ORIANA'S WEDDING DIARY

ORIANA'S WEDDING DIARY
Episode 9



Oktober 2016



Di dalam pesawat, Oriana memilih duduk dekat jendela dan berusaha memejamkan matanya. Dia berusaha mati-matian mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi padanya. Namun, wangi parfum Arga yang tercium dari jaket yang dipinjamkan lelaki itu padanya malah semakin membuat Oriana tidak bisa menghilangkan wajah Arga dari pikirannya.



Sungguh, apa yang tadi dilakukan Arga benar-benar membuatnya malu ... dan kalah!



Arga mendekati wajah Oriana, tersenyum penuh kepastian. Ketika mata cokelat itu semakin dekat tanpa sadar dia menahan napasnya. Satu detik yang rasanya membekukan pikiran Oriana dalam sekejap dan tiba-tiba mencair ketika Arga tersenyum sebelum menciumnya.



Oriana refleks memejamkan mata ketika wajah Arga mendekat. Sesaat dia lupa akan kemarahan yang tadi sempat menggerogotinya dan malah terbuai pada kecupan manis yang diberikan Arga. Oriana pun membalasnya dengan penuh perasaan. Sayang, ciuman itu berakhir cepat! Dan dengan bodohnya, Oriana berharap Arga akan mengucapkan sesuatu yang manis setelah pria itu menyentuh bibirnya untuk kali pertama. Oriana menunggu tapi harapannya kandas.



“Kamu flight jam 11, kan?” Arga bertanya dengan tenang, seolah tadi mereka tidak melakukan apa-apa.



Oriana mengangguk dan kecewa saat itu juga.



Arga menciumnya hanya untuk mengalihkan kemarahannya! Bukan karena laki-laki itu menginginkannya. Jangan menunduk, Princess, nanti mahkotanya jatuh! Mea pernah mengatakan kalimat itu saat Oriana sedang sedih dan itu selalu berhasil membuat Oriana tersenyum.



Kalau Arga bersikap tak acuh, Oriana pun akan melakukan hal yang sama.



***



Setelah mengakhiri acara promo dan jumpa fansnya, Oriana merebahkan tubuhnya di kasur, merasakan lelah dan juga kantuk yang kompak menyerangnya. Sejak tadi pagi entah sudah berapa kali dia menahan kuap. Arga-lah tersangka utama yang membuatnya tidak tidur semalaman.



“Meeee ... gue pengen extend. Boleh nggak?”



“Nyokap lo masih dirawat, kan?” Mea mengingatkan ketika sedang membereskan barang-barang mereka di kamar hotel.



Inginnya setelah kejadian kemarin, Oriana tidak mau melihat Arga lagi. Namun mamanya jelas-jelas membutuhkan kehadirannya. “Iya, gue lupa.”



“Nanti ajak suami lo lah ke sini. Jangan jaketnya aja yang ikut sama lo.”



Mana jaket Arga??? Gara-gara Mea membicarakan jaket Arga, Oriana baru sadar dia belum melihatnya lagi sejak dia sampai di Surabaya. “Me, jaket Arga mana, ya? Lo liat nggak?”



Mea berjalan ke lemari, dan melemparkan jaket cokelat milik Arga, yang membuat Oriana heran, kenapa jaket itu masih beraroma Arga?



Ah, Arga! Selama Oriana di Surabaya, tidak sekali pun suaminya itu menelepon untuk menanyakan kabarnya.



***



Hari ini rapat direksi berlangsung di kantor pusat Hanan Corp. Semua orang menunggu kedatangan Arga yang tidak pernah telat. Di kalangan karyawan, Arga terkenal disiplin dan jarang sekali terlambat.



Harris pun sedari tadi sudah mencoba menelepon atasannya itu, tapi nihil. Beberapa saat kemudian, ponsel Harris berdering membuat semua pasang mata menatapnya.



“Baik, Pak, nanti saya informasikan kepada yang lain.” Semua orang menebak hal yang sama, kalau yang menelepon Harris pasti Arga.



“Pak Arga memohon maaf, meeting hari ini harus dibatalkan karena ada urusan mendadak.”



“Urusan mendadak apa?” tanya Sebastian, salah satu pemegang saham terbesar di Hanan Corp yang juga masih memiliki hubungan darah dengan Arga.



Harris tampak ragu untuk memberi tahu, tapi nanti juga berita ini akan tersebar di media massa. “Ibu mertua Pak Arga meninggal.”



***



Oriana yang tadinya tidak ingin pulang, terpaksa harus menaiki pesawat paling pagi di hari Senin. Berita itu datang bagai mimpi buruk. Kondisi mamanya drop tiba-tiba dan dokter segera memberi tindakan.



