
Esoknya...
"Kai, mau drama lagi dong," todong Nadira saat aku baru saja masuk kedalam kelas.
"Astaga nih anak, dulu siapa yang bilang nggak suka Korea heh?" ucapku sambil berkacak pinggang, selanjutnya kukeluarkan flashdisk simpanan milikku.
"Jangan ilang dan jangan dipinjamin ke orang lain oke?" ucapku mengingatkan dan diacungi bulatan oke.
Untung saja semalam sebelum tidur aku sempat memindahkan beberapa file drama, kalau tidak Nadira akan terus menodongku dengan berbagai macam alasan agar aku cepat memberikannya drama.
"Flashdisk yang kemarin mana?" Tanyaku sembari mengacungkan tangan tanda meminta.
"Eh sebentar kayaknya ada ditempat pensil," ucapnya sembari membuka tas dan tempat pensilnya, yepp ketemu flashdisk milikku dan langsung saja kuterima.
"Udah jangan nonton lagi, ada ulangan Matematika lho." Ingatku.
Nadira langsung saja cemberut, tak biasanya ia jadi seperti ini hmm. Langsung saja aku menggelengkan kepala.
Selama ulangan berlangsung banyak diantara kami yang terlihat kebingungan karena Matematika ini.
Berbeda denganku, aku sudah terbiasa dengan soal seperti ini bukannya sombong namun, soal Mas Ajar lebih sulit daripada soal yang kuhadapi sekarang.
Aku selesai terlebih dahulu dalam menyelesaikan soal dan langsung saja aku menuju luar ruangan. Tak lama setelahnya Lea keluar.
Aku tak mengindahkannya, memandang ke depan dan menghirup udara yang termasuk masih pagi ini dengan tenang.
"Kai," panggilnya dan langsung saja aku menengok sekilas sembari mengernyitkan dahi.
"Sorry banget ya, karena aku yang terlalu egois hubungan pertemanan kita jadi rusak. Padahal seharusnya aku bertanya terlebih dahulu karena aku tau kamu pasti punya alasan," jelasnya panjang lebar.
"Hmmm aku maafin, sejujurnya memang ada alasan kenapa aku nggak ngenalin kamu ke Rio. Bukan, bukan karena aku suka dia atau apa. Banyak diangkatan kita yang suka sama dia, aku takut mereka iri dan berbuat yang aneh karena kamu pacaran sama Rio," jelasku yang tentu benar adanya namun, tak kuberitahu perihal Nadira yang menyukai Rio.
Lea terlihat merasa bersalah sekali dan semakin menundukkan wajahnya. Aku tidak tahu apa yang dipikirnya.
Kupegang tangannya dan berkata, "Tapi, aku yakin kamu bisa menghadapi mereka. Jaga hubungan kamu dan kamu nggak perlu sungkan untuk minta bantuan aku."
Lea terlihat mengangguk dan disinilah kesalahpahaman kami berakhir.
"Aku nggak tau Rhisa bilang apa aja ke kamu, tapi satu hal yang perlu kamu tau, aku akan selalu sama kamu. Jangan pernah berfikir bahwa aku akan merebut Rio dari kamu Le. Aku menyukai orang lain dan itu kakak kelas cukup sampai disitu," jelasku sambil tersipu.
"Ehhhhh??? Siapa hayo?? Cerita dong Kai," mohon Lea dan langsung saja kucemberuti sembari pergi meninggalkannya.
Sampai bel istirahat Lea masih saja menodongiku dengan pertanyaan siapa lelaki yang kusukai dan tentu saja tak akan kujawab.
Kini aku bersama Nadira, Lisna dan Sania. Kami berempat sedang menonton drama Korea sampai Lea datang tanpa diikuti Rhisa.
"Kai cerita dong siapa, please." Lea masih saja menanyakanku perihal tadi dan langsung saja kucemberuti kembali.
"Oh jadi ada yang udah baikan nih, kemarin siapa ya yang murung terus sampai mau nangis?" ledek Sania dengan cara menyindirku.
Aku langsung mendelik dan melototinya langsung saja aku pergi dengan menghetakkan kaki kesal. Nadira pun mengikutiku menuju toilet wanita.
Sepertinya Nadira sudah tak sakit hati lagi dengan Lea yang notabenenya pacar Rio. Terlihat dengan wajahnya yang biasa saja.
"Kamu udah nggak marah sama Lea?" tanyaku sembari berpura-pura mencuci tangan.
"Hmmm? Marah? Aku nggak marah sama siapa-siapa Kai, mungkin kemarin kamu kira aku nangis, aku marah sama Lea tapi nyatanya nggak kok," jawab Nadira sembari tersenyum manis.
