Ophelia'S Destiny Line

Ophelia'S Destiny Line
CHAPTER O7: THE WEDDING DAY.



Aku mendudukkan diri di atas kasur, setelah pernikahan dan perayaan dari pagi hingga petang tadi, membuatku benar-benar kelelahan.


Pagi tadi, ketika aku bangun, aku mendapati banyak wanita yang aku tau betul mereka adalah wanita kemarin yang menjumpai aku dan Asael saat di desa. Mereka adalah wanita suci, yang pernah meniduri Asael. Mereka membuatkanku pakaian pengantin yang terbuat dari kelopak bunga mawar putih dengan kekuatan mereka. Mereka juga mendandaniku selayaknya pengantin, dan menutup seluruh wajahku dengan cadar. Katanya begitulah tradisi mereka.


Aku tak melihat Asael di rumah, bahkan rumahnya dipenuhi oleh para wanita suci yang punya pekerjaan masing-masing. Beberapa dari mereka menghias rumah dengan bunga-bunga, bahkan kamar ku dan Asael pun mereka ubah.


Dengan tandu, para pria yang mungkin bagian dari tradisi ini membawaku pergi dari rumah. Para wanita suci berbondong-bondong ikut di belakang, mereka menaburkan kelopak bunga mawar putih di jalanan, katanya tanda untuk kepergian sang pengantin wanita ke tempat pengantin pria.


Aku dibawa ke tempat kemarin kami pergi. Setelah tandu turun, akupun beranjak dan berdiri mencari keberadaan Asael, namun aku tak menemukannya.


Aku berjalan, dituntun oleh kelopak bunga yang mungkin sengaja di tabur di jalan untuk membuatku masuk ke dalam aula yang sama seperti kemarin. Tempat ini berubah, menjadi lebih indah dengan perhiasan-perhiasan bercorak emas.


Saat itu, barulah mataku menemukan sosok yang aku cari-cari sejak pagi tadi. Dia berdiri di sana, dengan pakaian berwarna senada denganku yang membuatku malu untuk berhadapan dengannya. Ia tampak sangat tampan, aku mengakuinya. Asael sudah menawan sejak awal, tapi dengan pakaian dan rambutnya yang ia tata seperti itu membuatku dia semakin tampan saja.


Saat sampai di depannya, ia menjulurkan tangannya untuk ku raih. Begitu saja aku meraihnya, dan berdiri di depannya. Semua orang yang menyaksikan mendudukkan diri mereka di kursi, dan kemuian hening waktu itu membuatku sadar, bahwa aku akan menikah.


Lalu, kain emas yang ada di atas batu. Kain itu pun di taruh di kepalaku dan di kepala Asael, kini aku dan Asael hanya saling pandang. Aku tak bisa melihat orang-orang tadi, atau pria yang bernama Brutus yang barusaja meletakkan kain ini. Saat ini yang ada di mataku hanya Asael, pria berkulit gelap dan berambut putih, senada dengan kedua manik matanya itu.


"Setelah menunggu hari yang telah dinanti sejak lama hari ini datang kepada kita, hari dimana akan ada penyatua dua insan" Tuan Brutus bersuara, mengucapkan kata pembuka.


"Di depanku, ada seorang yang telah memerdekakan kita, seorang pejuang yang membawa kedamian untuk kita, seorang pejuang yang menjadi pelindung kita. Dan ada seorang manusia, yang dengan sukarela dan sukacita memberikan kehidupannya, seroang manusia yang tanpa pamrih, seorang manusia yang telah bersedia untuk menjadi pegangan hidup."


Aku tertegun mendengar Tuan Brutus yang memperkenalkan Asael dan diriku di hadapan semua orang.


"Hari ini, aku menikahkan Eleazar Asael, keturunan Eleazar Yang Agung dengan Ophelia, keturunan manusia bumi."


Saat ucapan itu selesai, tiba-tiba saja kain emas yang menutupi kepala kami bersinar, mengeluarkan cahaya terang benderang. Ketika itu, Asael mendekatkan dirinya padaku. Tanpa aku pahami, ia mengecup bibirku dengan lama.


Aku tak bergerak sama sekali, aku terpaku dengan apa yang ia lakukan. Ini adalah ciuman pertamaku.


