Plin-plan

Plin-plan
Episode 8



Sudah 1 minggu lamanya Nia dan Dikma berumah tangga dan tinggal satu rumah, mereka menjalani hari-hari seperti biasa, karena Nia yang terkesan cuek jadi tidak menimbulkan kecanggungan di antara Kedua nya.


Namun Nia tidak pernah terang-terangan bermesraan dengan Arez di depan Dikma, ia cukup waras untuk bisa menjaga Perasaan Dikma, Nia akui Dikma begitu perhatian dengan nya, dan terkesan Memanjakan Nia, namun tetap saja benih-benih cinta belum tumbuh di hati Nia.


Hari ini rencananya Nia akan bertemu dengan Arez, betapa senang hati Nia, rasanya bunga-bunga indah sedang berterbangan di hati Nia, dengan lahap Nia menghabiskan sarapan nya dan pamit kepada Dikma.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum." Pamit Nia dengan buru-buru.


"Kamu mau kemana Fan, ini kan Weekend ?"


"Ketemu temen."


"Yaudah hati-hati."


"Iya, bye." Lambaian tangan Nia perlahan-lahan menghilang, Dikma kembali melanjutkan sarapan nya.


🍃🍃🍃


POV Arez.


Namaku Arez, lebih lengkap nya Alfarezi keandra, usia ku 22 tahun, anak bungsu dari 2 bersaudara, aku terlahir di keluarga kalangan menengah ke atas, namun aku tidak mau bermanja-manja menikmati harta keluarga ku, di saat anak orang kaya cukup kuliah dengan menyodorkan uang yang banyak agar cepat lulus aku disini tetap memanfaatkan otak ku sepenuh nya.


Alhamdulillah saat ini aku sudah mulai magang di perusahaan besar, yah walaupun masih perusahaan milik om ku hehe...


Tapi setidak nya aku bisa membuktikan bahwa aku memang pintar dan berbakat hahaha...


Aku mempunyai kekasih yang bernama Nia, dia adalah adik kelas 2 tingkat di bawah ku, dia gadis yang cantik, baik, imut, walau terkesan sombong karena sifat ceplas-ceplos dan Bar-bar nya.


Jujur aku sangat menyayangi nya, setiap melihat atau pun membayangkan wajah nya aku selalu berseri-seri dan selalu ingin bertemu dengan nya, 1,5 tahun lamanya aku merajut kasih dengan nya.


Hari-hari yang kami lalui penuh dengan cinta, dan kebahagiaan, beberapa kali aku ingin menemui orang tua nya untuk sekedar berkenalan atau mungkin menerangkan bahwa anak gadis nya ingin aku tunang untuk membuktikan keseriusan ku.


Namun Nia selalu melarang dia beralasan belum siap ingin menikmati masa muda terlebih dahulu, baiklah aku mengerti dan alasan nya memang masuk akal, Nia anak yang baik bisa menjaga diri, selama kami berpacaran Nia tidak pernah menunjukkan perilaku berlebih, pacaran kami hanya sekedar berpelukan, berciuman, yang menurut pergaulan kami masih wajar.


Jika hasrat ku sudah tersulut aku langsung menghentikan kegiatan kami, aku tidak ingin merusak gadis yang aku cintai, jika kami melakukan nya saat malam pertama betapa akan indah nya hehhe....


Namun semua impian yang sudah ku rajut seperti nya tidak akan terhujud, beberapa minggu lalu Nia menghubungi ku, dan mengatakan bahwa dirinya di jodohkan oleh orang tua nya.


Nia menceritakan semua kronologi nya, aku menawarkan untuk ikut melamar Nia agar Nia tidak di jodohkan, namun Nia melarang dengan alasan pendidikan dan usia ku yang belum matang, Nia meyakinkan bahwa pernikahan nya tidak akan bertahan lama karena Nia hanya mencintai ku.


Dan hari ini aku sudah duduk di kursi tepi Danau, ini adalah tempat favorit ku dengan Nia, kami sering menghabiskan waktu disini, sesekali aku melirik jam tangan, sebentar lagi tepat pukul 9:30, ke mana Nia ? Dia akan berjanji datang pukul 09:00, tapi ini sudah telat 30 menit, apakah dia di larang suami nya pergi.


