PLEASE HELP ME

PLEASE HELP ME
BAB PHM : 9



Sebuah pesta megah di sebuah ballroom yang luas dan mewah, nampak semua orang mengenakan gaun dan jas serba hitam tengah berdansa berpasang – pasangan. Irama music classic mengiringi langkah mereka yang sedang berdansa, wanita berambut merah datang dengan gaun hitamnya menjadi sorotan. Kecantikan dan warna rambutnya yang kontras membuat semua mata memandang kearahnya.


Seorang pria dengan kacamata terlihat cupu menghampirinya.


“Selamat datang ke acara pesta dansaku, senang melihatmu datang” sambutnya dengan tersenyum.


“Terimakasih blue, telah mengundangku” sahut wanita berambut merah itu.


“Mau kah kamu berdansa denganku?” tanya pria bermata biru yang cupu itu.


“Senang sekali mendapat tawaran dansa darimu, blue” jawab wanita cantik berambut merah itu sambil tersenyum.


Keduanya mulai berdansa dan dihujani banyak tatapan nyinyir, mereka saling berbisik satu sama lain.


“Lihatlah seburuk apapun penampilanmu kalau kamu anak bangsawan kaya raya, wanita cantik pun akan takluk kepadamu”.


“Ah sial, aku ingin sekali berdansa dengan Caroline. Si cupu Blue sudah mengambil start lebih dulu”.


“Pasti Caroline terpaksa menerimanya, karena Blue yang membuat acara ini”.


“Harusnya kita tidak perlu datang kalau hanya untuk patah hati”.


Para pria yang bergossip itu nampak tak suka dengan pria yang bermata biru sedang berdansa dengan wanita cantik berambut merah bernama Caroline.


“PYARRRRR!!!” suara gelas jatuh berkeping – keping di dapur sontak membangunkan Hilarya dari tidurnya.


Dia yang tertidur di sofa langsung membuka matanya menatap langit – langit ruang tengah.


“Namanya wanita berambut merah itu adalah Caroline” gumam Hilary dengan nafas tak beraturan.


Dia pun bangkit dari tidurnya dan terduduk berkeringat dingin di sofa lalu segera ke dapur. Nampak Gerald sedang membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


“Maafkan aku nyonya, tadi aku sedang ingin mengambil minum tapi malah menjatuhkan gelas” aku Gerald kepada Hilary.


Hilary tak menggubrisnya dia langsung menuju lemari es dan mengambil sebotol jus segar yang dingin. Wajahnya pucat pasif dan berkeringat dingin, dia berdiri di depan lemari es sambil mengatur ritme nafasnya.


“Apakah anda baik – baik saja nyonya?” tanya Gerald yang bingung menatap wajah majikannya.


“Iya…aku tak apa, hanya saja aku bermimpi buruk” jawab Hilary.


“Mau saya buatkan kue coklat untuk membuat anda lebih baik” Gerald yang cemas dengan kondisi majikannya itu mencoba menawarkan solusi.


“Kamu bisa membuat kue?” tanya Hilary mulai teralihkan dari perasaannya yang buruk.


“Aku dulu sekolah di bakery academy selama dua tahun, namun karena nenek meninggal jadi aku memutuskan berhenti dan kemari untuk menemani kakek” ungkap Gerald.


“Sangat disayangkan, baiklah kalau begitu buatkan untukku yang terenak” kata Hilary menyemangati.


“Baiklah nyonya, aku akan membuatnya sekarang. Mohon di tunggu” Gerald pun antusias untuk membuat kue setelah sekian lama dia tidak menyalurkan bakatnya itu.


Ditengah kesibukan Gerald membuat kue, Hilary duduk di dapur sambil menatap kea rah Gerald namun pikirannya melayang ke dalam mimpi yang tadi menghinggapinya. Dia terbayang wajah wanita yang bernama Caroline sama persis dengan wanita yang dia temui di dasar danau. Gaun hitam yang dikenakannya juga sama, hal inilah yang semakin menjadi tanda tanya besar di kepala Hilary.


“Lantas siapa pria culun yang bernama Blue?” gumam Hilary lirih.


Tiba – tiba dengan iseng Carlson mencoba mengagetkan Hilary yang tengah duduk melamun.


“Bangun Hilary!!!” seru Carlson di telinga Hilary.


