
Di luar, belasan mobil mewah berjejer di carpot rumah Arsya. Beberapa jenis mobil itu juga dimiliki oleh papanya. Jadi saat melihat deretan mobil-mobil itu, Oriana tak merasa takjub atau kagum.
Dulu Oriana sering meledek papanya yang hobi mengoleksi mobil mewah. Tapi, papanya selalu mengatakan, bahwa mobilmobil yang dibeli papanya adalah reward atas kerja kerasnya. Jadi sah-sah saja membeli barang mahal, asal dengan uang sendiri dan tidak menyusahkan orang lain.
Dari situ Oriana mulai mengerti tentang sebuah reward. Sama saja dengan dirinya, ketika berhasil mendapat uang dari hasil keringatnya, Oriana juga suka menghadiahi dirinya sendiri dengan hal-hal yang membuatnya bahagia, seperti apartemennya yang berada di Senopati yang baru dibelinya. Sedikit demi sedikit Oriana juga ingin belajar mandiri dengan uangnya sendiri.
Beberapa langkah lagi Oriana akan memasuki rumah kakak iparnya, dia menarik napas. Seharusnya ada Arga di sampingnya sekarang untuk meredakan kegugupannya! Selangkah demi selangkah, Oriana sudah melewati daun pintu yang terbuka lebar. Dan, ketika kakinya jenjangnya melangkah masuk, tiap pasang mata melihatnya. Oriana hanya tersenyum, sambil berharap ada salah satu keluarga Arga yang menyapanya lebih dulu.
“Kak Oriana.” Araya menghampiri Oriana.
“Hai…,” balas Oriana dan bersalaman dengan adik bungsu Arga.
“Kak Arga mana?” Araya melihat ke arah luar, tapi tidak ada siapa-siapa. “Kakak datang sendiri?”
“Hmm, iya. Arga masih di jalan, sebentar lagi sampai,” Oriana menjelaskan pada Araya, seolah-olah dia dan Arga tidak ada apa-apa.
“Papi sama Mami udah nungguin dari tadi.” Araya menggandeng tangan Oriana dan mengajaknya ke ruang utama. “Kak Arga emang suka gitu. Makanya dari dulu nggak ada perempuan yang betah sama dia! Diduainnya sama kerjaan, sih.”
Tanpa diberi tahu oleh Araya pun, Oriana sudah merasakannya, dia sudah kenyang dinomorduakan! Arga itu sangat mencintai pekerjaannya melebihi dirinya sendiri. Oriana jadi penasaran sendiri, bagaimana rasanya dicintai Arga?
***
Ammar Hanan dan Samira Hanan duduk bersisian di sofa panjang dan bercakap-cakap dengan beberapa anggota keluarga yang belum Oriana kenal secara dekat. Oriana menyalami mertuanya dan semua orang yang ada di sana.
“Arga kelewatan banget sih, Pap! Masa istrinya datang sendirian,” protes Samira pada suaminya.
“Lagi di mana anak itu?” tanya Ammar.
“Lagi survei lokasi, itu juga dadakan,” Oriana membela Arga secara sukarela.
“Telepon kakakmu, Araya! Kalau nggak cepat datang, biar aja nanti istrinya nggak boleh dia bawa pulang.” Samira menyuruh Araya dan membuat yang lain tertawa, juga Oriana. “Kamu pasti belum makan, kan? Makan dulu sana … kalau Arga datang biar Mami yang jewer dia!”
Arsya mengantar Oriana ke meja panjang yang berisi beraneka macam makanan. Beberapa sepupu Arga yang baru dilihat Oriana pun menghampiri dan mereka berkenalan. Semuanya menyambut kedatangan Oriana dengan ramah dan Oriana bersyukur untuk itu.
“Makan di sini boleh atau mau bawa ke ruang keluarga juga nggak apa-apa,” jelas Arsya saat melihat Oriana mengambil piring. “Aku tinggal dulu ya, itu si kecil kayaknya ngantuk. Aku nemenin dia dulu. Makan yang banyak, jangan malu-malu.”
“Makasih, Kak, ” kata Oriana sambil tersenyum.
