PLEASE HELP ME

PLEASE HELP ME
BAB PHM : 11



Hilary turun dari perahu kayu, dan Carlson meminggirkan perahunya. Keduanya berjalan memasuki hutan rindang yang di dominasi pohon pinus. Hilary menatap sekitar dengan takjub dia mencoba mengingat mimpinya. Dia sadar dalam mimpinya dia meraih rerumputan untuk bertahan agar tak terseret dan dia mendapati bunga pinus berserakan di semak – semak yang ia lalui.


“Aku yakin di hutan inilah aku terseret dan danau itulah tempat aku di tenggelamkan” guman Hilary dalam hati.


“Bagaimana menurutmu, hutan ini sangat indah bukan?” tanya Carlson.


“Ya…udara disini pun sejuk, apakah kamu dan Jarrod dulu sering kesini?” Hilary balik bertanya.


“Tidak, Jarrod tidak menyukai hutan entah kenapa. Tapi dia sangat menikmati berenang di danau” jawab Carlson.


“Lantas dengan siapa kamu sering kesini?” tanya Hilary penasaran.


“Aku datang bersama ayahku, dia senang bercamping sambil menatap bulan purnama” akunya.


“Bulan purnama, ya…sangat indah” gumamku mengingat mimpinya.


“Kamu menyukai bulan purnama?” tanya Carlson.


“Hmmm..tidak juga, tapi benar – benar indah untuk di nikmati” jawab Hilary.


Setelah berjalan – jalan mengelilingi pinggiran hutan, keduanya kemudian kembali ke perahu.


“Apakah kamu pernah ke hutan bersama pacarmu?” tanya Hilary mendadak.


Carlson yang sedang mengayuh hanya bisa tersenyum mendengarnya.


“Kenapa, apakah ketampananku memikatmu hingga kamu ingin tahu siapa saja orang yang ku ajak kesini” gurau Carlson.


“Tidak…bukan begitu, ya mungkin saja dengan ketampananmu banyak wanita ingin berkencan denganmu. Lalu kamu merayunya naik perahu mengelilingi danau dan berkemah di hutan. Bukankah itu langkah yang mudah di tebak olehku” kata Hilary mencoba tak terlihat ketara bahwa dia sedang mencari informasi.


“Hehehehe… aku lebih suka mengajak pacarku ke kebunku, kami bisa bercocok tanam bersama. Atau ke peternakan bermain dengan binatang peliharaanku. Jadi tebakanmu itu salah” aku nya.


“Baiklah…aku mengaku kalau aku kurang jitu dalam menebak” jawab Hilary.


Hilary dan Carlson melihat Jarrod sudah berdiri di pinggir danau dengan wajah penuh amarah. Hilary sadar ini akan menjadi pertengkaran hebat karena api cemburu yang dirasakan Jarrod seperti yang sudah – sudah. Hilary yang turun dari perahu langsung di tarik oleh Jarrod masuk ke dalam villa, tanpa menatap Carlson yang masih menaruh dayungnya.


“BRAAAKKKKK!!!” suara pintu kamar di banting.


“Jadi tanpa aku ketahui selama tidak adanya diriku disini, kamu sibuk bersama Carlson. Apakah kamu terpikat kepadanya?” tanya Jarrod penuh amarah.


“Aku hanya bosan dan mencari inspirasi dengan naik perahu mengelilingi danau serta berjalan – jalan ke hutan itu saja” jawab Hilary tenang.


“Jawab pertanyaanku, apakah kamu terpikat kepadanya?!” Jarrod meninggikan suaranya.


“Tidak, aku tidak terpikat kepadanya. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya, apa kamu puas. Sudahlah jangan selalu cemburu tanpa alasan” jawab Hilary mulai kesal.


“Menurutmu tanpa alasan, kamu terus bersamanya. Aku jauh – jauh datang dari London untuk melihat kondisimu yang terus berhalusinasi, tapi aku malah mendapati kamu bahagia naik perahu bersama pria lain. Mungkin hari ini dia hanya sebatas di perahu tapi bisa saja besok, lusa di ranjang ini bersamamu” kata Jarrod membuat hilary tersulut emosi.


“Aku tidak gila $ex seperti dirimu yang tidur dengan wanita mana saja, dengar Jarrod jangan samakan aku sepertimu. Selama pernikahan kita, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk selingkuh meski aku tahu suamiku terus melakukannya” kata Hilary yang geram.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, kita sedang membahas dirimu dan Carlson. Mengenai aku dan wanita lain, sejak awal kita sudah sama – sama tahu. Meski aku tidur dengan mereka di luar sana, tapi hatiku tetap untukmu Hilary” elak Jarrod.


