
November 2016
Sebulan sudah berlalu dari masa-masa berduka yang dialami Oriana atas kehilangan mamanya. Setelah beberapa hari menginap di rumah orangtuanya, Oriana kembali pulang ke apartemen Arga. Papanya menahan, tapi Oriana menolaknya. Menghabiskan waktu di sana justru membuat dadanya makin sesak.
Apartemen Arga memang tidak bisa dikatakan lebih baik dari rumahnya. Tapi minimal di apartemen milik suaminya itu, tidak ada sisa-sisa kenangan Oriana bersama mamanya.
Hidup harus terus berjalan, kan? Kalimat itu terus terngiang di kepala Oriana. Meski tanpa mamanya, dia harus tetap melanjutkan hidupnya. Karena masih ada papanya yang juga membutuhkan perhatian darinya.
***
“Papa,” ucap Oriana saat memaski ruang kerja Sudjono di lantai paling atas di salah satu gedung kawasan SCBD.
Pria separuh baya itu tengah menatap layar iMac-nya tanpa melakukan apa-apa. Papa ngelamun. Itu yang tebersit di pikiran
Oriana karena panggilannya tidak diacuhkan. Oriana mendekat, menatap sedih pada papanya yang baru saja kehilangan sayapnya. Begitulah perumpamaan yang pernah Papa katakan padanya, ”Mama itu membuat Papa bisa terbang tinggi tanpa takut terjatuh, Na ... Mama melengkapi sayap Papa.”
Oriana iri setengah mati pada orangtuanya. Mereka mencintai satu sama lain dari muda hingga keriput menghiasi wajah keduanya dan mereka terpisah karena maut yang sudah ditakdirkan.
Sebuah pertanyaan muncul di benak Oriana, apakah nanti, kelak dia dan Arga akan saling mencintai satu sama lain?
“Papa,” Oriana mengeraskan suaranya.
“Riana?” tanya Papa terkesiap, “kok kamu nggak ketuk pintu?” Oriana tertawa. “Aku udah dari tadi lho, berdiri di sini. Tapi
Papa malah asyik ngelamun. Ngelamunin apa, sih?”
Mata tua Sudjono terlalu mudah ditebak. Tanpa dia harus menjelaskan Oriana tahu apa yang tengah papanya pikirkan. “Kangen sama Mama, ya? Aku juga,” sambung Oriana.
“Mama tuh, kayak masih ada, Na. Dia cuma lagi pergi sebentar besok pasti pulang,” kata Papa tenang.
Oriana mendekat dan memeluk papanya. Sekarang saatnya Oriana yang menghibur papanya sekaligus menjadi tempat bersandarnya. “Makan siang bareng yuk, Pa? Udah lama kita nggak pergi berdua.”
Sudjono tampak mengerutkan keningnya. Oriana paling anti kalau disuruh datang ke kantor. Tumben sekali anak semata wayangnya itu ada di sini dan apa katanya? Mengajak makan siang?
“Di lantai delapan aja?” Sudjono menawarkan restoran favoritnya yang kebetulan masih satu gedung. “Di luar macet dan Papa ada meeting jam dua.”
“Masih meeting aja, Pa,” goda Oriana, “wakilin aja sama Sheno.”
“Kalau kamu mau gantiin posisi Papa atau minimal jadi salah satu dewan direksi, Papa mau pensiun sekarang juga.”
Oriana menggeleng, kalau sudah bahas masalah perusahaan pasti ujung-ujungnya dia yang tersindir.
“Atau suami kamu, Na?” Semenjak merger, Hanan Corp kini sudah stabil lagi, dan benar kata Oriana, Argani bisa bertanggung jawab mengelola bantuan yang diberikannya.
“Harus Arga, Pa? Dia, kan, punya perusahaan sendiri.”
“Siapa lagi yang bisa Papa harapkan. Emang kamu mau?”
“Aku nggak mau cepet tua, ah, Pa. Ngeliat Papa aja stres, apalagi kalau aku harus duduk manis di kursi itu seharian penuh.” Tunjuk Oriana pada kursi yang diduduki papanya.