Keluarga besar Arga begitu hangat, tapi kenapa sifat baik orangtuanya tidak ikut turun pada Arga juga?
“Oriana,” panggil seorang laki-laki yang berdiri di seberang meja makan.
***
Arga melirik jam tangannya, dia sudah tidak sempat pulang ke apartemen. Kecelakaan beruntun di tol Jagorawi tadi menyita waktunya. Yang terlintas di pikirannya adalah dia harus segera sampai ke rumah Arsya, masuk lewat pintu belakang, mandi, dan mengganti baju—untungnya dia selalu menyimpan kemeja di mobilnya.
Saat Arga meraih ponselnya dan tidak ada pemberitahuan apa-apa di sana—Arga merasa sedikit kecewa. Oriana sama sekali tidak membalas pesannya, juga tidak meneleponnya. Apa istrinya itu tidak jadi datang?
Setibanya di rumah Arsya, Arga langsung menyerahkan kunci mobil kepada Surya untuk memarkirkannya. Arga berjalan melintasi tangga, matanya menyipit ketika melihat Oriana duduk di sofa panjang dan sedang mengobrol bersama sepupunya, Bima.
Oriana cantik sekali.
Dari kejauhan Arga bisa melihat sorot mata Oriana yang ceria tatkala menanggapi perkataan Bima. Dan, Arga baru menyadari sorot mata itu tidak pernah diberikan Oriana untuknya. Oriana selalu memandangnya dengan kesal tiap kali mereka berbicara.
***
“Terakhir kali gue ketemu Bella, ya, pas wisuda itu! Udah lama banget berarti,” jelas Oriana saat Bima menanyakan kapan terakhir kali Oriana bertemu Bella—pacarnya.
“Pas Bella tahu lo nikah sama Arga, dia heboh banget,” cerita Bima sambil tertawa.
“Heboh kenapa?”
Bima mendekat dan berbisik, “Akhir tahun ini gue sama Bella mau nikah. Makanya si Bella senang, kata dia bisa iparan sama lo—si aktris terkenal.”
Kontan Oriana mencubit lengan Bima karena menyindir dirinya terang-terangan. “Malam ini banyak dapet kejutan gue. Pertama, lo sepupunya Arga. Kedua, lo sama Bella yang udah mantanan terus sekarang mau nikah.” Oriana geleng-geleng, “Amazing banget kaliaaan ... kok bisa, sih, lo nikah sama Bella?” “Takdir,” jawab Bima, “setelah putus, gue sama dia benerbener lost contact. Ketemu baru setahun lalu dan kita coba buat mulai lagi, ternyata cocok. Nah, lo, gimana bisa nikah sama sepupu gue?”
“Takdir.” Oriana mengikuti jawaban Bima sambil tertawa. “Lo ke mana pas gue nikah, kok nggak dateng?”
“Gue lagi ada kerjaan di Kanada, padahal gue pengen banget dateng buat ngasih kejutan,” cerita Bima.
“Kejutannya walau ke-pending tapi berhasil, kok,” Oriana menimpali, karena dia memang benar-benar terkejut bisa bertemu Bima.
Bima tertawa-tawa. Oriana yang sudah terkenal tetap tidak berubah. Dulu mereka sama-sama mengambil jurusan bisnis di Prasetiya Mulya. Kalau Bima benar-benar mengaplikasikan ilmu yang didapat, berbeda dengan Oriana yang memilih jalur lain.
“Lo kuliah bisnis pusing-pusing kenapa mentok jadi artis, sih?” protes Bima.
“Passion, Bim. Gue udah ikutin maunya bokap gue kuliah di jurusan bisnis, gantian dong, dia juga harus ngertiin maunya gue!”
“Untung dapet si Arga lo, ya.”
Oriana hanya senyum-senyum nggak jelas. Untung, ya, kata Bima? Coba si Bima ini tahu yang sebenarnya, pasti laki-laki itu akan mengubah pernyataannya.
Mea menelepon.
“Sebentar ya, Bim, gue ngangkat telepon dulu.” Oriana pun menjauh ke sudut ruangan yang lebih sepi. Mea ingin memastikan Oriana agar tidak terlambat datang, dan dia pun menyanggupinya.
