
Suara dentuman musik bergema memenuhi indra pendengarannya ketika Arga memasuki Camden. Pandangannya mencari-cari keberadaan teman-temannya.
“Bro...!” Edwin menepuk bahu Arga. “Anak-anak di situ.” Tunjuknya di kursi tinggi yang menghadap langsung pada bartender.
“Gue ke toilet sebentar,” kata Arga.
“Mau dipesenin dulu?”
“Heineken.”
“Yah … Heineken aja?” tanya Edwin kecewa.
“Yang ringan dulu,” balas Arga santai.
“Gue pikir mau hangover sampe pagi,” Edwin menggerutu saat kembali ke kursinya.
“Kalau mau hangover jangan di sini.” Arga beralasan dan berbelok menuju toilet.
Di toilet, Arga menggulung lengan kemejanya lebih dulu hingga siku dan membasahi mukanya dengan air yang mengucur di wastafel. Sesudah mengeringkan wajah dan tangannya, dia mengeluarkan handphone. Oriana sama sekali tidak menghubunginya dan itu berarti kondisi aman, kan?
“Jadi, ada apakah gerangan Tuan Argani Hanan yang terhormat mengundang kita semua untuk pertemuan malam ini?” Marco, pria blasteran Spanyol, membuka obrolan pertama kali.
“SSuntuk!” jawab Arga singkat setelah meneguk Heineken yang sudah dipesankan oleh Edwin.
“Punya istri se-wow Oriana bisa suntuk juga?” goda Jo sambil tertawa.
“Kalau gue, sih, kalau punya istri cantik begitu ... langsung hajar tiap malam!!!” Edwin tak mau kalah menyahut.
Marco, Jo, dan Edwin tertawa. Hanya Arga yang diam, sambil menghabiskan minumannya.
“Penganten baru, muka suram banget. Kurang service? Atau ditinggal shooting mulu?” Jo kali ini bertanya serius.
Arga bukan tipikal laki-laki yang hobi hangout setiap malam dengan teman-temannya. Dia justru jadi orang yang paling susah jika diajak minum-minum seperti sekarang. Tak heran jika ketiga temannya berpikir macam-macam ketika Arga mengajak mereka berkumpul.
“Pengen kumpul aja,” jawab Arga tak peduli.
Edwin yang duduk di kursi paling pinggir, sesaat mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya. “Woy,” ucapnya pada teman-temannya, “Bro, itu kayak mantan pacar istri lo? Sutradara, deh, kalau nggak salah ... Ray Basupati.”
Arga yang tadinya tidak tertarik, akhirnya ikut melihat orang yang dimaksud oleh Edwin. Lelaki itu tampil kasual dan tampak fokus memperhatikan lawan bicaranya.
“Tuh!” Edwin yang kekepoannya melebihi emak-emak rempong, segera mencari fakta di ponsel pintarnya dengan menggoogling nama Oriana dan Ray. Muncullah foto-foto yang menunjukkan kemesraan antara Oriana dan Ray saat mereka masih berhubungan beberapa tahun yang lalu.
“Menang banyak, nih, cowok!” gerutu Edwin saat memperlihatkan ponselnya pada Arga, Jo, dan Marco.
“Sori, nih, Bro,” Jo kali ini yang penasaran, “Oriana masih
segel nggak, sih?”
Mata Arga menajam, dan memandang tidak suka pada Jo karena pertanyaan yang menurutnya tidak etis. “Bukan urusan kalian,” jawabnya dingin.
“Gitu aja marah! Sori-sori.” Marco berusaha mencairkan suasana.
Tujuan Arga untuk menghilangkan penat tidak tercapai, yang ada malah tambah mumet. Saat minumannya kandas, Arga mengeluarkan uang dari dompetnya dan meletakkan di meja bar.
“Gue cabut duluan.”
“Yah, begini doang. Nggak seru lo,” gumam Edwin.
Arga tetap meninggalkan teman-temannya, tidak peduli sama sekali pada raut kecewa yang ditunjukkan oleh Edwin, Jo, dan Marco.
***
Apartemennya sepi. Kamar yang biasanya ditempati Oriana juga senyap. Seharian ini mereka sama sekali tidak berkomunikasi. Ya, Arga mengakui, dia memang belum meminta maaf langsung pada Oriana tapi dia rasa semuanya sudah baik-baik saja, kan, seharusnya?
Saat Arga mengambil minum di dapur, dia melihat notes yang ditempelkan di pintu kulkas.
Kalau kamu lapar, di kulkas ada lasagna, tinggal dipanasin aja. Oh iya, jus mangga juga ada.
