
Hilary terduduk di atas ranjang, dia mencoba mencerna mimpinya. Orang yang terakhir bersama dengan gadis berambut merah itu adalah blue, apakah blue yang menembak gadis itu? Seakan perlahan – lahan semua mulai terurai.
“Apakah karena Jarrod ada hubungannya dengan gadis bernama Caroline, sehingga aku terus dimimpikan olehnya?” tanya Hilary mencoba menarik benang merah tentang apa yang terjadi kepadanya.
Jarrod mengajak Carlson bicara empat mata di ruang tengah lantai satu.
“Apa kamu tertarik kepada Hilary?” tembak Jarrod tanpa basa – basi.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa kamu takut aku merebutnya?” Carlson bertanya balik.
“Sudah seharusnya aku bertanya karena kamu telah mengusik rumah tanggaku. Untuk apa kamu sok baik terus menerus menemui Hilary disini kalau bukan karena kamu tertarik kepadanya” tuduh Jarrod.
“Dia masih keluargaku, tinggal seorang diri di villa ini. Rumahku dekat, aku hanya membantu menghiburnya dan menjaganya untukmu. Kamu saja yang selalu punya pikiran negative terhadapku” elak Carlson.
“Kamu merebut Caroline dariku, bagaimana bisa aku percaya kepadamu. Sikapmu yang sok baik itu hanya tameng untuk merebut orang – orang yang aku cintai. Sadarlah dimana posisimu” kata Jarrod penuh penekanan.
“Jadi karena itu kamu menjauhiku, Caroline dan aku hanya berteman baik tidak lebih dari itu. Kamu saja yang berspekulasi negative terhadapku, mengenai hubungan kalian yang kandas itu karena ulahmu sendiri” bantah Carlson.
“Kalau saja tidak ada kamu diantara kami berdua, pastinya Caroline dan aku masih berhubungan. Tapi semuanya hancur karena kedatanganmu ditengah – tengah hubungan kami. Ingatlah ini tidak akan terulang lagi, aku akan mempertahankan Hilary dan menjauhkannya darimu” kata Jarrod dengan sinis.
“Bukankah Caroline yang merusak hubungan kita, karena dia muncul di tengah – tengah kita sehingga menghancurkan persaudaraan yang selama ini kita jalin. Cobalah untuk melepaskan Hilary dariku kalau itu yang ingin kamu tunjukkan kepadaku. Mungkin lain waktu aku akan menggodanya” Carlson mencoba memancing emosi Jarrod.
Sambil tersenyum licik dia pergi meninggalkan sepupunya yang terbakar emosi itu.
Malamnya…
Jarrod mengemasi semua pakaian istrinya ke dalam koper.
“Apa yang kamu lakukan Jarrod?” tanya Hilary bingung.
“Kita harus pergi dari sini” kata Jarrod yang masih sibuk memasukkan semua pakaian Hilary ke dalam koper.
“Kenapa?” tanya Hilary.
“Jangan banyak bertanya, aku bisa memilihkan tempat peristirahatan lebih baik daripada di villa ini” kata Jarrod malas berdebat.
“Tunggu dulu, apa semua ini karena Caroline?” tembak Hilary.
Jarrod mendengarnya terhentak, dia menghentikan aktivitasnya. Dengan wajah terkejut dia menatap istrinya yang berdiri di hadapannya.
“Darimana kamu tahu mengenai Caroline?” tanya Jarrod.
“Memangnya apa hubunganmu dengannya?” Hilary pun melemparkan pertanyaan.
“Katakan seberapa jauh kamu mengetahui Caroline, apakah Carlson mengatakan sesuatu?” Jarrod memberondong pertanyaan.
“Dia hanya mengatakan kalau kalian berteman,apakah ada hal lain yang tidak aku ketahui?” Hilary mulai menatap suaminya dengan menyelidik.
“Tidak, lebih baik kamu tidak perlu tahu tentangnya. Dia hanyalah masa lalu, kepergian kita dari villa ini bukan karenanya” ungkap Jarrod menyudahi pembicaraan.
Sepanjang perjalanan Jarrod yang tengah fokus menatap jalan, Hilary hanya memandangi suaminya penuh dengan rasa curiga. Jarrod ternyata mengajaknya pulang ke rumah mereka di London.
“Lebih baik kamu beristirahat di rumah, besok kita akan ke psikiater untuk mengechek kondisimu” kata Jarrod berjalan keluar dari mobil.