Waktunya di rumah Arsya tersisa setengah jam lagi dan Arga entah di mana keberadaannya. Arga … Arga, seneng banget, sih, mainin hati orang!
“Ada apa? Dari Arga?” Bima menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
“Setengah jam lagi gue harus cabut ke bandara.”
Bima melirik jam tangannya. “Gue juga mau jemput si Bella, pas banget! Kita bareng aja nanti.”
“Eh, nggak apa-apa bareng?”
“Kita, kan, searah. Tapi lo izin dulu ke Arga, oke?”
Oriana menyetujui ide Bima. Setidaknya nanti dia tidak perlu mengemis pada Arga untuk mengantarnya ke bandara. Oriana masih marah dan dia tidak ingin menyusahkan suaminya.
Keduanya masih seru mengobrol ini-itu sampai sebuah lengan menyentuh pinggang Oriana. “Maaf, saya terlambat,” bisik Arga dingin lalu pandangannya beralih pada Bima, “sori, Oriana gue pinjem sebentar!”
“Take your time, Bro. Na, nanti kalau udah mau cabut, kasih tau gue. Biar gue siap-siap.”
“Thanks, Bim.”
Oriana terlihat kikuk. Tatapan Arga memang selalu dingin tapi kali ini lebih dari biasanya. Ini Arga kenapa, sih?
Mereka berhasil berakting layaknya pasangan suami-istri ideal pada umumnya. Oriana menemani Arga untuk mengambil makan malamnya, dan semua dia lakukan tanpa canggung. Kecuali Arga yang selalu saja diam, ketika mereka hanya tinggal berdua.
Sudah jam delapan lebih sepuluh menit, Oriana melirik jam tangannya. Malam ini dia benar-benar seperti Cinderella, datang ke pesta seorang diri dan pergi sebelum pesta berakhir pun sendiri! Tapi sayang, sang pangeran nanti tidak akan mengejarnya.
“Aku harus segera pergi,” bisik Oriana pada Arga yang sedang berbincang dengan keluarga yang lain.
Arga mengangguk sekilas. Tangannya menggandeng Oriana, membawa istrinya itu menemui orangtuanya untuk pamit.
“Kita mau ke mana?” Oriana pikir setelah pamit, Arga akan melepaskannya. Tetapi lelaki itu malah mengajaknya ke lantai dua. Jangan sampai dia terlambat sampai di bandara.
“Pamit sama Arsya dan suaminya. Baru kita pergi.”
Oriana tidak ingin banyak tanya lagi. Hanya menebak-nebak dalam hati saja. Mungkin Arga ingin mereka keluar rumah orangtuanya bersama-sama baru setelah itu berpisah.
“Aku kasih tahu Bima sebentar, biar dia nunggu di depan.” Oriana berusaha melepaskan genggaman tangan Arga. “Aku mau bareng sama Bima,” jelasnya.
“Kamu pergi sama saya.”
“Hah?” jawab Oriana bingung.
“Saya yang antar kamu. Kata-kata saya kurang jelas?”
“Nggak usah. Aku sama Bima aja,” tolaknya.
Arga berbalik menatap Oriana. “Saya mencoba untuk bersikap baik sama kamu, tapi sekarang malah kamu yang jual mahal. Jangan buat saya bingung dengan kemauan kamu, Oriana.”
“Apa? Jual mahal kata kamu?” Oriana memegang keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa pusing! Kenapa jadi Arga yang marah-marah? Harusnya dia, kan, yang marah! “Bukannya kamu ya, Ar, yang bersikap seenaknya? Baru minta maaf, tapi paginya udah hilang entah ke mana!” Oriana mengibarkan bendera perang dengan mengungkapkan unek-uneknya.
Pandangan Arga tak sedetik pun berpaling dari wajah Oriana yang tengah emosi.
“Ini, kan, acara keluarga kamu. Tapi kamu malah ngebiarin aku datang sendiri. Kamu bikin aku kayak orang bodoh.” Oriana meluapkan kekesalannya, dia benar-benar marah dan tidak berpura-pura kalau dia baik-baik saja.
