Ophelia'S Destiny Line

Ophelia'S Destiny Line
CHAPTER O5: A BETTER PLACE TO LIVE, A HOME



...OPHELIA POV...


Aku telah mempelajari dunia setelah kematian. Pada awalnya aku tak begitu yakin. Namun, di hari kematianku tiba, aku bertemu dengan seseorang dalam alam baka.


Mereka adalah Oracle kematian. Arwah yang dapat meramal masa depan, menghubungkan perasaan dengan sang pencipta, ataupun yang bisa membuka gerbang menuju dunia lain.


Saat itu, dia memberikanku dua ramalan yang harus kupertaruhkan. Antara bersemayam di tamah bumi, atau menyeberang dimensi lain. Dengan kata lain, menjadi oengantin seseorang. Atau yang ia sebut sebagai pegangan.


Akupun bersedia dengan ramalan kedua yang ditawarkan, dan tiba-tiba saja, aku berada di tempat yang gelap. Namun tak lama, sebuah tangan muncul di depanku.


Waktu itu aku berpikir, apakah dia yang akan memanggilku ke dunia seberang? Apakah dia yang akan membawaku ke dunia yang baru untukku?


Saat itu aku begitu ragu. Tapi, tiba-tiba keyakinanku muncul saat melihat luka di tangannya. Seakan, orang itu membutuhkanku.


Dan, di sinilah aku sekarang. Di sebuah dunia yang begitu aneh. Aku tak pernah menyangka kalau ada dunia seberang seperti ini. Penuh dengan sihir-sihir yang mengagumkan.


"Kau sudah siap?"


Pandanganku terfokuskan pada seorang pria bernama Asael yang bertubuh besar di hadapanku. Dia berkulit gelap, dengan rambut putih sebahu yang berantakan. Ia memiliki manik mata putih yang seakan tak punya perasaan, namun aku tau, ia mencoba untuk lembut denganku.


"Ya... tapi baju ini begitu besar..." Aku menunjukkannya pada Asael. Meski ia bilang, baju ini adalah baju terkecil yang ia punya, bahkan aku hanya bisa memakai atasannya saja untuk menutupiku.


Asael bilang, ia adalah orang paling besar di dunia itu karena ia merupakan keturunan leluhur generasi pertama. Dia punya tinggi 220cm sedangkan aku hanya 150cm. Bagiku, dia sungguh seorang raksasa.


"Tuan Elmer saja tidak sebesar kau..."


"Itu karena kami berbeda keturunan."


"Oh..."


Asael berbalik dan kembali dengan kegiatannya, memeriksa tanaman-tanaman mati yang ada di kebun belakang rumah. Kebunnya sangat luas, aku bisa melihat tanaman besar dan kecil di sini.


"Kenapa kau melarangku ke sini tadi malam?" Tanyaku sambil membuntutinya.


"Karena seorang pegangan punya aroma yang disukai setiap makhluk di dunia ini. Termasuk itu.."


Dia melihat ke belakangku, dan akupun menoleh untuk melihat apa yang ia katakan. Ternyata, ada sebuah tanaman raksasa yang di pucuknya terdapat bunga kecil seperti bunga sepatu. Saat cabang-cabangnya yang lentur hendak melilitku, aku langsung lari ke belakang tubuh Asael.


"Apa itu!!"


"Itu penjaga para tanaman, dan kau jangan sesekali mendekati bunga di atasnya, itu berbahaya" peringat Asael.


Lalu kami kembali melihat beberapa tanaman yang ada. Tidak ada yang berbeda dengan tanaman di duniaku, semua sayur mayurnya memiliki bentuk yang serupa, namun mereka lebih besar dari yang normalnya.


Setelah menghabisi waktu untuk membereskan kekacauan yang ada, kami pergi dari rumah. Aku tak tau mau kemana, aku hanya mengikuti langkah besar Asael. Kami keluar dari jalan setapak di hutan, dan aku menemukan desa di bawah sana.