Jika Nadira sudah seperti itu, aku tak bisa apa-apa. Kuputuskan untuk tak bertanya lagi setidaknya dia sudah tidak apa-apa.
"Tadi kamu bisa Ulangan Matematikanya?" Tanyanya padaku.
Aku hanya berdehem singkat sembari mengangguk padanya, "Ya nggak sesulit soal yang dibuat kakak aku sih."
Nadira mengangguk tanda mengerti. Kami kini kembali menuju kelas.
Kringg
Bel masuk sudah berbunyi. Kini pelajaran yang selalu kunantikan yaitu Seni Budaya.
"Bu Zarnawati datang tidak ya?" gumamku pada diri sendiri.
Nggit menoleh dan mengedikkan bahu singkat. Ketika Bu Zarnawati datang, kami semua kembali menutup mulut yang tandanya pelajaran akan segera dimulai.
"Assalamualaikum semuanya," sapa Bu Zarna, panggilan kami untuknya.
"Waalaikumussalam bu," jawab kami serempak.
Kami serempak mengeluarkan buku gambar ketika Bu Zarna memerintahkan kami.
Jujur saja aku sangat menyukai pelajaran Seni Budaya karena keahlianku adalah pada bidang Seni. Entah itu menari atau menggambar.
Kami belajar dengan tenang hingga tiba-tiba...
Tok tok tok
"Assalamualaikum Bu, mohon izin mengganggu sebentar," Izin Pak Sobirin dan langsung di angguki Bu Zarna. Bu Zarna pun keluar kelas sepertinya menuju ruang guru.
Ketika Pak Sobirin datang itu bukanlah hal yang baik, pasti ada suatu masalah. Pak Sobirin merupakan Guru Agama Islam serta panitia penegak kedisiplinan sekolah. Ketika bukan pelajaran Agama namun Pak Sobirin masuk ke kelas, berarti itu tentang kedisiplinan.
"Oke anak-anak, Bapak ingin meminta kejujuran kalian terutama pada anak laki-laki. Siapa yang selalu meludah di pegangan tangga?!" Tanya Pak Sobirin sembari menggebrak meja.
"Bagi perempuan silahkan keluar terlebih dahulu," ucap Pak Sobirin.
Semua murid perempuan mulai keluar satu persatu, menyisakan anak laki-laki yang kini tegang ketika disidang oleh Pak Sobirin.
Kami yang perempuan hanya melihat mereka dari luar tanpa sedikitpun bersuara. Kami pun ikut merasakan aura ketegangan dari dalam.
Oh tenyata masalah ludah, batinku.
Ya memang benar beberapa minggu ini selalu saja ada ludah di pegangan tangga. Aku pernah kena sekali dan itu menjijikan sekali.
Sudah ada beberapa anak yang maju, raut wajah Pak Sobirin masih saja tak enak berarti masih ada anak yang belum mengaku.
"Bapak hanya meminta kejujuran kalian, kamu tau itu ludah! Itu penuh kuman nak dan kamu meludahkannya di pegangan tangga yang selalu dipegang oleh orang lain," ucap Pak Sobirin dengan nada tinggi.
Setelah menghabiskan waktu jam pelajaran Seni Budaya, Pak Sobirin keluar dan kami dipersilahkan masuk.
Pelajaran tak dilanjutkan karena sebentar lagi bel pulang. Bu Zarna pun tak kembali lagi ke kelas kami.
"Gila, baru tau Pak Sobirin seram kalau marah," ucap Nggit dan aku mengangguk membenarkan sembari membereskan buku.
"Mau langsung pulang?" Tanya Nadira diikuti dengan Sania dan Lisna yang menghampiriku.
"Kayaknya langsung deh," ucapku singkat dan mereka mengangguk tanda mengerti.
Hari ini adalah Jumat dan sekolah berakhir pukul 12. Juga waktunya aku mengikuti ekskul English Club. Ekskul dimulai pukul setengah 1 karena menunggu selesainya sholat jumat. Biasanya aku akan menghabiskan waktu tersebut dengan jajan bersama Sabrina, teman ekskulku.
Aku sengaja tidak memberitahukan Sania, Nadira, dan Lisna jikalau aku memiliki ekskul selain tari. Hanya Lea yang tau aku mengikuti ekskul ini karena Lea satu ekskul denganku.
"Hello everyone, hari ini kita akan nonton film, ucap Miss Ani dan langsung disoraki kesenangan oleh yang lain.
"Eitss, tapi minggu depan pada pertemuan selanjutnya kalian harus menceritakan kembali isi dari film ini," ucap Miss lagi yang langsung dijawab yah oleh anak-anak.
