
Pagi-pagi sekali, Oriana sudah meninggalkan apartemen tanpa berpamitan dengan Arga. Oriana terbangun karena suara handphone-nya dan makin kaget ketika Bi Nia mengabarkan bahwa mamanya terkena serangan jantung dan sekarang berada di IGD Rumah Sakit Harapan Kita.
Ketika Arga terbangun dan keluar dari kamarnya, biasanya suasana apartemen sudah terang benderang dan ketika dia membuka pintu kamarnya, aroma makanan akan menyambutnya. Pengecualian untuk pagi ini, suasana redup masih melingkupi segala penjuru apartemennya.
Apa Oriana belum bangun?
Semalam Arga jadi memikirkan apa yang dikatakan Oriana saat kemarin mereka bertengkar. Arga pun bukannya tidak menyadari bahwa tidak ada progres yang berarti dalam hubungan mereka. Oriana benar, mereka masih seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal dan sama-sama belum mau membuka diri.
Oriana Jasmeen!
Siapa yang tidak mengenal istrinya? Hampir semua lelaki mengagumi kecantikan Oriana. Dan, sebagai pewaris tunggal keluarga Sudjono, Oriana adalah sosok putri mahkota yang diidam-idamkan oleh teman-temannya.
Cantik dan kaya! Padanan yang sempurna bukan?
Tapi, tidak begitu bagi Arga. Saat perjodohan itu datang padanya, Arga hanya berpikir taktis, dengan cara inilah mungkin dia bisa menyelamatkan perusahaannya yang sedang terlilit kasus pajak.
Jadilah dia—Argani Hanan—yang mengorbankan diri dan menerima pernikahannya bersama Oriana. Dan diam-diam Arga mengakui, bisnis kali ini sangat berbeda! Arga benar-benar merasa bodoh. Menghadapi Oriana tidak semudah yang dia kira.
Arga berdiri di depan pintu kamar Oriana, sebelum dia ingin berangkat kerja. Tangannya sudah ingin mengetuk, tapi dia tidak jadi melakukannya. Sejak menikah, ini adalah kali pertama Oriana marah padanya dan Arga pun mengakui kesalahannya.
Saat menjelang makan siang, sebuah pesan masuk.
Oriana: Aku ada di rumah sakit, tadi pagi-pagi ditelepon sama Bi Nia kalau mama kena serangan jantung.
Arga : Di rumah sakit mana?
Arga segera membalas pesan Oriana tadi dan dia merasa kesal ketika Oriana tidak memberitahukan berita sepenting itu padanya dengan segera. Arga menunggu namun Oriana sama sekali tidak membalas pesannya. Ketika dia mencoba menelepon, nomor handphone istrinya itu malah tidak aktif.
Arga tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dan dia menghubungi Sudjono untuk mencari tahu.
***
Sesampainya di rumah sakit Arga menuju ruang IGD dan dia melihat Oriana duduk menyender dengan kepala tertunduk. Matanya terpejam. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada Oriana di sana. Arga duduk di sebelah Oriana tanpa ingin membangunkannya dan tetap begitu sambil menunggu kabar dari dokter dan perawat.
Dari penampilannya yang hanya menggunakan jeans dan kaus lengan panjang, Arga menebak kalau Oriana pasti tadi sangat panik dan buru-buru hingga dia tidak memedulikan penampilannya.
Oriana yang tertidur, tidak sadar bahwa kepalanya telah menyender di bahu kokoh milik Arga. Arga pun menoleh sekilas. Tadi dia merasa kesal karena Oriana tidak memberi kabar padanya, dan melihat Oriana seperti sekarang, kemarahan Arga berganti menjadi perasaan yang sulit diartikan.
“Keluarga Ibu Liliana Sudjono…,” panggil seorang suster.
Oriana yang mendengar nama ibunya dipanggil, mendadak bangun dan kaget. Pertama, kaget karena ada Arga di sampingnya, dan kedua, seorang suster yang memanggilnya untuk memberitahukan informasi penting.
“Saya anaknya, Sus, ada apa?” Oriana berdiri dan mendekati pintu IGD.
“Ibu Liliana akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi lebih lanjut.”
“ICU?” Oriana terlihat kaget. “Terus kondisinya gimana?” “Nanti dokter yang akan menjelaskan.”
Oriana mengangguk dan kembali duduk. Sejak kapan Arga ada di sini?