"Kau belum ku ikat dengan pernikahan, jadi akan berbahaya jika kau berjalan sendiri" ucap Asael dengan seenaknya mengangkatku. Ia menggendongku dengan satu tangan kirinya.


"T-tapi... Ini memalukan..." Bisikku, namun Asael tak mendengarkan.


Ternyata, rumah Asael berada di hutan bukit tinggi. Tak heran kenapa banyak pohon mengelilinginya. Kami berjalan di setapak yang terbuat dari batu, seperti di jalan di dalam hutan juga. Aku melihat pemandangan yang indah, terlebih sebuah kerajaan besar yang sepertinya jauh dari tempat ini.


"Kerajaan apa itu, Asael?" Aku menunjuk dengan jari telunjukku.


"Kerajaan Astherielle."


"Oh..."


Setelah turun dari bukit dengan jalan yang sedikit berlika-liku, kami menyeberangi jembatan besar dengan air sungai di bawahnya. Di sana, banyak ikan berlompatan entah karena apa.


Aku terus melihat-lihat sekitar, sebab, aku tak pernah melihat pemandangan alam seperti ini di duniaku.


"Aromamu enak sekali..."


Aku sontak terkejut saat mendengar suara itu di telingaku. Ku lirik sesuatu yang hinggap di bahu kananku, seekor kumbang sebesar telapak tanganku ada di sana.


"K-kumbangnya bisa bicara..?"


"Semua yang bernyawa bisa bicara, nona" balasnya.


"Berry? Kenapa kau bermain sejauh ini?" Tegur Asael.


"Tuan Eleazar! Aku datang bersama ayah!"


Kemudian, kumbang yang sama lainnya datang. Ia berubah menjadi seorang pria.


"Tuan Eleazar- Woah!" Ia terkejut saat mata kami saling bertemu.


"Ada apa, Saad?"


"Pengantinmu cantik sekali- Ah! Tuan Brutus menyampaikan sebuah amanah. Tuan Eleazar di suruh datang ke rumahnya" ucap pria itu.


"Dia ingin menemui pengantinmu.."


Seketika, aku menoleh melihat Asael yang terlihat tak senang dengan amanah itu.


"Aku ke sana petang nanti" jawab Asael.


"Baiklah, ayo Berry!" Kumbang di bahuku terbang bersama pria tadi. Mereka terbang meninggalkanku dan Asael.


"Aku tak ingin kau bertemu pria tua itu" kata Asael sambil melanjutkan perjalanan.


"Kenapa?"


"Dia orang yang buruk."


Aku hanya mengangguk. Jika Asael berkata seperti itu, aku harus mempercayainya. Setelah terus berjalan, akhirnya kami tiba di desa. Desa yang ramai dengan orang-orangnya, mereka semua tampak sibuk. Ada banyak toko-toko di sini, seperti toko sayur, toko buah, pernak pernik menjahit, tekstil dan masih banyak yang lain.


Namun, yang mengejutkanku dari itu semua adalah, semua orang berhenti melakukan aktivitasnya saat melihat Asael. Mereka menunduk hormat sekali, barulah mereka mengurusi kesibukan masing-masing.


Lebih aneh lagi, setelah kami meninggalkan beberapa orang, mereka tampak tersenyum-senyum melihatku. Bahkan, ada juga yang menganggukkan kepala mereka sekali untukku. Aku pula membalas mereka semua, meskipun aku kebingungan.


Sepertinya, Asael adalah orang yang terpandang di sini... dan karena aku adalah pengantinnya, mereka jadi memberlakukanku sama halnya seperti Asael.


"Tuan Eleazar! Tuan Eleazar!"


Aku melihat ke arah lain, di sana ada 3 wanita cantik yang berlari menghampiri Asael. Mereka... sungguh cantik dengan tubuh itu. Semua pria bahkan mencuri-curi pandang pada 3 wanita cantik di depanku.


"Ternyata benar, Tuan telah mempunyai pengantinnya! Ah dia cantik sekali!"


