Rain And Wind

Rain And Wind
Episode 6



Esoknya...


Kami semua memutuskan untuk berlibur dengan pergi ke Yogyakarta. Yogyakarta merupakan tempat kelahiran Mas Ajar dan Mas Alid sedangkan aku lahir di Wonogiri dan Saskia lahir di Jakarta.


Mengapa berbeda? Karena Papa dari Yogyakarta sementara Mama dari Wonogiri dan Saskia lahir ketika kami telah di Jakarta, maka dari itu berbeda.


Mas temenin aku ke Malioboro ya, ucapku pada kedua kakakku.


Kedua Mas-ku hanya mengangguk kecil, kami berempat (dengan Saskia juga) mulai menelusuri jalanan Malioboro, hari sudah sore yang membuat banyak sekali orang.


Di Malioboro aku membeli beberapa gantungan kunci, karena jujur aku sangat menyukai gantungan kunci. Entah karena beli sendiri atau karena diberikan oleh orang lain.


Salah satu hobiku adalah nge-even jepang, karena disana aku bisa memborong gantungan kunci tanpa takut kurang uang. Dikarenakan Mas Alid itu juga suka nge-even jadi aku tidak perlu khawatir. Kan bisa minta bayarin dia.


Selanjutnya kami menuju Universitas Gajah Mada, Universitas yang Mas Ajar tuju untuk kedepannya.


"Mas memangnya mau ambil jurusan apa?" tanyaku pada Kakak ketika kami didepan Fakultas Psikologi.


"Emmm MIPA mungkin?" ucap Mas ragu, aku pun ikut mengernyit bingung, padahal Mas sudah kelas XII namun, belum bisa menentukan Perguruan Tinggi Negeri mana dan Fakultas apa yang akan dituju.


Kami berkeliling kembali hingga maghrib tiba, kami memutuskan sholat di Masjid Universitas Gajah Mada.


Selanjutnya kami pulang dan beristirahat, karena besoknya kami berniat pergi ke Candi Prambanan.


Besoknya, kami benar-benar pergi ke Prambanan, namun tidak lama karena penerbangan kami pukul 15.05.


Aku mulai berkeliling serta berfoto ria dan tanpa terasa hari sudah menjelang sore membuatu yang ikhlas tidak ikhlas haru kembali ke Jakarta. Aku mulai berpamitan dengan nenek juga saudara yang berada di Yogyakarta kala itu.


Kami tiba di Jakarta pukul 16.25, sementara perjalanan bandara ke rumah sekitar setengah jam.


Langsung saja aku membersihkan diri dan membereskan buku pelajaran untuk besok dan merebahkan diri. Lelah sekali, tidak aku pedulikan belajar untuk besok. Satu hari tak belajar tak mengapa bukan?


"Dek, udah makan?" Tanya Mas Alid padaku dan kujawab dengan gelengan.


"Nggak makan kayaknya, capek banget." Putusku dan Mas Alid sepertinya mengerti.


Mas Alid pun pergi dari kamarku dan menuju ruang makan.


Esoknya...


"KAIIIII!!!!" teriak seseorang dari arah luar ketika aku baru membuka novel.


"Apa?" tanyaku ketika Sania datang kehadapanku dengan nafas yang ngos-ngosan.


"GILA Kamu harus tau ini," ucap sania sembari memperlihatkan handphonenya.


Terlihat grup angkatanku sangat heboh dikarenakan ada dua murid yang berpacaran bahkan berciuman didalam toilet perempuan.


"What?!" teriakku tak percaya, bukan karena berita itu lebih tepatnya namun, orang sedang diberitakan itu yang membuatku terkejut.


Orangnya adalah LEA DAN RIO??


Astaga ada saja masalah. Oetteoke?


Aku jadi kalang kabut sendiri, pantas saja Lea belum datang juga. Hanya ada Rhisa yang duduk tenang di kursinya.


Aku hampiri dia yang kini sedang asik membaca novelnya.


"Rhisa," panggilku dan ia kini menoleh padaku.


"Hm?" tanyanya tanpa menoleh masih asik dengan bukunya yang membuatku kesal.


"Kamu tau kan berita tentang Lea?" tanyaku padanya sembari bersedekap.


"Hm iya, kenapa?" tanyanya lagi sementara aku hanya mengernyit kebingungan mengapa ia begitu tenang.


"Kenapa kamu tenang banget, dia teman kamu juga Rhis," ucapku dengan nada tinggi.


"Hm? Dia temanku? Cih, dia bukan temanku lagi ya semenjak dia berulah," ucapnya tenang berlalu pergi meninggalkanku yang menahan emosi.


Langsung saja aku mengikutinya keluar kelas dan di depan kelas lebih tepatnya pojokan yang jarang dilewati orang aku cengkeram bahunya dengan keras.


"Apa maksud kamu? Karena dia berulah, dia bukan temanmu lagi begitu? Cih," ucapku sinis.


