
Hilary yang tertidur di sofa dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar villa.
“TOK…TOK…TOK…”.
“OMG! Ini sudah pagi” gumam Hilary lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu utama.
“Apakah itu kamu…Berth?” tanya Hilary.
“Benar nyonya, ini saya dan Gerald” sahut Berth yang berdiri di balik pintu.
Hilary membuka pintu dengan tenang dia menyapa keduanya.
“Selamat pagi Berth… Gerald” sapanya.
“Selamat pagi nyonya” sahut keduanya.
“Masuklah” kata Hilary sembari mempersilahkan mereka memasuki villa.
“Kami akan membersihkan villa dan pekarangan hari ini nyonya” kata Gerald.
“Baiklah, apakah kalian sudah sarapan?” tanya Hilary dengan ramah.
“Sudah, kami sarapan di rumah tuan Carlson tadi. Kami tadi kesana untuk mengambil daging sapi segar” aku Gerald.
“Siapa Carlson?” tanya Hilary.
“Dia adalah sepupu tuan Jarrod” jawab Berth.
“Hmm… Jarrod tak pernah cerita tentang keluarganya, jadi aku tidak banyak tahu mengenai keluarga besarnya” ungkap Hilary dengan tersenyum datar.
Dia pun meninggalkan keduanya untuk dapat bekerja dengan leluasa. Hilary menaiki tangga menuju lantai dua, karena dirasa cukup aman dengan adanya Berth dan Gerald di bawah. Dia mandi dan berganti pakaian, lalu berjalan – jalan ke tepian danau.
“Kenapa aku selalu memimpikan di tenggelamkan ke dasar danau, sebenarnya danau yang ada di dalam mimpiku apakah sama dengan danau ini?” gumam Hilary lirih.
Dia mendekatkan dirinya persis ke pinggiran danau, memandang tenangnya air danau. Tiba – tiba ada tangan yang memegang bahunya dari belakang.
“OMG!” teriak Hilary lalu menoleh ke belakang tapi kakinya tergelincir.
Hilary sempat menatap seorang pria tampan mengenakan kemeja denim berdiri dibelakangnya, mencoba meraih tubuh Hilary. Namun keduanya akhirnya tercebur ke dalam danau.
“BYUUUURRRRRRRRR….”.
Pria itu memeluk tubuh Hilary dan berenang naik ke permukaan danau.
“UHUKKK…UHUKKKK…” Hilary mengatur nafasnya dan terbatuk karena minum air danau.
Keduanya berada di permukaan danau dengan setengah badannya masih mengambang di dalam air. Hilary menatap pria itu, lalu melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.
“Siapa kamu?” tanya Hilary lalu dengan panik berenang ketepian dan meninggalkan pria itu.
Pria itu berusaha menghampiri Hilary dan naik ke daratan pinggiran danau.
Tubuh mereka yang basah kuyup itu sudah terdampar di tepian danau.
“Apakah kamu baik – baik saja?” tanya pria itu dengan ramah sembari memperhatikan Hilary yang sedang memeras rambut panjangnya.
“Siapa kamu, berani sekali memasuki villa ini tanpa izin” tegur Hilary.
“Apakah kamu tak mengingatku, aku datang ke pesta pernikahanmu tiga tahun lalu” kata pria itu.
“Hah…jangan coba berbohong kepadaku, aku tak pernah melihatmu” aku Hilary.
“Aku Carlson sepupu Jarrod, kita bertemu di pesta pernikahanmu. Aku bahkan punya foto bersama dengan kalian saat itu, tersimpan di rumahku. Namamu Hilary kan, istri Jarrod” ucap Carlson mencoba meyakinkan Hilary.
“Benarkah, lantas kenapa kamu mengendap – endap ke danau. Apa tujuanmu kesini?” Hilary yang sedari tadi mencurigai pria yang ada di hadapannya itu mulai melontarkan unek – uneknya.
“Aku mau memastikan kondisi danau, karena aku mau menaruh perahu kayu buatanku disini. Lantas aku melihatmu melamun di pinggir danau, jadi aku mencoba membangunkanmu dari lamunanmu dengan menyentuh pundakmu. Tapi karena kamu kaget, akhirnya kita berakhir basah kuyup” jelas Carlson.
“Namaku Hilary, maafkan sikapku tapi aku punya alasan untuk mencurigaimu” kata Hilary dengan mengulurkan tangannya kepada Carlson.
“Panggil aku Carlson, mungkin wajahku terlalu tampan untuk dicurigai” kata Carlson sambil tersenyum, dia mencoba mencairkan suasana dengan godaannya.
Hilary pun tersenyum menanggapinya, keduanya berjabat tangan dan saat itulah mereka mulai berkenalan.
