ORIANA'S WEDDING DIARY

ORIANA'S WEDDING DIARY
Episode 5



September 2016



Sebuah kotak terbungkus warna peach—warna favorit si penerima. Ray memandang kotak itu lagi. Sudah dua bulan dan dia belum mengirimkan hadiah yang telah dia persiapkan untuk Oriana pada hari pernikahannya.



Sampai kapan, Ray? Dia bertanya pada dirinya sendiri.



Ah ya, Mea. Ray memutuskan untuk menitipkan hadiah itu pada Mea. Mea pasti mau menolongnya.



***



Di Starbucks Pacific Place, Oriana duduk seorang diri di salah satu sofa. Matanya menatap serius tiap lembar draf yang baru saja dia terima dari Buterfly—production house yang menawari Oriana untuk memerankan salah satu tokoh utama di film berjudul Behind The Reds.



Peran yang datang pada Oriana kali ini sebagai antagonis. Oriana tertarik untuk mencobanya. Sebelum Oriana mengambil keputusan, dia ingin membicarakannya lebih dulu bersama Mea.





Mea melambaikan tangan pada Oriana ketika dia memasuki gerai. Mea memesan minum lebih dulu sebelum menghampiri Oriana. Tangan kanan Mea memegang Arabika favoritnya, yang selalu jadi bahan celaan karena selera Mea setipe sama om-om! Dan tangan kirinya menenteng goodie bag.



Miera Nasrudin—nama lengkapnya tapi gadis itu lebih suka dipanggil Mea. Alasannya? Katanya, sih, biar lebih kekinian. Oriana pun akhirnya terbiasa memanggil Miera dengan panggilan Mea.



Mea adalah sahabat dari Riandra—adik sepupu Oriana. Awalnya Mea hanya sementara saja membantu Oriana, tapi lama-kelamaan mereka dekat dan cocok. Jadilah sampai sekarang hubungan kerja mereka berlangsung awet.



“Lama, ya? Sorry, ya, tadi adek gue maksa minta anterin dulu,” jelas Mea sambil memegang gelas kopinya. “Nih,” katanya sambil menyerahkan goodie bag yang tadi dibawanya.



“Apaan, nih?” tanya Oriana.



“Buka aja! Gue juga nggak tau apa isinya.” Mea tertawa, melihat Oriana yang makin penasaran. “Itu dari Ray, Na. Tadi sebelum ke sini, dia ke rumah gue. Katanya nitip buat lo.”



Ray? Oriana hampir tidak percaya. Ray itu mantan terakhir Oriana. Mereka putus setahun yang lalu dan sudah lama tidak saling berkomunikasi. Oriana pun tidak mengundang Ray di pernikahannya.



“Ray bilang apa?”



“Cuma minta tolong, minta kasihin ke lo aja. Oh iya, dia bilang … kalau lo ambil project dari Butterfly, nanti dia yang jadi sutradara.” Mea memberikan informasi itu pada Oriana.



Oriana berpikir sejenak, dia dan Ray memang putus baikbaik karena keinginan mereka. Tapi Oriana tahu dengan jelas, kalau menurut Ray hubungan mereka masih akan berlanjut walau entah kapan. Apalagi setelah dia mendapat kado ini dari Ray… ini artinya apa? Ray sudah move on? Atau dia ingin menunjukkan kalau dia masih mencintai Oriana?



“Gue pikir-pikir dulu, deh.” Oriana memilih untuk mempertimbangkan.



Mea mengangguk setuju.



“Abis ini mau ke mana, Me?” tanya Oriana. “Temenin gue belanja bulanan mau nggak?”



“Cieee, yang udah jadi istri! Mantap banget deh, ah,” goda Mea. “Tadi masak apa di rumah?”



Masak? Ini pertanyaan Mea ngejebak banget. Sejujurnya, Oriana nggak pernah masak. Arga selalu sarapan dengan sereal dan suaminya itu selalu pulang larut dan tidak pernah makan atau bertanya Oriana masak apa. Oriana pun menyimpulkan kalau Arga sudah makan di luar, entah itu di mana.



“Gimana suami di rumah? Sehat? Sering berantem, nggak?” Mea kembali bertanya pada Oriana. Dan lagi-lagi pertanyaan yang dilemparkan Mea sungguh terlalu … karena Oriana kebingungan harus menjawab apa.



Kalau boleh, Oriana ingin sekali menceritakan tentang pernikahannya bersama Arga pada Mea. Tapi, Oriana masih memiliki etika. Kata mamanya, masalah apa pun yang terjadi pada rumah tangganya adalah rahasia dan tidak boleh dibeberkan pada orang lain.



“Suami gue, ya, di kantor. Sehat walafiat dan makin ganteng!” Untuk kata terakhir Oriana tidak berbohong. Setiap hari, walaupun cuma beberapa menit mereka berpapasan, Arga itu laksana pangeran berkuda di zaman para pria terlihat gagah dengan kuda hitam dan baju perangnya! Dia kuat, berkarakter, dan tampan! Semua itu malah membuat Oriana keki setengah mati karena cuma bisa memandanginya saja tanpa berani menyentuh. Lama-lama dia bisa gila, Tuhan!