“Maaf. Semua di luar rencana!” Suara Arga meninggi.
“Apa susahnya kasih tahu rencana kamu ke aku?” Oriana balas menjawab, dan berbalik. Dia tidak ingin melanjutkan perbincangannya dengan Arga. Rasanya semua yang dia lakukan hanya buang-buang tenaganya saja.
“Aku sudah kasih kabar, kan, ke kamu! Jangan membesar-besarkan masalah!”
“Kamu pergi sama saya atau semalaman kita tetap di sini,” ancam Arga.
Oriana mendesah kesal, dan memberi tatapan membunuh pada Arga. “Aku tinggal teriak! Gampang, kan?” tantangnya.
Jam dinding di ruang atas menunjukkan angka 20:35. Oriana tidak punya waktu untuk bermain-main dengan Arga. Dia harus segera meninggalkan tempat ini, kalau tidak ingin Mea dan Radith marah besar padanya. Tanpa memedulikan Arga, Oriana berjalan menuju tangga. Terserah! Oriana tidak mau peduli pada Arga.
Tapi langkah Oriana terhenti, ketika dia mendengar Arga mengeluarkan kalimat yang tak kalah menyakitkan. “Saya nggak suka main kasar sama perempuan, Oriana.”
“Terus tadi apa? Kamu ngancem aku. Lupa?” tantangnya.
Salah satu hal mengerikan bagi Oriana adalah ketika Arga berjalan, mendekati tubuhnya yang berdiri dan Arga menatap matanya dengan wajah yang sulit diartikan.
Arga tersenyum tapi bukan jenis senyum yang diberikannya secara cuma-cuma. Ada kilatan kemarahan juga sebuah isyarat bahwa dia yang terlihat lelah. Dan semua tidak berhenti di situ. Telapak tangan Arga menyentuh pipi Oriana sementara tangan yang satunya mengepal keras! Perlahan dengan kesadaran penuh, ibu jari Arga mengusap bibir Oriana yang lembap.
Mata mereka saling menatap. Untuk pertama kali, Arga mengecup bibir Oriana. Terasa asing dan cepat, hingga Oriana merasa kalau ini semua hanyalah mimpi.
***
Setelah pertemuan pertamanya dengan Arga di akhir tahun 2013, Mea berusaha mencari tahu siapa itu Belinda Wijaya dan juga nama pacarnya. Tidak butuh waktu lama bagi Mea untuk mendapatkan informasi itu.
Argani Hanan, salah satu pemilik saham terbesar dari Hanan Corp, juga menjabat sebagai direktur. Setelah mengetahui semuanya dari Mea, diam-diam Oriana menyimpan nama Arga sebagai laki-laki yang dia kagumi.
Hanya kagum dan bukan cinta pandangan pertama, Oriana mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Oriana malah beralasan bahwa ketertarikannya pada Arga juga pasti akan dialami para perempuan lain jika berada di posisinya waktu itu.
Seperti jalinan takdir yang sedang ingin mempermainkan hati Oriana, beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Mei 2014, sekali lagi, akhirnya Oriana dipertemukan kembali dengan Arga saat launching produk perbankan milik salah satu anak perusahaan Arga. Malam itu, Oriana yang dinobatkan sebagai ambasador menghadiri acara tersebut bisa melihat Arga lebih dekat.
Oriana beberapa kali memperhatikan Arga dan ketika mata mereka bertemu, Arga hanya memberinya senyum basa-basi. Oriana pun melakukan hal yang sama. Ya, walaupun dia tertarik pada Arga, bukan berarti Oriana akan merendahkan harga dirinya.
“Itu, bos kamu, suka perempuan, kan?” tanya Oriana iseng
pada salah satu staf Hanan Corp.
Kara tertawa mendengar pertanyaan Oriana. “Kenapa, Mbak Oriana? Suka, ya, sama Pak Arga?”
Oriana memasang wajah mengelak, “Aku perhatiin dari tadi, banyak perempuan yang ngedeketin dia. Tapi dia cuek aja, gitu. Atau malah sudah punya pacar?” Untuk pertanyaan terakhir, Oriana pura-pura tidak tahu dengan status Arga.
