Rain And Wind

Rain And Wind
Episode 4



Entah siapa yang akan aku pilih, Nadira sahabatku yang selalu berbagi keluh kesah juga selalu memberi nasihat kepadaku atau Lea sahabat yang baru-baru ini kukenal.


Sania seakan mengerti kondisiku pun menepuk pelan lenganku, ia juga pasti sangat menghawatirkan keadaan Nadira.


Rapuh


Itu satu hal yang menggambarkan sosok Nadira, selalu memberi nasihat namun, ia sendiri memiliki banyak masalah yang tidak kami ketahui.


Setelah sekian lama berperang dengan perasaan, aku dan Sania kembali melanjutkan tulisan kami yang terhenti sejenak itu.


Angga, Darvis dan Rafi menyadari perubahan pada kami, namun sepertinya mereka menahan untuk tidak bertanya agar kami tidak tersinggung karena mungkin mereka berfikir ini adalah privasi kami.


Setelah berkutat selama beberapa jam kami selesai mengerjakan mind mapping. Kami membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk menyelesaikannya.


Dan sekarang sudah pukul setengah 4 karena tadi Mama Angga mengajak makan siang terlebih dahulu membuat kami pulang lebih lama.


"Mau pulang sekarang Kai?" Tanya Sania padaku.


Terbesit dibenakku nama Nadira, "Apa sebaiknya kerumah Nadira dulu?"


Sania terlihat berpikir dan akhirnya mengangguk.


"Oke aku chat Ina dulu," ucapku seraya menaiki motor.


"Katanya Ina udah dirumah Nadira, dia bingung Nadira murung terus kata Mamanya juga nangis sebelum Ina datang."


Sania mengangguk dibalik helmnya seraya mempercepat laju motornya. Membuatku yang tak berpegangan saat itu sontak terkejut hampir saja handponeku jatuh.


Sesampainya kami dirumah Nadira, kami disambut Mama Nadira dan dipersilahkan langsung kekamar Nadira.


Kami langsung saja menuju kamar Nadira dan disana kami lihat wajahnya yang muram.


"Nad, udahlah masih banyak cowok lain yang lebih ganteng. Perjalanan kita masih panjang, kita masih SMP jadi nggak usah dipikirin." Nasihat Sania kepada Nadira.


"Sorry ya Nad, aku nggak tau jadinya seperti ini." Ucapku merasa bersalah.


Nadira terlihat menggeleng kecil. Terus memeluk guling kesayangannya.


Terlintas dibenakku oppa Korea, walau aku tahu Nadira paling anti yang namanya Korea - Koreaan, kubuka Handphone dan gallery seraya menunjukkan foto oppa.


"Nad, lihat deh ganteng kan? Lebih ganteng dari Rio tau." Ucapku seraya menunjukkan foto oppa V BTS.


"Ihhh V nggak boleh, V punya Sania. Gabolehhh," ucap Sania histeris sembari menarik handphoneku namun, dapat kutahan.


Nadira melirik sedikit dan sepertinya tertarik.


"Ada laptop nggak?" tanyaku dan diangguki Nadira diambilnya laptop. Untung saja aku membawa flashdisk yang berisi drama Korea.


Pukul sudah menunjukan angka 6 dan kami masih asyik menonton drama, sepertinya aku akan diomeli saat pulang.


Tak apa yang penting Nadira tersenyum lagi.


"Gimana seru kan? Makanya Nad, jangan bilang nggak suka dulu ketagihan kan jadinya. Lagian kamu perlu untuk mengubah kebiasaan dan sikap diam kamu itu." Nasihatku. Padanya dan diangguki Sania juga Lisna.


"Iya makasih ya, kalian udah mau ngehibur aku. Kai, bagi dramanya dong kalau bisa semuanya," ucap Nadira sambil cengengesan, sementara aku memutar bola mata malas.


Tuh kan, bilangnya kemarin nggak suka, apasih Korea Korea giliran sudah nonton aja ketagihan.


"Tapi, cuman ada 3 di flashdisk banyak dilaptop tuh mau?" tanyaku dan dianggukinya semangat.


Setelahnya kami bertiga pamit pulang karena hari sudah malam, sang surya pun sudah tak menunjukkan sinarnya lagi berganti rembulan yang menerangi.


Dan benar saja sesampainya aku dirumah, Papa sudah menunggu diluar sembari berkacak pinggang, sementara adikku memeletkan lidah dari arah pintu membuatku geram padanya.


Oh ya, nama panggilanku Ipa dirumah karena namaku Kaiara Asyifa, Syifa namun karena dulu aku tak bisa mengatakan huruf S jadinya Ipa.


