Plin-plan

Plin-plan
Episode 5



Terdengar kumandang adzan subuh yang membuat tenang bagi umat muslim yang mendengar nya, Dikma melirik Nia yang masih betah bersembunyi di balik selimut.


Perlahan-lahan di buka nya selimut tebal yang menutupi wajah Nia, wajah Nia di penuhi peluh. Dikma menyibakkan rambut-rambut yang menutupi wajah istri nya.


Dikma tersenyum lalu bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, dengan khusyuk ia melaksanakan sholat subuh, tak lupa ia memanjatkan doa kepada sang maha pencipta untuk kebahagiaan keluarga kecil nya.


Dengan masih menggunakan sarung dan peci nya Dikma kembali ke atas ranjang pengantin nya, ia menelisik wajah cantik istri nya, wanita yang di cintai nya pada pandangan pertama saat prosesi lamaran yang terjadi 8 hari lalu.


Dengan modal jejaring internet Dikma mencari tahu keseharian istri nya dari postingan sehari-hari di akun media sosial Nia, hingga tempo hari saat Dikma sedang bersantai ia mendapat pesan Whatsapp dari pujaan hati nya ini, jangan di tanya seperti apa bahagia nya.


Dikma terus mengelus pucuk kepala Nia sembari membacakan sholawat dan surah-surah pendek, tak lupa di tiup kan nya di ubun-ubun dan telinga Nia.


Lalu Dikma membuka handphone yang yang dari kemarin pagi tidak di sentuh nya, akun media sosial milik nya sudah penuh tag dari teman-teman nya yang menghadiri acara resepsi nya kemarin.


"Komentar macam apa ini."


Dikma tertawa lepas saat membaca satu persatu caption dari teman-teman nya, tanpa ia sadari tawa nya sudah membangun kan putri salju di dekat nya.


Dikma menyesal sudah mengerjai istri nya semalam, wajah nya sembab bisa jadi Nia menangis semalaman, menahan suara nya agar tidak terdengar oleh Dikma.


Dikma turun dari ranjang lalu menyusul Nia.


Tok..tok..tok..


"Fania." Panggil Dikma.


"Fania kamu masih marah ?"


Nia hanya diam namun tak lama pintu kamar mandi terbuka, Nia melewati Dikma melangkah ke arah ranjang kembali membaringkan tubuh nya.


"Fan aku minta maaf."


"Aku keterlaluan semalem, kamu jangan marah lagi ya."


Nia menutup mata nya pura-pura tidur, Dikma meraih tangan Nia namun di tepis dengan kasar.


"Kamu dosa kalo gini sama suami."


Nia membuka mata nya lalu duduk.


"Dosa kamu bilang, terus yang kamu lakuin sama aku semalem apa, harus nya kamu ngerti dong, wajar kalo aku nolak, kalo aku belum siap, bahkan sebelum nya kita belum pernah ketemu setelah dewasa, terakhir kita ketemu kita masih anak-anak bahkan aku udah lupa, tapi kamu malah maksa-maksa gitu."


Nia kembali terisak, Dikma mencoba memeluk Nia namun Nia memberontak.


"Lepas !! Aku benci sama kamu !!"


"Aku minta maaf, itu semua aku lakuin biar kamu nggak bangkang sama aku."


"Udah tau aku pembangkang kenapa masih mau nikahin aku."


"Jangan nangis terus, nanti kamu sakit."


"Jangan sok perduli, sekarang mending kamu pergi, aku benci sama kamu."


Dikma menggeleng lalu keluar dari kamar hotel, dikma berdiri di dekat pintu.


"Sabar Dikma, istri kamu masih polos."


Dikma mengusap dada nya, ia melihat penampilan nya.


"Mau kemana pakai sarung gini."


"Ke masjid aja kali ya."


Dikma melangkah menuju masjid di dekat hotel, sedangkan Nia.


"Malah pergi beneran, suami macam apa dia."


Nia kesal karena Dikma benar-benar pergi bukan nya terus meminta maaf hingga Nia luluh.


"Ngak ada romantis-romantis nya."


Nia memukul-mukul bantal, sementara Dikma sudah sampai di masjid dan zikir, di sela-sela kekesalan Nia terdengar suara dering handphone, Nia menggapai handphone itu.


"Hp Dikma ini, Mamah nya Dikma, angkat nggak ya."


"Hallo..."


"Hallo Asalammulaikum menantu Mama**h"


"Waalaikumsalam Mah."


"Kalian masih di Hotel sayang."


"Masih Mah."


"Dikma di mana Nak, Mamah mau bilang kalo dana sama ibuk kamu udah setuju kalian langsung tinggal di rumah baru mas kawin dari Dikma, nanti kamu pulang pamitan sama ibu kamu dan ambil barang-barang kamu ya sayang."


"Iya Mah, Dikma nya masih mandi, nanti Fania bilangin."


"Oh iya sayang, alhamdulillah kalo udah mandi subuh-subuh, ya sudah ya Nak."


"Waalaikumsalam Mah."


Tut....


