
Sepanjang perjalanan, pikiran Oriana tidak tenang. Ada apa? Apa yang ingin Arga bicarakan? Oriana mencoba memancing Arga untuk berbicara, tapi laki-laki itu masih mengatakan nanti. Sesampainya di apartemen barulah dia akan menceritakan segalanya.
Oriana melangkah masuk saat pintu terbuka, dia langsung duduk di sofa dan meletakkan tasnya di sebelah tubuhnya.
Berbeda dengan Arga, pria itu seperti memperlambat waktu. Dia masuk ke kamar untuk mengganti pakaian kerjanya dengan kaos dan celana pendek lalu menelepon restoran untuk memesan makan siang dan mengambil dua gelas air untuk dirinya dan Oriana.
Arga menyodorkan segelas air pada Oriana dan dia memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan istrinya. “Tiga bulan kita jadi suami-istri dan semuanya masih sama seperti awal,” ucap Arga.
“Ini mau evaluasi, ya?” Oriana memotong.
“Bisa dikatakan seperti itu.” Arga tidak mengelak karena memang itulah alasannya. “Saya sudah mendapatkan semuanya dan Hanan Corp sekarang juga sudah cukup stabil. Itu semua nggak lepas dari peran kamu.”
Oriana masih menahan napasnya, mencoba menebak apa yang sebenarnya ingin dibicarakan si Arga ini. “Intinya apa, ya? Otakku lagi mumet banget, jadi nggak bisa nerka arah omongan kamu.”
Arga berubah serius. “Maaf, kalau saya belum menjadi suami yang baik untuk kamu,” ungkapnya jujur. “Dan … selama tiga bulan kita menjalani pernikahan ini, apa kamu masih beranggapan akan terus melanjutkannya?”
Oriana seperti terhempas jauh ke dasar perut bumi. Tangannya menggenggam tali tas erat-erat. Tidak ada yang salah dengan kata-kata Arga. Malah, karena semuanya terlalu benar dan seolah memberi kesadaran padanya, bahwa Arga kini sedang meragu dan ingin membuat sebuah keputusan … yang mungkin akan akan menyakitkan hatinya.
“Kamu mau kita menghentikan pernikahan ini?” tanya Oriana langsung.
“Saya tahu, saya melanggar kontrak. Tapi saya janji, saya akan mengembalikan pinjaman yang diberikan oleh Persada.”
Pandangan Oriana terasa kosong, Arga terlihat samar di mata Oriana. Jangan nangis, Oriana!
“Kamu pengecut!” maki Oriana. “Setelah kamu dapetin apa yang kamu mau, kamu seenaknya melupakan perjanjian kita?”
“Kamu masih berpikir kita bisa meneruskan pernikahan ini?” Oriana mengangguk dengan tegas. Harga dirinya sudah tergadaikan ketika dia menerima usul papanya untuk menikah.
Sekarang, Arga malah ingin ikut menginjak-injaknya.
“Aku nggak butuh uang kamu! Aku cuma butuh kamu menepati semua perjanjian kita. Kalaupun harus berpisah, itu baru boleh terjadi setelah lima tahun.”
“Kita hanya akan saling menyakiti, Oriana! Setiap duduk seperti ini, apa pernah kita berbicara tanpa emosi ikut serta di dalamnya?” Arga berusaha mengingat momen bersama Oriana.
“Aku mau kita tetap meneruskan pernikahan ini,” Oriana
berkata tegas.
Di depannya, Arga tercengang mendengar permintaan Oriana. “Untuk apa, Oriana? Kita jelas nggak saling cinta.”
“Ini bukan masalah cinta,” jawab Oriana dingin, “tapi harga diriku, Ar! Aku mau, kita mulai semuanya dari awal,” pintanya dengan nada lantang.
“Kamu yakin?” tanya Arga ragu diakhiri dengan embusan napas.
Oriana mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia masuk ke kamarnya, mengunci pintunya. Tubuhnya merosot begitu saja. Di depan Arga, dia bisa bersikap tegar dan kuat ... tapi sekarang, air matanya jatuh satu per satu, mengalir deras dan menyesakkan dadanya.
***
Oriana itu seperti mawar. Cantik dan berduri. Semula, Arga berpikir dialah yang akan memegang kendali atas pernikahan yang terjadi di antara mereka. Mengatur Oriana yang terlihat tidak peduli pada apa yang akan mereka jalani.
Oriana ... perempuan itu bukan perempuan lemah. Dia memiliki duri, yang kalau Arga tidak berhati-hati untuk memegangnya, dia akan terluka!
Arga diam, sesaat tadi mereka telah menyepakati tentang keinginan Oriana yang memintanya untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya sampai perjanjian mereka berakhir.