-Oriana-
Lasagna ada, jus mangga juga ada saat Arga membuka kulkas, tapi keduanya tidak menarik perhatiannya. Ada yang mengganggu perasaan Arga, Oriana tidak mengabarinya sama sekali hari ini, tapi istrinya itu masih sempat menyiapkan makanan juga jus untuk dirinya! Arga mencoba jujur, dan dia merasa makin bersalah pada Oriana.
Arga menghela napas, tanpa menyentuh makanannya dia langsung pergi lagi. Setelah berputar-putar tak tentu arah, Arga baru sadar kalau mobilnya baru saja melewati perempatan Slipi menuju arah Grogol dan ketika ada papan petunjuk arah putar balik, Arga memberikan lampu sein.
Menurut papan petunjuk, Rumah Sakit Harapan Kita berjarak 50 meter lagi. Batinnya bertentangan, tapi akhirnya Arga memilih datang ke tempat ibu mertuanya untuk mencari Oriana.
“Arga!” Oriana terdengar kaget, “mau ngapain kamu di sini?”
Arga duduk di ujung sofa. Arga juga tidak tahu kenapa dia ke sini. Tapi, toh, nyatanya dia ada di sana.
“Mau nemenin kamu nginep,” jawabnya singkat dan jelas.
Mata Oriana melotot, ingin segera mengusir Arga dengan segera dari ruangan ini secepat mungkin.
“Ada siapa, Na?” Liliana yang sudah tertidur akhirnya terbangun karena mendengar suara berisik akibat perdebatan yang terjadi antara Oriana dan Arga.
“Hmm, itu, Ma. ” Kata-kata Oriana terputus karena Arga
bergerak dari sofa dan mendekati brankar.
Gerakan tubuh Arga lagi-lagi menarik mata Oriana untuk terus mengikutinya. Mau apa Arga? tanya Oriana dalam hati.
“Gimana keadaannya, Ma?” Arga mencium tangan ibu mertuanya dan berbicara dengan sopan, “Maaf, saya dan Oriana jadi mengganggu tidur Mama.”
“Ya udah enakan badannya, tapi bosan juga tiduran terus,”
Liliana tertawa menjawab pertanyaan Arga.
“Kamu pulang aja ya, Na, tuh, udah dijemput Arga.”
“Saya mau nemenin Oriana nginep, Ma,” Arga menjawabnya cepat.
Liliana tersenyum hangat ketika melihat sikap Arga yang perhatian padanya dan juga Oriana. Kekhawatiran akan perjodohan antara Arga dan Oriana dulu sempat membuatnya ragu, namun malam ini keraguannya sirna. Liliana yakin, kelak Arga bisa menjaga Oriana.
“Maaf ya, Mama jadi ngerepotin kamu dan Oriana. Pengantin baru malah honeymoon-nya di rumah sakit.”
Mata Oriana makin melebar. Tadi, dia sudah sangat mengantuk, tapi dengan adanya Arga di dalam ruangan yang sama jelas membuat situasi berbeda. “Mama tidur lagi, ya,” ucap Oriana. Dia harus segera menyuruh mamanya tidur dan setelah itu berbicara pada Arga.
Perlahan Mama memejamkan matanya, napasnya teratur. Mama sudah tertidur pulas, barulah Oriana beraksi. Dia menarik tangan Arga untuk keluar—mereka harus bicara. Entah itu di tangga darurat atau di depan lift.
Saat melewati ruang jaga, beberapa perawat yang melihat Oriana tersenyum. Kehadiran Oriana sempat membuat beberapa staf rumah sakit heboh. Ada yang diam-diam minta foto bersama Oriana dan juga tanda tangannya.
“Kenapa nggak telepon dulu kalau mau ke sini?”
Arga mendekati bingkai jendela yang berseberangan persis dengan pintu lift. Oriana tetap cantik meski tanpa make up, walaupun wajahnya terlihat kesal ketika menatapnya. Sepanjang perjalanan tadi, pikirannya berkecamuk. Oriana sudah berusaha untuk berkomitmen menepati surat perjanjian mereka, sementara dirinya sendiri?
Arga merasa malu pada dirinya sendiri. Seharian ini dia menunggu kabar dari Oriana dan malah mendapati Oriana yang marah, tapi tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, Arga merasa kalah telak sebagai laki-laki.
Oriana berusaha, lalu kenapa dia tidak?
Tadi Arga mengucapkan dalam hati, dia ingin menjadi suami yang baik untuk Oriana. Dan itulah alasannya ada di sini sekarang. Dia akan pulang, tapi hal itu tidak akan dia lakukan kalau tidak bersama Oriana.