"Lalu kamu masih mau berteman dengan anak bermasalah seperti itu?" balasnya tak kalah sinis, hampir saja aku menamparnya namun, kutahan dengan enggan.


Ku dorong dia hingga terbentur dengan tembok. Ku kencangkan cengkeramanku namun kali ini dikerah bajunya. Cukup lama hingga ia kehabisan napas. Ku lepaskan dengan enggan kali ini.


"Karena dia berteman lagi denganmu dan meninggalkanku, jadi aku tidak bisa menahannya, bukannya impas sekarang?" ucapnya ketika aku ingin berlalu pergi.


Aku berbalik, "Apa sih masalah kamu sama aku? Kenapa kamu benci banget sama aku?"


"Pikir sendiri!!" ucapnya ketus dan berlalu pergi, dibenturkannya bahu padaku.


Sampai istirahat pertama Lea tak terlihat batang hidungnya. Aku mulai khawatir dengan Lea. Kini aku bersama dengan Sania, Lisna, dan Nadira akan menuju kantin.


Namun, saat berjalan menuju kantin banyak sekelompok siswi yang berbicara buruk tentang Lea, contohnya saja seperti ini.


"Gila ya Lea bisa aja gitu, masih kecil udah ngelakuin hal kayak gitu. Nggak habis pikir."


"Iya, kirain polos taunya bejat dibelakang." Ucap yang lainnya


"Lagian Rio mau aja sama anak kayak gitu, dikasih pelet apa sih."


Seperti itulah ucapan buruk tentang Lea yang terus bermunculan ketika aku menuju kantin membuat telingaku panas mendengarnya. Ingin sekali aku menampar satu persatu wajah – wajah itu.


Aku mungkin belum begitu mengenal Lea karena kami baru mengenal beberapa bulan, namun aku yakin Lea bukan anak yang seburuk itu.


"Kamu udah ketemu Lea, Kai?" Tanya Sania padaku.


Aku hanya menggeleng kecil padanya, memang benar aku belum bertemu dengan Lea sampai istirahat pertama. Bahkan soto yang aku makan saat ini terbiarkan begitu saja hingga dingin.


Sampai jam masuk tiba Lea belum terlihat, Bu Dian yang mengajar kelasku saat ini pun belum menunjukkan batang hidungnya.


Sepertinya mereka sedang berada di BK atau yang lebih parahnya bisa sampai Wakil Kepala Sekolah atau bisa saja Kepala Sekolah.


Yah, kemungkinan yang terakhir itu bisa menjadi sangat berbahaya, karena Lea bisa saja di D.O tentang hal tabu seperti itu walau aku yakin Lea tidak akan melakukannya.


"Udah Kai, nggak usah dipikirin. Kita nggak usah ikut campur dalam hal kayak gitu, karena nantinya kita yang akan kena imbasnya. Cukup kita liat situasinya dari jauh, nasihat Sania, entah apa yang terjadi aku masih saja tak mengerti bagaimana bisa terjadi fitnah seperti itu."


Sania itu sangat cerewet dan ceplas-ceplos namun, ia akan menjadi orang pertama yang mengerti situasi serta memberikan nasihat terbaik setelah Nadira. Juga, apa yang dia katakan akan selalu benar.


"Iya Kai, kamu nggak perlu khawatir. Serahin semuanya sama yang diatas," ucap Nadira menambahkan.


Nadira itu, anaknya pendiam dan baik hati serta selalu peka terhadap sekitar juga pemberi nasihat dan jalan keluar terbaik untuk kita ketika bermasalah atau sulit membuat keputusan.


Sedangkan Lisna, anaknya termasuk pendiam namun jika sudah bersama kami cerewetnya akan melebihi cerewetnya Sania, sukanya berantem terus dengan Sania bak tom dan jerry. Dia juga yang menjadi orang pertama yang akan menegur kami ketika berbuat salah.


Jujur aku sangat bahagia memiliki mereka, mereka adalah arti dari sahabat yang sesungguhnya, jujur kami jarang sekali bertengkar dikarenakan kami bisa mengerti satu sama lain tanpa adanya rasa iri.


"Iya aku mengerti, tapi gimana ya khawatir aja gitu bawaanya. Aku tau Lea itu juga baru aku kenal, tapi rasanya sama seperti aku khawatir ke kalian." Ucapku sembari mengaduk soto yang mulai dingin itu.


Tanpa terasa bel masuk sudah berbunyi, masih ada satu jam pelajaran Biologi atau pelajaran Bu Dian, karena pelajaran tersebut terpotong jam istirahat.


"Maaf anak-anak, Ibu telat masuk karena ada sedikit masalah dan kalian tau pasti apa itu." Ucap Bu Dian ketika masuk kelas.


"Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana dengan anak yang bersangkutan. Dia akan di skors sementara karena belum adanya bukti bahwa mereka melakukan hal itu. Sekolah akan melakukan penyelidikan dan setelahnya akan memberikan hukuman yang pantas tentu saja dan Ibu hanya bercerita pada kelas ini saja karena kalian anak Ibu," lanjut Bu Dian.


