
Aku pulang dengan keadaan lesu, niat makan pun tidak. Langsung saja aku masuk kamar dan tidur, tak lagi memperdulikan mandi dan pr.
Keesokan harinya aku semakin lesu ketika Lea berpindah tempat duduk dengan Rhisa yang tersenyum sinis kepadaku.
Ada masalah apa sih sebenarnya dia denganku?
Nggit juga merasakan atmosfer berbeda dariku dan juga Lea, namun ia tak mengindahkannya, mungkin nanti.
Benar saja ketika jam istirahat yang biasanya Nggit pergi ke kantin namun kali ini tidak, keadaan kelas juga terbilang sepi hanya beberapa siswa yang kemungkinan membawa bekal dan malas ke kantin.
" Kenapa?" Tanya Nggit tak jelas, namun aku mengerti maksudnya.
"Kenapa apanya?" tanyaku pura-pura.
"Nggak usah pura-pura deh Kai, aku tau kamu sama Lea lagi ada masalah." Ucap Nggit kesal.
"Emmm.. jadi gini aku kemarin pergi ke restoran baru yang ada di pertigaan sana, lalu aku ketemu sama Rio. Lea bingung kan kenapa aku bisa kenal dan akrab sama Rio, aku langsung bilang dong kalau temanku yang mengenalkan, dia kesal karena tidak dikenalkan kepada Rio dan mengatakan bahwa Rhisa bilang aku munafik," Ceritaku mengalir tanpa disengaja, membuat Nggit ikut merasakan kepedihanku.
"Yang sabar ya, nanti dia akan tau siapa sahabat yang benar-benar mendukungnya dan siapa yang menghianatinya. Jujur aku nggak nyangka aja Rhisa seperti itu." Ucap Nggit sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Aku hanya mengangguk lemah dinasihati seperti itu. Ya karena semua persahabatan bahkan pertemanan sekalipun tiada yang sempurna.
Karena...
Ini tentang air mata yang jatuh beriringan, juga tentang tawa yang tercetak tanpa sengaja.
Ada saatnya ketika kamu berbagi tawa bersamanya, namun ada kalanya air mata akan terjatuh seiring bagaimana hubungan tersebut.
Kini hubungan kami berada dititik rapuh dan ketika aku salah melangkah maka kami akan berada dijurang perpisahan.
Semua itu tidak ada yang abadi, entah itu persahabatan, usia juga hal – hal lainnya yang hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai hambanya hanya bisa mengikuti alunan takdir yang entah akan membawa kita kemana.
"Hmmm? Ada yang kehilangan teman nih," ucap seseorang tiba-tiba dari pintu masuk kelas mengejutkan aku dan Nggit.
"Jangan begitu. Jahat banget sih San," ucap yang lainnya dengan cemberutan di wajahnya.
Mereka adalah Sania, Lisna, dan Nadira. Temanku ketika kami kelas VII. Bukan, bisa dibilang sahabatku.
"Biarin aja, kemarin aja seneng banget punya teman baru sampai teman lama dilupain giliran sekarang ditinggalin curhat sana-sini," ucap Sania sarkas sembari berkacak pinggang.
Lisna yang mulai kesal menyenggol lengan Sania yang membuat Sania mengaduh.
"Ishh Ina, diem deh." Ucap Sania kesal dan diakhiri adu mulut mereka berdua.
"Udah ishh kalian berdua berantem mulu," lerai Nadira dengan kesal pada keduanya.
Aku semakin murung karena perkataan Sania, memang dasar aku tidak tahu diri ya, ketika aku memiliki pertemanan yang baik namun harus tamak akan pertemanan yang lain hingga lupa pertemanan yang sebelumnya.
"Elah Kai bercanda doang kok dibawa serius amat," ucap Sania menenangkanku ketika aku hampir menangis, namun tetap saja aku merasa bersalah.
"Udahlah Kai nggak usah dipikirin nanti juga baikan," ucap Lisna ikut menenangkanku.
"Aku bingung harus mengatakannya atau tidak, Sejujurnya aku marahan sama Lea karena Rio, dia ingin dikenalin ke Rio karena Lea suka Rio."
Kulihat tubuh Nadira menegang, memang benar bahwa Nadiralah orang yang mengenalkanku pada Rio, juga Nadiralah yang menyukai Rio.
"Dan aku nggak mau karena aku salah satu dari kita-" ucapanku terpotong karena Sania.
"Ssttt Udah Kai nggak usah dilanjut," larang Sania yang langsung membuatku bungkam dan mengangguk.
Sementara Nggit terlihat kebingungan dengan situasinya. Aku bukan tidak ingin memberitahu Nggit masalah ini namun hal ini merupakan rahasia kami berempat bahkan sebelum aku mengenal Nggit, Rhisa dan Lea.
"Yaudahlah Kai masih ada kita, kamu nggak perlu khawatir. Kita juga nggak marah kok," ucap Sania menenangkanku.
"Makasih," ucap Nadira dengan nada kecil, namun masih tetap terdengar olehku, sontak saja aku tersenyum.
"Sama-sama." Ucapku singkat sembari tersenyum.
Nggit semakin bingung dibuatnya namun, ia seperti mengerti situasi dengan tidak bertanya lebih jauh permasalahan ini.
Im just so tired and stressed of everything right now. Wie ist es?
