
Rasanya menyenangkan, memiliki rumah untuk aku tinggali. Setelah seharian aku dan Asael memperbaiki rumah atau membereskan kebun di belakang, kami memilih untuk bersantai sebentar.
Aku sedang membuat makan siang, dengan bahan-bahan yang telah kami beli di pasar tadi pagi. Bukan sesuatu yang istimewa, karena di duniaku aku tak benar-benar membuat makanan untukku sendiri, aku hanya membuat sesuatu yang pernah ku lihat sebelumnya, seperti memasak nasi dan sup labu.
"Itu sup seperti tadi malam?" Tiba-tiba Asael datang dan berdiri di belakangku. Aku bisa dengan jelas merasakan semburan napas hangatnya menyerbak di tengkukku. Itu membuatku geli sampai bulu kudukku merinding!
"B-bukan... Ya, secara harfiah ini seperti sup tadi malam, bedanya ini adalah sup labu!" Ucapku sambil menuang beberapa tetes supnya ke telapak tanganku dan menyodorkannya pada Asael.
Dia mendekatkan wajahnya, dan menjilat tanganku sebentar, "Ini enak, aku tak pernah merasakan masakan seenak ini."
Aku senang mendengarnya dan hendak melanjutkan masak-memasakku. Namun, seketika aku mendengar suara langkah dan suara kuda di luar.
"Kuda?"
"Itu kudaku. Dia bisa pergi dan pulang sesuka hatinya" jelas Asael.
"Oh... begitu..."
Aku membiarkan Asael keluar untuk melihat kudanya. Dia sungguh membuatku gugup, aku tak akan sanggup berada di dekatnya kalau dia terus begitu.
Setelah makan siang bersama, kami akan keluar lagi untuk ke tempat Tuan Brutus, begitu namanya. Aku telah berisap-siap dengan pakaian baru yang dipilih Asael sendiri.
Saat keluar rumah, aku melihat pria itu sedang berbicara dengan kudanya!
"Kau bicara dengan kudamu?" Tanyaku dengan menghampirinya dan kuda yang begitu besar di depanku. Seperti makhluk hidup dan tumbuhan lainnya yang punya ukuran lebih besar dengan ukuran mereka di duniaku.
"Semua makhluk bisa berbicara, kenalkan Philips, kudaku."
Aku mengangguk sebentar saat Asael memperkenalkan kuda putihnya yang cantik itu.
"Akhinya aku melihat pegangan mu setelah 20 tahun lebih" ucap kudaku dengan menatap Asael.
"Ayo kita pergi" Asael memegang pinggangku dan mengangkatku naik ke atas kudanya. Dari atas ini, rasanya begitu tinggi sekali. Kami pergi meninggalkan rumah.
Di perjalanan, Asael tak banyak bicara. Dia hanya bilang kalau Tuan Brutus adalah tetua di desa, dia yang menjadi pemberi nasihat dan hal-hal lainnya.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, kami berjalan di jembatan yang terbuat dari bebatuan. Di depan sana ada rumah yang cukup besar, tampak dipenuhi dengan orang-orang yang berdatangan. Seakan, seluruh warga di desa juga hadir di sana.
Ketibaan kami membuat banyak pasang mata menyambut kami. Asael membantuku untuk turun meskipun pada akhirnya aku selalu berada di gendongannya, dan kami berdua di arahkan untuk menuju ke sebuah aula besar yang dihias dengan segala pernak perniknya.
"Wahh! Itu adalah pengantin tuan Eleazar!"
"Akhirnya pengantinnya datang!"
Seru anak-anak yang mengikuti kami dari belakang. Mereka tampak sangat senang atas kehadiran kami, atau kehadiranku?
Aku menoleh saat Asael menghentikan langkah besarnya. Di hadapan kami saat ini, ada semuah batu besar yang di atasnya terdapat kain emas sebagai alas duduk. Di atasnya oula, seorang pria yang tampak tua duduk di ujung kain.
Tiba-tiba Asael menurunkanku di atas batu, "Duduklah." Akupun duduk di depan pria itu bersama Asael.
