PLEASE HELP ME

PLEASE HELP ME
BAB PHM : 7



Beberapa hari di terror oleh mimpi buruk mengenai danau dan wanita berambut merah yang terus meminta tolong membuat Hilary sangat frustasi. Belum lagi suara benda yang di seret setiap tengah malam, mengganggu moodnya untuk berkarya.


Dia berharap bersama Carlson bisa membuatnya lebih baik. Dia bersama Carlson menaiki perahu kayu kecil mengarungi danau yang berada di belakang villa. Melihat wajah Hilary yang masam sejak awal menaiki perahu, Carlson memberanikan diri untuk bertanya.


“Apakah kamu baik – baik saja?” tanya Carlson dengan mendayung pelan menghadap Hilary.


“Sepertinya tidak” aku Hilary.


“Kenapa, ceritalah mungkin aku dapat membantumu” kata Carlson.


“Apakah kamu pernah mimpi yang sama dan berulang – ulang?” tanya Hilary agak ragu.


“Tidak, tapi aku pernah bermimpi buruk” aku Carlson.


“Aku bermimpi buruk terus menerus semenjak aku datang di villa ini” kata Hilary.


“Boleh kah aku tahu mimpi seperti apa?” Carlson mulai penasaran.


“Aku bermimpi di tenggelamkan oleh seseorang ke dasar danau dengan menggunakan jangkar. Lalu aku bertemu dengan seorang wanita berambut merah di dasar danau yang meminta tolong kepadaku” Hilary dengan tenang menceritakan mimpinya.


Wajah Carlson yang tadi ramah dan ceria berubah menegang, dia menatap Hilary mencoba untuk tenang.


“Apakah ada yang aneh dengan ceritaku?” tanya Hilary.


“Ya…seperti di film horror, mungkin bagus untuk membuatnya menjadi film” kata Carlson bercanda, walau pun nampak sorot matanya penuh dengan keterkejutan.


“HAHAHAHA…ya, pasti kamu tak akan percaya aku bisa memimpikan itu berulang kali. Tapi itulah yang terjadi kepadaku” Hilary pun menanggapi candaan Carlson dengan santai.


“Hmm.. maaf bukan maksudku tidak percaya, namun aku merasa mungkin bisa jadi itu efek dari banyak pikiran atau stress karena pekerjaan atau hal yang lain. Sehingga itu bisa timbul menjadi sebuah mimpi buruk yang terus muncul” Carlson mencoba menjabarkan pemikirannya mengenai hal yang dialami Hilary.


“Mungkin bisa jadi seperti itu” kata Hilary.


Carlson seakan menutupi sesuatu, dia merasa cemas setelah mendengar cerita Hilary hingga dia mendayung dengan cepat. Bahkan setelahnya tak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya. Hilary yang menyadari sikap Carlson mencoba mengabaikan keanehan pada pria yang di hadapannya itu. Hilary melampiaskan kerisauannya dengan menatap alam sekitar penuh takjub.


Hilary menatap hutan dengan seksama, dia mengingat mimpinya yang di seret dari dalam hutan menuju danau.


DHEG!!!


“Aku merasa di tenggelamkan dari sana” gumam Hilary dari dalam hati dengan menatap lekat – lekat hutan penuh pohon berdahan lebat itu.


“Pernahkah kamu ke hutan?” tanya Hilary.


“Ya…hutan itu adalah hutan milik keluarga Gracewell yang berbatasan dengan hutan milik pemerintah. Aku sesekali kesana” ucap Carlson.


“Sepertinya aku juga pernah kesana” kata Hilary terhipnotis dengan pemandangan hutan dari dalam perahu.


“Benarkah? Jarrod mengajakmu kesana?” tanya Carlson memastikan.


“Oh…itu hanya imajinasiku saja, lupakan aku bicara ngelantur” kata Hilary sambil melempar senyum yang dipaksakan. Dia mulai merasa takut dan dia tak bisa menceritakan kepada Carlson karena takut dianggap gila.


Sekembalinya dari danau, Hilary merenung di dalam ruang kerjanya. Dia secara tak sadar menggambar sketsa hutan yang di lewatinya itu. Dia masih tak bisa move on dari hutan yang membuatnya takut itu, rasa penasaran dan cemas menggelayuti pikirannya.


“Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri” kata Hilary kepada dirinya sendiri.


Melihat torehan gambar hutan dengan pensil di buku sketsanya, membuatnya takut. Lalu di sobeknya kertas itu dan dibuang ke tempat sampah yang ada di dekat meja kerjanya.


Hilary menatap jam dinding yang ada di meja kerjanya, pukul 11.55 malam kurang 5 menit lagi jam 12 teng. Hilary mengambil kursi kayu yang ada di dekat meja kerjanya keluar ruangan. Di letakkan di ujung lorong, dengan sangat tegang dia menduduki kursinya dengan menatap lorong dan semua ruangan lantai dua.


“Aku yakin aku akan menemukan sesuatu” gumamnya dengan wajah penuh kecemasan.


Jam menunjukkan 12.12 Hilary masih standby di kursi yang dia duduki menatap lorong.


“BRAAAKKKKKKKK…..” suara gaduh terdengar dari lantai satu, Hilary yang terkejut itu berlari menuju sumber suara.


