
"Saya terima nikah dan kawin nya Fania Paradipta Binti Ridwan dengan maskawin tersebut di bayar tunai."
Sah....
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Dikma dan Nia saling memasangkan cincin pernikahan.
"Di cium kening Istri nya, jangan lupa bismilah." Ujar penghulu.
"Cium."
"Cium."
Riuh teman-teman Dikma dan Nia yang turut hadir, Nia terlihat sudah pasrah, mau bagaimana lagi memang seperti ini prosesi pernikahan bukan.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Dengan perlahan Dikma mendekatkan bibir nya di kening wanita yang kini menjadi istri nya itu, mata Nia terpejam merasakan bibir Dikma kini sudah berlabuh di kening nya.
1 detik...2 detik...3 detik....
Air mata Dikma meleleh dengan sendiri nya, ia mendekatkan bibir nya di telinga Nia.
"Semoga kamu dengan lapang dada menerima pernikahan ini, semoga pernikahan kita menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah, jadi lah istri shalihah ku dan ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak."
Nia sedikit meleleh mendengar bisikan Dikma, sementara yang menyaksikan nya sudah bersorak ria.
"Tahan woy tahan..."
Pipi Nia mengeluarkan semburat merah, malu mendengar ejekan teman-teman nya.
🍃🍃🍃
Nia kini berdiri berdampingan dengan Dikma menyalami satu persatu tamu yang datang, Nia harus bersandiwara pura-pura anggun di depan banyak orang, ia melirik Dikma yang tampak nya biasa-biasa saja.
Laki-laki ini nggak capek ya senyum muluk, ya ampun....
"Aduh pegel nya, ini masih sore, jangan-jangan sampe malem lagi."
Gumam Nia tapi bisa di dengar jelas oleh Dikma.
"Pakai sendal biasa aja biar nggak pegel."
"Emang nya boleh, gimana cara ambil sendal nya."
Dikma tersenyum lalu membisikkan sesuatu kepada ibu mertua nya yang duduk berdampingan dengan mereka.
Dikma memperhatikan istri nya yang terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya merah maron dan siger Lampung di kepalanya.
"Kenapa liatin terus."
Dikma hanya tersenyum.
"Sama istri nya senyam-senyum doang, kalo sama pengunjung wisata bisa ngobrol sambil ketawa-ketiwi." Sindir Nia.
Dikma mengangkat alis nya.
"Maksud kamu apa."
"Jangan pura-pura polos."
"Ini masih di atas pelaminan, masa kita udah debat."
Nia memalingkan wajah nya, Dikma menggeleng, tanpa mereka sadari seseorang sudah menatap mereka dengan perasaan remuk.
Resepsi sudah selesai, Nia dan Dikma kini sedang menikmati makan malam tanpa obrolan apapun, Nia berpura-pura sibuk dengan dunia nya sendiri.
Dikma sesekali melirik Nia yang sibuk dengan handphone nya.
"Jangan main hp kalo masih makan."
Nia menatap sinis Dikma.
"Jangan bawel, di WA pura-pura jadi pendiem nyata nya bawel juga ternyata."
Dikma tidak menjawab karena di lihat nya Ibu mertua nya mendekat.
"Nia Dikma, rumah kita berantakan sekali, seperti nya malam ini kalian tidur di hotel saja, kamar Nia penuh dengan kado."
"Iya Bu, tidak apa-apa." Jawab Dikma santai
"Loh kok gitu Mah."
"Hotel nya di dekat sini, nanti di antar Afkal ya."
Ibu pergi tanpa menggubris pertanyaan Nia, selesai makan Nia dan Dikma langsung di antar Afkal, jarak nya hanya beberapa menit dari rumah, jika jalan kaki pun mungkin hanya sekitar 10 menit.
Mereka melangkah menuju kamar yang sudah di sediakan, Nia merebahkan diri nya di atas ranjang khas pengantin baru, kelopak mawar merah bertabur indah di atas seprai putih dan di kelilingi lilin-lilin yang membuat hati tenang melihat nya.
Nia sangat lelah sehingga ia dengan cepat berlayar ke pulau mimpi. Dikma masuk menyusul Nia karena ia membeli beberapa makanan dan minuman ringan terlebih dahulu, ia melihat Nia yang sudah memejamkan mata nya.
Dikma mendekati Nia ia tersenyum miring melihat gadis yang beberapa waktu ini selalu menjadi penyebab aplikasi Whatsapp nya ramai, ia mencoba mengangkat tubuh Nia dan mengeser posisi tidur nya agar lebih nyaman.
Dikma mengusap kening Nia, wajah cantik alami, bulu mata lentik, rambut sebahu, Dikma mengecup pucuk kepala Nia dengan cinta.