Hal yang sangat aku syukuri karena Lea tidak di D.O namun, hanya di skors. Lagipula siapa sih yang menyebarkan fitnah seperti itu, membuatku sangat kesal dan ingin memaki orang tersebut sekarang juga.


"Agak lega kan sekarang?" tanya Sania padaku dan kujawab dengan anggukan kecil. Ah, kebetulan Sania dan Nadira kini duduk didepanku karena bertukar dengan Lea dan Rhisa pada waktu itu.


Kami kembali belajar dengan tenang, Bu Dian pun memberikan kisi-kisi untuk Ulangan Akhir Semester.


Yepp benar, Ulangan Akhir Semester. Tak terasa bahwa sebentar lagi aku akan kelas IX dan kehidupan SMP akan berakhir. Ah, tidak terasa ya.


Untuk pelajaran Biologi sendiri tidak terlalu banyak materi yang akan keluar saat UAS. Hanya 2 atau 3 bab dari 5 bab persatu semester.


Aku pulang dengan keadaan yang tak bisa dibilang baik, jujur aku sangat lelah bahkan hingga aku lupa untuk berganti pakaian.


Setelah seharian berkutat dengan pelajaran, aku mulai merebahkan diri. Di rumah tak ada siapa-siapa, Mama dan Papa kerja, kedua kakakku serta adikku masih sekolah.


Tak lama pintu rumahku diketuk, siapa yang datang? kalau anggota keluarga pastinya akan langsung masuk.


Kupaksakan tubuh untuk bangkit dan membuka pintu, terlihat seorang perempuan dengan mata sembab dan rambut acak-acakkan yang tertutup oleh jaket berdiri disana.


"Kai," ucap Lea gemetar, pipinya terlihat merah seperti habis ditampar oleh seseorang.


Kupersilahkan Lea masuk dengan terburu-buru serta kuambilkan minum untuknya. Keadaannya bisa kubilang sangat kacau.


Lea masih saja terlihat sesenggukan, pasti sangat berat untuknya. Aku bisa mengerti itu.


"Lea kenapa?" tanyaku padanya dengan pelan, tanpa aba-aba dia langsung menubrukkan badannya padaku.


"Ka....Kai ak...ku nggak bee..giitu.." ucap Lea terbata-bata.


"Oke oke pelan-pelan aja ya, minum dulu lalu kamu tenangin diri kamu, oke." Ucapku padanya, Lea minum dengan terburu-buru tangannya pun masih gemetaran, kuusap punggungnya menenangkan.


Setelah dirasa cukup tenang Lea kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku nggak tau kenapa bisa ada berita seperti itu, bahkan hari itu aku lagi nggak sama Rio, bahkan aku nggak ketemu sama dia." Ucap Lea menyakinkanku dan aku mengeri itu.


Aku mengernyit kecil, "Lalu kenapa bisa ada berita seperti itu? Aku benar-benar nggak ngerti, "ucapku pada Lea sembari mengernyit.


"Aku juga nggak tau, bahkan saat ke toilet, aku bareng Rhisa." Ucap Lea seperti putus asa.


"Yang nyebarin berita siapa?" tanyaku.


"Cyntya," ucapnya singkat dan itu sukses membuatku sontak membeku.


"Cyntya." ucapku gemetar, mataku pun mulai memanas membuat Lea khawatir.


Dulu, saat kelas VII Cyntya pernah mengancam Nadira untuk tak dekat-dekat dengan Rio, Mengapa? Karena Cyntya menyukai Rio.


"Kenapa Kai?" tanya Lea bingung.


"Dia dulu pernah mengancam Nadira agar tak dekat dengan Rio," ucapku ragu.


"Hah?" kulihat dahi Lea mengernyit kebingungan.


"Teman yang dahulu aku bilang mengenalkanku pada Rio adalah Nadira dan satu hal yang lainnya aku tak mengenalkanmu pada Rio, karena Nadira menyukai Rio. Pada saat itu Cyntya juga menyukai Rio maka dari itu Cyntya mengancam Nadira karena tau Nadira dekat juga menyukai Rio," jelasku panjang lebar.


Lea kembali menangis dan tak bisa mengucapkan apa-apa lagi, mungkin merasa bersalah. Ia juga bercerita bahwa Ibunya marah besar.


Kami pun mencurigai Rhisa saat ini, bagaimana dia yang membenciku dan dia juga yang mengajak Lea pergi ke toilet hari itu.


Tak terpikirkan lagi, kami sudah tak percaya dengan Rhisa. Seseorang yang kami pikir baik ternyata menusuk kami dari belakang.


Sebuah kesetiaan yang berujung penghianatan telah menjadi pudar bersama fortifikasi hati yang terbentuk tampak sengaja. Kepercayaan yang telah terbentuk itu kini telah pudar berganti dengan keegoisan pada diri sendiri.