Di keluarga ada Papa, Mama, kakakku laki-laki ada dua yang pertama Fajar dan yang kedua Khalid sementara adikku bernama Saskia. Aku memiliki panggilan sayang untuk kedua kakakku, Mas Ajar dan Mas Alid.


"Kamu tau nggak, Papa sama Mama khawatir kalau kamu kenapa-kenapa. Mas kamu udah telpon kerumah teman kamu katanya kamu udah pulang, lalu kamu kemana?" Tanya Papa.


"Kerumah Nadira Pa, bareng Sania tadi juga pulang dianter Sania." Jelasku pada Papa.


Setelah sekian lama Papa mengomel aku diperbolehkan masuk rumah, sesampainya aku dikamar Mas Ajar sedang berkutat dengan pelajarannya karena ia sudah kelas 12 sedangkan Mas Alid kelas 9, berbeda satu tahun diatasku namun dari segi umur kami berbeda 2 tahun.


Dahulu, aku terlalu cepat masuk SD, umur 5 tahun aku masuk. Jadi berbeda satu angkatan dengan Mas Alid. Aku kebetulan satu SD dengan Mas Ajar dan Mas Alid, satu SMP juga dengan Mas Alid, berbeda dengan Mas Ajar.


"Mas Ajar kenapa nggak telpon aku sih? Kan aku jadi bisa pulang cepet kalau udah dicariin," ucapku kesal saat meletakkan tas milikku.


"Kalau handphone kamu bisa dihubungi, kamu udah pulang dari sebelum Papa ngomel, dek." Ucap Mas Ajar tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.


Hmm?? Aku langsung saja mengecek handphoneku dan cengengesan tak jelas karena handphoneku mati.


"Sorryyy," ucapku malu dan langsung berlari menuju kamar mandi.


Setelah selesai aku kembali kekamar dan kulihat Mas Ajar masih saja berkutat dengan buku pelajarannya.


Kubuka buku untuk besok dan mempelajarinya. Namun, aku sangat kebingungan untuk pelajaran Matematika.


"Memangnya kamu tadi kemana? Mas tadi telpon teman kamu katanya kamu udah pulang," Tanya Mas tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Dari rumah Nadira, Mas tau kan Nadira yang pernah aku ceritain. Dia itu suka sama Rio tapi temanku yang baru-baru ini kukenal namanya Lea dan sekarang dia pacaran sama Rio. Aku sama yang lain khawatir sama Nadira," jelasku panjang lebar entah Mas Ajar mengerti atau tidak.


"Lalu kamu bimbang siapa yang bakal kamu pilih kan?" Tanya Mas Ajar tiba-tiba yang membuatku tersentak kaget.


"Kamu itu adik Mas, Pa. mas tau kamu itu nggak bisa milih diantara temanmu itu, pantas saja kamu kemarin murung terus, karena itu to," ucap Mas.


Aku hanya mengangguk-angguk ah tambah pusing rasanya, belum lagi besok ulangan Matematika.


"Mas ajarin Matematika dong, please." Mohonku pada Mas sembari mendekatinya dengan wajah memelas.


"Minta Mas Alid aja sana," suruh Masku sembari mengibaskan tangan tanda mengusir.


"Ah, males kalau sama Mas Alid tuh udah tau ujungnya pasti nggak mau. Ayolah Mas kan Mas Ajar ganteng," ucapku pada Mas sembari cengengesan.


Jujur Mas Alid itu orangnya sangat jutek, bahkan sama adiknya sendiri, seperti Papa. Mas Ajar juga namun, hanya kepada orang yang tak terlalu dikenalnya sama sepertiku.


Akhirnya dengan terpaksa Mas Ajar mengajariku Matematika. Menjelaskan soal juga rumusnya satu persatu. Soal Mas Ajar jujur sangat sulit bahkan setara dengan Ujian Nasional mungkin.


"Ini pakai rumus yang ini. Kamu hapalin aja rumus yang Mas kasih, jangan terlalu sering main logika dek. Pelajari soalnya walaupun nanti ulangan pilihan ganda tetap pecahin soalnya dahulu. Jangan asal main pakai logika." Nasihat Mas Ajar sementara aku hanya mengangguk saja.


"Karena logika belum tentu benar, ada soal yang pastinya akan menjebak," lanjut Mas menasihatiku dan aku mengangguk kembali meng-iyakan.


Pukul sudah menunjukan angka 10 malam, anggota keluarga yang lain pun sudah tertidur, Mas Ajar kembali kekamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.


🍀🍀🍀


**Hai guys, makasih buat kalian yang udah baca, like, rate dan favorite ceritaku.


Yang mau feedback silahkan tinggal komen dibawah. Aku orangnya timbal balik kok.


Jangan lupa ya like, komen, rate and klik favorite. boom like klo bisa ya hehe 😄😄


salam istrinya soobin 😙**