Plin-plan

Plin-plan
Episode 7



"Aku ke kamar mandi bentar ya."


"Iya." Jawab Dikma singkat.


Dengan cepat Nia melangkah menuju kamar mandi, ia berdiri di depan kaca lalu membasuh wajah nya yang di rasa sangat panas saat ini, setelah di rasa lega Nia keluar dari kamar mandi, Dikma duduk sabar menunggu Nia.


"Dikma, aku laper."


"Tapi pembantu kita belum dateng, kita cari makan di luar ya."


"Boleh, ayo." Nia menarik tangan Dikma dengan semangat, bayangan makanan yang mengugah selera sudah berputar-putar di kepala nya.


"Aku ambil mobil dulu di garasi."


"Owhhh.... kamu punya mobil." Heboh Nia.


"Punya lah, kalo ngak punya nanti kita kemana-mana pake apa."


"Mobil cash, atau kredit."


Dikma menghembuskan nafas panjang, ternyata istri nya sangat cerewet, sembari mengeluarkan mobil dari garasi Dikma juga dengan sabar menjawab pertanyaan Nia.


"Alhamdulillah cash Fania."


"Owh... kalo rumah ini bukan kredit kan, kalo ngak mampu bayar nanti kita di usir gimana."


"Rumah ini kes, kan maskawin buat kamu."


"Syukur lah."


"Iya, ayo masuk."


Nia segera masuk, Dikma mengemudi dengan santai.


"Aku mau makan nasi padang, minuman nya Boba, penutup nya bakso, cuci mulut nya apa ya."


Dikma mengernyitkan kening nya.


"Fania, Bakso itu bukan penutup, kamu makan nya harus di atur, ngak baik juga makan banyak-banyak."


"Kamu ternyata pelit ya, yaudah mampir di ATM aku beli pake uang ku sendiri."


"Astagfirullah... Bukan gitu Fan."


"Diem.... Mimpi apa aku dapet suami pelit macam kamu."


"Yaudah beli apa yang kamu suka, aku minta maaf ya..."


"Gak usah !!"


"Hmm... Terserah kamu."


Nia menyilangkan tangan nya di dada.


"Bukan nya ngerayu terus malah pasrah, ngeselin...."


Dikma melirik istri nya.


"Mau beli di mana makanan nya."


"Terserah."


"Yaudah di langganan aku ya."


"Terserah."


"Itu di depan sana, kamu atau aku yang beli."


"Terserah."


"Yaudah aku turun, kamu tunggu sini ya."


Dikma turun langsung membeli nasi padang, bakso, dan beberapa macam makanan untuk istri nya, kini Dikma sudah menenteng beberapa keresek di tangan nya.


"Mungkin cukup lah."


Ia kembali menuju mobil.


"Fan, maaf ya lama, nih yang kamu minta ada di situ semua."


"Ikhlas ngak ?"


"Ya allah, iklas lah, sekarang mau ke mana."


"Makan di pendopo taman rumah."


Mood Nia kembali membaik saat melihat makanan di depan mata nya.


"Oke..."


🍃🍃🍃


Fania sedang menikmati nasi padang, ia makan dengan lahap nya, Dikma ingin menasihati agar Nia makan secara perlahan namun takut Nia akan kembali merajuk.


"Kamu makan banyak muat di perut Fan."


Ucap Dikma dengan hati-hati, takut Nia akan tersinggung.


"Ngak, aku makan memang banyak, tapi untuk Body, jangan khawatir, kenapa tanya gitu, takut aku gendut, kamu malu kalo punya istri gendut."


"Ngak gitu, em Fan besok kamu mulai kuliah lagi ya, untuk biaya, uang saku dan lain-lain kamu minta aku aja, kalo ada yang kurang kamu jangan ragu-ragu bilang, jangan sampai kamu minta Ayah, karena sekarang kamu tanggung jawab aku."


"Kan ada motor aku, atau kamu yang bawa mobil aku yang motor ya, tempat kerja aku kan deket."


"Aku ngak punya SIM, masih kaku juga bawa mobil, baru belajar."