Jam istirahat telah berakhir dan pelajaran selanjutnya adalah IPS, pelajaran kali ini yaitu membuat mind mapping. Kebetulan aku dan Lea satu kelompok, kelompokku terdiri dari, Sania, aku, Lea, Darvis, Rafi, dan Angga.
"Jadi tema kita apa?" Tanya Angga sembari membaca materi mind mapping kami. Dasar Ketua ambisius.
"Gimana kalau universe atau hutan? Langit juga bagus," usul Sania sembari melihat contoh mind mapping di pinterest miliknya.
Lea terlihat diam dan mengacuhkanku, aku pun bersikap biasa bahkan cenderung sinis padanya, karena aku sudah lelah akan sikapnya.
"Oke kita ambil universe aja, jadi mau kerja kelompok dirumah siapa?" Tanya Angga memastikan.
"Yee bilang aja mau makanan enak," ucapku dengan cemberut dan itu tak luput dari perhatian Lea sedangkan aku meliriknya sekilas dan memutar bola mata.
"Yaudah dirumah Angga aja," putus Darvis.
"Oke," ucapku.
"Sabtu aja gimana? Sekitar jam 10?" Tanya Angga.
"Boleh. Yang lain gimana free ga?" Tanya Sania.
Semua mengangguk dan menyepakati akan kerja kelompok dirumah Angga hari sabtu jam 10.
"San, aku ikut kamu ya, sabtu kakak aku ada les." Ucapku pada Sania dan disetujui olehnya.
"Calling calling aja nanti via whatsapp." Ucapnya dan langsung kuacungi jempol tanda setuju.
Sabtu pagi sudah menjadi rutinitasku bersama kakak akan olahraga pagi dengan lari disekitar taman, jam 8 aku akan pergi ekskul dan kakakku akan pergi les, seharusnya ekskulku selesai jam 12 namun, karena ada kerja kelompok harus izin.
"Sorry ya Sal aku izin dulu, mau kerja kelompok IPS biasa," ucapku menyesal.
"Oh oke selow aja, anak-anak biar aku yang urus. Iya tuh mind mapping, tau nih kelompokku kapan kerja kelompoknya. Oke semangat ya," keluhnya dan dilanjutkan dengan menyemangatiku.
Langsung saja aku menuju gerbang karena Sania sudah menunggu, rumah Angga di daerah Cilangkap. Cukup jauh dari sekolah. Aku dan Sania pergi menggunakan motor, memang dasar Sania belum cukup umur namun sudah membawa motor.
Sesampainya aku di rumah Angga, aku langsung dipersilahkan duduk menunggu yang lain datang bersama Sania dan Angga. Dirumah Angga hanya ada dirinya dan sang Mama, karena Papanya sedang bekerja dan adik perempuannya sedang ekskul taekwondo.
Pukul sudah menunjukkan 10.15 namun, belum ada satupun yang menunjukkan batang hidungnya. Membuat kami yang menunggu kesal, terutama aku. Aku paling membenci orang yang tidak on time, tidak jadi datang ketika sudah memutuskan untuk pergi apalagi saat detik terakhir atau aku sudah di lokasi, juga orang yang menunda pekerjaan.
Karena menurutku orang-orang seperti itu adalah orang yang suka menyepelekan waktu dan tidak akan sukses kedepannya.
Ting...
"Eh Lea chat gua nih," katanya nggak bisa datang ada urusan keluarga. Ucap Angga pada kami berdua.
Aku langsung saja memutar bola mata malas paling hanya alasan saja agar tak bertemu denganku. Benar kan aku jadi kesal dengan Lea sekarang.
Tak lama setelahnya Rafi dan Darvis datang. Membuat kami langsung berdiri dan berkacak pinggang.
"Janjinya jam berapa ya? Jadi ngaret kan, ini udah jam 10.30 loh," ucap Sania kesal pada mereka berdua.
"Tau nih Rafi lama banget, baru bangun tadi pas disamper, by the way Lea aja belum datang." Elak Darvis.
"Nggak bisa datang dia, ada urusan katanya. Halah biasa Rafi mah kebo, ada kebakaran aja dia masih bisa tidur," ucap Angga ketus seraya menggeleng-geleng kepala.
"Ya sudah daripada lama-lama kita langsung bikin aja." Putusku daripada menunggu perdebatan mereka yang tidak tahu kapan selesainya.
Kami mulai dari menulis materi, mencetak gambar dan untungnya Angga mempunya printer dirumah jadi kami tidak perlu lagi menuju tempat foto kopian.
Ting
Ting
Ting
Handphone kami semua berbunyi dengan cukup keras dan beruntun.
"ASTAGA INI BENERAN, SUMPAHHH GILA. LEA PACARAN SAMA RIO??!!!" histeris Sania yang langsung membuatku spontan tersentak dan mendelik.
"EHHH??? Yang bener??" tanyaku ikut histeris.
" Iya ini buktinya grup kelas pada heboh karena masalah ini," ucap Sania seraya mengacungkan Handphone miliknya.
Astaga, bagaimana ini? Bagaimana bisa jadi pacaran? Bagaimana dengan Nadira?
"San," panggilku seakan menelepati, kami memikirkan Nadira.
Aku sangat bingung sekarang, rasanya ingin sekali menangis.
Goresan pena yang tadinya mengisi kertas kosong itu kini terhenti. Langit pun seakan mengerti perasaanku.
Disini, dibawah langit yang sendu, dengan hujannya takdir yang mempermainkan perasaanku.
*Wie is est : Bagaimana ini?*