka aku berteman dengan Lea, namun aku tak mengindahkannya.


Hari-hari selanjutnya kami masih berhubungan dan malah menjadi bertambah dekat, seringkali Lea dan Rhisa mengajakku pergi untuk sekadar bersenang-senang, namun aku tak pernah mau. Bukannya tidak senang namun, karena aku kurang suka berpergian.


Hari ini adalah hari jumat dan esok adalah hari sabtu, kembali Lea mengajakku untuk pergi, namun aku kembali menolaknya dan kulihat wajahnya cemberut.


"Sayang banget kamu nggak ikut Kai, padahal kita bisa refreshing sebentar dari tugas sekolah," ucap Lea lesu.


"Iya maaf ya, aku kurang suka pergi gitu."


"Pasti nonton drakor ya?" tebak Lea dan kuangguki dengan semangat.


"Yaudahlah Le, biarin aja memang dia nggak mau, sudah nggak usah dipaksa," ucap Rhisa serasa memojokkanku. Diam-diam aku cemberut kesal terhadapnya.


Sebenarnya alasanku untuk tidak pergi bukan karena menonton saja, namun aku memiliki kegiatan ekskul tari di hari sabtu yang banyak orang tak tahu, termasuk Lea.


Setelah Lea dan Rhisa pergi, Nadira yang notabenenya dekat denganku menghampiri dan berkata, Jangan terlalu dekat sama Rhisa, ini saran aku, ucap Nadira tiba-tiba.


Jujur saat itu aku bingung, "Kenapa? Dia baik kok."


Sedangkan Nadira hanya mengedikkan bahu singkat dan kembali membaca buku, meninggalkanku dengan segala kebingungan yang ada.


Bahkan sampai dirumah aku masih dilanda kebingungan, mengapa Nadira mengatakan hal itu? apalagi setelah keesokan harinya, hari senin aku diberitahu oleh Lea bahwa ia menyukai seseorang dari kelas sebelah. Membuatku semakin kebingungan.


Well, ini masih beberapa hari masuk sekolah dan dia sudah menyukai seseorang, bahkan terakhir kali aku menyukai seseorang saat kelas VII dengan kakak PJ OSIS.


"Kai, aku kayaknya suka deh sama Rio. Dia kayaknya baik," ucap Lea dengan semangat.


"Dia keren banget, kemarin selagi jalan bersama Rhisa, aku ketemu sama dia dan dia senyum sama aku, Oh My God." Seru Lea histeris.


Lea berbicara sangat keras membuatku kebingungan sendiri, karena pada saat ini kami berada di koridor kelas VIII yang membuat semua melirik kearah kami.


"Iya iya Le, ceritanya dipending dulu ya. Di koridor ini." Ucapku sembari melihat keadaan sekitar.


Lea seakan tersadar dan membungkam mulutnya sendiri, "Hehe, Sorry ya Kai."


Aku hanya menghela napas seraya memaklumi tindakan Lea yang seperti itu, jatuh cinta manusiawi bukan?


Saat ini, aku hanya bersama dengan Lea saja tanpa adanya Rhisa, entah Rhisa pergi kemana. Kurasa Rhisa seperti sedang menghindariku.


Jujur kami tidak terlalu dekat, karena yang kurasakan Rhisa enggan berbicara dan dekat denganku, untukku sendiri tak masalah toh tak merugikanku.


Namun, entah kenapa perasaanku tidak enak ketika Rhisa berbicara denganku, seperti ada rasa dendam disetiap kata yang ia ucapkan.


Bukan, bukan karena aku yang terlalu GR namun, karena pada dasarnya aku merupakan anak yang pekaan dan sulit untuk dibohongi.


"Menurut kamu, Rhisa gimana sih Le?" tanyaku tanpa sadar ketika kami telah berada dikoridor depan kelas.


Oh ya, kelas kami VIII D merupakan kelas terpojok, berada dilantai tiga, juga memiliki bangku didepan kelas membuat anak\-anak sangat menyukai kelas kami ini.


"Hmmm? Rhisa? Kenapa? Dia baik kan, anaknya seru kok. Kami dari kelas VII udah, sekelas jadi aku sudah lumayan dekat sama dia."


Aku hanya mengangguk saja tanda tak ingin melanjutkan percakapan namun, Lea seakan tersadar bahwa ada yang aneh dari pertanyaan aku.


"Memang kenapa? Ada masalah?" Tanya Lea memastikan.


Aku langsung menggeleng cepat, "Eh nggak kok nggak. Nggak ada apa-apa."


Lea bertanya lagi, "Dia sinis sama kamu?"


Spontan aku terkejut dan langsung menghindari mata Lea. Ada benarnya Lea mengatakan itu.


"Elah, nggak apa-apa kok, dia memang begitu orangya, nanti juga dekat kok. Jujur awalnya aku juga gitu kok tapi lama-lama juga nggak. Tenang aja," ucap Lea meyakinkanku.


Aku hanya mengguk saja tanda mengerti setelahnya kami hanya membicarakan tentang Rio, cowok yang baru-baru ini disukai oleh Lea.


Yah biasalah anak perempuan, kalau nggak gibah anak kelas lain ya paling cowok gebetan.