
Pack of Wolves dirangkul oleh para masyarakat Astherielle. Kerajaan memberikan wilayah untuk mereka tinggal. Mereka membangun pedesaan untuk para tentara bayaran itu, hingga lebih dari dua puluh tahun mereka menetap di sana, menjadi warga kenegaraan Astherielle.
Memang terbilang jauh dari kota, namun hal itu bukanlah penghalang bagi masyarakat untuk saling bersosialisasi, hingga para Pack of Wolves mulai kehilangan jati diri mereka.
Sebagian menganggap diri mereka hanyalah rakyat biasa yang hidup dalam kedamaian, sisanya terus mengabdi sebagai tentara bayaran, dan hal itu terus melekat di benak mereka.
Saat itu, anak-anak pulang dari sekolah yang dibangun oleh kerajaan di desa, agar tak perlu melakukan perjalan jauh ke kota. Mereka berlarian keluar dari pagar dan menghampiri orangtua mereka.
"Itu.. Tuan Eleazar!" Pekik salah satu anak dalam gendongan. Dia menunjuk seorang pria berjubah hitam dengan pedang di belakang punggungnya. Pria berambut putih itu menyapa setiap anak-anak dan orang-orang di desanya dengan ramah. Mereka selalu menyambut Eleazar atas tiap kepergian dan kepulangannya.
"Tuan! Selamat datang kembali!" Pekik anak itu yang kini berada di gendongan Eleazar.
"Woah, terakhir aku lihat kau masih seperti bayi, Berry?"
"Aku makan dengan banyak, Tuan Eleazar!"
Eleazar kembali memberikan anak bernama Berry itu pada orangtuanya. Lalu, mereka membiarkan Eleazar meninggalkan jalan untuk pulang ke rumahnya.?
Setiap orang menyapanya, siapapun itu. Anak-anak, remaja, bahkan yang berusia tua. Mereka selalu menjunjung tinggi Eleazar. Di mata mereka yang telah melihat perjuangan Eleazar ataupun yang baru terlahir ke dunia, Eleazar menemukan sebuah kedamaian untuk kelompoknya sendiri.
Eleazar masuk ke setapak jalan di hutan, dan terus berjalan masuk ke dalam hingga menemukan kediamannya. Sebuah rumah yang dibangun dengan sentuhan istimewa dari masyarakatnya.
Rumahnya terbuat dari pohon beringin, sebuah pohon sakral yang diberikan kerajaan untuk Eleazar. Karna pria itu selalu kembali dengan tubuhnya yang kian hari melemah, pohon itu dengan senantiasa dijadikan sebuah rumah untuknya.
Eleazar masuk ke dalam dan langsung menuju tangga untuk ke kamarnya. Setibanya, dia membuka seluruh pakaiannya, dan mencampakkannya ke sembarang arah. Setelah meletakkan pedangnya di atas meja, dia langsung terbaring lemas di atas kasur yang terbuat dari inti pohon beringin.
Eleazar mulai merasa hangat, dan merasakan energi dalam dirinya yang hendak pecah itu kembali terkontrol. Meskipun untuk sementara waktu, setidaknya dia masih bisa bernapas.
"Kau masih bersikeras, Eleazar?" Suara itu datang dari balkonnya. Di sana, singgahlah seekor burung gagak. Lalu, burung gagak itu berubah menjadi seorang pria.
"Elmer... Kau tau... Kepulanganku...?" Tanya Eleazar setengah sadar.
"Satu desa menyebutkan namamu, bagaimana aku tidak tau?" Elmer masuk ke dalam dan memeriksa kondisi pemimpinnya itu.
"Kekuatan regenerasimu semakin melemah, Eleazar. Luka minggu lalu bahkan masih basah" ucap Elmer sambil menyentuh perban yang menutup luka di punggung pria itu.
"Aku akan baik-baik saja..."
"Tidak ada yang akan baik-baik saja. Apa kau sudah menghubungi Julius?" Tanya Elmer.
"Dia... Akan sangat berisik..."
Elmer menghela napas dan menggerakkan tangannya sekali, seketika itu kamar Eleazar langsung bergetar dan bergerak turun. Kamarnya langsung menyatu, dan dinding pintu itu naik ke atas hingga benar-benar menyatu dengan ruang utama.
"Aku tak mengerti obat-obatan, tapi aku tau teh herbal yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh" ucapnya lalu berjalan ke arah dapur.
Elmer melihat-lihat bahan di dapurnya, "Kemana semua... Apa bahan dapurmu habis, Eleazar?"
"Hm... Entahlah..."
Pria itu menggeleng sebentar kemudian dia teringat dengan kebun halaman belakang milik Eleazar. Dia langsung melangkahkan kaki ke pintu yang ada belakang tangga, dan membukanya. Saat itu pula dia terkejut dengan penampakan halaman belakang itu.
"Apa kau tau cara mengatur kebun, Eleazar!"
Elmer menutup pintu dan kembali ke kasur pria itu, "Kau ini... Mau sampai kapan kau-"
Dengan sekali ayunan tangan Eleazar, mulut Elmer langsung ditutupi oleh sepucuk daun dan pria itu ditarik keluar rumah oleh akar pohon. Pintunya langsung ditutup dengan rapat, dan kamar Eleazar kembali naik ke atas.
"Blehh- Kau sungguh keras kepala, Eleazar!"