Seketika itu, orang-orang desa mendudukkan dirinya di teras aula, seakan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Setelah melalui 20 tahun lebih dalam peperangan, pengkhianatan dan pengajaran. Eleazar akhirnya membawamu ke dalam kedamaian yang telah ia ciptakan. Tak akan ada lagi kegelapan dalam terang benderang, tak akan ada lagi sakit dalam kebahagiaan. Kehadiranmu adalah sebuah kebaikan untuk Eleazar" ucapnya, membuat aku tersenyum tanpa sadar.
Lalu, pria itu memegang kedua tanganku dan tangan Eleazar, dan menyatukannya, "Mulai malam ini, akan ada sepasang yang terikat dalam kasih. Kekuatan besar yang diturunkan leluhur kita untuk saling mencintai, menyayangi, dan melindungi satu sama lain. Malam ini, ikatan itu akan mengikat kalian dalam satu jiwa yang abadi."
Dan seketika, kain emas di bawahku bersinar. Sebuah benang berwarna merah melilit tanganku dan tangan Asael. Kemudian, cahaya itu menghilang, menyisakan benang merah yang mengikat kedua tangan kami.
"HOREEYYY!"
"YEAYYYYY!"
"URAAA!"
Semua orang bersorak, bersiul dan bertepun tangan. Kemudian, benang merah iti dilepas dan dililit ke tangan kiriku.
Setelahnya, kami duduk di atas batu berdua. Banyak dari orang-orang yang berdatangan untuk menyuapi kami makan, atau menaburkan segenggam kelopak bunga. Banyak yang mengucapkan doa kepada kami, banyak pula yang mengucapkan terimakasih padaku karena telah bersedia untuk menjadi pengantin Asael.
Malam menjadi pertanda untuk semua orang istirahat. Aku dan Asael diperolehkan untuk pulang ke rumah dengan di antar oleh Tuan Elmer yang terbang di langit menggunakan wujud burung gagaknya.
"Asael?" Panggilku dengan masih melihat Tuan Elmer di atas sana.
"Kenapa?"
"Kalian ini... Apa..? Kalian bisa berubah menjadi binatang, dan benerapa orang di desa yang berwujud manusia ada yang memiliki bagian tubuh binatang. Kau tau pria di toko tadi pagi? Dia punya telinga kelinci!"
Asael mempercepat laju kuda saat hendak sampai ke rumah, "Kami bukan manusia, asal kau tau saja."
"E-eh... bukan, ya...?"
"Kami ini beast. Darah kami diturunkan dari leluhur kami, mereka memberikan kekuatan dan kemampuan bertahan hidup dari generasi ke generasi. Namun, generasi saat ini tidak sepenuhnya memiliki darah leluhur kami. Maka dari itu, beberapa dari mereka harus meninggalkan bagian tubuh beast mereka saat menjadi manusia, contohnya pria di toko tadi yang bertelinga kelinci" jelas Asael.
"Oh! Begitu... Lalu kenapa kau, Tuan Elmer, dan para tetua desa tak meninggalkan bagian tubuh beast kalian?" Tanyaku memastikan.
"Elmer dan mereka adalah generasi leluhur kedua, sedangkan aku adalah generasi leluhur pertama dari yang tersisa" katanya.
"M-maksudnya... Kau adalah satu-satunya dari generasi leluhur pertama saat ini?" Aku terkejut sambil menoleh ke belakang.
Asael mengangguk dan aku kembali bertanya, "Tapi, apa yang terjadi?"
"Generasiku tidak mempercayai kehadiran pegangan. Mereka menikah satu sama lain, menghasilkan keturunan murni yang dianggap istimewa. Mereka membangga-banggakan hal itu, sampai mereka mulai rusak dan mati secara bersamaan karena perpecahan energi dalam diri mereka."
"Oh... Begitu..."
"Aku pun hampir mati malam itu, tapi entah kenapa, hatiku bergerak untuk memanggilmu."
Aku menatap Asael, dia juga memandangiku ke kedua manik mata putih itu. Tapi, aku langsung mengalihkan pandanganku melihat rumah yang semakin dekat.
"Kita pulang."