“Pak Arga memang begitu kalau sama perempuan, Mbak. Nggak mentang-mentang dia ganteng dan punya posisi bagus, jadi suka tebar pesona. Kata asistennya, sih, dia baru putus.”
Bibir Oriana berucap, oh. Dia pikir lelaki sejenis Arga sudah sirna di muka bumi. Ternyata Tuhan masih berbaik hati, karena menyisakannya. Dan apa kata Kara? Arga sudah putus? Walaupun kabar itu belum tentu kebenarannya, tapi mendengar Arga putus … itu saja sudah membuat Oriana senang! Ternyata doanya waktu itu dikabulkan.
Selesai launching, acara dilanjutkan dengan gala dinner dan juga penampilan O2 Band yang menjadi bintang tamu. Di mejanya, Oriana tengah menikmati hidangan penutup sambil membalas pesan dari Mea yang mengatakan bahwa Mea tidak jadi datang, karena mobilnya masuk bengkel.
“Boleh saya duduk di sini?” tanya seorang laki-laki sambil membawakan dua gelas mocktail untuknya dan juga Oriana. “Buat kamu. Sebagai tanda perkenalan. Saya Brandon, salah satu pemilik saham Hanan Corp.”
Oriana mendongak, tersenyum sopan dan mengucapkan, “Terima kasih.”
“Mbak Oriana. ” Kara membungkuk di sebelahnya. “Kita
ke backstage sekarang untuk foto bersama direksi. Sebagai penutupan.”
“Oke.” Tanpa meminum mocktail yang dibawakan Brandon, Oriana pergi meninggalkan pria itu tanpa basa-basi.
Jam sepuluh malam, seluruh rangkaian acara selesai. Oriana pun undur diri dan bersalaman dengan para staf yang hari ini bertugas. Oriana tidak menyadari, bahwa Brandon mengikutinya sampai ke lobi.
Oriana menunggu supirnya dan Brandon mendekatinya
untuk kedua kalinya.
“Tarif semalam berapa?” tanya Brandon sambil berbisik.
“Maaf? Tarif?” Oriana mengerutkan keningnya sembari
menggenggam clutch-nya yang terbuat dari besi. Kalau laki-laki ini mau macam-macam, Oriana sudah siap untuk menyerangnya tanpa ampun.
“Jangan pura-pura nggak tahu. Aktris kayak kamu sampingannya ini, kan?” Brandon dengan kekuasaannya memamerkan keycard apartemennya. “Sekali main aja dulu. Kalau saya puas, nanti bisa lanjut dan kalau kamu mau … bisa jadi simpanan saya. Enak, kan?”
Oriana tertawa dan dia mendekat seolah menerima ajakan pria yang baru dikenalnya kurang dari satu jam itu. Pria ini memang lumayan tampan … tapi jika dibandingkan dengan Argani Hanan, yang malam ini tak luput dari tatapannya, Brandon kalah telak. Huh, punya apartemen aja ngerasa jadi orang paling kaya!
Brandon merasa menang, karena menganggap umpannya berhasil dimakan Oriana. Dia berdiri menunggu Oriana untuk menerima uluran tangannya sebagai tanda setuju.
Tanpa diduga, Oriana malah memukul hidung pria itu dengan tanganya sendiri! Kalau cuma nonjok atau menendang, sih, perkara mudah bagi Oriana. Dia harus bersyukur pada papanya yang dulu memaksa ikut kelas bela diri. Satu pukulan, berhasil membuat Brandon terhenyak kesakitan karena hidungnya berdarah.
Brandon berteriak dan memaki.
“Ini baru hidung lo aja yang berdarah!”
Beberapa orang datang dan mendekati mereka. Arga pun yang berada tak jauh dari pintu lobi segera mencari tahu apa yang terjadi. Brandon dengan pintarnya malah berakting layaknya dia adalah seorang korban! Dia menceritakan pada semua orang, Oriana telah merayunya … dan karena Brandon menolak, akhirnya Oriana memukulnya.