“Aku tidak berpikir seperti itu, aku hanya takut halusinasimu itu mempengaruhi dirimu. Lihatlah dirimu yang sangat kacau itu, sebentar lagi akan ada acara keluarga. Emily akan bertunangan, aku tak mau kamu tampak seperti mayat hidup di depan keluarga besarku” kata Jarrod lalu masuk ke dalam rumah.
Keesokannya…
Jarrod membawa Hilary ke sebuah klinik psikitaer, dan mempertemukannya dengan seorang psikiater ternama di London bernama Toms. Seorang pria paruh baya yang sangat ramah dan lembut. Jarrod menemani istrinya melakukan sesi konsultasi.
Disana Hilary menceritakan tentang mimpinya yang terus berulang mengenai dirinya yang di seret dari hutan hingga di tenggelamkan ke dasar danau. Disana dia bertemu dengan seorang wanita berambut merah yang meminta tolong. Hanya sebatas itu, dia merahasiakan mengenai nama Blue dan Caroline.
Dia juga bercerita mengenai suara aneh di setiap jam 12 malam serta hal – hal yang terus terjadi di tengah malam. Hingga dia menjadi insomnia dan takut untuk tertidur karena dia selalu bermimpi buruk.
Jarrod yang ikut mendengarnya sedikit gugup, nampak wajahnya juga gelisah. Seakan ada sesuatu yang dia tutupi, professor yang menangani Hilary hanya menyarankan untuk meminum obat penenang dan obat tidur sementara waktu. Serta dia di minta untuk rutin melakukan konsultasi, agar bisa dilihat perkembangan dari kondisinya.
Sepulang dari konsultasi, Jarrod terdiam tak mengatakan apapun dari perjalanan di mobil hingga tiba di rumah. Melihat suaminya yang terlihat aneh dan tak biasanya menjadi pasif, Hilary semakin curiga ada keterkaitan suaminya dengan Caroline.
Di ruang baca seperti perpustakaan mini di salah satu ruangan dalam rumah mereka, Jarrod terduduk dan merenung. Buku yang di bacanya sama sekali tak ia baca, malah melamun hingga Hilary menemukannya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Hilary menghampiri suaminya.
“Oh honey, kamu mengagetkanku. Aku hanya memikirkan masalah pekerjaan, kenapa kamu butuh sesuatu?” Jarrod menutupi sesuatu yang sedang dia pikirkan.
“Tidak, hanya saja aku ingin tahu kapan makan malam untuk pertemuan dua keluarga membahas mengenai pertunangan Emily. Bukankah aku harus mempersiapkan diri” kata Hilary mencoba senatural mungkin.
“Hmmm… itu, minggu depan acaranya. Aku ingin kamu tampil sempurna di acara itu, buatlah ibu terkesan kepadamu. Kamu tahu ibuku tak terlalu menyukaimu, cobalah untuk mengakrabkan diri” jawab Jarrod.
“Baiklah, aku akan mulai memilah gaun yang aku kenakan di malam itu. Aku tak akan mengecewakanmu” kata Hilary lalu beranjak duduk di pangkuan suaminya.
Mencoba bersikap manja untuk menyamarkan penyelidikan yang dia akan lakukan. Di ciumnya bibir suaminya, lalu disentuhnya wajah suaminya dengan lembut. Jarrod yang merasakan sikap Hilary mencoba menggoda mulai terpancing.
“Apakah kamu ingin melakukannya?” tembak Jarrod sambil memegangi pinggang istrinya yang ramping itu.
“Tidak, aku hanya menyesal kenapa aku tak menyadari kalau suamiku ini tampan. Pantas saja banyak wanita menyerahkan tubuhnya hanya untuk kamu nikmati” kata Hilary menatap suaminya dengan tajam.
“Bagian mana dari tubuhku yang kamu sukai?” tanya Jarrod yang mulai menggerayangi punggung Hilary yang terbuka.
Hilary yang mengenakan jumpsuit berwarna cream dengan desain punggung terbuka, membuat Jarrod mudah meletakkan jemarinya menggerayangi punggung Hilary.
“Bola matamu berwarna biru itu membuatku terpikat” jawab Hilary, dia akan memancing Jarrod.
“Benarkah ayahku menurunkannya. Tahukah kamu bagiku seluruh tubuhmu aku sangat suka” aku Jarrod.
“Blue…ingin sekali aku memanggilmu Blue” Hilary mulai bermain kata – kata untuk memancing respons suaminya.
“Hmmm.. terdengar aneh, seperti nama panggilan anak kecil” kata Jarrod.
Hilary menganalisa wajah suaminya, tapi responsenya seakan – akan merasa asing dengan nama Blue.
“Apakah Jarrod pintar bersandiwara?” gumam Hilary dalam hati.
XXXXXXXXXXXXXXX