Plin-plan

Plin-plan
Episode 2



Nia sudah siap dengan outfit santai nya, hari ini ia sudah membuat janji dengan kedua sahabat nya Serly dan Devi untuk menemani nya menuju Wisata Surga Buah (WSB) kota Bandung.


Apakah Nia ingin makan buah segar yang langsung di petik dari pohon nya ? Oh tentu saja tidak ia ingin memata-matai calon Suami nya, karena calon Suaminya nya pemilik WSB yang kini sedang naik daun itu.


"Sempurna."


Nia menjentikkan jari nya, lalu ia memakai masker dan di tambah topi berwarna putih yang senada dengan Sweter yang di gunakan nya, bagi yang melihat Nia sepertinya biasa-biasa saja karena OOTD ini sedang trend di kalangan Anak muda, namun siapa sangka bahwa ini adalah penyamaran Nia.


Nia mengendarai motor Beat kesayangan nya menuju WSB, perjalanan nya sekitar 30 menit jika tidak macet, Nia mendapat pesan dari teman-teman nya bahwa mereka sudah ada di WSB menunggu Nia.


Bagaimana Nia bisa tau jika hari ini Dikma berada di WSB, karena semalam Nia tidak sengaja mendengar percakapan Dikma dan Ibu Nia, Dikma mengatakan hari ini mereka belum bisa mencari cincin Mas kawin karena ini hari terakhir Dikma mengunjungi WSB sebelum cuti Wedding nya.


Dikma memang tampan, namun Nia masih terlalu polos untuk menjalani rumah tangga bersama orang asing, Nia benar-benar belum mengerti bagaimana cara nya mengurus Suami, apa lagi Baby.


Oh ya ampun.


Sepertinya hari ini keberuntungan berpihak kepada Nia, ia sama sekali tidak terjebak macet, kini Nia sedang membeli karcis untuk masuk ke WSB.


Nia mencari keberadaan kedua sahabat nya, kornea mata Nia menangkap keberadaan Sherly dan Devi yang sedang menikmati Juz buah segar di pendopo.


Nia segera menghampiri mereka.


"Hay beb..."


Pekik Nia heboh, Sherly dan Devi mendongak lalu tersenyum lebar melihat sahabat nya sudah tiba.


"Hay...."


Mereka berpelukan erat seakan-akan sudah 1 bulan tidak bertemu.


"Ayo kita cari."


Ajak Nia kepada dua sahabat nya.


"Ciee...Nggak sabaran banget." Ledek Sherly.


"Paan sih."


"Yaudah ayo, gue ya penasaran apa calon Paksu Nia beneran seganteng itu."


Ucap Devi sembari membereskan cemilan nya, mereka berjalan beriringan menikmati pemandangan taman dan pohon buah-buahan mulai dari jeruk, buah naga, kelengkeng, pepaya, melon, strawberry, dll.


"Ini luas banget loh, di mana ya si Dikma."


Sherly dan Devi menggeleng, Nia melihat salah satu petugas WSB yang hendak melewati mereka.


"Maaf Mbak, Owner Wisata Surga Buah di mana ya ?"


"Oh Pak Dikma di taman Buah kelengkeng Mbak, ada pengunjung spesial dari DKI Jakarta."


"Oh iya makasih Mbak."


"Sama-sama."


Jawab orang itu ramah lalu melanjutkan aktifitas nya.


"Di kebun kelengkeng beb."


"Iya, ayo kita kesana, nggak sabar pengen liat ipar hihihi."


Ledek Sherly dan Devi, mereka berdua menarik tangan Nia agar jalan lebih cepat.


Kini mereka memasuki kebun kelengkeng bibir Sherly dan Devi tidak berhenti berdecak kagum melihat buah kelengkeng yang lebat dan menggoda.


"Ini masih pendek kok udah buah ya ?"


Sherly terheran-heran melihat pohon kelengkeng setinggi kurang lebih 3 meter tapi sudah berbuah lebat.


"Mungkin cangkokan kali beb."


Tebak Nia.


"Idih sok tau lu, Foto dulu yuk."


Mereka bertiga berpose se-eksis mungkin untuk menjadi post terbaru di IG mereka.


"Boleh petik nggak sih ?" Tanya Nia.


"Bayar dulu beb."


"Masa sih, masa satu aja nggak boleh."


Nia mengulurkan tangan nya untuk memetik kelengkeng namun...


Plak...


Devi memukul tangan Nia.


"Bayar dulu hayuk, jangan cari gara-gara."


Kesal Devi.


"Nanti kalo gue udah jadi bini nya Dikma mau sepohon gue abisin nggak masalah."


Nia mengoceh tanpa sadar apa yang sudah di ucap kan nya.


