ORIANA'S WEDDING DIARY

ORIANA'S WEDDING DIARY
Episode 1



Sudah tidak terhitung berapa kali Arga melirik jam tangannya. Mendadak, Sebastian memintanya datang ke kantor karena ada beberapa masalah di bagian keuangan. Sebastian yang ragu untuk mengambil kepastian terpaksa meminta Arga datang.



Akhirnya Arga terlambat menemui Oriana dari waktu yang dia tentukan sendiri. Dari kejauhan dia sudah melihat istrinya duduk seorang diri di sudut ruangan, menatap jauh gedung pencakar langit dari balik kaca. Arga berhenti sejenak, menahan napasnya … ingin dia berlari saat itu juga dan memeluk Oriana.



“Maaf, lama...,” ucap Arga saat tiba di meja tempat Oriana berada. Di hadapannya, Oriana memakai dress berwarna pastel, rambutnya sudah tidak sependek saat terakhir kali mereka bertemu. Bagi Arga semua masih sama. Oriana tetap cantik.



Oriana tersenyum tenang dan langsung menanyakan tujuannya, “Kamu sudah siapkan berkas-berkasnya?”



Arga tidak mejawab dan memilih memanggil pelayan untuk memesan secangkir espresso. “Gimana kandungan kamu? Sehat?” Dari semua kekesalan yang paling Arga ingat, Arga masih belum bisa memaafkan Oriana yang menyembunyikan kehamilannya dan membuatnya menjadi orang terakhir yang tahu.



Oriana tersenyum canggung dan mengelus perutnya. Kandungannya sudah memasuki bulan keempat, dan dia sangat bersyukur karena telah melewati masa-masa awal dengan baik meski tanpa Arga.



“Sehat,” jawab Oriana dengan wajah merona. “Kamu gimana kabarnya?” Ini kali pertama mereka bertemu setelah sebulan yang lalu mereka bertengkar hebat dan Oriana memutuskan pergi dari kehidupan Arga.



“Nggak lebih baik tanpa kamu!” Arga memajukan tubuhnya, sorot matanya berubah redup hingga terpejam sesaat. “Oriana’s effect!”



“Hah? Apa? Oriana’s effect?” Oriana tak kuasa tertawa.



Mata Arga menatap Oriana—mencari cinta yang dulu pernah bergelora di mata Oriana ketika mereka masih bersama. “Kamu berhasil bikin aku jungkir balik! Karena … segalanya berbeda ketika kamu pergi.”



Oriana tersenyum. Meski terlambat ternyata usahanya berhasil.



“Aku membatalkan surat perjanjian kita. Aku mau kita tetap menikah.”




“Kita sudah sepakat dan kenapa kamu mengubahnya lagi?”



Di bawah meja, tangan Arga mengepal. “Aku harus minta maaf berapa kali biar kamu percaya? Nggak akan ada Ayesha lagi, Oriana. Cuma kamu, aku, dan anak kita.”



Oriana menarik napasnya. “Aku udah maafin kamu, Ar. Tapi aku nggak bisa lupa … tiap ingat semuanya, aku takut! Aku nggak mau sakit lagi. Aku mau bahagia, meski itu tanpa kamu, meski aku pernah cinta sama kamu.”



Wajah Arga mengeras dan dipenuhi emosi. Di hadapannya Oriana dengan santai menyesap minumannya setelah dia menyelesaikan ucapannya.



“Maafin aku. Suami kamu ini emang nggak peka! Dan aku butuh kamu, Oriana.”



Pilihan Oriana masih sama … dia tidak ingin menyiksa dirinya lebih lama lagi dan hidup dalam ketakutan kalau sewaktu-waktu Ayesha akan kembali lagi dalam pernikahan mereka. Cukup sudah kesempatan yang diberikannya pada Arga. Jika melepaskan adalah yang terbaik, Oriana pun berusaha menguatkan hatinya.



“Jadi, kamu benar-benar ingin kita tetap berpisah?”



Tanpa berpikir lagi, Oriana mengangguk. “Aku capek, Ar!



Aku mau hidup bahagia. Kamu juga, kan?”