"Ternyata Hp nya di tinggal, tega dia ninggalin istri nya di hotel sendirian, jahat kamu Dikma jahat,"


Nia turun dari ranjang lalu melangkah menuju balkon, air mata nya terus mengalir karena kesal dengan Dikma, Nia memutuskan untuk mandi agar sembab di wajah nya berkurang


Selesai mandi Nia berganti baju santai nya seperti biasa celana jeans panjang dan tantop, jika ingin berpergian ia tinggal mengenakan sweater Over size kesukaan nya, Nia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 06:15 menit tapi Dikma belum juga kembali.


Kepala nya sedikit pening mungkin efek menangis semalaman, ia memutuskan kembali masuk dalam selimut karena cuaca pagi ini berkabut dan udara sangat dingin.


Ia menelfon seseorang yang mungkin bisa mendengarkan unek-unek nya, dan membuat hati nya lega, saat panggilan sudah tersambung Nia memanggil nama orang itu dengan suara lirih.


"Arez..."


"Aku sekarang sendirian di hotel, cowok itu pergi ninggalin aku sendiri."


"Loh kok bisa, jadi gimana, aku harus apa sayang."


"Kamu jemput aku ya..."


Arez sedikit berfikir, bagaimanapun kini Nia adalah istri orang, ia tidak bisa sembarangan menemui Nia.


"Gini aja ya sayang, kamu tunggu 1 jam disitu, kalo suami kamu belum dateng juga kamu hubungin aku ya, nanti aku kesitu jemput kamu."


"Kok gitu sih, kamu udah ngak sayang sama aku ya, pokok nya sekarang udah ngak ada yang perduli sama aku, jahat kalian semua."


"Ngak gitu sayang deng......"


Tut....Nia mematikan sambungan panggilan nya,


Sementara Dikma yang sudah selesai zikir memutuskan membeli sarapan di restoran hotel, tidak lupa dengan minuman nya, untuk cemilan Dikma sudah beli kemarin sore tapi tidak termakan karena pertengkaran nya dengan Nia.


Dikma mengetuk pintu kamar.


Tok...tok... tok


"Fania, buka pintu nya, aku Dikma."


Tak lama pintu terbuka, Dikma melihat Nia yang kembali masuk dalam selimut.


"Ayo sarapan, bangun dulu."


Nia menggeleng.


Dikma mendekat lalu menyentuh dari Nia.


"Dahi kamu panas, kamu sakit Fan, yang mana yang sakit."


Dikma membantu Nia duduk, kedua tangan nya sudah di pundak Nia yang kelihatan sangat pucat.


"Kita ke Dokter ya ?"


"Aku nggak butuh Dokter, tega kamu ya ninggalin aku sendiri di hotel."


"Kan kamu yang suruh pergi."


"Kamu nggak peka jadi cowok."


Nia memukul-mukul dada Dikma, dengan kilat Dikma membawa Nia dalam pelukan nya, Nia memberontak namun Dikma malah semakin mengeratkan pelukan nya, Dikma mengecup pucuk kepala Nia sedikit lama.


"Oke aku yang salah, aku minta maaf, sekarang kamu makan, habis itu kita ke Dokter ya."


Dan entah kenapa Nia langsung luluh, dan ia mengangguk.


"Bismillah dulu."


"Bismillahirrahmanirrahim."


Dengan telaten ia menyuapi istri nya.


"Tadi Mamah nelfon."


"Oh ya, bilang apa ?"


"Kita mulai tinggal di rumah mas kawin kamu buat aku, Ibu ku juga udah setuju, nanti kita pulang ke rumah Ibu sambil pamitan."


"Iya, aku tergantung kamu aja, kalo kamu mau pindah sekarang kita pindah, kalo mau nya nanti-nanti aja nggak apa-apa."


"Pindah aja aku muak tinggal di rumah, liat muka nya aja Ayra sok polos."


Dikma mengerjitkan kening nya.


"Ayra itu kakak kamu kan."


"Iya, gara-gara dia hidup aku begini, nikah muda, aku pengen sarjana, kerja baru nikah."


"Jadi kamu terpaksa menerima pernikahan kita."


"Emang nya kamu nggak terpaksa."


Dikma menggeleng.


"Kenapa, kita belum saling kenal sebelum nya, mana mungkin kamu cinta secepat itu sama aku."


"Mungkin aja, nyata nya aku cinta sama kamu."


Nia membuka mulut nya yang penuh nasi.


"Di kunyah dulu nasi nya." Nasihat Dikma.


"Kamu cinta sama aku ?"


"Kalo nggak cinta ngapain aku ngurusin kamu gini."


Nia mencari kebohongan di mata Dikma tapi di sana hanya memperlihat kan ketulusan.


"Alhamdulillah habis, minum dulu."


Dikma menyodorkan minuman kepada Nia.


"Pulang nya nanti atau sekarang."


"Sekarang."


"Oke."


Hayo disini siapa yang kayak Fania, dia yang nyuruh pergi dia yang kesel sendiri pas udah di tinggal beneran.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote, tambah ke favorit biar bisa ngikutin keseruan Dikma dan Fania ya.