“Hahaha … tapi udah seneng dong, ya! Kan, udah jadi milik sendiri, mau diapain juga suka-suka.”



Ahhh, andai bisa begitu jalan ceritanya! Oriana hanya nyengir, dia tidak ingin berbohong pada Mea. Dosaaaa…!



“Tapi, gosipnya, dia maho. Itu bener nggak, sih?” Lalu Mea memajukan majunya dengan suara berbisik, “Dia hot nggak di ranjang?”



“Maho??? Gosip dari mana?” Seketika Oriana tidak terima suaminya dibilang maho.



“Gue sempet denger aja, sih! Makanya gue klarifikasi sama lo. Dia nafsu nggak sama lo?”



Sialll … dipegang-pegang aja nggak pernah. “Menurut lo gimana?” tanya Oriana dengan gaya-gaya pembawa acara gosip di tv.



“Panas ya? Duhhh … gerah gue!!!” ucap Mea dengan wajah menggoda.



“Hahahaha, kalau dia nggak bisa muasin gue di atas ranjang, mana mau gue tetep jadi istrinya.”



“Yaiyalah, gila aja dia kalau nggak nafsu sama lo! Bodi aduhai kayak gitar Spanyol, muka cakep, cinta mati pula sama dia.”



Kontan bibir Oriana mengerucut, kenapa si Mea masih ingat tentang perasaannya pada Arga sih? Obrolan tentang Arga harus segera dihentikan kalau tidak pasti dia akan membeberkan semua rahasia yang disimpan rapat dalam hatinya.



***



Daging, ayam, ikan, wortel, buncis, brokoli, kembang kol, dan bumbu dapur! Oriana duduk di lantai ketika membuka belanjaannya. Tadi di depan Mea, dia dengan percaya dirinya membeli semua bahan belanjaan ini. Tapi sekarang justru dia yang bingung dengan bahan makanan sebanyak ini.



Masak apa?



Oriana mengambil ponselnya. Apa dia harus bertanya pada Arga untuk menanyakan makanan kesukaan suaminya? Tapi kalau dia bertanya nggak jadi kejutan, dong. Oke, Google! Apa gunanya handphone pintar kalau tidak diberdayakan? Mata Oriana melihat dengan cermat, menu yang cocok dengan sayuran yang ada.



Bistik dan capcai. Akhirnya dua menu itu dipilihnya. Setelah membaca resep, Oriana mengganti baju, mengikat rambutnya dan siap memasak makanan pertama untuk Arga.



***



Dalam perjalanan pulang, Arga menghitung … sudah dua bulan dia menikah dan tidak ada perbedaan signifikan yang terjadi dalam hidupnya. Segalanya masih teratur—Arga dan Oriana memiliki kehidupan masing-masing. Kecuali kehadiran Oriana yang berkeliaran membuat suasana apartemennya tidak sesepi biasanya, ditambah juga dengan wangi vanilla yang selalu tertinggal ketika Oriana di ruang tamu, atau setelah dia melewati dapur.



Sesampainya di apartemen, Arga meletakkan tas dan jasnya di sofa dan tertarik ikut duduk bersama Oriana di meja makan. “Untung kamu pulang nggak malam banget! Aku udah masak, kita makan bareng, ya.”



“Kamu masak ini sendiri?” tanya Arga tak percaya.




“Kamu belum makan, kan?”



Tadi sepulang kerja, Ayesha meneleponnya dan mereka baru saja makan malam bersama. Ayesha yang sedang merintis usaha butiknya meminta pendapat Arga tentang strategi penjualan juga mengenai manajemen mengelola butik.



“Belum. Ayo kita makan,” Arga tidak tega jika harus memberikan jawaban yang sebenarnya pada Oriana, jadilah dia berbohong. Oriana ini … jauh dari perkiraannya. Entah, setelah ini, kejutan apa lagi yang akan Arga dapatkan.



Oriana mengamati dengan cermat setiap gerakan yang dilakukan Arga. Saat Arga menyendokkan nasi dan bistik ke mulutnya, Oriana refleks menahan napas.



Garam tadi udah dimasukin, kan? Dagingnya udah lembut, kan? Oriana takut sekali kalau masakannya nggak enak.



Arga terbatuk dan Oriana buru-buru berdiri untuk mengambil segelas air putih dan memberikan pada Arga.



“Nggak enak ya, Ar?” tanya Oriana dengan wajah takut. Arga mengangkat tangan kanannya, secara tersirat mem-



berikan jawaban tapi Oriana tidak paham dengan maksud Arga. “Tenggorokan saya agak sensitif sama lada hitam.” Arga menenggak air putih yang diberikan Oriana sampai habis dan melanjutkan ucapannya. “Tapi masakan kamu enak. Sudah sering masak, ya?”



“Bikin salad atau sup krim itu bisa dibilang dalam kategori masak nggak, sih?”



“Jadi ini yang pertama?”



“Iya dan terima kasih kepada Google karena kamu nggak keracunan!” Oriana tertawa senang. Setelah ini dia akan mengingatnya dengan baik, kalau Arga alergi dengan lada hitam. “Ar, besok-besok kalau aku masakin kamu lagi, kamu mau makan, nggak?”