Tawa Papa terdengar memenuhi ruangan. “Nanti kamu tanya sama suami kamu itu. Kapan dia ada waktu kosong, Papa pengen ngobrol-ngobrol sama dia.”
“Iya-iyaaa,” jawab Oriana menggampangkan.
Selama ini mereka tidak pernah membicarakan masalah perusahaan keluarga mereka masing-masing. Oriana belum mau melibatkan Arga terlalu jauh … melihat sikap Arga yang tidak bisa ditebak, Oriana tidak ingin kalau Arga sampai mengecewakan papanya.
***
Pada waktu yang sama, Arga sedang memimpin salah satu rapat penting untuk peluncuran produk H-Cash. Seharusnya dia bisa menunggu laporan dari sekretarisnya tentang hasil rapat hari ini, tapi seperti biasa, Arga memilih terjun langsung untuk melihat persiapannya.
“Jadi konsepnya seperti apa?” tanya Arga.
Di depan para manajer, Arga sedang mendengarkan pemaparan untuk peluncuran produk kartu H-cash yang bisa digunakan untuk segala kepentingan berbelanja masyarakat kapan pun dan di mana pun.
Febrian, sang general marketing menunjukkan slide yang telah dibuat oleh timnya. Setelah tampilan slide itu berakhir, barulah dia berbicara.
“Untuk konsep awal, saya dan tim telah melakukan riset. Salah satu yang paling efektif adalah dengan mini story yang diperankan oleh aktris dan aktor terkenal, sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton.”
“Siapa aktris dan aktor yang akan memerankannya?” Arga bertanya.
Febrian menelan ludah sesaat, berharap atasannya itu tidak terkejut dengan jawaban yang nanti akan diberikan olehnya. “Menurut polling yang sudah saya lakukan, untuk aktris polling terbanyak jatuh pada Oriana Jasmeen dan aktor adalah Rico Valentino.”
“Coba jelaskan lebih detail,” pinta Arga.
“Mini story ini akan berdurasi maksimal sepuluh menit dan kita akan bagi menjadi tiga bagian penayangannya. Konsep yang digunakan dari agency yang akan bekerja sama dengan kita adalah romantic honeymoon di Bangka Belitung.”
Romantic honeymoon! Arga membayangkan Oriana akan beradegan mesra dengan laki-laki lain untuk produk yang akan dikeluarkan oleh perusahaan miliknya. “Harus istri saya?” Suara Arga terdengar sinis.
“Semenjak menikah dengan Bapak, Ibu Oriana jarang tampil di media mana pun. Hal itu bukannya menurunkan popularitas Ibu Oriana, melainkan membuat masyarakat penasaran dan rindu melihat Ibu Oriana tampil di televisi. Itu poin plusnya, Pak,” terang Febrian meyakinkan. “Hmm, tapi—” Dia tampak ragu melanjutkan.
“Tapi apa?”
“Agency memberikan ide, kalau Pak Arga saja yang menjadi pasangan Ibu Oriana. Orang-orang pasti akan lebih tertarik dan produk kita akan lebih mudah dikenali.” Febrian merapalkan doa-doa penuh harapan dalam hatinya. Semoga habis ini dia tidak dipecat!!!
Sementara Arga ingin tertawa mendengar ide konyol dari Febrian. Tapi bagaimanapun, analisisnya benar. Ini sungguh menguntungkan bagi perusahaan mereka. Tapi Arga terlalu gengsi untuk mengakui.
“Ada ide dari yang lain, tentang launching ini?” Arga melemparkan pertanyaan kepada staf-nya yang lain untuk memberikan masukan atau ide yang lain.
“Saya setuju sama konsep yang ditawarkan,” kata Sebastian sambil tersenyum jahil pada sepupunya, “yang lain gimana?”
Satu suara semuanya sama. Mereka menginginkan Arga dan Oriana yang menjadi bintang untuk mengenalkan H-Cash kepada konsumen.