“Gimana kondisi Mama?” tanya Arga.
“Mama mau dipindahkan ke ruang ICU,” jawab Oriana. Oriana mengambil handphone-nya, dia segera mengabari papanya yang baru saja tiba di bandara, tentang kondisi mamanya. Saat melihat brankar mamanya keluar ruang UGD untuk dipindahkan, Oriana menggigit bibirnya, dia tak kuasa untuk menahan air matanya ketika melihat mamanya yang tak sadarkan diri.
Arga yang berdiri di sampingnya, dengan sigap memegang tubuh Oriana yang limbung. Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan, Arga bisa merasakan tangan Oriana yang sedingin es.
“Gimana Mama saya, Dok?”
“Fungsi jantung pasien masih lemah, untuk itu kondisi pasien harus dipantau di ruang ICU sampai kondisinya benar-benar stabil agar pasien bisa mendapatkan tindakan selanjutnya,” jelas Dokter Siska—dokter yang menangani mamanya.
Oriana mengangguk mengerti. “Berapa lama?”
“Semoga secepatnya,” jawab Dokter Siska dan berpamitan pergi pada Oriana.
Orian menghapus air matanya. Arga … mendekat dan memeluk Oriana, seolah ingin memberi kekuatan pada istrinya.
***
“Papa yang tunggu di sini. Kamu pulang dulu, istirahat! Arga juga butuh istirahat—”
“Tapi, Pa…,” Oriana membantah, “aku juga mau jaga Mama.”
“Gantian dulu, Oriana. Kalau ada apa-apa nanti akan segera Papa kabari.”
Oriana tampak tidak setuju, tapi dia tahu, dia tidak bisa membantah papanya.
“Mama sudah berada di tempat yang benar, ada dokter-dokter yang memantau, jadi kamu nggak perlu khawatir. Sekarang ada Arga yang juga menjadi kewajiban kamu. Jangan egois!”
Arga pun menengahi. “Kita pulang dulu nanti kamu boleh ke sini lagi,” ucapnya pada Oriana. “Kami pulang dulu ya, Pa.” Oriana tidak melawan lagi, dia memeluk papanya dan mengikuti Arga. Setelah kemarin dia sudah menjalani tugasnya sebagai seorang istri, hari ini Oriana sedikit bersalah karena tadi dia tidak menyiapkan makanan untuk Arga.
Dan sejak kemarin mereka belum berbaikan. Oriana bukannya ingin bersikap seperti anak kecil yang hobi ngambek, tapi setidaknya dia ingin Arga punya sikap! Pernikahan ini jelas-jelas menguntungkan perusahaan miliknya. Apa susahnya, sih, sedikit saja bersikap terbuka dan menganggapnya ada?
“Pakai mobil saya aja,” ucap Arga ketika mereka sampai di parkiran.
“Terus kalau nanti aku mau ke sini lagi gimana? Naik taksi?
Repot, ah!”
“Nanti saya antar.”
“Nggak usah repot-repot, Ar!” tolak Oriana.
“Maksud kamu apa?”
“Aku tadi bawa mobil sendiri,” jawab Oriana jujur dan memang tidak ingin merepotkan Arga. Nanti dia bisa, kok, sendiri ke rumah sakit.
Arga diam. Dia tahu, Oriana masih marah padanya dan sekarang… saat Arga memang ingin berbuat baik, Oriana justru mempersulit kondisi mereka berdua.
Oriana berbalik dan berjalan menuju mobilnya terparkir. Dia tidak ingin menunggu Arga memberikan penjelasan, karena Oriana yakin penjelasan apa pun tidak akan memberikan efek apa-apa. Lebih baik membiarkannya.
Tanpa disangka, Arga menarik lengannya. Membuat langkah Oriana terhenti. Wajah Arga mengeras dan memperlihatkan emosi yang sebentar lagi akan meledak tapi berusaha dia tahan.
Arga marah? Tanya Oriana pada dirinya sendiri.
“Ayolah, Oriana! Tolong jangan mempersulit keadaan. Kita pulang pakai mobil saya dan nanti saya akan antar kamu ke sini lagi.”
Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka sembilan. Oriana lelah, Arga pasti juga begitu.
“Aku nggak mau ngerepotin kamu, Ar. Bukannya mau mempersulit keadaan.”
“Saya nggak merasa direpotin,” sahut Arga. “Kita pulang!”
Oriana masih diam.