"Atau aku anter jemput ?"


Nia menggeleng cepat.


"Jangan."


"Kenapa ?"


"Please deh Ma, aku biasa kemana-mana sendiri."


"Yaudah kalo gitu, lanjut makan lagi gih."


"Iya."


Ting ... tong... ting... tong....


Suara bel terdengar jelas.


"Siapa Dikma."


"Mungkin pembantu kita Fan, coba aku liat dulu ya."


"Iya." Fania kembali melanjutkan makan.


Dikma segera membuka pintu, terlihat seorang wanita yang cukup muda dengan penampilan sederhana di dampingi seorang Wanita berumur.


"Selamat siang pak Dikma." Sapa wanita yang di perkirakan berumur 40 tahunan itu.


"Selamat siang Bu, maaf ibu elsa dari yayasan ya."


"Benar pak, ini ART yang bapak minta, masih muda dan lajang, nuri ini majikan kamu ya."


Wanita muda itu segera membungkuk kepada Dikma, dan di balas senyuman ramah Dikma.


"Terimakasih Buk Elsa, silahkan masuk dulu."


"baik pak, lain kali, saya harus kembali ke kantor, kamu nuri bekerja dengan baik."


"Iya Buk." Jawab wanita muda itu polos.


Buk elsa pamit undur diri sementara Dikma masih bersama Nuri di teras rumah.


"Nuri, sebelumnya perkenalkan nama saya Dikma, tujuan saya mencari pembantu muda karena harapan saya kamu bisa menjadi teman baik untuk istri saya, maaf sebelumnya usia kamu berapa ?"


"Saya 19 tahun pak, maaf pak ini pertama kali saya bekerja di bawah naungan yayasan karena sebelum nya saya bekerja di rumah orang kaya di desa, jadi jika saya banyak kekurangan mohon di bimbing."


"Baiklah saya suka orang apa adanya seperti kamu."


"Terimakasih pak."


"Mari masuk, saya kenalkan dengan istri saya."


Nuri memperhatikan rumah milik Dikma dan Fania, dengan desain yang modern membuat siapa saja yang melihat nya betah berlama-lama, kornea mata nya menangkap seorang wanita yang sibuk menatap ponsel nya dengan sendok yang terus mentransfer makanan ke mulut nya.


"Fania."


Nia langsung menengok ke arah Dikma.


"Ini pembantu nya mungkin ya." Batin Nia, Nuri memperhatikan Nia


"Wah, cantik sekali istri pak Dikma, cocok dengan pak Dikma yang tampan." Puji Nuri tulus.


"Fania ini ART kita namanya Nuri dan Nuri ini istri saya, nama nya Fania."


Fania tersenyum ramah, sementara Nuri tersenyum sungkan.


"Kamu udah makan Nur ?" Tanya Nia.


"Fan, namanya Nuri." Ralat Dikma.


"Nur aja, biar mirip Nur, Nia hihihi."


Kekeh Nia, Dikma menggeleng lucu.


"Maafin istri saya ya Nuri."


"Eh ngak apa-apa pak, di desa saya memang di panggil Nur."


"Tuh kan, sini Nur makan bareng, tapi cuma ada bakso, ngak apa-apa ya, nanti habis makan kamu baru mulai kerja."


"Baik Buk."


"Jangan Buk, panggil Nia aja, kayak nya kita seumuran."


"Ngak sopan atuh." Sungkan Nuri.


"Yaudah terserah kamu, nih bakso nya makan ya, maaf cuma ada ini."


Nia dan Nuri makan sambil berbincang-bincang, Dikma bersyukur, jujur saja Dikma kira Fania akan bersikap jutek dan cuek terhadap Nur, dan dugaan nya salah besar.


"Tapi kenapa sama Mbak Ayra Fania ngak pernah akrab, kenapa Fania sebegitu benci nya sama Mbak Ayra, masa cuma gara-gara...." Dikma langsung menggeleng.


Terserah lah batin Dikma


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote, tambah ke favorit biar bisa ngikutin keseruan Dikma dan Fania ya.