
Mereka pulang dengan berjalan kaki karena cuaca pagi ini sedikit mendung cocok untuk jalan-jalan santai mencari keringat, jarak hotel dan rumah Nia cukup dekat.
Saat mereka mulai memasuki area pemukiman rumah Nia para ibu-ibu yang sedang memilah-milah sayuran di gerobak tukang sayur pun mulai menatap sinis sembari menggunjing Nia.
"Aduh orang tua macem apa ya yang punya anak gadis 2 semuanya bunting duluan lagi."
"Kalo gue udah gue usir deh, bikin malu."
"Ya nggak mungkin lah kalo si itu, tau yang ngehamilin Anak nya orang tajir langsung ridho die anak nya di hamilin."
"Jaman sekarang demi duit mah ape yang kagak."
Ibu-ibu itu sepertinya sengaja mengeraskan suara mereka agar di dengar Nia, Nia segera menghampiri ibu-ibu itu.
"Punya mulut di jaga ya buk, jangan hina orang tua saya, dan saya nikah bukan karena hamil !!"
"Maling mana ada yang ngaku."
Sahut salah seorang ibu-ibu itu sambil sambil memilih Sayuran.
"Udah tua nggak ada akhlak !!"
Nia meninggikan suara nya.
"Anak kecil, nikah muda, pinter ngomong lagi."
"Jangan......"
Nia hendak membalas namun Dikma segera menarik tangan Nia.
"Lepas Dikma, mereka itu kurang ajar, ngehina orang tua aku."
"Udah lah Fan, cuekin aja, sekarang kita pulang ya, tuh rumah ibuk udah keliatan."
"Iya emang aku nggak sabar sampe rumah biar ku kasih pelajaran Ayra breng*ek itu !!"
Nia berlari meninggalkan Dikma, sadar akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan ia memutuskan untuk mengejar Nia.
Sementara Nia berlari dengan sangat kencang tidak sabar mencakar wajah kakak nya.
"Ayra !!"
"Dimana kamu !!"
Nia masuk rumah dengan nafas mengebu-gebu dan mengangetkan seisi rumah termasuk Ayra sendiri.
"Ada apa Nia ?"
Mamah mencoba menenangkan Nia.
"Di mana Ayra Mah, harus ku kasih pelajaran dia."
Tak lama datanglah Ayra dengan wajah cemas nya.
"Ada apa Dek." Ucap Ayra lembut.
Nia mengangkat tangan nya hendak menampar Ayra namun Dikma segera menangkis tangan Nia.
"Jangan kasar Fania !"
Nia menatap Dikma.
"Kamu belain dia Dikma, kamu tuli ya, kamu nggak denger ibu-ibu tadi bilang apa, dan itu semua karna perempuan sok polos ini !!"
"Aku tau tapi jangan kasar, Kakak kamu masih hamil."
Dikma mencoba menenangkan Nia agar ia lebih tenang.
"Owh, jadi sekarang kamu pun sebagai suami ku bela dia, oke." Nia pergi menuju kamar nya dan segera memasukkan baju nya ke dalam koper.
"Muak aku, lebih baik aku pergi."
Nia menghapus air mata nya laku bangkit dan bersiap meninggalkan rumah.
Dikma kini menjelaskan perkataan ibu-ibu tadi sehingga membuat Nia marah besar, Ayra menangis sejadi-jadi nya.
"Ini memang salah ku bukan, Nia berhak marah, dia bela Ayah sama ibu yang namanya jelek karna Ayra."
Ibu memeluk Ayra sembari mengelus punggung Anak sulung nya itu.
"Nak Dikma, mungkin Nak Dikma bertanya-tanya kenapa Ayah dan Ibu selalu membela Kak Ayra, mau bagaimanapun kak Ayra anak kami, apapun kesalahan nya dia tetap darah daging kami, ini semua sudah terjadi kami bisa apa selain menerima takdir."
Dikma mengangguk tanda mengerti dan melihat Nia turun dengan koper, Dikma segera bangkit lalu mencoba mengejar Nia namun telat Ayra langsung masuk dalam mobil taksi online yang sudah di pesan nya.
"Fania !!"
Pekik Dikma namun Fania tidak menghiraukan, Nia berjalan cepat hingga Nia menaiki Taksi, Dikma segera meminta izin membawa mobil mertua nya dan mengejar Fania.
Sekitar 15 menit lama nya Dikma mengejar taksi yang di tumpangi Fania akhir nya Dikma berhasil menghadang taksi itu.
Dikma segera turun dan meminta Fania bicara baik-baik, Fania pun akhir nya turun, Fania menyilangkan tangan nya di dada.