“Kenapa lagi?” tanya Arga bingung.
“Aku marah sama kamu kemarin, tapi hari ini kamu nemenin aku, terus kamu juga peduli sama keluarga aku. Ini bukan pura-pura, kan, Ar? Aku takut salah mengartikan semuanya….”
Oriana menatap Arga. Benarkah apa yang tadi diucapkan Arga? Sesaat ketika pikirannya mencerna setiap kata yang diucapkan Arga, Oriana merasa Arga mulai peduli dengan pernikahan mereka dan juga dirinya. Tapi, Oriana tidak ingin terlalu mempercayainya seratus persen, karena dia tahu semuanya bisa berubah sewaktu-waktu.
“Kita pulang sekarang. Nanti, saya antar kamu ke sini lagi.” Arga menggandeng Oriana ke mobilnya dan setelah itu hanya diam yang mengisi.
***
Ayesha memandangi kursor di layar Macbook-nya yang sedari tadi tidak berganti posisi. Sudah dua minggu, Sam, kekasihnya pergi ke Medan untuk urusan pekerjaan dan biasanya kalau Sam pergi selalu ada Arga yang siap menemaninya.
Sekarang Arga sudah menikah dan semenjak itu pertemuan mereka tidak sesering dulu lagi. Ayesha melirik handphone-nya, berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Bagaimana kalau dia menelepon Arga dan mengajaknya bertemu?
Tapi, bagaimana kalau Arga menolaknya? Ayesha menggeleng dan memutuskan untuk mengirim pesan saja pada Arga, sekadar menanyakan kabar pria itu. Ayo, Ayesha … dia pasti bisa tanpa Arga. Ayesha tersenyum dan menguatkan dirinya sendiri.
Arga sudah memiliki kehidupannya sendiri dan dia tidak berhak mengganggunya.
“Sam…!” Lebih baik menelepon pacar sendiri, kan?
“Iya, Sha, kenapa? Tumben telepon. Biasanya nggak pernah kangen sama aku,” sindir Sam.
Bahkan Sam pun menyadari!!!
“Kamu kapan pulang?”
“Lusa. Jemput, dong, di bandara,” pinta Sam.
“Sampai bandara jam berapa kira-kira?”
“Jam enam sore.”
“Sam, jam segitu lagi macet-macetnya!” Ayesha terdengar enggan menjemput Sam.
Sam sudah menduganya. Dan lagi-lagi mencoba mengerti. Entah sampai kapan hubungan mereka akan bertahan, karena selama ini Sam merasa hanya dia yang selalu berkorban untuk Ayesha, tapi tidak berlaku sebaliknya.
***
Jumat malam, Oriana masih menunggui mamanya di rumah sakit. Badannya terasa lelah tapi matanya tidak juga mengantuk, pikirannya berkecamuk memikirkan acara di hari Sabtu dan Minggu besok. Jadwal Oriana di akhir pekan ini padat merayap!
Sabtu, makan malam bersama keluarga besar Arga.
Minggu, fans meeting dan juga nobar film terbarunya di Surabaya.
Andai Oriana memiliki pintu ke mana saja! Saat seperti ini, ketika Oriana dihadapkan pada pilihan sulit, rasanya berat meninggalkan sang mama, walaupun kondisinya perlahan sudah membaik. Tapi, Oriana belum bisa tenang sepenuhnya kalau mamanya sudah dinyatakan benar-benar sehat oleh dokter dan boleh pulang ke rumah.
“Muka kamu ruwet banget, Na,” ucap Liliana yang baru saja terbangun dan mengagetkan lamunan Oriana.
“Mama udah lama bangunnya?”
“Dari tadi, sih, bangunnya, terus ikut asyik ngeliatin kamu ngelamun,” jawab Liliana seraya terkekeh dan melanjutkan ucapannya. “Ada apa, Riana?”
Oriana tampak menghela napas. “Besok ada acara makan malam di rumah kakaknya Arga, terus malamnya aku harus berangkat ke Surabaya. Aku mau ninggalin Mama nggak tenang,” ungkapnya jujur.
“Mama udah sehat, Na. Lagi pula ada Papamu nanti yang jaga Mama.”
“Tapi, Ma....” Oriana tampak tak rela meninggalkan Mamanya.
“Nggak apa-apa, Na. Kalau nanti ada apa-apa, Papa pasti ngabarin kamu.”