Saat aku sedang menerka-nerka tiba-tiba sepasang tangan menutup mata ku, dengan wangi khas nya aku bisa mengenali siapa ini.


"Sayang..." Panggil ku lembut.


Nia langsung tertawa kecil lalu duduk di samping ku, aku langsung mencium pipi kanan kiri dan kening nya.


"Gimana rasanya jadi istri hehhe."


Tanya ku sedikit tertawa agar Nia tidak marah, jujur saja aku sebenarnya cemburu membayangkan Nia bersama bahkan tinggal 1 rumah dengan Pria lain.


"Ya gitu lah, kayak biasanya cuma bedanya tidur nya udah ber 2."


Jawab Nia ceplos, entah ia terlalu jujur atau sengaja membuat ku cemburu, aku langsung menatap Nia sembari tersenyum kecut, rasanya aku punya firasat jika sebentar lagi Nia ku akan menjadi milik pria lain.


"Kamu tidur berdua sama dia." Tanya ku lagi dengan nada pasrah.


"He eh, tapi dia ngak macem-macem kok."


Hati ku kini berdenyut nyeri, Ngak macem-macem tapi itu artinya kamu nyerahin diri kamu ke dia, kamu ngak tau saat kamu tidur dia ngapain aja, dia itu pria normal Nia, ingin rasanya aku mengatakan kepada Nia, tapi sudah lah lupakan saja.


Nia yang sedari tadi sibuk dengan handphone nya kini melihat ku dengan senyum-senyum menggemaskan nya.


"Ayo... aku mau makan seblak boleh ?"


Ya beginilah Nia, seblak yang harga nya cuma 8 ribu/porsi saja perlu izin.


"Aku beliin sama kedai nya boleh ?" Tanya ku balik.


"Arez." Nia memukul kecil dada ku sadar sedang aku ledek.


Akhir nya kami jalan bergandengan menuju kuda besi ku lalu melaju dengan santai menuju tempat tujuan, saat di perjalanan kami baru mengobrol banyak, Nia menyatakan hal yang sudah sangat sering di katakan nya, apa lagi jika bukan Hidup ku jadi gini gara-gara Ayra


Saat sampai di tempat tujuan kami langsung turun dan memesan beberapa menu, tak lama pesanan kami datang dan kami menyantap dengan lahap.


"Best banget sih seblak disini, udah murah, enak lagi, aku mau pesen 2 porsi lagi nih."


"Buat apa, kamu masih kurang sayang."


"Bukan gitu, mau aku bawa pulang buat Nur sama Dikma."


Deg sesak nya dada ku, baru 1 minggu usia pernikahan mereka belum 1 bulan, 2 bulan bahkan 1 tahun akan seperti apa Nia menyembunyikan cinta nya terhadap Dikma, aku pura-pura bersikap biasa saja.


"Owh,.Nur siapa ?"


"Nur, yang bantu-bantu di rumah Rez."


Saat kami berbincang tiba-tiba handphone Nia berbunyi, dengan jelas aku melihat nama Dikma yang tertera disana, karena Nia meletakkan handphone nya di atas meja.


"Dikma, tumben telfon, aku angkat dulu ya."


Izin Dikma dan aku menjawab dengan anggukan.


"Hallo Dikma."


"............."


"Owh gitu, yaudah aku pulang sebentar lagi."


"............."


"Iya."


Hmm... Entah lah apa yang mereka bicarakan, setelah menutup telfon Nia langsung menatapku.


"Arez.... maaf aku harus pulang, kata Dikma kami harus pulang ke rumah ibu ku, ada acara untuk kehamilan Ayra, entah lah acara apa tadi aku lupa."


Aku mengelus tangan nya yang menggenggam tangan ku erat.


"Iya sayang, ngak apa-apa, yaudah aku anter ke deket rumah kamu ya."


"Jangan dong hhee.... anter aja ke jalan deket danau, aku langsung pesen ojol kok."


"Yaudah kalo gitu, kamu duluan ke mobil aku bayar makanan nya sebentar ya."


"Oke sayang."


Jawab nya dengan manis, Nia langsung beranjak dan aku bergegas membayar makanan kami tadi.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote, tambah ke favorit biar bisa ngikutin keseruan Dikma dan Fania ya.