Mamanya sekarang dalam masa kritis. Semua keluarga sudah berkumpul di depan ruang operasi. Oriana datang belakangan bersama Arga. Saat tahu kabar dari ayah mertuanya, Arga berinisiatif untuk menjemput Oriana di bandara.



“Mama, kenapa, Pa?” Oriana mendekati papanya.



“Tadi malam masih baik-baik aja. Mama minta dibeliin donat almond kesukaannya, dan Papa suruh Wira untuk membelikannya. Mama lahap sekali memakannya dan kemudian tidur. Tapi jam tiga pagi, Mama terbangun, tubuhnya gelisah dan dia bilang sakit di jantungnya.”



Oriana rubuh memeluk papanya.



“Dokter pasti bisa menyembuhkan Mama, Na,” Papa berusaha tegar, “kita berdoa yang terbaik untuk Mama.”



Arga menarik tangan Oriana agar duduk. Digenggamnya tangan Oriana yang sedingin salju karena hanya itu yang bisa Arga lakukan untuk mengurangi rasa takut dan kecemasan yang kini membayangi Oriana.



“Keluarga Ibu Liliana.” Di depan ruang operasi, dokter memanggil.



Papa yang duduknya paling dekat, langsung berdiri. Wajahnya berusaha tenang dan bersiap dengan apa pun yang nantinya akan diucapkan sang dokter.



“Kami sudah berusaha. Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pasien.”



“Mamaaa,” teriak Oriana. Dia tidak peduli lagi pada situasi rumah sakit. Teriakan itu berubah menjadi isakan yang tertahan, ketika Oriana melihat selimut putih menutupi wajah mamanya.



“Riana.” Papa merangkul Oriana, membiarkan kepala anaknya itu rebah di bahunya. Papa hanya memanggil namanya dan tidak melanjutkan ucapannya. Mereka berpelukan dan sama-sama berbagi kesedihan.



***



Ini adalah kali pertama Arga melihat Oriana benar-benar rapuh. Istrinya itu tidak menangis tersedu-sedu ketika jenazah mamanya dikebumikan. Bahkan ketika para tamu mengucapkan bela sungkawa padanya, Oriana terlihat baik-baik saja.



Kenyataannya semua sikap kuat yang ditunjukkan Oriana hanyalah sebuah kepalsuan. Di dalam kamar mandi, Oriana mengurung dirinya dan memilih menangis berjam-jam seorang diri. Oriana sama sekali tidak ingin berbagi kesedihannya dengan orang lain, pun dengan Arga, suaminya.



Yang Arga baru sadari kemudian, dia tidak suka melihat Oriana sedih seperti sekarang. Lebih baik Oriana menatapnya penuh kebencian dibanding dia harus melihat mata cantik itu terluka dan memilih menyimpannya sendiri.



“Oriana...,” panggil Arga. “Kamu belum makan dari pagi.



Kita makan dulu,” bujuknya.



Arga merapatkan telinganya di daun pintu. Tidak ada suara tangisan, hanya suara air keran yang mengucur kencang. Pikirannya bercabang ke mana-mana, Arga segera keluar mencari mertuanya, untuk meminjam kunci serep.



Setelah berkali-kali memanggil nama Oriana, akhirnya Arga membuka pintu kamar mandi dengan kunci. Arga menelan ludah dan merasa miris ketika mendapati tubuh Oriana di dalam bathtub, terendam air dengan mata terpejam.



Arga mengambil handuk tebal yang terlipat rapi di lemari kecil khusus perlengkapan mandi. Dibentangkannya handuk itu, lalu dengan kedua tangannya Arga mengangkat tubuh Oriana yang basah kuyup dan membawanya ke atas ranjang.



Arga tidak memikirkan apa-apa lagi, yang dia khawatirkan hanya kesehatan Oriana. Arga memanggil nama istrinya berkali-kali namun Oriana tetap bergeming. Dengan susah payah, Arga melepaskan setiap helai baju yang melekat pada tubuh istrinya. Satu per satu tanpa terkecuali hingga tubuh Oriana terpampang polos di hadapannya. Mata Arga tertuju pada bekas luka di pinggul Oriana, luka itu jelas bukan jenis luka goresan biasa! Arga menutupi tubuh Oriana dengan selimut tebal lalu mengambil pakaian bersih untuk dipakai Oriana. “Oriana, bangun,” bisik Arga selesai dia memakaikan baju untuk Oriana.




Arga menarik napasnya. Tidak tahu, yang akan dia lakukan nanti benar atau salah. Tapi keinginannya mendorong dia untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sejak tadi dia berikan pada Oriana.



Sebuah pelukan.



Arga berbaring di sisi Oriana lalu merenggangkan tangannya untuk mendekap Oriana dengan erat hingga kepala Oriana berada di dadanya. Diciumnya puncak kepala Oriana. “Shh, jangan nangis lagi.”



Tapi tangis Oriana makin kencang.