“Mau apa ke sini?” Oriana bertanya pelan. Ini sudah hampir tengah malam dan dia tidak ingin membuat orang-orang penasaran.
“Kamu udah makan?” Arga malah mengalihkan pertanyaan, “Marah-marah begitu kayak macan betina kelaparan!”
“Ah, tau, ah!” Cuma Arga yang bisa membolak-balikkan hati Oriana.
“Masih marah?”
Oriana menyender di dinding yang hanya berjarak beberapa senti dari Arga. “Emang penting buat kamu?”
Eh, ini beneran Arga yang ngomong???? “Saya minta maaf.”
Oriana tertegun, dia melirik Arga. Seorang Arga meminta maaf padanya.
“Aku maafin tapi kamu pulang,” jawab Oriana datar.
Jual mahal sedikit nggak dosa, kan, ya? Oriana nggak mau kayak tokoh-tokoh perempuan yang pernah dia perankan, ketika si tokoh laki-laki meminta maaf dan saat itu si tokoh perempuan luluh. Perempuan juga harus punya harga diri.
Arga tampak mengeryitkan keningnya. “Saya salah kalau di sini?”
Oriana mengangguk. Salah ... karena kalau kamu ada di sini, aku nggak bisa tidur!
“Makasih kamu udah perhatian sama mamaku. Tapi, kamu pulang aja.” Oriana tetap meminta Arga pulang.
Terdengar embusan napas dari Arga. Akhirnya dia mengangguk, menuruti Oriana walaupun tidak memberitahu alasan yang jelas. “Besok kamu bisa datang, kan?” Arga mengingatkan tentang acara makan malam yang diadakan di rumah Arsya—kakak perempuan Arga yang paling tua.
Oriana berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat jadwalnya di hari Sabtu. “Jam sebelas aku harus flight ke Surabaya.”
Arga mengernyitkan keningnya. Orangtuanya sangat mengharapkan kehadiran Oriana, karena acara tersebut memang diselenggarakan untuk mengenalkan Oriana pada keluarga besarnya agar lebih dekat. “Sebentar aja, bisa?”
“Aku temenin kamu sampai jam setengah sembilan, gimana?” Ini hal paling mustahil yang pernah Oriana tawarkan. Telat sedikit di bandara, bisa-bisa acara fans’ meeting dan nonton bareng film terbarunya gagal.
Arga hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih dan dibalas oleh senyum tipis dari Oriana.
***
Oriana: Nanti ada dinner sama keluarga besar Arga. Gue
pakai baju apa ya?
Mea : Pakai bikini! :D
Oriana: Maunya sih pakai lingerie yang kemaren baru dilaunching sama Victoria Secrets.
Oriana: Gue seriussssss, Me!!!
Mea : Si Arga demen banget dong kalau lo pakai lingerie. Langsung deh dikarungin sama dia 7 hari 7 malam trus main dokter-dokteran :D
Oriana: LOL. Makanya nikah biar ada yang bisa lo karungin. JADI GUE PAKAI BAJU APA MEAAAAAA???
Mea : HAHAHAHA
Mea : Tanya Arga dong, Honey! Itu acara casual atau formal... ehhh nanti malam jam 10 udah harus check in di bandara ya. Jangan sampe telat.
Digantung gue sama Radith.
Oriana: Iyaa, gue palingan cuma absen sebentar trus cabut.
Oriana: Tanya Arga nih?
Duh, Oriana males banget nanyain Arga masalah begini. Lakilaki, mah, di mana aja sama ... semua baju pasti dibilang bagus!
Mea : Iya, Babe ... kalau perlu kompakan bajunya! Oriana : BIG NO!!
Oriana meninggalkan mamanya di rumah sakit setelah papanya datang. Dia langsung menuju apartemen Arga—sampai sekarang Oriana masih menyebut apartemen yang dia tinggali adalah milik Arga.
Oriana tidak merasa memiliki tempat itu karena berbagai alasan. Pertama dia hanya istri kontraknya si Arga. Kedua, dia tidak memiliki hak apa-apa untuk mengubah isi apartemen itu sama sekali. Ya, Oriana hanya sebatas menumpang di situ—menumpang tinggal sampai pernikahan mereka selesai.
Sepi. Tidak ada suara TV atau suara lainnya. Bahkan dapur pun masih tampak kinclong. Pintu kamar Arga masih tertutup... ini sudah jam sebelas dan Arga belum bangun?
Mungkin Arga memang ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu. Oriana beralih ke kamarnya untuk bersih-bersih, setelah itu menyiapkan pakaian untuk acara nanti malam dan besok di Surabaya.
