
Elmer terbang di angkasa saat mendapatkan cahaya putih dari Eleazar dan berubah saat hendak menyentuh tanah. Dia berlari di halaman rumah Eleazar, lalu masuk ke dalam rumahnya. Saat itu dia melihat pemandangan yang tak ia inginkan.
"ELEAZAR!"
Dia melenggang masuk dan melihat pentagram di sekeliling tubuh Eleazar, "Kau akan melakukan ritual pemanggilan itu?!"
"Apinya..."
Elmer tau apa yang harus ia lakukan. Dengan kekuatannya, ia membuat api di setiap ujung bintang pentagram di lantai itu. Lalu, dia menyihir kamar Eleazar untuk turun ke bawah, dan melayangkan selimut pria itu untuk menyelimuti tubuh Eleazar agar menutupi tubuh pengantinnya.
"Bawa pengantinmu, dan semua akan baik-baik saja..!"
Kemudian pentagram itu mengeluarkan cahaya kuning yang terang benderang, mengitari Eleazar dan mengisi seluruh ruangan. Elmer lalu keluar dari dalam rumah, menunggu di depan pintu.
Eleazar menutupkan kedua matanya dan memfokuskan diri untuk memulai ritual. Dia ingat sekali dengan sebuah ucapan leluhur untuk membuka gerbang dimensi. Kalimat sansekerta itu diucapkan olehnya, kemudian cahaya di sekelilingnya semakin bersinar hingga menyelimuti tubuh Eleazar.
Saat itu, Eleazar berada di sebuah ruang yang gelap gulita. Di depannya, terdapat gerbang yang telah terbuka. Eleazar mendekati gerbang itu dan terduduk di depannya karena tak sanggup untuk berdiri lagi.
Dia menjulurkan tangannya menembus sebuah cahaya aurora di antara gerbang itu. Dengan jelas, Eleazar merasakan tangannya diraih oleh seseorang di sana.
"Apakah... Kau bersedia menjadi pengantinku?" Tanya Eleazar sambil menggenggam sesuatu di seberang sana.
"Aku bersedia..."
Mendengar jawaban itu, Eleazar langsung menarik seseorang di dalamnya, seorang perempuan. Kemudian, ia kembali tersadar. Cahaya-cahaya yang melingkarinya berpecah dan menghilang menjadi debu.
Eleazar merasakan sesuatu yang terus memeluk tubuhnya. Setiap sentuhan perempuan itu seperti sebuah percikan api yang membuatnya hangat dan nyaman. Dia tak sanggup untuk bangun dan membawa pengantinnya ke kasur, seperti yang dilakukan setiap orang. Eleazar hanya meringkuk di lantai penuh darahnya, dan ikut memeluk perempuan mungil itu dengan agresif.
Perempuan itu merasa aneh, sebab orang yang memanggilnya ke dunia supernatural itu tak bergerak sama sekali. Dia menengadahkan kepalanya melihat Eleazar yang seakan sedang tertidur, kemudian ia menyadari banyak darah di tubuh Eleazar yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Dia langsung bangun dan begitu panik, "A-apa kau baik-baik saja?" Dia menggoyangkan bahu Eleazar, berpikir pria itu akan bangun, tapi nihil.
"S-siapapun... Tolong!!" Teriaknya. Beruntung Elmer masih menunggu di depan pintu. Mendengar teriakan itu, Elmer membuka pintu dan melihat sosok yang selalu didambakan setiap kaum pria di dunia itu.
"Tolonglah! Dia... dia tak sadarkan diri! Apa... apa dia baik-baik saja?!"
"Shh... t-tenanglah.. Dia akan baik-baik saja selama kau berada di dekatnya... Mungkin saat ini, dia sedang tertidur..." Ucap Elmer mencoba menenangkan perempuan itu.
Dengan kekuatannya, Elmer melayangkan Eleazar dan perempuan itu untuk ke atas kasur setelah mengganti seprai kasur dengan yang baru.
"A-aku melayang!"
"Tidurlah bersamanya, sementara aku akan membereskan kekacauan ini..." Ucap Elmer lalu mengangkat kembali kamar Eleazar ke atas.
Perempuan itu kebingungan dengan apa yang terjadi di rumah itu. Ia melihat banyak darah, dan bahkan orang yang memanggilnya dalam kondisi buruk. Perempuan itu membenarkan posisi tidur Eleazar. Dia mengelap sisa darah yang ada di bibir dan hidung pria itu menggunakan selimut sebagai penutup tubuh telanjangnya, lalu berbaring di samping Eleazar.