***
Oriana memilih bertahan, karena dia ingin membuktikan pada dirinya … kalau dia bisa mendapatkan Arga. Kalaupun nanti usahanya gagal, apa bedanya, toh nanti Oriana pun akan tetap menyandang status janda, kan, ketika dia benar-benar bercerai dengan Arga?
Jadi, Oriana memilih mengambil risiko walau itu akan menghancurkan dirinya sendiri dan membuatnya terluka. Tapi, dia benar-benar tidak peduli lagi tentang semua itu. Tidak pernah ada kata setengah dalam hidupnya. Apa pun yang dia lakukan dalam hidup harus total! Termasuk mendapatkan hati Arga.
Oriana: I miss you!
Oriana: Gue kangen syuting, nge-host atau syuting iklan.
Nggak ada kerjaan apa buat gue?
Mea : Are you okay, babe?
I’m not, Me. Inginnya dia memeluk Mea dan bercerita sepuasnya sampai pagi, sampai rasa sesak di dadanya hilang. Mea adalah orang pertama yang tahu, bagaimana dulu Oriana begitu terpesona pada seorang Argani Hanan, hingga akhirnya dia berhasil menikahi Arga. Oriana meragu dan akhirnya menggeleng … cukup dirinya sendiri yang tahu tentang masalah rumah tangganya.
Oriana: Baik :)
Mea : Tawaran mah banyak bangeeeet. Ketemu yuks? Eh, eh, kemarin gue ketemu sama Ray, dia nitip salam buat lo dan bilang turut berduka cita.
Mea : Ray juga nanya lo jadi ngambil nggak yang di Butterfly?
Ya ampun, ya ampun ... Oriana lupa! Padahal dia sudah berjanji memberi jawaban pada Butterfly. Tapi sama Ray??? Itu yang jadi masalahnya. Oriana belum sanggup bertemu dengan Ray. Bahkan hadiah dari Ray pun belum dia buka sampai sekarang.
Oriana: Ray nggak tanya macem-macem tentang gue kan, Me??
Mea : Nggak kok. Btw, dia udah nggak gondrong lagi lho, rambutnya cepak gitu. Gantenggg bangett, niat banget kayaknya dia mau move on dari lo, hahahaah.
Oriana: Jadi dia udah nggak marah sama gue?
Mea : Ya, kalau itu sih gue nggak tau. Lo ngomonglah sama dia.
Mea : Jadi mau apa? Film atau sinetron?
Oriana: FILM!!! Nggak mau gue dibudakin sama rating.
Mea : Hahaha.
Mea : Ketemu sekarang?
Mea : Lagi ngidam, Na?
Oriana: Nggaaaaakkkk...
Mea : Kirain lagi isi :D mau dijemput atau ketemu di sana?
Oriana: Jemput dong :))
Mea : Siap-siap aja, nanti kalau gue udah sampe di lobi, gue telepon.
Oriana: Okay. Makasih, Me :*
Haram hukumnya bersedih lama-lama. Jadi, daripada nyesek sendiri mendingan makan enak. Oriana meluncur menuju kamar mandi, menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya terguyur air dingin. Hai, Argani ... kita lihat nanti, aku yang akan memenangkan ini semua! ucapnya dalam hati.
***
Oriana keluar dari kamar saat sudah rapi. Dia berdiri sejenak, karena ada Arga sambil menatap layar televisi dengan wajah serius. Mereka tinggal serumah, jadi mau menghindar pun juga tidak akan ada pengaruh apa-apa. Yang ada hanya menunda … Oriana harus menghadapi Arga, kalau dia ingin menang.
“Aku belum masak. Kamu nanti beli aja ya makan malamnya.” Ucapan pembuka dari Oriana, membuat Arga mengalihkan pandangannya.
“Iya, gampang. Kamu mau ke mana?”
“Ketemu sama Mea,” jawab Oriana dan duduk di sebelah Arga. Sesekali dia melihat handphone-nya, menunggu kabar dari Mea.
“Dijemput?”
Oriana mengangguk kecil dan diam bersama Arga. “Perusahaan saya mau buat TVC untuk product H-Cash. Karyawan saya menyarankan kamu yang jadi talent-nya. Kamu mau?” tanya Arga dan terlihat ragu.
“Konsepnya?” Sesuai standar yang berlaku, sebelum mengiyakan sebuah proyek Oriana harus tahu dengan jelas perannya seperti apa.
“Tadi, sih, tim marketing bilang mini story dengan tema romantic honeymoon. Sama si Rico Valentino.”
Oriana tersenyum ketika Arga menyebutkan nama Rico. “Boleh aja. Nanti aku Whatsapp email Mea ya, biar urusannya sama dia langsung.”
“Kamu kenal sama Rico Valentino?” tanya Arga lagi.