"Alhamdulillah." Gumam Dikma.
Merasakan ada sesuatu berat di dahi nya Nia terbangun.
Ah.....
Nia berteriak dengan histeris.
"Cium istri ku dong."
Nia membelalakan mata nya.
"Cium ? kenapa nggak izin dulu."
"Kamu kan istri ku, kenapa harus izin, bahkan untuk ngelakuin hal lebih pun aku nggak perlu izin."
Dikma naik ke atas ranjang lalu menindih tubuh Nia, ia mendekatkan bibir nya di bibir Nia, Nia sudah meronta-ronta.
"Dikma jangan.... plis jangan..."
"Arez......" Ucap Nia lirik di sela-sela tangis nya.
Nia terus berteriak namun Dikma tidak mengubris, ia masih berusaha menggapai bibir merah Nia, sadar bahwa tubuh Dikma lebih besar, Nia tidak akan mampu melawan Dikma, tangis Nia pecah.
"Jahat....." isak Nia
Dikma berhenti melihat Nia mengeluarkan air mata nya, tangan nya melepas tangan Nia yang sedari tadi di pegangi nya.
"Maaf...."
Nia memalingkan wajah nya, Dikma turun dari tubuh Nia lalu membantu Nia duduk, Nia langsung meringkuk, badan nya bergetar karena tangisan nya.
Dikma sangat merasa bersalah, ia mencoba meraih wajah Nia namun Nia menepis tangan nya.
"Fania maaf."
Nia mendongak kan wajah nya.
"Kamu jahat Dikma, jahat banget, kamu mu perko*a aku."
"Mana ada suami perko*a istri Fan..."
"Ada !! kamu orang nya."
"Ya ampun lucu nya istri ku, ku cubit ya pipi mu."
Dikma mengulurkan tangan nya mencoba menyentuh pipi Nia.
"Stop... jangan sentuh aku, laki-laki jahat !!"
"Terus aku harus apa, aku kan udah minta maaf, dan ini malem pertama kita loh, aku mau minta hak ku."
Nia semakin mengencangkan tangis nya mendengar kata Malam pertama.
"Aku belum siap pliss..."
Nia memohon menakupkan kedua tangan nya.
"Tapi yang di sini udah minta."
Dikma menunjuk sesuatu di bawah perut nya, Nia menggeleng cepat.
"Jangan...."
"Kenapa mak lampir bisa berubah jadi hello kitty, kemana Fania yang galak ?"
"Aku nggak pernah galak sama kamu."
"Pas lamaran kamu cemberut terus sama aku, tadi aja ngajak debat di pelaminan."
"Siapa sih yang ngajak debat."
"Kamu lah, masa Mama ku."
"Kamu ngeselin ternyata ya."
Nia hendak memukul Dikma.
"Jangan di pukul, apa lagi kepala ku, nanti aku biasa lupa kalo istri ku ini udah buntutin aku kerja."
Nia membelalak kan mata nya, pipi nya merah merona.
"Ma...maksud kamu apa."
Dikma tersenyum devils.
"Jangan pura-pura lupa, aku tau cewek yang kaki nya keseleo itu kamu kan."
"Keseleo apaan sih."
"Aku ikutin kamu sampe rumah, kamu tau kenapa ibu kamu nggak ngomelin kamu 6 hari lagi mau nikah malah keluyuran."
Nia diam tetap dengan pendirian pura-pura tidak tau nya.
"Aku telfon ibu kamu, Hallo tante kaki Fania keseleo, itu salah ku tante aku ajak Fania ke Wisata Buah Surga punya ku, Fania jangan di omelin ya tante, dia mau kenal aku lebih deket aja."
Dikma mengangkat alis nya.
"Pantesan ibu biasa-biasa aja." Batin Nia.
"Makasih ya udah perhatian sama aku, sampe ngikutin gitu."
Ucap Dikma sembari mencolek dagu Nia, Nia sudah kepalang malu dengan Dikma, dengan cepat ia menyembunyikan tubuh nya dalam selimut.
Dikma tersenyum puas, ia tahu jika Nia belum siap, ia hanya memberi Nia pelajaran agar tidak terlalu membangkang nya.
Dan soal kaki Nia tempo hari Dikma tidak mengikuti nya melainkan ibu Nia sendiri yang menelfon Dikma mengatakan bahwa kaki Nia keseleo, Dikma mengingat kejadian di WSB milik nya, pasti itu Nia fikir Dikma, soal Nia tidak di omeli Dikma hanya mengarang cerita.
Dikma ikut berbaring di samping Nia dan mereka mengarungi alam mimpi bersamaan.
Jangan lupa hadiah, jempol, dan vote nya kakak sayong 🥺🥺