Dan begitu saja, pernikahan kami diadakan di tempat itu. Perayaan yang dibuat sebagai sesembahan kepada para warga, bahkan seseorang yang terlihat penting hadir. Kata Asael, dia adakah seorang Jenderal yang menjadi rekannya sejak lama. Aku hanya tersenyum saat orang-orang datang, menyambut mereka sebagai tamu.


Namun, aku tak terbiasa dengan pesta. Aku tak mengerti cara berdendang, atau bernyanyi, atau menggiring pesta agar meriah. Jadi, aku melarikan diri dari acara sederhana yang dibuat di rumah untuk menyambut para rekan dekat dan jauh Asael. Makanya aku berada di kamar.


"Aku telah masuk ke dunia pernikahan, dan mulai besok, aku berada di dunia rumah tangga bersama Asael. Apa aku akan sanggup?" Tanyaku sendiri sambil melihat ke luar jendeka, menatapi rembulan yang bersinar di atas sana.


"Aku tak punya ibu untuk bertanya apa yang harus dilakukan seorang istri, aku tak punya teman dan kerabat untuk bertanya bagaimana menjadi istri yang baik. Aku benar-benar bingung, setelah ini apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku lagi.


"Memiliki rumah, dikelilingi orang-orang yang baik, itu semua datang mendadak dan membuatku kebingungan. Dulunya aku gelandang yang tak diinginkan, sekarang aku adalah istri untuk suamiku, teman untuk kerabatnya, dan warga untuk desa ini. Nasibku berubah begitu cepat, aku menakuti hal itu."


"Kenapa kau melarikan diri?" Tanyanya sambil berjalan masuk setelah menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.


"Ah... Aku tak terbiasa dengan pesta, di bumi bahkan aku tak pernah mendatangi pesta apapun" ucapku masih duduk di atas kasur.


Asael membuka dasi dan jasnya, ia menggantungkan pakaian itu di gantungan baju, kemudian naik ke atas kasur dan tidur di pangkuanku. Dia membuatku malu saja! Apa yang harus aku lakukan sekarang!


"Lupakan bumi, sekarang kau tinggal di sini" katanya, dan aku mengangguk sebagai jawaban.


"Apa pestanya sudah selesai?" Tanyaku.


"Sudah, mereka pulang."


Lalu satu tangan Asael bergerak, mengintip wajahku dari bawah saat ia menyingkirkan sadar yang masih menutup wajahku, "Mau sampai kapan kau menyembunyikan wajahmu yang cantik itu?"


Mendengarnya, aku menutupkan seluruh wajahku dengan kedua telapak tanganku. Hal itu, membuat Asael mulai menggerakkan tangannya lagi untuk menyingkirkan kedua tanganku.


"Ophelia..." Panggilnya.


"Terimakasih telah menjadi pegangan ku."


Kalimat itu membuatku terdiam, lalu berakhir dengan tersenyum malu mendengarnya


"Aku tak mengerti hal-hal romantis, tapi memilikimu bagaikan kesempatan hidup untukku. Tanpamu, mungkin aku sudah mati-"


Aku tak ingin mendengar perkataan itu, segera aku mencium bibirnya singkat agar ia berhenti bicara. Namun, Asael punya pemikiran lain. Dia bangun dari tidurnya dan menyingkirkan cadar yang menutupi seluruh wajahku.


Dia menciumi bibirku dalam, sampai aku terjatuh di atas bantal. Ciuman itu menjadi intens, membuat aku hampir kehabisan oksigen.


Aku tak mengerti cara berciuman yang baik, namun aku hanya membua mulutku dan membiarkan Asael mengeksplorasi dalam mulutku. Ciuman itu menjadi agresif saat aku mencoba untuk melepaskan tautan kami.


Asael ******* habis bibirku, beberapa kali juga ia memberikan gigitan kecil-kecil sebelum ia melepaskannya dan turun ke leherku. Aku bisa merasakan deru nafasnya yang panas itu menyerbak ke seluruh kulit leherku, menciptakan percikan kegelian di sana dengan ciumannya.


"Nghh- Asael...!" Erangku saat tiba-tiba Asael memberikanku gigitan-gigitan di leher, bahkan beberapa kali ia menyesapi bagian yang sama entah untuk apa.


Aku merasa pusing, aku tak bisa berpikir jernih. Aku tak tau apa yang dilakukan Asael, aku tak pernah memikirkan hal ini akan terjadi.