
...Eleazar Asael...
...POV...
"Pegangan hanya akan membuatmu tak berdaya!"
Setiap kali aku terluka akibat peperangan yang ku ciptakan sendiri, aku selalu mendengarkan bisikan ibu dulu sekali, saat aku sedikit membangkang atas keputusan para leluhurku.
Aku memiliki darah generasi pertama, beast terkuat yang pertama kali menciptakan bentuk dunia ini. Para generasi pertama mengagung-agungkan diri mereka hingga menyebutkan setiap keping darah yang terlahir dengan sebutan Eleazar.
Eleazar Yang Agung.
Sebab keistimewaan dan kekuatan mereka, perintah Tuhan yang telah menurunkan generasi pertama di dunia tak dihiraukan. Mereka membantah untuk menikahi pegangan, atau manusia-manusia bumi yang telah berhenti mengabdi.
Berabad-abad para leluhur hidup, namun bencana kepunahan itu menghapuskan sebagian dari populasi, sebab mereka tak bisa menghentikan perpecahan energi dalam diri. Mereka hancur, melebur, dan menyatu dengan tanah.
Kepunahan itu membuat sebagian yang tersisa akhirnya memilih untuk melakukan ritual pemanggilan, dan terlahirlah generasi kedua dari pernikahan pegangan mereka. Namun, generasi kedua tak sehebat generasi pertama. Mereka sensitif, dan memiliki imun yang lemah. Mereka tak sekuat kami, dan hal itulah yang membuat mereka membangkang perintah Tuhan.
Ayah dan ibuku bersikeras menolak melakukan ritual, dan aku terlahir sebagai generasi pertama yang paling muda pada masanya.
Sejak kecil, ibu selalu mengatakan untuk tidak menikahi para pegangan. Dan setiap hari, setiap tahun pula, aku termakan bisikan ibu, sampai ayah dan ibu mati, menyisakan aku yang menjadi satu-satunya generasi pertama yang tersisa.
Seribu tahun aku habiskan untuk berkelana dalam peperangan bersama pemburu bayaran yang mengutipku, setelah mulai didirikan pemerintah yang mengatur sistem kehidupan. Namun, saat aku menginjak remaja, pemimpinku mati dan aku harus menggantikan posisinya. Sejak saat itulah aku terus berhadapan dengan perang yang tak ada habis-habisnya.
Selama seribu tahun itu aku mulai menyadari sesuatu, aku mulai lemah. Setiap aku selesai berperang, aku harus diobati oleh bantuan para wanita suci. Mungkin dulu hanya satu, dan itu pula aku tak sering sampai kualahan seperti sekarang.
Aku masih membantah untuk melakukan ritual, sampai aku menemukan kedamaian untuk kelompokku, dan telah hidup 20 tahun tanpa didasari oleh perang. Namun, aku semakin lemah. Seberapa banyak wanita suci tidur denganku pun tak mampu untuk mengendalikan perpecahan energi dalam diriku, bahkan kekuatan pohon beringin tak sebegitu membantu. Sekiranya membutuhkankan waktu seminggu untukku pulih.
Aku masih tak mau melakukannya, sampai hari dimana kematian mendekatiku. Rasanya aku ingin meledak, seperti para leluhur, kemudian menyatu dengan tanah. Tiba-tiba saja hatiku bergerak untuk melakukan ritual itu, dan aku menemukan seorang manusia di dalam sana.
Namanya adalah Ophelia.
"Nggh- Ahhh!"
Rasanya hebat. Seakan aku menjadi orang terkuat di dunia. Seluruh energi dalam tubuhku mulai bersejajar dan stabil bersamaan. Tak hanya itu, energi-energi yang telah mati pula kembali hidup, membuat kekuatanku bertambah.
Ini hebat! Seakan aku terlahir kembali!
"A-asael.... Nghh- Ahh...!"
Ku cium bibir plumnya yang merah merona. Aku bukan orang yang suka dengan hal-hal seperti ini, para wanita sucipun hanya tidur bersamaku, tak melakukan apapun. Namun, sepertinya Ophelia akan membuatku menemukan hobi baru?
Setelah sekiranya berjam-jam lebih mengontrol seluruh tubuh Ophelia, aku keluar di dalamnya. Saat itu pula, terukir cahaya di atas permukaan kulit di bagian perut bawahnya, tepat di bagian rahimnya berada. Ukiran itu berbentuk simbol rahim wanita yang menyerupai bunga-bunga. Cahaya itu kemudian mulai pudar, dan menyisakan ukiran indah berwarna merah gelap di sana.
Ophelia terbaring lemas dan mengatur pernapasannya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, lalu menatapiku seakan memintaku untuk menyudahi aksiku.
Aku pun tak ingin di cap gila, aku mengeluarkan bendaku dan menyamankan posisi tidur Ophelia, setelahnya aku terbaring di sampingnya.
Aku baru saja melakukannya dengan seorang pegangan. Semua yang dikatakan orang-orang dulu itu salah.
"Asael..." Gumam Ophelia, dia berbalik dan mendekapkan dirinya ke tubuhku.
Rasanya aneh... Aku memang jarang bahkan tak pernah sekalipun berniat mendekati wanita-wanita di negeri ini, maupun para wanita suci yang terus berdatangan membantuku. Berbicara pada wanita saja aku tak tau bagaimana caranya, lantas kenapa pula pada Ophelia aku tak memikirkan hal-hal semacam itu? Seakan sudah menjadi kebiasaan lama.
Sungguh peristiwa yang aneh...
"Besok kita akan ke kuil lama, kita harus-"
Aku baru menyadari kalau Ophelia telah tertidur lelap di dalam dekapanku.
Sebenarnya, aku tak pernah benar-benar memperhatikan wanita mana saja. Namun, entah kenapa wajah Ophelia, rambut panjangnya, tubuhnya yang ramping itu membuatku baru menyadari, Ophelia itu wanita yang cantik.
Tidak heran kenapa banyak pria dan wanita di kota selalu betah memperhatikannya.
"Mungkin aku harua bersyukur dengan apa yang ku dapatkan saat ini?"