
Peperangan yang terjadi akibat perpecahan kekuasaan yang memperebutkan wilayah di antara negeri Rethrellie dan Astherielle itu menuai berbagai konflik internal.
Keangkuhan militer Rethrellie menunjukkan kekuatan mutlak yang tak dimiliki oleh pasukan negeri Astherielle. Mereka terbantu karena Pack of Wolves—kelompok tentara bayaran—yang mendesak pasukan Astherielle untuk keluar dari batas wilayah.
Dalam proses pengklaiman yang tertuju pada wilayah itu, beberapa dari tentara bayaran yang dianggap sebagai pengkhianat harus menyelamatkan diri dari pembantaian.
Meskipun ternyata pengalihan isu itu hanyalah strategi musuh untuk melemahkan militer kerajaan Rethrellie.
Namun tetap saja, nama Pack of Wolves itu tak sepenuhnya bersih hanya karena embel-embel perlindungan undang-undang demi mempertahankan kekuatan militer. Beberapa tentara bayaran harus menjalankan proses yang berkepanjangan untuk tetap menetap, sisanya mendapat perlakuan tak adil dari masyarakat.
Akibatnya, banyak dari tentara bayaran yang memilih untuk bergabung dengan pasukan dari negeri Astherielle hingga titik perang kembali bergerak.
Kehilangan Pack of Wolves merupakan mimpi buruk negeri Rethrellie. Meski rumor itu terus beredar, kini tentara bayaran itu telah resmi dianggap sebagai pengkhianat negeri, dan pembantaian itu kembali dilanjutkan dengan gerakan yang signifikan.
Para tentara bayaran yang berhasil meninggalkan Rethrellie kini berada di titik kumpul bersama pasukan Astherielle, sementara pemimpin mereka harus mati-matian menggiring seluruh anggotanya untuk tak dibantai hidup-hidup oleh kepala Jenderal Kerajaan Rethrellie.
Di tengah badai hujan yang menerjang malam itu, tak satupun pasukan Rethrellie mengistirahatkan diri dan terus mengejar para tentara bayaran yang masih tertinggal.
Pemimpin Pack of Wolves sedang membuka jalan keluar untuk beberapa anggotanya yang tersisa. Dia menuntun pelarian itu di kota yang kini telah hancur.
Sayangnya, ketika membiarkan anggotanya untuk menuju titik kumpul dan menahan serangan pasukan Rethrellie, pemimpin mereka harus kehilangan banyak darah akibat terus-menerus menggunakan kekuatan sihir kunonya.
Ia kembali dengan tubuh yang tak sanggup manahan perpecahan energi di dalamnya.
Mereka membawanya masuk ke dalam sebuah tenda, dan wanita suci dari kelompok itu menghangatkan tubuhnya dengan kekuatan istimewa mereka.
"Untuk sementara, kehangatan itu menahan energi dalam dirimu agar tetap terkendali. Tapi, kau tak bisa menyiksa dirimu lebih lama lagi, Eleazar" ucap tangan kanannya yang ikut masuk ke dalam tenda.
Pemimpin mereka sedang termenung dengan tujuh wanita suci yang melekat di tubuhnya. Dia bukannya menikmati tiap sentuhan dari mereka, melaikan memikirkan sebuah tempat yang terbaik untuk seluruh anggota kelompoknya.
"Kau perlu melakukan ritual itu-"
"Elmer, itu bukanlah yang tepenting untuk saat ini. Kita sedang melalui masa sulit, tidak ada tempat yang aman untuk kita tinggal" bantah pemimpin mereka.
"Maaf mengganggu ketenangannya, Tuan Eleazar. Namun, jangan ragukan pertolongan dari kami, bangsa Astherielle. Anda dan kelompok anda dapat tinggal di negeri kami sesuai permintaan Raja dan Ratu" sahut kepala Jenderal Kerajaan Astherielle yang ikut masuk ke dalam tenda.
"Aku hanya tak ingin kejadian yang sama berulang, Jenderal Mekailer" ucap Eleazar.
"Saya yang akan pastikan hal itu tak akan terjadi. Kami, bangsa Astherielle menjunjung tinggi sumpah yang kami buat untuk tak membuat pengingkaran dalam bentuk apapun" tambah Jenderal itu.
Eleazar diam melihat dua orang itu di depannya, namun ia akhinya bersuara, "Aku tak memerlukan pegangan apapun, wanita suci selalu bisa menghangatkanku."
Elmer memutar bola matanya mendengar pemimpinnya yang keras kepala, "Mereka tak selamanya menjadi wanita suci."
"Aku akan membuat salah satu menjadi wanita suci selamanya-"
"Itu bukan solusinya, Eleazar. Itu tak akan cukup untuk mengontrol energimu. Sekarang kau butuh tujuh dari mereka, lihat saja ke depannya, kau akan memerlukan belasan dan puluhan dari mereka!"