Akhirnya Hilary mengajak Carlson ke dalam villa, dan memberikan sebuah pakaian lengkap milik Jarrod untuk dapat dikenakannya.
“Pakailah, ini bersih dan baru. Jarrod membelinya namun belum di pakai. Masih ada labelnya, karena dia tinggal hanya sebentar” kata Hilary menyodorkan pakaian itu.
“Terimakasih” kata Jarrod menerimanya.
Keduanya kemudian berbincang di ruang tengah sambil minum kopi buatan Berth.
“Silahkan tuan dan nyonya, ini coffee hasil dari kebun tuan Carlson” kata Berth yang menyajikan dua cangkir kopi di atas meja.
“Terimakasih Berth. Jadi kamu punya perkebunan kopi?” tanya Hilary.
“Bukan kebun milikku tapi milik ayahku, dia hanyalah seorang petani” aku Carlson.
“Kamu juga memiliki peternakan kata Gerald, dia selalu mengambil susu, telur dan daging darimu” kata Hilary.
“Itu benar, mampirlah kapan – kapan saat kamu senggang. Dengan senang hati aku akan menjadi guide yang akan menemanimu” kata Carlson.
“Baiklah aku terima tawaranmu, ngomong – ngomong kenapa kamu membuat perahu kayu untuk danau itu? Apakah perahu itu hanya hiasan atau bisa kita naiki untuk mengarungi danau?” tanya Hilary.
“Sebelumnya memang sudah ada kapal kecil tapi lapuk, jadi aku membuat baru. Dulu waktu kecil aku sering bermain di danau itu dengan ayah seperti memancing diatas perahu. Di danau itu pun aku mengajari Jarrod berenang” ungkap Carlson.
“Wow… jadi Jarrod bisa berenang karenamu, sabar sekali kamu mengajarinya hahahaa…” Hilary menanggapinya seakan tak percaya apa yang dia dengar.
“Begitulah, dulu kami sangat akrab tapi sekarang hmm.. karena kesibukan masing – masing jadi tidak terlalu dekat. Ikutlah bersamaku besok menaiki kapal buatanku mengarungi danau, pasti akan seru” kata Carlson.
“Aku tak sabar menunggu hari esok, aku akan menyiapkan diriku dengan petualangan yang seru di atas kapal kayu” kata Hilary merasa tertarik dengan tawaran Carlson.
Malam pun datang…
Hilary memastikan semua jendela dan pintu terkunci rapat, dia yang berada di ruang kerja sangat serius menggambar beberapa design costume di kertas sketsa. Mendengarkan alunan music classic agar dirinya tetap terjaga dengan semua ide yang ada di kepalanya.
“DOOORRRRR!!!” sebuah suara misterius terdengar dan mengejutkannya.
Tepat jam 12.12 malam Hilary akhirnya turun ke lantai satu untuk mencari tahu sumber suaranya. Dengan langkah yang sangat hati – hati Hilary mengitari setiap ruangan di lantai satu. Dia mendapati bolam lampu yang menggantung di dapur pecah.
“Huft.. apalagi ini, kenapa bolamnya bisa pecah kan tidak dinyalakan. Aneh sekali” gumam Hilary sembari mencari sapu untuk membersihkan pecahan kaca lampu yang berserakan di lantai.
Namun di saat dia sibuk membersihkan lantai suara benda yang di seret terdengar lagi di lantai atas.
“SREEEKKKKKKK….SREEEEKKKKKKK………”
“Apalagi ini, aku bisa gila kalau terus mendapati suara aneh seperti ini terus menerus” keluh Hilary mencoba menenangkan dirinya.
Dia pun mencoba mengacuhkan suara itu dan tetap menyelesaikan menyapu lantai. Semakin lama semakin terdengar jelas suara seretan benda yang bergesek di lantai.
“Apakah aku harus naik lagi, atau lebih baik aku standby di bawah. Come on… Hilary, singkirkan rasa takutmu” kata Hilary menguatkan dirinya yang mulai merasa takut.
Hilary memilih untuk menaiki tangga menuju lantai dua, tapi sampai di atas suara itu berhenti hanya terdengar sayup – sayup suara music classic yang di putarnya di ruang kerja.
“Sepertinya aku berhalusinasi, mungkin aku lelah. Aku perlu tidur, okay…tenanglah Hilary” kata Hilary kepada dirinya sendiri untuk tetap tenang.
Dia mematikan music yang di putarnya, menutup pintu ruang kerjanya dan masuk ke kamarnya. Mematikan lampu, lalu mencoba untuk menutup mata dan tertidur.
Tapi pilihannya untuk tidur di sesalinya, karena scene yang sama berulang di dalam mimpinya. Di seret dan ditenggelamkan ke dalam danau lalu bertemu dengan wanita berambut merah.
XXXXXXXXXXX