Sementara Shely dan Devi menatap Nia berbinar-binar.


"Cieee.....udah lupa ya sama babang Arez."


"Astagfirullahaladzim."


Nia menutup mulut nya lalu salah tingkah sendiri karena perkataan spontan nya barusan.


"Ayuk bayar nggak sabar nih pingin cobain."


Mereka melangkah menuju tempat pembayaran.


"Sebelum keluar silahkan kemari untuk di timbang terlebih dahulu, dan di beri cap sudah timbang."


"Oke,makasih."


"Kita ke arah sana yuk."


Devi menunjuk arah berlawanan dari tempat mereka sebelum nya, Sherly dan Nia pun menyetujui.


"Luas ya beb."


"Iya nih, tapi seru banget, rame lagi."


"Itu tuh buah nya lebet banget, tapi tinggi."


Tunjuk Nia ke arah dompolan lebat buah kelengkeng, namun ia tidak bisa menggapai nya.


"Cari yang lain aja." Usul sherly.


"Gemes banget sama yang itu." Kekeh Nia.


"Ehh... Sini."


Nia menarik tangan Sherly dan Devi menuju balik pohon kelengkeng.


"Kenapa beb."


Tanya mereka penasaran.


"Itu orang nya."


Tunjuk Nia kepada Laki-laki yang sedang menemani rombongan Ibu-ibu sosialita berkeliling kebun kelengkeng.


"Wahh... Ganteng banget, beruntung Lo beb, dapet Casu ganteng gitu." Puji Sherly


"Lo mah ganteng doang yang di fikirin, cinta apa nggak nya soal belakangan." Sinis Devi.


"Kalo cinta mah udah pasti cowok nya aja kayak oppa-oppa korea hihihi."


Sherly cekikikan.


"Centil banget emak-emak itu." Kesal Nia.


"Cemburu Lo beb, sabar ya beb."


"Gue calon Istri nya wajar dong kalo gue nggak suka, ihhh... pake selfi-selfi segala lagi, centil deh, dia juga ketawa-ketiwi seneng banget di goda Emak-emak."


Pekik Nia kesal.


"Itu resiko kerjaan dia beb, resiko jadi cogan juga." Devi membuat Nia semakin kesal.


"Benih-benih cinta mulai tumbuh nih."


Singgung Sherly.


"Idih amit-amit, gue cuma jijik aja bakal dapet Suami yang suka di goda Emak-emak, lagi pula gue udah ada Arez."


Sherly dan Devi tersenyum devils.


"Apa iya...."


Ucap mereka bersamaan.


"Kita ke kebun lain aja yuk."


Nia melangkah meninggalkan kedua sahabat nya namun tanpa sengaja kali Nia terkilir hingga ia terjatuh.


"Aduh..."


Nia meringis memegang kaki nya yang sakit, Sherly dan Devi langsung menghampiri Nia.


"Beb Lo nggak apa-apa."


Tanya Sherly cemas.


"Kali gue sakit, kayak nya keseleo deh."


"Aduh gimana ya, eh tolong dong, temen saya keseleo."


Pekik Devi kepada salah satu pengunjung namun terdengar jelas di telinga Dikma, mendengar ada yang tertimpa musibah Dikma langsung meminta izin kepada rombongan Ibu-ibu itu untuk menghampiri Nia dan teman-teman nya.


"Siapa yang terkilir."


Suara Dikma yang Laki banget itu membuat orang-orang yang sudah mengerumuni Nia menengok ke arah nya.


"Ini temen saya."


Tunjuk Devi ke arah Nia yang duduk di tanah sembari memegangi kaki nya, Dikma segera berjongkok untuk memeriksa keadaan kaki Nia.


"Maaf Teh, saya liat dulu kaki nya."


Izin Dikma, dan di beri anggukan oleh Nia, Dikma mulai meraba dengan pelan kaki Nia, sementara Nia kini jantung nya sudah berdegub dengan kencang.


"Aduh di luar rencana ini mah."


Keringat dingin Nia mulai berkucuran.


"Ehm... Maaf Mas saya nggak apa-apa, saya pulang aja sama temen saya."


"Tapi ini lumayan parah Teh."


"Dukun urut nih orang." Gumam sherly.


"Nggak apa-apa Mas, thanks, ayo kita pulang."


Nia menengok ke arah Sherly dan Devi yang berjongkok di dekat Nia.


"Ayo."


Sherly dan Devi membantu Nia berdiri.


"Makasih ya A."


Ucap Devi kepada Dikma.


"Iya Teh."


Dikma memperhatikan tiga sekawan itu.


"Kayak pernah denger suara nya."


Like nya, hadiah jangan lupa gays...