“Kamu nggak apa-apa?” Arga mendekati Oriana.
Oriana menggeleng. Punggung tangannya terasa nyeri sedikit, tapi itu tidak seberapa … karena Oriana benar-benar puas telah memukul Brandon dengan tangannya sendiri.
“Dasar perempuan murahan!” Brandon mencela sambil memegang hidungnya yang masih berdarah.
Oriana ingin maju lagi. Enak aja dibilang murahan!
Tapi Arga memegang tangannya! Dan tersenyum pada Oriana. “Biar saya yang urus!” Ini bukan pertama kalinya Brandon bermasalah dengan perempuan. Arga cukup yakin, Oriana tidak seperti yang dikatakan Brandon. Karena stafnya tidak mungkin salah memilih aktris sebagai ambasador produk mereka.
Arga menarik kerah Brandon dan menyuruhnya minta maaf pada Oriana.
“Brengsek!” geram Brandon dan malah ingin memukul Arga, untung Arga berhasil menangkis.
Petugas keamanan datang dan memegangi Brandon yang tidak terima karena Arga sama sekali tidak percaya dengan kata-katanya.
“Gue akan tarik semua saham di sini.”
“Silakan! Saya bisa balas menuntut karena Anda melanggar perjanjian.”
Arga beralih pada Oriana dan memastikan segalanya baikbaik saja. “Saya minta maaf atas kejadian ini. Besok staf saya akan menghubungi kamu sebagai bentuk kompensasi dari perusahaan.”
“Kompensasi? Nggak perlu. Ini jelas bukan kesalahan perusahaan kamu. Tapi, ya, emang saya aja yang lagi sial ketemu laki-laki bajingan kayak Brandon.”
“Kalau nanti ada apa-apa, tolong jangan ragu menghubungi saya,” kata Arga. “Semoga kamu nggak kapok kerja sama dengan perusahaan saya.”
Menghubungi untuk kencan, boleh? ucapnya dalam hati dan tersenyum. “Saya senang bisa menjadi rekan kerja dari Hanan Corp. Terima kasih sudah menolong saya.”
Alphard putih milik Oriana yang dikendarai oleh Wira berhenti di depan mereka. Oriana berpamitan, dan satu hal yang Oriana tidak sangka-sangka, Arga membukakan pintu mobil, memastikan Oriana duduk dan menutup pintunya sambil tersenyum.
Di kursi belakang, Oriana mengeluarkan handphone-nya! Dia ingin Mea jadi orang pertama yang tahu tentang perasaannya yang meledak-ledak ini.
Oriana: Gue baru aja diselamatkan oleh seseorang! Oriana: Terserah ya, lo mau bilang gue norak, tapi kejadiannya persis kayak FTV2 gitu, Me! Yang nolongin gue, ganteng banget.
Mea : Eh, ada apaan ini? Sori ya, Sist, tadi nyokap meriang,jadi nggak bisa jemput, deh.
Oriana : No problem, Me :)
Mungkin ceritanya akan berbeda, kalau tadi Mea datang menyusulnya. Ah, Tuhan sedang berbaik hati padanya dan Oriana justru sangat mensyukuri ketidakhadiran Mea.
Oriana : Tadi gue ketemu Argani Hanan.
Oriana : Kayaknya Oriana : gue Oriana : jatuh
Oriana : cinta deh sama dia! :D
Mea : Hah? Argani Hanan?
Mea : Jatuh cinta itu bisa secepat kilat, ya?
Oriana : Bisa dong :p Bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya!
Mea : OMG!!! CERITAAAA
Oriana: Besok ke apartemen gue. Nanti gue ceritain semuanya.
Oriana menaruh handphone-nya ke clutch dan wajahnya semringah sepanjang perjalanan pulang mengingat bagaimana tadi Arga dengan tenang menyelesaikan masalah.
Arga bisa saja membela Brandon, tapi dia tidak melakukannya. Arga percaya padanya tanpa perlu bertanya tentang apa yang terjadi dan membelanya.
Semuanya terasa seperti mimpi. Dan yang paling nyata
adalah tentang perasaannya … Oriana ingin memiliki Arga.