“Kenal, aku pernah beberapa kali kerja sama dia.”
Suara handphone Oriana berbunyi, panggilan dari Mea. Memberitahukan bahwa sepuluh menit lagi dia akan sampai. “Aku pergi dulu, ya.”
“Kalau nanti mau dijemput telepon saya.”
Oriana sedikit tak percaya pada apa yang didengarnya.
Arga nggak bercanda kan, ya?
“Kalau aku beneran telepon kamu, kamu bener-bener mau jemput?” tanyanya memastikan sebelum berdiri.
Alis Arga mengerut lalu dia tersenyum dan mengangguk. “Saya nggak ke mana-mana, jadi bisa jemput kamu.”
“Kenapa tiba-tiba baik?” tanya Oriana penuh selidik.
Tangan Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “I just try to be a good husband. Sesuai kesepakatan.”
Ya, walaupun cuma karena kesepakatan, minimal Arga mau mencoba berbuat baik untuk hubungan pernikahan mereka. Oriana balas tersenyum manis. Dia berdiri, dan ... mengecup pipi Arga cepat! Yes, ini kesempatan yang udah Oriana tunggu sejak lama—bisa mencium Arga. Iya, Oriana emang mesum, habis si Arga itu kissable dan pelukable bangettt. Pertama kiss-kiss dulu, abis itu baru peluk-peluk, kata Oriana dalam hati sambil tertawa.
“Aku pergi dulu ya, Sayang. Kalau mau sesuatu WA aja nanti aku beliin.” Setelah memberi ciuman di pipi Arga, Oriana memanggil Arga dengan sebutan 'Sayang!' Oriana sengaja melakukannya dan itu memberi kesenangan pada dirinya sendiri. Wajah Arga memerah setelah pipinya dikecup Oriana. Dan, Oriana langsung kabur begitu saja tanpa mau pusing pada reaksi Arga. Yeah, akhirnya akan ada masanya, Arga benar-benar menjadi suami bagi Oriana—meski diawali dengan sebuah kontrak.
***
Arga membersihkan bekas lipstik Oriana yang tertinggal di pipinya. Oriana itu ... sampai detik ini masih sulit bagi Arga untuk mendefinisikan semua sikap yang dimilikinya. Kadang meledak-ledak, kadang rapuh dan juga kadang semaunya.
Seperti kecupan yang tadi Oriana berikan padanya. Bukannya Arga tipe laki-laki suci yang tidak pernah menyentuh perempuan. Yang dilakukan Arga selama ini hanyalah menekan segala keinginannya untuk tidak berlaku kurang ajar pada Oriana.
Karena Arga masih menganggap bahwa Oriana juga korban atas pernikahan mereka. Arga masih percaya bahwa Oriana pun tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi dia harus bersikap sebagai laki-laki bertanggung jawab yang mampu menjaga Oriana. Bukan memanfaatkannya hanya karena status pernikahan mereka.
Tapi setelah tadi, ketika mata indah milik Oriana menatapnya penuh harap dan memintanya. Arga tahu, ada yang disembunyikan oleh Oriana. Entah itu apa! Oriana bersikeras dan Arga tak punya pilihan lain selain menepati janjinya.
“Halo, Ar.” Suara Ayesha terdengar lembut. “Hei...!”
“Lagi sibuk?” tebak Ayesha saat mendengar suara Arga yang tidak bersemangat. “Lagi pusing banget kayaknya?”
Arga menghela napas. Kemarin masalah kantornya yang mengganggu dan sekarang justru masalah rumah tangganya yang membelitnya. “Cuma lagi ada beberapa masalah aja!”
“Kantor? Atau. ”
“Atau apa?” Barulah Arga tertawa. Kadang tebakan Ayesha selalu benar dan itulah yang membuat persahabatan mereka berjalan tetap awet hingga sekarang. Ayesha terlalu mengenal Arga, pun sebaliknya.
“Kok, kamu malah ketawa, sih. Pengantin baru harus semangat, dong! Masa lesu begitu.”
“Hmm,” Arga hanya menggumam, mendengar ceramah dari Ayesha.
“Eh, ketemuan yuk, temenin aku makan di CP. Bisa nggak, Ar?”
“Sam ke mana?” Biasanya Ayesha baru akan menghubunginya ketika Sam—lelaki yang diakui pacar oleh Ayesha—sedang tidak ada di Jakarta.
“Biasa, lagi tugas … aku suntuk! Pengen jalan-jalan tapi nggak ada teman.”
“Aku jemput sekarang?” Arga menawarkan.
“Beneran kamu bisa? Istri kamu?”
“Oriana lagi keluar sama temannya.”
“Okay, aku tunggu. Makasih ya, Ar.”