“AAAA…..Blue!!!” teriak Hilary spontan karena terkejut.


“Hei…salah, bajuku berwarna green bukan blue” Carlson mengajak Hilary bercanda.


“HAHAHAHAAHAHA…memang tuan Carlson suka iseng dan suka bercanda” ceplos Gerald yang melihat wajah majikannya yang sempat panik itu.


“Ngomong – ngomong siapa blue?” tanya Carlson duduk di sebelah Hilary.


“Bukan siapa – siapa, aku hanya asal ngomong saja. Tapi tunggu dulu, kamu juga memiliki bola mata biru” Hilary yang menatap langsung mata Carlson menjadi penuh tanya.


“Suamimu juga bermata biru” sahut Carlson.


“Benar…Jarrod juga bermata biru” Hilary baru ngeh kalau suaminya juga bermata biru dia semakin bingung di buatnya.


“Kenapa dengan bola mata berwarna biru, bukankah semakin menambah ketampanan kami? Hehhehe” canda Carlson.


“Tapi bola mata Emily berwarna coklat” kata Hilary.


“Ibuku dan ayah Jarrod itu bersaudara dimana keduanya memiliki bola mata biru. Mereka mewariskan kepada kami berdua” jelas Carlson.


“Tapi aku tak pernah melihat ayah mertuaku bermata biru, setahuku bola matanya coklat” Hilary bingung.


“Paman Elmer mengenakan softlens sudah sejak lama, semenjak aku kecil sudah melihatnya mengenakan softlens coklat. Kata ibu, dia tidak menyukai warna matanya” ungkap Carlson.


Hilary yang mendengarnya mulai mencoba menelaah mengenai mimpinya, siapa pria bermata biru yang culun itu dan disebut Blue.


“Kenapa dia tidak menyukai warna matanya?” tanya Hilary penasaran.


“Kenapa tidak kamu tanyakan saja kepada ayah mertuamu? AHHAHAHAHA…pasti dia nampak menakutkan bagimu kan?” sindir Carlson.


“Sudahlah kalau tidak ingin memberitahuku, nanti aku cari tahu sendiri” kata Hilary kesal.


Gerald akhirnya menghidangkan sebuah kue tar coklat dengan topping cream dan macaron berwarna warni.


“Wow…sepertinya ini nampak lezat” kata Hilary antusias untuk memakannya.


“Selamat dinikmatinya nyonya, semoga enak. Sudah lama aku tidak membuatnya” kata Gerald.


“Ini enak, kenapa kamu tidak pernah membuatkannya untukku. Padahal kamu mengenalku lebih lama daripada Hilary” protes Carlson sambil memakan kue.


“Hehehe…sejujurnya aku sangat malu, jadi aku tak berani menawarkannya kepada anda tuan. Berhubung tadi aku melihat nyonya sangat pucat setelah bangun tidur, aku mencoba berinisiatif menawarkannya” aku Gerarld.


“Ini sangat enak Gerald, kamu luar biasa” puji Hilary.


“Terimakasih nyonya” Gerald pun sangat senang mendengarnya.


“Ngomong – ngomong kenapa kamu datang kesini?” tanya Hilary kepada Carlson.


“Aku janjian dengan Gerald membantu mengurus taman di belakang dekat danau, karena Berth sakit. Tapi aku terlambat karena Emily menelponku, ban mobilnya kempes di pinggir jalan Durham. Sehingga aku membantunya terlebih dahulu” jawab Carlson.


“Emily adik iparku?” tanya Hilary memastikan.


“Ya, benar sekali. Dia katanya habis camping dengan teman – temannya di hutan Durham” jelas Carlson.


Hilary tidak dekat dengan semua keluarga Gracewell bahkan keluarga inti saja seperti mertua dan iparnya, dia bahkan tak pernah berkomunikasi intense. Semua dikarenakan oleh Jarrod yang sangat tertutup dan hanya sesekali mengajak Hilary ke acara keluarga Gracewell.


“Apakah kalian dekat?” tanya Hilary penasaran.


“Hmmm…lumayan, karena kami sepupu. Emily lebih terbuka ketimbang Jarrod yang sulit di dekati” aku Carlson.


Hilary diam mendengarnya, yang dikatakan oleh Carlson adalah benar adanya, suaminya terlalu tertutup dan menggunakan topeng berlapis di depan orang.


XXXXXXXXXXX