Arga mengangguk. “Tapi jangan ngerasa terbebani kamu harus masak, Oriana.”



“Aku senang bisa masak buat kamu,” balas Oriana pelan. “Tapi, saya tidak mewajibkan itu semua. Saya yakin kamu



juga punya kesibukan dan saya nggak mau urusan kamu jadi terganggu hanya karena mengurus makanan saya. Saya bisa mengurus diri saya sendiri.”



Aku kan, istri kamu, Ar … tapi Oriana hanya berani bicara dalam hati karena Arga sudah membuatnya terlalu kaget dan meninggalkan dirinya begitu saja.



***



Paginya Oriana melakukan aktivitas seperti biasa, tapi kalau biasanya dia menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, kini Oriana juga membuatkan sarapan untuk Arga. Biasanya juga, Arga hanya makan oatmeal dan minum kopi.



Tapi pagi ini, Oriana ingin membuatkan sesuatu yang berbeda! Dia membuat telur mata sapi, dan membuat sandwich juga jus tomat.



“Sarapan udah siap…,” teriak Oriana dari dapur.



Arga tidak menjawab, dan Oriana juga sudah hafal dengan kebiasaan suaminya. Oriana bersandar di meja kitchen set, menunggu Arga keluar dari kamar. Rambut Arga yang masih basah, juga aroma sabun yang menguar dari tubuhnya selalu menjadi favorit Oriana di pagi hari.





“Aku bikinin kamu sandwich dan jus tomat,” ucap Oriana, saat melihat Arga mendekati meja makan.



Arga mengangguk sekilas dan memilih menghampiri dispenser untuk mengisi gelasnya dengan air putih. “Kemarin ada paket honeymoon ke Lombok dari fte Stars.”



“Lombok? Kapan?” tanya Oriana bersemangat.



Arga mengeryitkan keningnya. “Kamu nggak berpikir kita akan benar-benar honeymoon, kan?” Dengan kondisi mereka yang seperti ini—kaku dan canggung, Arga tidak berpikir untuk pergi berdua bersama Oriana.



“Emang kenapa? Aku suka pantai dan Lombok favoritku.



Ayo kita ke sana,” kata Oriana bersemangat.



“Paket honeymoon-nya sudah saya kasih ke Lulu. Kebetulan Sabtu besok dia menikah.” Tanpa bersalah, Arga mengatakannya pada Oriana. “Kamu nggak keberatan, kan?”



Errr … boleh bilang ‘keberatan pakai banget’ nggak, sih? “Lulu, tuh, siapa?”



“Sekretaris saya.”



“Kenapa, sih, baru ngomong sekarang?” tanya Oriana akhirnya dengan nada kesal. “Itu, kan, hadiah buat kita berdua. Kalau kamu nggak mau pergi, aku bisa pergi sama yang lain.” Oriana beringsut dari kursi tempatnya duduk.



Selain alasan canggung dan membosankan, sampai bulan depan, pekerjaan Arga di kantor cukup padat. Apalagi salah satu produknya akan launching. Jadi lebih baik dia memberikan paket honeymoon mereka sebagai hadiah pada Lulu.



“Maaf,” ucap Arga saat mendapati Oriana yang marah padanya.



“Maaf kalau kamu lupa udah punya istri?”



“Untuk itu dan untuk paket honeymoon.”



Mata Oriana bisa melihat ekspresi penyesalan Arga, tapiii … mana ada, sih, orang yang memberikan paket honeymoon kepada orang lain secara cuma-cuma! Kecuali orang itu bodoh. Yah, Arga emang bodoh dan Oriana lebih bodoh lagi karena mau menikah dengan Arga! Sebeeelll…!



“Ar, walaupun ini hal sepele, harusnya kamu libatin aku, jangan ambil keputusan sendiri,” protes Oriana.



Arga berdehem dan ikut kesal dengan sikap Oriana yang berlebihan. “Saya sibuk dan nggak ada waktu untuk honeymoon,” jawabnya jujur.



Sibuk. Kata itu bagai cambukan bagi Oriana. Kalau Arga selalu sibuk dengan urusannya, kapan mereka bisa memikirkan cara yang tepat untuk menjalankan pernikahan ini dengan normal?



“Okay, Tuan Argani. Kamu sibuk, aku juga … kita udah dua bulan nikah, tapi kondisi kita masih sama kayak dulu pertama kali kenal! Ini yang salah siapa, sih, sebenernya? Aku? Kamu? Atau kita?”



“Kamu maunya kita gimana?”



“Aku??? Kamu pikir aja sendiri … kamu, kan, yang paling tahu tentang perjanjian pernikahan kita! Kalau kamu memperlakukan aku kayak gini terus, nggak usah nunggu lima tahun untuk kita pisah!”



Setelah mengucapkan kalimatnya panjang lebar, Oriana masuk ke kamar tamu—kamar yang diberikan Arga padanya dan membanting pintu kamar. Jadi lelaki, kok, maunya selalu dimengerti.