“Saya tanya dulu pada istri saya,” ucap Arga. Semoga Oriana menolak. Sebelum meninggalkan ruang meeting, Arga meminta Harris agar menyuruh Feriansyah menemuinya di ruang kerja.
Feriansyah, manajer keuangan Hanan Corp segera menghadap Arga ketika Harris memberi tahunya. Tanpa diminta Arga, Feriansyah sudah menyiapkan laporan tentang penyelesaian kasus pajak yang beberapa lalu menimpa Hanan Corp.
“Perusahaan sudah kembali stabil dan para pemegang saham yang lain membatalkan penarikan saham mereka,” jelas Feriansyah sambil menunjukkan grafik pergerakan saham Hanan Corp.
“Berapa lama kita bisa mengembalikan dana Persada?”
“Jika perusahaan sudah stabil, dalam waktu dua atau tiga tahun kita bisa membayarnya, Pak.”
Arga mengangguk, paham. Tujuan pernikahannya adalah untuk menyelamatkan perusahannya, dan dalam waktu empat bulan, Arga sudah berhasil melakukannya.
***
Arga: Kamu di mana. Ada yang mau saya bicarakan, bisa kita ketemu?
Sebelum masuk ke lift, Oriana mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan dari Arga.
Tiap hari juga ketemu di apartemen! Arga ini kadang-kadang rumit, mau ketemu aja harus pakai acara tanya-tanya dulu. Dan ini yang membuat hubungan mereka nggak akan pernah terlihat normal.
Oriana: Aku baru mau keluar dari kantor papa. Mau ketemu di mana?
Arga : Pacific Place?
Arga : Setengah jam dari sekarang? Oriana: Oke.
Arga : Kamu mau dijemput?
Eh, ini kayak kencan nggak, sihhh??? Hahaha. Oriana tertawa dalam hati.
Oriana: Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri.
Sambil berjalan ke parkiran, Oriana masih menggenggam ponselnya sambil berharap ada balasan terakhir dari Arga. Tapi nyatanya nihil. Arga tidak mengucapkan sebuah kalimat manis, seperti; ‘hati-hati' atau 'sampai berjumpa nanti’.
Hiks ... namanya juga Arga!
***
Arga tiba di Starbucks, tanpa jas dan dasinya yang sudah dilepaskan. Wajah Arga memang tidak sebening tadi pagi tapi tetap saja aura tampannya tidak berkurang sama sekali. Ini perbedaan mencolok antara laki-laki dan perempuan yang membuat Oriana kesal.
Laki-laki kalau terlihat berantakan malah makin kece! Tapi kalau perempuan? Pasti jadi bahan pembicaraan.
“Saya belum makan siang, kamu?”
“Udah, sama Papa tadi.”
Raut wajah Arga terlihat sedikit kecewa dan ... membuat hati Oriana yang selembut salju meleleh begitu saja.
“Ayo, aku temenin. Mau makan apa?” tawar Oriana akhirnya.
“Shaburi shabu-shabu?”
Oriana mengangguk dan berjalan bersisian menuju lantai lima. For your information, ini adalah kali pertama Arga dan Oriana pergi ke mal berduaan. Oriana senyum-senyum aja dari tadi, kalau Arga, sih, seperti biasa, tenang dan datar.
Sampai ketenangan mereka terusik oleh rombongan wartawan yang rupanya sudah mengintai Arga dan Oriana. Oriana tidak berkutik untuk menghindar, jumlah mereka terlalu banyak.
“Mbak Oriana, wawancara sebentar, dong,” kata salah satu reporter berbaju hitam.
Oriana menengok sebentar pada Arga, takut laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan situasi ini, tapi untungnya Arga tidak mencoba menghindar. Arga malah mendekat pada Oriana, secara tersirat seperti ingin melindunginya.
“Lagi ada acara apa? Kok, tumben pada kumpul di sini?” Jarang sekali Oriana dihadang para wartawan di mal seperti sekarang.