"Melakukan ritual artinya menjadi pengantin, dan itu bukanlah tipeku" ucap Eleazar.
"Hahaha! Sepertinya pemimpin Pack of Wolves lebih senang disebut 'playboy' daripala 'taring tajam'?" kata Mekailer.
"Aku mengkhawatirkan kondisimu, Eleazar!"
"Punya istri itu menyulitkan!"
"Tapi itu demi kebaikanmu sendiri!"
Setelah berdebat, Elmer meninggalkan tenda karena kekesalannya terhadap keras kepala Eleazar. Sementara Jenderal Mekailer masih menetap di dalam tenda.
"Kenapa anda tak mendengarkan tangan kanan anda saja?" Tanya Mekailer.
"Aku bahkan tak berniat untuk melakukan ritual itu sampai kapanpun" sahut Eleazar.
Jenderal Mekailer hanya diam dan tak berbuat banyak, dia akhirnya meninggalkan Eleazar untuk beristirahat di dalam tenda. Sementara pria itu kembali berbaring di atas paha salah satu tujuh wanita suci dari kelompoknya.
"Kenapa Tuan Eleazar tak mau melakukan ritual?" Tanya salah satu yang kembali menutupi matanya dengan telapak tangan.
"Itu sangat merepotkan" jawab Eleazar.
"Tapi, setiap dari kita memerlukan pegangan untuk hidup."
"Aku saja akan melakukannya jika perang ini selesai."
"Aku juga!"
Eleazar diam mendengarkan para wanita suci yang sibuk merencanakan ritual mereka kedepannya, namun salah satu dari mereka yang tidur di atas tubuh Eleazar berkata, "Lagipula Tuan Eleazar adalah yang terakhir dari jenisnya. Bukankah sebaiknya memikirkan keturunan juga?"
Pria itu langsung batuk tersedak hingga terbangun dari tidurnya, "Kalian ini suci atau apa?"
Mereka semua tersenyum dan kembali mendekap Eleazar. Pria itu menutup matanya, dan terus memikirkan perkataan dari mereka. Baginya, memiliki pengantin di saat yang seperti ini hanya akan menimbulkan permasalahan baru.
Dia bukan hanya melindungi kelompoknya, tapi juga harus ketambahan dengan pegangan nya yang lebih berharga. Hal itu yang menjadi keraguan di dalam hati Eleazar.
Pria itu tau kalau ucapan Elmer benar. Tak selamanya wanita suci bisa menghangatkan tubuhnya, tak selamanya pula kekuatan dalam tubuhnya terkendali dengan benar. Hari demi hari, kekuatan itu terus tumbuh, dan memerlukan sesuatu yang lebih kuat pula untuk menjaganya agar tetap stabil.
"Ritual pemanggilan pengantin..." gumam Eleazar.
"ELEAZAR, MEREKA DATANG!" Teriak Elmer yang datang tiba-tiba ke dalam tenda.
Eleazar langsung terbangun, "Siapa?"
"Para pasukan Rethrellie!"
Eleazar beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil pedangnya di atas meja, "Bawa semuanya ke tempat aman!"
Elmer mengangguk dan mengamankan para wanita suci. Lalu, Eleazar ke luar tenda dan bertemu Mekailer.
"Kita harus mundur-"
"Tidak. Mereka adalah pasukan terakhir yang Rethrellie punya!"
Eleazar menaiki kuda miliknya dan bersiap untuk melakukan pertahanan, "Kau bersamaku, Jenderal?" Tanyanya sekali sambil mengarahkan pedangnya pada Mekailer.
Jenderal itu sedikit ragu atas kondisi Eleazar, namun ia bersuara, "Kami mendengarkanmu!"
Mekailer dengan pasukannya mengikuti gerakan Eleazar. Mereka melakukan pertahanan, sementara Elmer yang bertanggung jawab atas anggota kelompoknya.
Perang yang berkepanjangan itu tidaklah benar-benar usai. Pasukan Rethrellie terus melakukan perlawanan, namun mereka tak sadar telah melakukan kesalahan besar pada kelompok tentara bayaran itu.
Hingga pergantian malam-siang terus berlanjut, dan surat keputusan dari negeri Astherielle tiba di perbatasan wilayah. Proses pengklaiman itu dianggap sah setelah beberapa undang-undang dijatuhkan.
Meskipun begitu, perang dingin masih terjadi di antara keduanya. Tak pernah ada kedamaian yang nyata, begitu pula apa yang di alami Eleazar. Dia terus memaksa tubuhnya sejak itu, akibatnya, mereka harus melihat pria itu tertidur tujuh minggu di dalam ruang pohon beringin di negeri Astherielle.