"Jangan ganggu aku...!" Pekik Eleazar dan kemudian dia kembali senyap.
"Dia tak mau mendengarkan siapapun. Baik aku, Julius, bahkan para tetua desa" Elmer menghela napasnya.
Elmer kembali ke bentuk asalnya sebagai burung gagak, dan terbang menuju toko herbal Julius. Sesampainya, ia melihat Julius sedang melayani pelanggan.
Elmer mendarat di tangan Julius, "Oh! Tuan Elmer?"
Saat itu pula Elmer berubah, "Buatkan aku-"
"Obat herbal regenerasi?" Tebak laki-laki itu.
Elmer mengangguk dan ikut masuk ke dalam. Dia mendudukkan diri di meja tunggu, sementara Julius dan beberapa karyawan lain kembali bekerja membuatkan pesanannya.
"Kau tampak khawatir, Tuan Elmer?" Tanya Julius yang datang ke meja dan ikut duduk bersama Elmer. Dia menyodorkan kopi untuk pria yang sedang kepikiran itu.
"Kondisi Eleazar semakin memburuk. Jika tak kuberikan obat herbal darimu, mungkin dia tak bertahan seminggu ini" kata Elmer dengan meminum kopinya.
"Bagaimana luka minggu lalu?"
Elmer menggeleng pelan, "Sampai sekarang lukanya masih basah. Itu akan terus mengeluarkan darah jika tak diperban."
Julius menatapi Elmer dengan wajah cemasnya, "Bahkan pohon beringin tak bisa membantu banyak..."
"Bagaimanapun juga, satu-satunya cara adalah dengan mendapatkan pegangan hidup. Tapi dia keras kepala..."
"Tuan sudah coba membujuknya?" Tanya Julius.
"Sudah lebih dua puluh tahun sejak bujukanku itu, tapi Eleazar tetaplah Eleazar" jawab Elmer pasrah.
"Haha, Tuan Eleazar sepertinya belum siap untuk berumah tangga. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya, aku mengerti kenapa Tuan Eleazar masih bersikeras" sahut Julius.
"Tapi sebagaimana kau mengertipun, tetap saja, dia perlu melakukan ritual itu."
Julius tertawa sebentar, dan mereka kembali melanjutkan pembicaraan tentang kesehatan Eleazar.
Sementara di rumah, Eleazar masih terbaring di kasurnya. Dia membuka satu matanya, melihat telapak tangannya yang terluka. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Eleazar membuka energi dalam tubuhnya untuk melakuakn regenerasi pada telapak tangannya.
Partikel-partikel dari setiap udara di ruangan itu bercahaya dan berkumpul di telapak tangannya. Dia sedikit mengerang kesusahan untuk menggunakan kekuatannya, sayangnya percobaannya tak berhasil. Cahaya-cahaya tadi berpecah dan kembali terbang ke udara.
"Sial..." Umpatnya.
Namun, Eleazar kembali menggunakan kekuatannya untuk hal yang sama. Kali ini, ia memaksakan seluruh energi dalam tubuhnya untuk melakukan regenerasi.
Dia tak sadar kalau energi dalam tubuhnya semakin tak terkendali karena terus dipaksa. Meskipun ia berhasil menutup luka di telapak tangannya, tapi ia telah melakukan kesalahan.
Tiba-tiba saja Eleazar terbatuk hingga ia bangun dari kasur. Dia terus terbatuk sampai muntah darah begitu banyak. Kasurnya kini penuh akan darah Eleazar yang terus keluar tak hanya dari mulutnya, darah-darahnya juga kekuar lewat hidungnya.
"Ritual..." Gumamnya. Dia mengayunkan tangannya, mencoba menyihir kamarnya untuk turun ke bawah, tapi ia sudah benar-benar tak bisa menggunakan kekuatannya.
Terpaksa, Eleazar harus berjalan sempoyongan ke pintu dan turun tangga dengan bersandar ke dindinnya agar tak jatuh. Dinding-dinding itu pula terkena darahnya, begitu pula dengan tetesan-tetesan di setiap lantai tangga yang ia langkahi.
Setibanya Eleazar di ruang utama, dia langsung menumpahkan darahnya ke lantai dan mengukir sebuah pentagram besar dengan jarinya. Kemudian, dia mencoba untuk membuat api disekeliling ujung bintang yang ada di pentagram, namun ia tak sanggup menggunakan kekuatannya. Saat ini, dia benar-benar sekarat.
Dia terbaring di tengah-tengah pentagram dan terus mengeluarkan banyak darahnya. Dengan sisa kekuatannya, Eleazar menjentikkan jarinya sekali dan cahaya putih keluar dari tangannya.
"Elmer..." Bisiknya, lalu cahaya itu terbang di antara udara siang menuju kota. Cahaya itu membuat setiap orang berhenti melakukan aktivitas mereka, dan menatapi cahaya putih yang mereka ketahui milik Eleazar.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Eleazar?"
"Cahya itu bukan sebuah kabar baik..."
"Apakah ia baik-baik saja?"
Mereka berbisik-bisik sambil terus melihat cahaya itu yang mengunjungi toko herbal Julius. Cahaya itu memasuki rumahnya dan menghampiri kedua manik mata Julius yang sedang menerima pesanan. Lalu, cahaya yang berkobar itu menghilang dan meninggalkan debu berkilauan di udara.
"Elazar!"