“Tadi ada launching film terbarunya si Diva, Mbak, di CGV,” jawab seorang reporter.
“Ohhh, pantesan rame, ya!”
“Kenalin, dong, Mbak, suaminya,” sela reporter berbaju biru.
“Bukannya udah pada kenal?” Oriana menggoda seorang reporter yang tadi bertanya, “oke-oke, kalian mau tanya apa? Tapi, maaf saya nggak bisa lama-lama.”
“Gimana, Mbak, perasaannya setelah menikah?”
“Rasanya? Seneng, dong, ada yang jagain kalau ke mana-mana,” jawab Oriana sambil menggandeng tangan Arga.
“Cieeeee,” ucap para pewarta itu kompak.
“Mbak, hal romantis apa, sih, yang pernah Mas Arga kasih ke Mbak setelah menikah?”
“Hmm....” Oriana berpikir sejenak dan menatap Arga yang berdiri dekat dengan tubuhnya. “Dapet surprise pas malam pertama,” jawabnya tertawa.
“Apaan, Mbak? Kasih tahu, dong.”
“Surat.”
“Surat apa, Mbak?”
Bohong demi kebaikan, nggak apa-apa, kan?
“Selesai resepsi aku nemu surat. Dan isinya adalah ternyata jauh sebelum kita kenalan, Arga udah jatuh cinta sama aku duluan.”
Suara sorak-sorak makin ramai.
Oriana tidak berani lagi menoleh pada Arga, bahkan pelan-pelan dia menarik tangannya dari genggaman Arga. “Udah, kan?” tanya Oriana.
“Satu lagi buat Mas Arga. Mas Arga, kenapa cinta sama Mbak Oriana?”
Jantung Oriana seperti berhenti berdetak.Takut mendengar jawaban yang diberikan Arga.
“Karena dia baik,” jawab Arga datar, “istri saya ini perhatian dan sayang banget sama orangtuanya.”
“Ahhhh, terharu, deh!! Makasih banget ya, Mbak Oriana dan Mas Arga. Semoga kalian selalu bahagia.”
Oriana hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dan berjalan meninggalkan kerumunan wartawan. Dia tertegun, karena Arga yang menggenggam tangannya lagi setelah tadi dia melepasnya.
Genggaman itu adalah bentuk tersirat dari pernyataan maaf juga terima kasih Arga untuk istrinya. Karena Oriana telah melindunginya dari pernikahan semu yang diciptakannya.
***
“Kita makan di tempat lain aja, gimana?”
Oriana baru tahu, kalau Arga suka galau juga nentuin tempat makan. Padahal gerai Shaburi shabu-shabu sudah terlihat di depan mereka. Ini malah minta pindah. “Kenapa?” Akhirnya Oriana bertanya dan tidak langsung mengiyakan.
“Saya butuh tempat yang lebih privat untuk kita berbicara.”
“Hah?” Oriana sempat-sempatnya melongo, “tempat privat?”
Arga menggandengnya ke arah lift dan tidak menjawab pertanyaan istrinya, “Kamu parkir di lantai berapa?”
“B satu.”
Arga menelepon sopirnya dan memintanya untuk pulang dan tidak perlu menunggunya lagi. Lalu dia meminta kunci mobil Oriana.
“Kita mau ke mana?” Oriana bertanya lagi.
“Apartemen atau hotel?”
“Emang mau ngomong apa, sih?” desak Oriana.
“Tentang pernikahan kita.”
Jleb, jantung Oriana terasa kebat-kebit! Apa tadi dia salah bicara?
“Saya bisa delivery order dan kita bisa ngobrol santai.”
Hati Oriana sudah keburu mencelus. “Apartemen aja,” jawabnya pelan dan diakhiri helaan napas.
Arga setuju. Setelah tadi dia mendapatkan laporan dari Feriansyah, Arga memikirkan surat perjanjian pernikahannya. Bukannya dia tidak ingin berkomitmen, Arga hanya perlu membicarakan dengan Oriana.