“Aku muak denganmu Jarrod, kamu selalu cemburu membabi buta tapi kamu pun tak pernah berubah. Aku lelah harus terus mengerti dirimu, aku tak pernah melihat hatimu di dalam sana” Hilary mencoba menyudahi pertengkarannya dengan suaminya.


Jarrod lalu mencium paksa Hilary…


“Hmmmppppmmm…Jarrod, apa yang kamu lakukan hentikan” Hilary berusaha lepas dari suaminya.


“PLAAAKKKK!!!” seketika Hilary menampar suaminya yang berusaha menciumnya paksa.


Suasana jadi hening, Jarrod terdiam mendapat tamparan dari istrinya.


Akhirnya Jarrod memutuskan untuk keluar kamar, dan pergi berkendara meninggalkan villa. Sedangkan Hilary terduduk di pinggir ranjang sambil menghela nafas panjang.


“TOK…TOK…TOK…” sebuah ketukan pintu dari luar kamar.


Hilary membuka pintu nampak Carlson berdiri di depan pintu.


“Apakah kamu baik – baik saja?” tanya Carlson cemas.


“Tidak, moodku sedang buruk” aku Hilary.


“Apakah kalian bertengkar karenaku sehingga menyebabkan moodmu memburuk?” tanya Carlson tak enak hati.


Hilary terdiam enggan menjawab.


“Turunlah…aku membuat pudding mungkin bisa membuatmu lebih baik. Anggap saja permohonan maafku, karena merusak moodmu” kata Carlson.


Hilary dan Carlson terduduk di ruang makan sembari memakan pudding strawberry.


“Rasanya segar, aku menyukainya” kata Hilary.


“Benarkah, next time aku buatkan pudding apel. Itu juga enak lho, kamu perlu mencobanya” kata Carlson.


“Aku akan menunggunya, pastikan kamu tidak lupa membuatkannya untukku” sahut Hilary.


“Apakah kini kamu merasa lebih baik?” tanya Carlson.


“Lumayan, maafkan aku tentang sikap Jarrod” Hilary merasa tak enak hati.


“Aku sudah terbiasa dengan sikapnya, sejak dulu dia seperti memiliki paranoid terhadapku. Mungkin karena Caroline” aku Carlson membuat Hilary terkejut mendengar nama Caroline disebut.


“Kalian mengenal Caroline?” tanya Hilary penasaran.


“Ya…dia teman satu sekolah kami waktu SMA, apakah Jarrod tidak menceritakan tentangnya?. Jarrod dulu sangat akrab dengan Caroline, dia gadis baik dan cantik. Dia primadona di sekolah kami” jelas Carlson.


DHEG!


Hilary mulai berspekulasi mengenai mimpi yang dia alami, apakah Blue adalah suaminya?. Apakah Caroline merupakan mantan pacar dari Jarrod?. Ya…Hilary mulai menduga – duga setelah mendengar cerita dari Carlson. Dia harus mengkonfirmasi semuanya kepada Jarrod segera, itulah yang dipikirkan oleh Hilary.


Malamnya…


Jarrod pulang ke Villa dengan wajah memerah karena mabuk. Digedor – gedornya pintu utama bagian depan. Di bukalah pintu oleh Hilary yang habis menggambar sketsa di lantai dua.


“Bisakah kamu datang dalam kondisi normal, kenapa harus mabuk seperti ini” keluh Hilary menatap suaminya tak senang.


“Honey…kenapa malam ini kamu sangat menarik, mari kita berpesta!” seru Jarrod langsung menyergap istrinya yang ada di depannya.


Hilary yang dipeluk oleh Jarrod, menatap ke arah luar dari ambang pintu. Seakan ada sesosok perempuan di jok belakang di dalam mobil yang menatap ke arah Hilary. Melihatnya Hilary hanya terdiam lalu menutup pintu, dia berpikir dia mulai berhalusinasi.


Hilary memapah tubuh Jarrod yang tengah sempoyongan sambil menciumi tubuhnya.


“Ku mohon Jarrod, tetaplah tegak dan fokus berjalan. Tubuhmu sangat berat” keluh Hilary lagi.


Jarrod mengabaikan perkataan Hilary dia malah mendorong Hilary ke sofa ruang tamu, mencubunya dengan membabi buta dan akhirnya kedua bercinta di sana.


Hilary mengenakan pakaiannya kembali, dan menutupi tubuh suaminya yang telanj@ng tertidur di atas sofa dengan selimut. Tepat saat dia mengelus rambut suaminya, terdengar suaminya bergumam dalam tidurnya “Caroline maafkan aku”.


Hilary membeku mendengarnya, dia mulai berpikir apakah blue adalah suaminya. Lantas apa yang sebenarnya terjadi kepada Caroline?, Kenapa dia selalu memimpikan wanita itu terus menerus.


XXXXXXXX