
Di malam hari Hilary membuat sebuah sketsa gaun berwarna hitam yang dikenakan wanita dalam mimpinya itu. Dia menggambarnya sambil mengingat detail ornament yang nampak dalam scene di mimpinya. Setelah gambarnya berhasil di sempurnakan di tempelnya ke dinding, di pandanginya sejenak.
“Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan semua mimpi yang aku alami, aku tahu tertidur pun malam ini aku akan bermimpi yang sama. Maka aku akan tetap di dalam ruang kerjaku hingga pagi” kata Hilary.
Dia melanjutkan mendesain costume untuk materi masuk dalam ajang London Fashion Week. Seperti sebelumnya, dia mendengar suara benda yang di seret beberapa kali. Saking dirinya sudah terbiasa, Hilary membiarkannya dia tetap fokus dengan menggambar.
Akan tetapi suara lain terdengar memecah keheningan malam, memekikkan telinga saking kencangnya.
“PYARRRRRRR!!!!!” suara piring yang pecah terus menerus di lantai bawah.
“OMG! Apa lagi ini, selalu di tengah malam ada saja yang terjadi” keluh Hilary yang kemudian keluar berjalan menuju ke lantai satu.
Anehnya dia mendapati beberapa piring yang berada di rak piring dekat sink pecah di lantai dapur. Dia menyadari ada hal sangat janggal dan tidak masuk akal. Alih – alih dia membereskan serpihan pecahan piring yang ada di lantai dapur, dia naik ke atas lantai dua yakni ke kamarnya mengambil ponselnya.
Dia turun lagi dan merekam pecahan piring yang berserakan di lantai itu dengan camera ponselnya. Lalu mengirimnya ke suaminya. Lalu dia membiarkannya begitu saja dan naik lagi ke lantai dua dengan sangat frustasi. Hilary masuk ke dalam kamar sambil menggigiti kukunya dengan meringkuk di atas kasur menunggu respon Jarrod.
Jarrod yang tengah berada di hotel dengan salah satu wanita panggilan yang dia sewa, menatap layar ponselnya setelah bercinta dengan wanita itu.
Dia yang mengenakan celana dal@m menghampiri ponselnya di atas nakas. Sedangkan wanita bayaran sedang sibuk mandi di kamar mandi. Di tontonnya video yang dikirim oleh istrinya, dia hanya mengernyitkan dahinya merasa Hilary sudah gila.
Lalu dia menelpon Hilary memastikan istrinya tidak bertindak hal gila lebih dari itu.
“Hallo…” sapa Jarrod.
“Jarrod…akhirnya kamu menelpon, ini sangat aneh piring – piring itu tadi siang di letakkan di atas rak piring dekat sink oleh Gerald dan aku melihatnya. Barusan terdengar suara benda pecah di lantai satu, lantas aku pergi ke lantai satu aku mendapati piring itu sudah berserakan di lantai dalam keadaan pecah. Padahal hanya ada aku seorang di villa ini” Hilary mengungkapkan kejadian yang menimpanya.
“Tenang Honey… sepertinya kamu mulai depresi, kamu berhalusinasi terlalu jauh. Kalau kamu stress, kita bisa pergi ke psikolog besok untuk konsultasi. Kamu tidak perlu mengarang cerita untuk mendapatkan perhatianku” kata Jarrod membuat Hilary kecewa mendengarnya.
“Apa maksudmu aku depresi dan berhalusinasi, dengar Jarrod aku tidak pernah mencoba menarik perhatianmu apalagi dengan cara konyol yang kamu tuduhkan kepadaku. Untuk apa aku melakukannya?!” umpat Hilary kesal.
“Aku tahu memang ini terdengar aneh, tapi kamu memang mulai aneh semenjak tinggal di villa itu. Masuk akal kamu stress menjelang London Fashion Week dengan pamor boutiquemu yang kian meredup. Aku tidak ingin berdebat di telepon, besok aku akan mengantarmu ke psikolog” kata Jarrod.
“Aku tidak mau ke psikolog dan kamu tidak perlu datang!” kata Hilary kesal dengan nada tinggi lantas menutup teleponnya.
Hilary benar – benar kesal mendapati suaminya tak mempercayai ceritanya. Sedangkan Jarrod pun ikutan kesal karena Hilary semakin aneh dan dia beranggapan bahwa istrinya mulai berhalusinasi. Seorang wanita menghampiri Jarrod yang terduduk di pinggir ranjang dengan wajah kesal.
“Hai baby…kenapa denganmu, apa yang membuat moodmu jadi berubah seperti ini?” tanya wanita itu yang hanya mengenakan handuk di lilitkan di tubuhnya. Dengan manja duduk di pangkuan Jarrod sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Jarrod.
Jarrod menatap wanita itu dengan sinis, lalu berbisik “Lakukan saja tugasmu untuk memuaskanku”.
Lantas Jarrod melepaskan lilitan handuk putih di tubuh wanita itu, lalu menjamahnya semaunya.
Semalaman Hilary tidak bisa tidur kepalanya penuh dengan pertanyaan dan dia pun merasa sangat frustasi atas apa yang menimpanya.
Gerald datang bersama Carlson dengan mobil pick up milik Carlson. Hilary menyambut keduanya dengan wajah lesu dan tak bersemangat, karena dia jadi insomnia karena terror yang dialaminya.
“Nyonya kenapa piring – piring ini?” tanya Gerald mendapati dapur penuh pecahan piring di lantai.
“Aku ceritakan pun kalian tidak percaya” jawab Hilary dia tak mau keduanya pun memilki pemikiran yang sama seperti suaminya.
“Kamu memecahkannya?” tanya Carlson dengan berhati – hati.
“Aku tidak melakukannya, tapi aku juga tidak tahu siapa yang melakukannya” jawab Hilary.
“Kalau begitu aku akan membersihkannya nyonya lalu membuat sarapan untuk anda, sepertinya lingkar hitam di bawah mata anda makin terlihat. Beristirahatlah nyonya” kata Gerald.
Hilary lalu duduk di kursi ruang tengah bersama Carlson.
“Sebenarnya apa yang membuatmu insomnia?” tanya Carlson yang begitu peduli terhadap Hilary.
“Aku sering bermimpi buruk yang terus terulang, dan aku sering di terror tengah malam” aku Hilary.
“Apakah kamu mau aku membelikan obat tidur untukmu?” tanya Carlson.
“Tidak..aku tidak butuh obat – obatan, aku bisa menanganinya sendiri” tolak Hilary.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita naik perahu setelah sarapan, siapa tahu bisa membuat moodmu lebih baik” ajak Carlson dengan antusias.
“Baiklah…aku akan mencobanya” jawab Hilary sambil tersenyum datar.
Keduanya akhirnya menaiki perahu menikmati suasana pagi yang cerah.
“Aku ingin ke hutan itu” kata Hilary.
“Mau bercamping denganku besok?” Carlson menawarkan idenya.
“Bercamping? Tidak, aku belum pernah melakukannya. Aku hanya ingin berjalan – jalan saja” jawab Hilary.
“Kalau begitu, sekarang saja kita menepi kesana dan berjalan – jalan sebentar” kata Carlson.
Hilary pun mengiyakan dan setuju untuk memasuki hutan pinus di seberang danau.
XXXXXXXXXXXXXXXX