***



“Na….” Mea sedikit mengguncang tubuh Oriana. Dia baru sampai Jakarta sejam yang lalu dan langsung menuju rumah Oriana. Sepanjang perjalanan pun, tak henti-hentinya air mata Mea mengalir. Mamanya Oriana sudah dia anggap seperti mamanya sendiri.



“Oriaaana.”



Mata Oriana terbuka perlahan saat melihat Mea ada di kamarnya. “Mama mana, Me? Dia masak apa? Gue laper, kangen makan masakan dia.”



Mea menubruk tubuh Oriana dan memeluknya erat. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang berisikan sabar, ini yang terbaik atau apa pun itu. Karena Mea sadar, yang Oriana butuhkan hanya tempat untuk berbagi—tempat agar Oriana bisa puas menangis sepuasnya.



“Gue ada di sini. Selalu ada, Na, buat lo.”



Tangis Oriana benar-benar pecah. Dari tadi pagi dia memang sengaja menyembunyikan kesedihannya. Karena tidak ingin membuat papanya semakin sedih. Oriana menyembunyikan wajahnya di bahu Mea. Dua perempuan itu saling berpelukan sampai mereka merasa lega dan puas berbagi.



“Di bawah banyak wartawan. Lo mau turun atau gue aja?”



Apa pentingnya, sih, berita duka? rutuk Oriana. “Lo aja ya, Me. Gue lagi males basa-basi.”



Mea mengangguk. “Arga khawatir banget sama lo,” kata Mea sebelum pergi.



Pikiran Oriana skip beberapa saat. Hari ini Arga menjemput dan mengantarkannya ke rumah sakit. Hingga detik terakhir Mama telah tiada dan dimakamkan, Arga masih setia menemaninya. “Sekarang di mana dia?”



“Ke kantor sebentar karena ada yang urgent. Oh iya, kata Arga lo belum makan! Mau makan apa?”



Oriana menggigit bibirnya, untuk menahan rasa pedih yang muncul di hatinya. Sifat bawelnya Mama dan Mea itu 11-12.



Sekarang tinggal Mea yang akan mengingatkan ini-itu padanya. “Mau makan Arga, boleh?” tanya Oriana frustrasi.



Mea melempar bantal berbentuk hati ke wajah Oriana. “Serius ah, Na. Makan ya, gue suruh, Bi Nia bawain nasi, ya.”



“Mau susu cokelat aja, Me—”



“Makan nasi,” potong Mea.



“Nanti, minum susu dulu, deh, baru makan nasi.”



“Pake roti, ya?”



Oriana mengiyakan. Sepeninggal Mea, Oriana menatap wajahnya di cermin kamar mandi. Wajahnya sembap dan matanya bengkak. Berkali-kali Oriana mencuci wajahnya, tapi hasilnya tetap sama.



Masih di depan cermin, Oriana mengingat-ingat kalau sepertinya tadi dia belum mengganti bajunya sejak pulang dari pemakaman. Tadi pagi saat meninggalkan Surabaya, Oriana mengenakan jeans dan sweter rajut warna peach. Dan ... sekarang dia mengenakan baju tidur yang sudah lama sekali tidak pernah dipakainya.



Ada yang terlewat dari ingatannya. Dan, Oriana hanya bisa menduga-duga. Pasti Mea yang mengganti bajunya bersama Bi Nia.



***



Dari sekian banyak pesan yang masuk untuk mengatakan belasungkawa atas kepergian mamanya, Oriana dibuat kaget karena Arga mengirimkan pesan untuknya.



Arga: Ada yang mau kamu titip? Aku lagi ada di apartemen.



Lima menit yang lalu pesan dari Arga masuk ke ponsel Oriana. Tapi dia bingung harus membalas apa ... sejujurnya dia tidak ingin merepotkan Arga.



Arga callings



“Oriana.”



“Iya, Ar.”



“Kamu nggak baca pesan saya?”



“Uhm, baca. Ini baru mau bales.”



Arga tertawa. “Maaf, saya kira kamu nggak lihat pesan dari saya, makanya saya telepon. Jadi mau dibawain apa?”



“Nggak usah dibawain apa-apa.”



“Okay.”



Oriana pikir pembicaraan mereka sudah berakhir, tapi sepertinya masih ada yang ingin dibicarakan Arga.



“Oriana ... kamu masih di situ?”



“Iya.”



Arga ingin jujur tentang tindakannya tadi pada Oriana tapi dia mengurungkannya. Sekarang bukan saat yang tepat.



“Saya ke sana sekarang.”



Oriana mengangguk, “Hati-hati, Ar ... dan terima kasih untuk hari ini.”



Mereka tampak benar-benar seperti pasangan normal. Di antara kesedihannya hari ini, Oriana mensyukuri satu hal. Arga ada di sampingnya dan itu sudah cukup membuatnya bahagia.