Dengan sangat kesal dan penuh rasa takut dia memberanikan diri menyusuri setiap sudut lantai satu.


Tak ada apapun, hanya saja salah satu jendela di dapur terbuka tertiup angin.


“BRAAAKKKKK….BRAKKKKK….”.


Tiba – tiba dia mendengar suara klakson mobil dari luar.


“TIN…TIN…TIN….”.


“Siapa lagi yang mengganggu malamku, aku bisa gila lama – lama begini” kata Hilary kesal dan menghampiri pintu depan utama.


Dia membuka pintunya ternyata mobilnya kembali dan di dalamnya ada Jarrod yang setengah mabuk mencoba mematikan mesin mobilnya. Dia keluar dengan sambil tersenyum dan berteriak “Honey kemarilah…aku kembali untukmu!”.


“Kenapa kamu mabuk dan pulang kesini, apakah kamu menyetir dalam kondisi mabuk selama lima jam dari London?” tanya Hilary yang tak habis pikir dengan ulah suaminya.


“Aku hanya minum sedikit, tenanglah. Aku tadi meeting bersama beberapa kolega bisnisku di sekitar kawasan sini, makanya aku pulang ke villa mengingat kamu ada disini” ujar Jarrod sembari memeluk erat istrinya.


Hilary bersikap dingin dengan pelukan suaminya, bau alcohol menyeruak dari tubuh Jarrod.


“Mandilah…kamu sangat bau” keluh Hilary.


Keduanya masuk ke dalam villa, Jarrod lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hilary menggambar sketsa design costume di atas tempat tidur. Sayup – sayup terdengar suara air mengalir namun dia mendengar suara lainnya.


“SREEKKKKK….SREKKKKKK!”


Suara yang tak asing di telinganya, bergegas dia melesat ke daun pintu dan membukanya.


DAMN!


Tak ada apapun di hadapan Hilary, kursi kayu itu masih dalam posisi yang sama di ujung lorong saat dia tinggalkan tadi.


Jarrod keluar dari kamar mandi dengan bathrobe melihat istrinya berdiri di pintu merasa aneh.


“Apa yang kamu lakukan di sana … Honey?” tanya Jarrod.


Hilary lalu menutup dan mengunci kembali pintu kamarnya.


“Tidak biasanya kamu mengunci pintu kamar, padahal hanya ada kita berdua disini. Siapa memangnya yang akan masuk untuk mengganggu kita” kata Jarrod makin keheranan.


“Aku mengubah kebiasaanku biar lebih aman saja” ucap Hilary menutupi rasa cemasnya.


Jarrod di depan cermin dan menyalakan hair dryer.


“Kemarilah honey, bantu aku mengeringkan rambutku” kata Jarrod.


Hilary berjalan menghampirinya dan mengambil hair dryer lalu membantunya mengeringkan rambutnya yang basah. Dengan manja Jarrod memeluk tubuh Hilary yang sedang berdiri mengeringkan rambutnya.


“Aku merindukan bau tubuhmu, seakan ada cairan feromon yang tercium di balik sleeping dressmu ini” goda Jarrod dengan memainkan jemarinya di paha istrinya.


“Jangan begini, aku merasa geli” keluh Hilary.


Selesai mengeringkan rambut suaminya, Hilary beranjak naik ke ranjang dan suaminya malah mendahuluinya. Dilepaskan bathrobe yang dikenakannya, lalu menarik tubuh istrinya untuk dapat dia cumbu.


“Jarrod…aku tidak mood, aku sedang proses membuat sketsa” kata Hilary mencoba melepaskan diri.


“Ayolah…honey tinggalkan sejenak gambarmu itu, suamimu lebih penting. Kamu tidak lihat punyaku sudah menegang” kata Jarrod dengan cepat dia melepaskan celana dal@m istrinya.


Jarrod menyingkap dress yang di kenakan istrinya, tanpa pemanasan dia membuka kedua paha Hilary lalu memasukkan senjatanya ke dalam lubang vital milik istrinya.


“Jarrod…ini sakit, aku belum siap” aku Hilary yang merintih merasakan sensasi nyeri di bawah sana.


“Tenanglah honey, sebentar lagi kamu pun akan merasa nikmat. Aku akan membantumu” kata Jarrod melancarkan aksinya.


Jarrod yang datang hanya untuk menikmati tubuh Hilary, sudah mulai lelah setelah melampiaskan semua tenaganya lalu tertidur di atas tubuh istrinya dengan peluh yang menghujani tubuh keduanya.


Hilary melepaskan dirinya dari kungkungan tubuh suaminya, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya yang tanpa busana itu. Di tatapnya wajah suaminya yang tertidur pulas dengan dingin.


“Kamu selalu egois Jarrod, entah sampai kapan aku bertahan denganmu. Sial… nyerinya masih ku rasakan” gumam Hilary.


Dia pun duduk di lantai bersandar di pinggiran tempat tidur dan melanjutkan sketsa yang dibuatnya hingga pagi datang. Dia tak berani untuk memejamkan matanya karena dia sadar mimpi buruk itu akan mengusiknya.


XXXXXXXXX