Arga masih belum keluar dari kamarnya. Oriana akhirnya mengalah untuk mengetuk pintu kamar suaminya itu. Dia menahan gejolak jantungnya, sambil menahan napas. Bukannya apa-apa, Oriana hanya takut melihat pemandangan Arga yang super seksi seperti kejadian beberapa minggu lalu.
Semoga Arga memakai pakaian yang layak! “Arga. ” Ketukan pertama tidak terjawab.
“Arga. !” Kali ini suara Oriana lebih keras memanggil Arga.
Oriana yang tidak sabar karena Arga tak menjawab, akhirnya memaksa membuka pintu kamarnya dan … tidak terkunci. Juga tidak ada siapa-siapa. Kamar Arga kosong! Jadi dari tadi pagi, Arga memang tidak ada di apartemen?
Arga: Jalan Kencana Raya no. 109
Arga: Saya lagi survei lokasi, jadi kita ketemu langsung di rumah kakak saya.
BAGOOOOSSS!!!
Setelah acara maaf-maafan yang mengharu biru semalam. Oriana cukup berharap kalau Arga akan sedikit saja berbaik hati padanya. Tapi ternyata ah sudahlah!
Oriana masih terus ngedumel, boro-boro dia mau nanya tentang dresscode untuk acara nanti malam pada Arga. Kalau saja Arga kemarin tidak perhatian pada mamanya, Oriana tidak akan berpikir dua kali untuk tidak menghadiri acara itu.
Jam setengah 7 malam, Oriana meminta Mea menjemputnya di apartemen sekaligus untuk membawa tasnya lebih dulu. Jadi nanti Oriana tidak perlu mengurus barang-barangnya.
Dress merah marun menjadi pilihannya malam itu. Rambut panjang Oriana dicepol sederhana dan wajahnya hanya dirias dengan makeup natural.
“Cantik banget...,” puji Mea saat melihat Oriana di lobi apartemen.
Oriana mengerucutkan bibirnya, coba yang bilang begitu Arga ... pasti hatinya udah klepek-klepek! “Iya dong! Ini, kan, acara makan malam pertama gue sama keluarganya Arga. Jadi harus berkesan.”
Mea tertawa-tawa melihat tingkah Oriana. “Terus Arga ngizinin aja gitu lo pergi ke Surabaya?”
Oriana mengangguk.
“Kenapa lo nggak ngajak dia?”
“Sist, lo tahu, kan, suami gue itu pengusaha sukses? Mana sempatlah dia ngintilin gue.” Oriana beralasan dan berharap Mea mau percaya.
“Semoga dia nggak ngintilin cewek lain ya, Sist!!!”
SIALLL...!! Oriana menutupi kecanggungannya dengan tawa. Sepanjang perjalanan, Oriana lebih banyak diam. Berpikir tentang situasi yang akan dihadapinya nanti.
Oriana buta sekali tentang keluarga Arga. Yang Oriana kenal cuma orangtua dan saudara kandung Arga. Lainnya? Tidak ada. Tapi Arga dengan teganya melepas dia pergi sendirian. Iya, sih, nanti Arga akan menyusul, tapi tetap saja itu semua tidak membuat Oriana tenang.
“Ini rumah kakaknya, Arga?” tanya Mea ketika mobilnya masuk ke pagar.
“Menurut alamat yang dikasih Arga, sih, begitu. Ini rumah kakaknya yang paling tua.”
“Minta bikinin sama Arga rumah kayak gini juga dong, Na!” Rumah yang mereka datangi ini bergaya modern dengan taman yang luas.
Oriana pernah membayangkannya, kelak jika dia memiliki anak, dia tidak ingin tinggal di apartemen seperti sekarang. Mungkin nanti, dia akan membicarakannya pada Arga dan semoga saja suaminya itu setuju. “Nanti lah, Me. Kalau sekarang gue sama Arga masih berdua.”
“Jadi, tunggu bertiga, nih? Asyikkk … cepetan dong hamil,” Mea tambah menggoda.
“Segeraaa, Mea!!!” Oriana menjawabnya santai, padahal hatinya kebat-kebit.
Mea menoleh dan tersenyum pada Oriana, “Semoga cepet hamil ya, Sist. Oh iya, handphone dan KTP jangan ketinggalan.”
Oriana memeriksa tasnya sekali lagi.
“Mau gue check in sekalian nggak?” Mea menawarkan sebelum Oriana turun.
“Nanti gue kabarin ya, Me. Semoga nanti bisa check in
bareng.”
“Good luck, Babe.”
“Thank you, Me.”