...━━━━━━━━━━━━━━━...
Setelah menghabiskan siang hari untuk tertidur, perempuan itu mengerjapkan kedua matanya dan melihat langit-langit rumah bercorak bunga di atas sana. Ia menoleh saat merasakan deru napas yang begitu tenang menyerbak lehernya. Dia menemukan pria yang membawanya ke dunia itu masih tertidur, dengan menjadikan seluruh tubuhnya sebagai guling.
Perempuan itu melihat keluar balkon dan menyadari hari sudah gelap.
"Apa kau akan terus tidur...?" Gumam perempuan itu sambil mengusap rambut Eleazar.
"Aku tak pernah tidur senyenyak dan senyaman ini sebelumnya..." Jawab Eleazar nyaris berbisik.
"M-maafkan aku... Tapi... Apa kau tak lapar?"
Namun, tiba-tiba suara perut keroncongan terdengar cukup jelas. Perempuan itu terkekeh sebentar, "Haha- Kau harus makan..."
"Aku baru kembali... Tak ada apa-apa di rumah..." Jawab Eleazar malas.
"B-bisakah... Aku melihat dapurmu? Bagaimanapun juga kau harus makan..." Perempuan itu memaksa sambil mencoba menyingkirkan tangan kekar Eleazar, sayangnya dia tak mampu melakukan itu.
Eleazar akhirnya menuruti permintaan perempuan itu. Dengan energi dalam tubuhnya yang mulai terkendali, ia bisa menggunakan kekuatannya untuk menurunkan kamarnya. Dengan sekali ayunan jari, kamarnya bergerak turun dan menyatu dengan ruang utama.
"Keren..." Gumam perempuan itu, lalu ia kembali mencoba menyingkirkan tangan Eleazar dari tubuhnya.
"K-kalau kau memelukku, bagaimana aku bisa ke dapur...?"
Pria itu melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuhnya ke arah lain untuk kembali tidur.
"Haha! Seperti anak-anak saja..." Ucap perempuan itu, lalu ia beranjak dari kasur dan berjalan ke arah dapur. Dia menyadari ruangan itu telah bersih, tak ada lagi gambaran pentagram di lantainya, atau darah Eleazar dimana-mana.
Dia mulai melihat-lihat apa saja yang ada di dapur Eleazar. Dia memeriksa bumbu-bumbu, penyimpanan beras yang kosong, dan kulkas yang hanya berisi sepotong sosis.
"Kosong... Apa kau tak punya sayur sama sekali...?" Tanya perempuan itu, tapi Eleazar hanya diam.
Dia menghela napas kebingungan, dan matanya melihat sebuah pintu di belakang tangga. Perempuan itu berjalan pelan ke arah pintu, namun Eleazar langsung bersuara, "Jangan ke sana. Ini sudah malam."
"A-ada apa di sana?"
"Kebun halaman belakang, tapi sudah seminggu aku tak di rumah untuk merawatnya."
"Oh..."
Perempuan itu kembali ke dapur dan berusaha untuk membuat makan malam. Dia membuat sup sosis dengam bahan-bahan seadanya. Setelah selesai perempuan itu menyajikannya di mangkuk dan membawanya ke meja di samping tempat tidur.
Aroma sup sosis itu berhasil membuat Eleazar bangun terduduk tanpa harus dibangunkan. Dia mendekat ke arah meja dan mulai memakan sup buatan perempuan itu.
"Aku tak pernah makan makanan seenak ini" pujinya sedikit kaget. Sebab, selama ini Eleazar tak pernah benar-benar memasak. Dia hanya mencampur bahan-bahan yang tak diketahuinya.
Perempuan itu duduk di sampingnya, dan matanya tertuju pada luka di tangan Eleazar, serta perban yang mengelilingi tubuhnya.
"Namamu?" Tanya Eleazar sambil terus memakan sup itu.
"Ophelia..."
"Eleazar Asael, panggil sesukamu."
"Asael?"
Eleazar meliriknya sebentar, "Boleh."
Perempuan yang bernama Ophelia itu tersenyum senang. Malam itu, bukanlah malam yang seharusnya diadakan jamuan perayaan seperti kebiasaan orang setelah melakukan ritual pemanggilan pengantin.
Malam itu digunakan Eleazar untuk istirahat agar kondisi tubuhnya benar-benar stabil.
Setelah makan malam, Eleazar masih terduduk di pinggir kasur karena Ophelia sedang mengganti perbannya. Luka punggungnya mulai mengering, tidak separah sebelumnya.
"Jadi, apa yang membuatmu menyerahkan diri ke para Oracle?"