"Aku minta maaf kalo salah, kamu jagan pergi gini, sekarang kamu istri orang, nggak pantes dan dosa kalo kamu pergi tanpa izin suami."
"Apa perduli kalian, kalaupun aku mati apa perduli kalian, kalian bela aja wanita breng*ek itu."
Ucap Nia sembari bergetar menahan tangis nya, Dikma segera menurunkan koper Fania dan membayar taksi itu.
"Kita pulang."
Dikma menarik tangan Fania namun Fania tetap diam di tempat.
"Sekali lagi kamu bela dia, kita nggak akan ketemu lagi."
Dikma hanya mengiyakan agar Nia tidak marah dan pergi, Kini mereka perjalanan ke rumah mereka.
Nia hanya diam, Dikma mencoba mencairkan suasana.
"Rumah kita warna cat nya warna kesukaan kamu Fan."
"Emang kamu tau warna kesukaan ku."
"Tau dong, biru putih kan."
Fania tersenyum tipis.
"Iya, memang rumah nya di sebelah mana ?"
"Sebentar lagi sampe, di deket WSB."
"Oh ya, kalo pengen buah tinggal petik dong."
"Iya, seneng kan."
Nia mengangguk, Dikma menggenggam tangan Nia dan Nia hanya membiarkan saja, karena suasana hati nya masih berbunga-bunga.
"Jadi istri shalihah dan bidadari surga ku."
Nia melirik Dikma.
"Sholat aja jarang." Batin Nia
🍃🍃🍃
"Wah, besar rumah nya."
"Iya kamu suka ?"
"Suka."
Jawab Nia sembari terus mengabsen setiap sisi rumah mewah ini, ia tidak menyangka bahwa sebesar ini rumah maskawin dari Dikma.
Mereka melangkah ke dalam rumah.
"Aku tunjukin kamar kita."
Dikma mengandeng Nia naik ke lantai 2, mereka berjalan menuju kamar bagian depan, kamar yang sangat luas dengan balkon yang langsung meghadap ke taman depan rumah.
"Wah, itu WSB kan, keliatan loh dari sini."
Antusias Nia yang kini berdiri di balkon kamar mereka.
"Iya, kamu mau makan siang apa ?"
Ucap Dikma yang kini duduk di kursi santai balkon.
"Emm... nggak deh, nggak biasa makan Siang."
"Nggak laper ?"
"Makan buah aja nanti kenyang."
"Nggak baik buat lambung kamu, harus nya makan nasi walaupun dikit."
"Takut gendut, emang kamu mau punya istri gendut."
"Mau aja, asal itu kamu."
"Gombal."
"Nggak dong."
Dikma bangkit dan berdiri di dekat Nia, ia mengelus kepala Nia.
"Maaf ya, belum apa-apa aku udah buat kesalahan banyak ke kamu."
Nia menghadap Dikma, kini mereka saling berhadapan.
"Aku yang salah, aku terlalu mudah emosi."
"Nia, sekarang kita udah suami istri, mulai sekarang kita bisa belajar saling cinta, aku berharap pernikahan kita untuk selamanya, aku akan belajar jadi suami yang baik untuk kamu."
Nia menatap mata Dikma.
"Dikma, maaf aku sama sekali ngak ada rasa apapun ke kamu, pernikahan kita ini aras dasar perjodohan, dan kamu harus tau kalo aku udah punya laki-laki yang sangat aku cinta, bahkan aku punya impian besar untuk membangun masa depan dan keluarga kecil kami, dan begitupun dia, kami sama-sama punya harapan besar, aku harap kamu ngerti."
Sebenarnya Nia tidak tega mengatakan kata-kata itu, namun itulah kenyataan nya, Nia tahu bahwa yang di katakan Dikma bukan lah kebohongan, tapi Nia juga tidak bisa mencintai Dikma karena sudaha ada nama Arez yang terukir indah di hati nya.
Nia kini menunduk, ia tak mampu melihat seperti apa raut wajah Dikma saat ini, akan kah Dikma akan marah terhadap nya meninggalkan nya dan mengadu kan semua ini kepada orang tua mereka.
Tidak, semua itu salah, Dikma kini tersenyum, ia kagum Nia bisa jujur.
"Aku ngerti perasaan kamu Fan, makasih udah jujur sekarang aku cuma bisa bertekad untuk bisa dapetin cinta kamu, I will make my name replace the engraving of the man's name, Fania Paradipta.
Nia tersenyum miring.
"Up to you."
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote, tambah ke favorit biar bisa ngikutin keseruan Dikma dan Fania ya.