“Tapi, malam ini aku nginep di sini ya, Ma.”
“Telepon dulu suami kamu. Minta izin sama dia.”
Oriana mengangguk di depan mamanya, tapi dia menundanya dan ingin menunggu sampai Arga yang mencari dirinya. Sejak peristiwa beberapa hari lalu itu, baik dia dan Arga sama sekali belum memulai pembicaraan apa-apa. Sekarang Oriana ingin membuktikan ucapan Arga yang katanya akan bertanggung jawab pada dirinya.
***
Saat coffee break, Arga melihat notifikasi pesan yang masuk ke
handphone-nya. Tidak ada panggilan atau pesan dari Oriana.
Justru dari Ayesha yang menanyakan kabarnya. Setelah pertemuan terakhir mereka bulan lalu, keduanya tidak pernah bertemu lagi.
Arga: Aku baik. Kamu gimana?
“Pak Arga, meeting sudah dimulai,” Harris—personal assistant
yang menggantikan Lulu yang sedang cuti—memanggilnya.
Arga mengangguk. Setelah membalas pesan dari Ayesha, dia memasukkan handphone-nya ke dalam saku. Di ruang rapat, masih ada beberapa laporan dari dua divisi yang harus dia dengarkan, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka delapan.
Arga mendengarkan dan menatap fokus pada tiap slide yang muncul di layar proyektor. Hanan Corporate—perusahaan yang dipimpin Arga—adalah induk perusahaan yang bergerak di bidang perbankan yang membawahi belasan anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari transportasi, hotel, tempat hiburan, serta retail.
Arga memang beruntung lahir di keluarga Hanan. Di usianya yang menginjak angka 33 tahun, dia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan harta kekayaan. Semuanya sudah dia dapatkan sejak lahir, tapi untuk posisi direktur yang dia duduki sekarang bukanlah hasil pemberian orangtuanya.
Arga bersaing dengan saudara-saudaranya untuk menempati posisi elite itu, hingga dia mendapatkan posisi sebagai direktur karena memang kemampuannya untuk memimpin, ditambah dengan kecerdasan yang dia miliki.
Tapi, Arga tidak pernah menduga sebelumnya, bahwa karena kelalaian salah satu divisi akhirnya berakibat fatal. Hanan Corp terlilit utang pajak dan isu itu tersebar dengan cepat, para investor pun banyak yang menarik modal mereka.
Arga tidak memiliki pilihan lain waktu itu kecuali menerima pernikahannya bersama Oriana. Karena, Sudjono menjanjikan akan membantu jika Arga mau menikahi Oriana. Apa pun akan dia lakukan demi perusahaannya. Tapi, ternyata berhadapan dengan Oriana bukan perkara mudah. Pernikahan bisnis ini pun tak luput dari hak dan kewajiban antara keduanya.
Jam setengah sepuluh akhirnya meeting selesai. Arga meninggalkan ruangan lebih dulu menuju ruangannya diikuti oleh Harris.
“Besok jam delapan ada breakfast meeting bersama Persada di Hyatt,” Harris mengingatkan.
Persada Company adalah perusahaan milik keluarga istrinya. Semua orang termasuk keluarganya sudah memprediksi Arga kelak akan memimpin Persada Company menggantikan mertuanya. Dan momen seperti ini, cepat atau lambat akan datang padanya.
“Apa agendanya?” “Masalah SunMart, Pak.”
“Besok suruh Araya yang datang.”
Araya adalah adik bungsunya yang dia berikan tanggung jawab mengelola SunMart. Arga ingin Araya menyelesaikannya sendiri.
Melihat wajah Arga yang lelah dan kesal, Harris tidak berani untuk membantah. “Iya, Pak. Malam ini segera saya beri tahu pada Bu Araya.”
Di dalam mobil, Arga melepaskan jas dan dasinya. Pikirannya penat dan dia butuh hiburan. Arga mengambil handphone, menelepon seorang temannya untuk mengajak yang lain untuk berkumpul di Camden.
Ayesha.
“Ay, lagi di mana? Aku sama anak-anak mau ketemuan. Mau ikut?” Arga menelepon Ayesha.
“Aku lagi dinner sama Sam, Ar. Salam aja, ya, buat yang lain,” jawab Ayesha.
Arga tidak bisa menutupi rasa kecewanya. “Salam juga buat Sam,” kata Arga sebelum menutup telepon.