
*Kringgg……*
Bel masuk sudah berbunyi, kini aku dan Lea telah berada dikelas. Kebetulan tempat duduk kami depan belakang yang membuat kami semakin mudah untuk mengobrol.
Pelajaran selanjutnya adalah Matematika, kebetulan yang mengajar adalah Bu Nunung, guru yang katanya kiler bin ajaib, namun selama kelas VIII ini aku tak pernah merasakan aura kekejaman seorang Guru Matematika pada dirinya.
“Kai, kamu udah ngerjain UK 5 belum?” Tanya Nggit padaku.
Heh? Memangnya ada pr? Batinku.
“Memangnya ada pr?” tanyaku sembari mengecek buku notes.
Astaga, sepertinya kali ini aku akan memancing kemarahan guru yang katanya galak ini.
“Baik anak-anak, Ibu buka Assalamualaikum Wr Wb.”
“Waalaikumussalam Wr.Wb.” jawab anak-anak serempak.
“Apakah minggu lalu Ibu ada memberikan pr?” Tanya Bu Nunung.
Keringat sudah membasahi kening juga telapak tanganku, jujur tanganku sudah gemetaran
sekarang.
“Ada Bu, UK 5 halaman 24,” ucap ketua kelasku.
Asem, batinku.
Bu Nunung sudah menujukan tatapan sadisnya, seraya memegang penggaris panjang miliknya, berkeliling kelas sembari memperhatikan buku milik anak muridnya dan sialnya ia malah menghampiriku yang sudah gugup setengah mati.
“Kaia… Ibu mau liat pr kamu,” ucap Bu Nunung.
Astaga, rasanya mau menangis saja aku.
“Engg… i..itu ii…ii..tu Maa…af banget bu sebelumnya, saya benar-benar lupa kalau ada pr,” ucapku gemetar, sungguh ini adalah hal yang paling memalukan selama 13 tahun hidup.
“KENAPA SAMPAI LUPA?!!! KAIA… KAIA… kamu itu anak yang Ibu suka karena rajin, tapi kenapa kamu jadi seperti ini.”
Hell, aku merasa tersanjung selama sepersekian detik.
Bu Nunung maju kedepan tanpa berbicara apapun lagi, ia menuliskan satu soal yang cukup panjang dan berbalik kearahku lagi sembari menunjuk soal itu.
“Kerjakan soal ini dan kalau kamu bisa, Ibu tidak akan mempermasalahkan ini lagi.”
Sejujurnya, aku sudah mempelajari materi yang soal Bu Nunung berikan bahkan sebelum materi diberikan, namun gugup tetap ada. Dipermalukan dikelas yang rata-rata teman baru semua, siapa yang nggak kesel coba?
Aku langsung saja maju kedepan, mengambil spidol dan mulai menuliskan angka demi angka dengan Bu Nunung yang selalu mengawasi.
Setelah selesai, aku bahkan belum diperbolehkan duduk namun, harus menunggu Bu Nunung selesai mengoreksi jawaban yang kukerjakan. Namun, Bu Nunung bukannya kembali marah tetapi malah memberikan senyum padaku seakan bangga dengan apa yang aku kerjakan.
“Bagus, walaupun kamu memuat Ibu kecewa karena tidak menggerjakan pr minggu lalu, setidaknya kamu sudah mengerti tentang materi ini,” jelas Bu Nunung.
Aku mengangguk-angguk tidak jelas tanda mengerti, “Saya sudah diperbolehkan duduk, Bu?”
Bu Nunung hanya mengangguk seakan mempersilahkanku untuk duduk.
Aku yang dianggukipun langsung menuju tempat duduk yang berada dibaris dua dari depan. Seperti sudah memenangkan peperangan setelah dipermalukan, aku mulai berjalan dengan mengangkat dagu.
“Untung bisa jawab ya?” Tanya Nggit seakan lega bahwa aku bisa menjawab soal dari Bu Nunung.
“Iya, untung aja,” ucapku seakan Tuhan sedang berada dipihakku.
“Mantep Kai, lagian kenapa bisa lupa kalau ada pr?” Tanya Lea sembari menengok kebelakang tanpa sepengetahuan Bu Nunung.
“Namanya juga manusia Le.”
Selanjutnya pelajaran berlangsung dengan tenang, pelajaran setelah Matematika adalah Bahasa Inggris, jujur aku sangat malas dengan pelajaran itu. Biasanya aku akan tertidur sepanjang pelajaran, biasalah anak males.
“Kai, jangan tidur lagi ya. Kemarin kamu udah dipelototin sama Miss Farida,” ucap Nggit mengingatkanku.
“Yah padahal sudah diniatkan untuk tidur selama pelajaran dirinya yang membosankan,” ucapku dibuat-buat serta gerakan tangan yang menambah kesan dramatis.
Aku bukannya tidak suka Miss Farida namun, aku hanya tidak suka pelajaran Bahasa Inggris dari SD.
“Yee, tapi heran kenapa selalu lolos kalau ujian Bahasa Inggris,” ucap Nggit sambil menggeleng - gelengkan kepala.
“Hoki,” ucapku singkat, alhasil aku tidak bisa tertidur untuk pelajaran Bahasa Inggris kali ini.
Jujur, hari ini cukup melelahkan bagiku, sesampainya dirumah aku langsung saja berganti pakaian dan dan mengerjakan tugas dirumah.
Ting…
Handphoneku secara tiba-tiba berbunyi tanda ada pesan masuk dan ternyata Lea mengirim pesan line.