"Ahh Tuan Eleazar tak akan membutuhkan kita lagi..."


"Hai nona, siapa namamu?! Apa warna kesukaanmu? Berapa ukuran sepatumu-"


Eleazar mencoba untuk menjauhkan mereka dariku, "Jangan mengganggunya, dia masih sensitif."


"Setelah pernikahan, bawalah ia pada kami. Kami akan mengajarinya banyak hal!"


"Tak perlu, kalian hanya akan merusak pemikirannya."


Mereka tertawa lalu berlarian meninggalkan aku dan Asael.


"Mereka sungguh wanita yang cantik" gumamku sambil melihat mereka berlari.


"Mereka adalah wanita suci, mereka belum mendapat pengantin" jelas Asael dengan kembali berjalan.


"Mereka sepertinya sangat mengenalmu?"


"Teman masa kecil. Dari dulu mereka diharuskan tidur bersamaku, kekuatan mereka sangat ku perlukan untukku tetap hidup. Tapi sekarang..."


Asael menatapiku, "Aku sudah punya peganganku sendiri."


Aku langsung menundukkan kepalaku dan melihat ke arah lain. Apa itu tadi? Rasanya sesuatu menggelitik perutku.


"Aku tak mengerti mengurusi rumah, jadi kau bisa membantuku dalam hal itu" kata Asael, dia memberikanku sebuah kantung berukuran sedang. Saat ku lihat, di dalamnya ada banyak sekali uang.


"Beli apapun kebutuhan rumah, beli pakaianmu dan kebutuhan tubuhmu juga" tambahnya lagi.


Aku hanya mengangguk. Astaga, rasanya benar-benar menjadi seorang istri saja jika diharuskan untuk memenuhi kebutuhan rumah. Aku tak pernah merasa sesenang ini, sebab, aku belum mempunyai pasangan bahkan menikah di duniaku.


Kami mendatangi toko pakaian. Asael yang lebih sibuk memilih pakaian untukku. Banyak dari pakaian yang ditawarkan penjualnya, namun semua itu di tolak Asael sebab pakaiannya terlalu pendek, terlalu terbuka, atau terlalu ketat. Dia memilihkan pakian seperti sweater tebal atau rok panjang untukku.


Bahkan kalau ku perhatian wajah yang penjualnya, ia begitu terkejut dengan Asael. Seakan ia tak pernah melihat sisi ini dalam pria yang ia hormati itu.


Aku pula tak banyak memilih, aku menerima semua yang dipilihkan Asael untukku. Jika itu adalah pilihannya, berarti pilihannya adalah untuk kebaikanku.


Setelah membeli pakaian, kami mampir ke toko sayur mayur dan toko buah untuk membeli persediaan bahan dapur. Karena di rumah Asael tidak ada yang tersisa, jadi aku berniat untuk membelinya.


Asael juga menyarankanku untuk membeli tirai dan seprai baru. Tidak tau kenapa ia menyuruhku, pikirku Asael ingin merubah suasa rumah.


"Sudahlah Asael. Kau seakan ingin memborong toko-toko di sini saja. Kau harus menghemat pengeluaranmu" ucapku sambil melihat banyak barang yang kami beli, bahkan sampai tak bisa di bawa dengan tangan.


Saat ini kami duduk di kursi taman, entah apa yang dipikirkan Asael sampai membeli banyak barang.


"Aku pulang ke rumah hanya untuk tidur di kasur, karena itu satu-satunya yang membuatku hidup sampai 20 tahun ini. Sisanya, aku berkelana dengan pekerjaan dari walikota. Aku tak pernah benar-benar berpikir untuk mempunyai rumah untuk menetap, tapi kau telah menjadi pengantinku" ucap Asael lalu menggendongku lagi.


Dia menatapiku dengan tatapan tak berperasaan itu, namun aku tau, di balik pandangan itu Asael begitu berusaha untuk peduli.


"Rumahku, adalah rumahmu. Tinggallah sampai kapanpun, tinggallah selamanya."