Dan aku sudah tau pasti minggu depan hanya sedikit yang hadir karena takut ditunjuk, padahal nantinya yang akan maju hanya Sabrina, ketua ekskul English Club.
Kami menonton dengan tenang, film ini menceritakan sekelompok hewan yang diharuskan berlayar karena kiamat akan datang, namun ada diantara hewan tersebut yang tidak memenuhi syarat dan mengharuskannya tinggal.
Cukup seru menurutku, kami melanjutkan menonton film yang lain dan tentunya film berbahasa inggris tanpa adanya subtitle.
"Go away from here," salah satu dialog dari film.
"Sorry I cant, can we fix it?" ujar salah satu tokoh dalam film.
"No", ujarnya.
Tanpa terasa film telah usai. Bagi mereka yang hanya sebagai anggota telah diperbolehkan pulang sedangkan anggota kepengurusan masih harus tinggal untuk mengurusi jurnal dan kegiatan di ekskul selanjutnya.
"So, jurnal udah selesai Miss. Can we go home now?" Tanya Sabrina sementara aku hanya mendengarkan sembari membereskan jurnal kami.
"Yes, you can." Putus Miss Ani, setelah berpamitan kami kembali pulang.
Aku dan Sabrina berpisah di lapangan utama, Sabrina harus menghampiri sang sopir di koperasi sekolah sedangkan aku melanjutkan menuju gerbang.
Kulihat Mas Ajar sudah menjemputku, mengapa tidak Mas Alid? Karena Mas Alid masih berada di mushola pria untuk melaksanakan kegiatan ekskul rohisnya.
Oh ya, aku dan Mas Alid kebetulan satu sekolah namun berbeda angkatan. Sepertinya sudah kuberitahu sebelumnya.
"Mas udah lama?" tanyaku ketika sampai didepan Mas Ajar.
Mas Ajar menggeleng dan menjawab, "Nggak kok, baru juga sampai."
Aku hanya mengangguk dan menaiki motor Ninja Kawasaki milik Mas Ajar yang tingginya nauzhubillah.
Untuk Mas Alid sendiri nanti akan pulang bersama Papa ketika dijemput, karena tempat Papa bekerja melewati sekolahku maka dari itu sekalian saja.
Motor Mas mulai membelah sore kala itu, mentari pun sudah tak terlalu menunjukan panasnya, bergulir seirama mentari terbenam bersemayam.
Sesampainya dirumah aku langsung saja melempar tas keatas kasur dan mulai rebahan, ah lelahnya.
Keseharianku hanya seperti itu, sekolah, belajar dan tidur.
"Dek, mandi dulu sana nanti gantian Mas," suruh Mas padaku.
"Duluan aja Mas, nanti baru Ipa. Mau rebahan dulu."
"Dek!"
"Ish," keluhku diikuti dengan memaksakan bangun dari kasur, lagi enak-enaknya padahal.
Aku mandi hanya sekitar sepuluh menit itu pun tak ada. Ku rebahkan badanku sembari bermain Handphone.
Tak ada berita heboh.
Leanav Kai, Rio selalu ngajak aku keluar nih tapi aku males gimana ya?
Kaiara Ya jawab aja aku lagi capek gitu
Leanav Udah sering Kai, dia nggak akan percaya lagi
Kaiara Yaudah aku sibuk
Leanav Oke
Aku terkadang bingung dengan Lea, ia selalu ingin pacaran dengan Rio dulu, namun ketika diajak hangout nggak mau, dasar manusia.
Kuletakkan Handphone diatas nakas dan membaringkan tubuh, sepertinya aku tidak ekskul besok, aku butuh liburan. Aku sangat lelah raga dan batin.
Kaiara Sa, besok izin ya aku capek banget butuh liburan
Salsaa Oke nggak apa-apa Kai
"Dek, makan dulu." Suruh Mas Alid, masih bisa kudengar dengan jelas namun karena sudah terlanjur malas aku hanya bergumam saja.
Kudengar Mas Alid menghembuskan nafas pelan. Ditutupnya pintu kamarku dan bisa kudengar Mas Alid berkata.
"MA, SIPA UDAH TIDUR." Dasar Masku yang satu itu cuek tapi absurd.
Tak lama aku kembali ke alam mimpi.
🍀🍀🍀
**Hai guys, makasih buat kalian yang udah baca, like, rate dan favorite ceritaku.
Yang mau feedback silahkan tinggal komen dibawah. Aku orangnya timbal balik kok.
Jangan lupa ya like, komen, rate and klik favorite. boom like klo bisa ya hehe 😄😄
salam istrinya soobin 😙**