Leanav Kai lihat pr biologi no 3 dong, nggak tau nih
Kaiara Belum Le, baru sampai rumah tadi ada urusan.
Niatnya aku ingin rebahan namun, aku urungkan karena belum mengerjakan pr biologi.
“Makan dulu gih,” suruh mama.
“Nanti aja, ini mau ngerjain pr Biologi dulu.”
Mama hanya mengangguk saja lalu pergi meninggalkanku.
Cukup lama aku berkutat dengan pr Biologi, aku pun lelah sendiri dan tanpa sadar tertidur di meja belajar.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 yang artinya aku melewatkan sholat ashar, astagfirullah.
Langsung saja aku keluar dari kamar sembari mengendap - endap menuju kamar mandi dan mengambil wudhu.
“Baru bangun?” Tanya Papa sambil berkacak pinggang mengagetkanku.
“Heheh, maaf Pa ketiduran tadi,” ucapku merasa bersalah.
“Yasudah cepat mandi, sholat dan makan.”
Setelahnya Papa meninggalkanku yang akan membersihkan diri dan pergi ke ruang kerjanya.
Setelah mandi dan sholat, aku melanjutkan kegiatan belajarku sembari melihat grup kelas.
Different (37)
Anggawidi Oy PAP Bio kek
Ralifa Elah Bu Dian mah nyelo aja
Leanav Jangan gitulah Ra, kasian udah sakit-sakitan
Dasar Lea jahat, Bu Dian merupakan guru terbaik di SMP, tak pernah marah, gampang menangis, juga salah satu yang terpenting dikelas, walikelasku.
Keesokan harinya…
Baru saja sampai aku langsung diberitahukan bahwa Bu Farida, Guru Bahasa Inggris yang mengajar kelasku meninggal dunia. Sontak aku terkejut.
“Kai, kamu udah dengar belum Bu Farida meninggal?” Tanya Lea sesampainya aku dibangku.
“HAH?!! BENERAN?? Sumpah Le jangan bercanda,” ucapku terkejut dan panik, tak menyangka saja.
“Benar Kai, masa aku bohong,” ucap Lea dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengah sebagai tanda peace.
Astaga baru kemarin kelas VII Pak Admiral di panggil Allah sekarang Bu Farida.
“Katanya kenapa?” tanyaku lagi.
“Sakit katanya, pantas minggu lalu beliau keliatan lemas.”
Aku hanya mengangguk, Allah mungkin sangat menyayanginya hingga dipanggil terlebih dahulu.
“Bahagianya adalah Guru-Guru mau nyelawat kerumah beliau katanya sih ikut pemakaman juga, soalnya pemakaman di Pondok Ranggon, kalau Pak Admiral kan di Padang jadi waktu itu nggak nyelawat,” jelas Lea panjang lebar.
Aku hanya mengangguk-angguk tak jelas meng-iyakan perkataan Lea. Kelas masih saja ramai, entah ada yang bersedih karena kepergian Bu Farida atau senang karena pulang cepat.
Siangnya Lea mengajakku ke restoran baru yang ada didekat SMP kami, restoran itu masih baru dan Lea sangat ingin pergi kesana sedangkan, Rhisa tak bisa menemani karena ada urusan dan aku tak bisa untuk menolak karena jadwalku memang kosong semua.
Disinilah aku dan Lea sekarang, hanya memesan makanan ringan dan jus sebagai pendamping percakapan kami.
“Ih parah sih Bu Farida tiba-tiba bang-“ ucapan Lea terputus saat seseorang menyapaku.
“Eh Kai, tumben.” Ucap seseorang itu.
“Eh iya Yo, lagi boring aja nih.” Balasku kepada Rio, ya Rio cowok yang sedang Lea sukai.
Aku tau dari tatapan Lea, bahwa ia saat kebingungan saat ini bagaimana aku bisa mengenal Rio.
“Duluan ya Kai,” ucapnya dan berlalu pergi.
“Kai, kamu kok bisa kenal Rio?” Tanya Lea setelah Rio pergi.
“Eh? Oh itu dulu temanku deket sama Rio jadi aku juga dikenalin,” jelasku.
“Kenapa kamu nggak kenalin ke aku? Kamu tau kan aku suka sama dia, kalau tau gitu aku minta kamu kenalin aja. Kenalin aku dong Kai, please.”
Engg… jujur aku kelimpungan saat ini. Bukannya tidak mau mengenalkan Lea pada Rio namun, temanku yang kubilang tadi juga sudah menyukai Rio sejak lama.
“Engg… Le bukannya aku nggak mau ngenalin kamu sama Rio tapi apa nggak sebaiknya kamu dekat dengan perlahan, kenalan secara pribadi aja tanpa aku sebagai perantara kalian.”
Entah apa yang salah dari perkataanku namun, Lea marah mendengarnya. Aku menjadi kebingungan karenanya.
“Sudahlah Kai, kalau kamu emang nggak ada niatan atau aku nggak boleh kenal sama Rio ya udah, bener ya kata Rhisa kamu itu MUNAFIK!!” kata sarkas keluar dari mulut Lea membuatku sakit hati mendengarnya.
Selanjutnya Lea berlalu pergi meninggalkanku yang masih membeku karena terkejut, untung saja restoran sepi pengunjung saat ini jadi aku tak perlu terlalu malu.
Aku tak menyangka bahwa hubungan kami terhenti sampai disini, entah apa yang Rhisa katakan kepada Lea namun yang pasti bukan hal baik.