Ophelia'S Destiny Line

Ophelia'S Destiny Line
CHAPTER O4: VOLUNTARY FEELINGS



Melakukan ritual pemanggilan pengantin tak selamanya berhasil. Beberapa orang perlu melakukannya berkali-kali.


Pengantin mereka bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya, atau seperti mengambil buah apel dari pohon tinggi dengan satu tangan.


Setiap makhluk bernyawa di dunia itu, punya garis takdir masing-masing untuk mendapatkan pengantin mereka. Ritual itu akan berhasil jika sang pengantin telah bersedia, atau dalam kata lain, mati di dunia mereka sendiri.


Pengantin-pengantin itu adalah manusia yang tak diinginkan bumi lagi. Setelah ajal menjemput mereka, ada dua hal yang harus dipertaruhkan. Pertama, bersemayam di tanah bumi menunggu waktu reinkarnasi tiba. Kedua, menyerahkan diri pada para Oracle untuk menyebrang dimensi lain.


Beberapa yang tak berhasil melakukan ritual berarti pengantin mereka memilih untuk berenkarnasi. Sisanya, pengantin mereka telah bersedia untuk dijadikan pegangan hidup.


"Jadi, apa yang membuatmu menyerahkan diri ke para Oracle?"


Pertanyaan Eleazar membuat Ophelia kaget. Awalnya dia tak ingin menjawab, tapi akhirnya ia bersuara, "Ya... Karna aku bersedia...!"


Eleazar menaikkan satu alisnya, "Apa?"


"Aku bersedia menjadi pengantinmu. Jadi mulai sekarang, kau bisa mengandalkanku, Asael!" Ucap Ophelia sambil tersenyum.


"Kau menyembunyikan sesuatu" ucap Eleazar dengan menatapnya serius. Seketika itu pula, wajah Ophelia berubah. Dia terlihat begitu sedih sampai memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku lelah hidup di duniaku. Aku ditelantarkan, dan dibesarkan oleh sekelompok orang yang selalu memberikan tubuh mereka dengan sukarela. Mereka bilang, aku akan tumbuh besar seperti mereka. Tapi, aku tidak mau. Aku melarikan diri, namun tak ada satupun tempat untukku. Aku harus membuntuti segerombolan orang yang hidup berpindah-pindah, mengikuti orang gila yang memberikanku tempat tidur, hingga aku menetap di alas pintu toko roti. Lalu, seseorang menghampiriku di tengah hujan. Dia bilang, kalau aku bisa hidup lebih baik jika aku meninggalkan duniaku. Dan tada! Aku melakukannya!"


Eleazar diam sebentar setelah mendengarkan cerita Ophelia. Alasan mengapa dia begitu terang-terangan menerima untuk menjadi pengantinnya. Sebab, Eleazar tau. Tak pernah ada pengantin yang sukarela untuk dipanggil ke dunia itu. Mereka akan terbiasa, dan mulai menerima keadaan setelah tinggal setahun lebih.


"Akhinya kau menurunkan egomu sendiri, Eleazar" Elmer dalam bentuk beast nya terbang dan mendarat di depan mereka berdua.


"Burungnya bisa bicara?!"


Elmer pun mengubah dirinya, dan saat itu Ophelia menganga tak percaya.


"Sepertinya tubuhmu mulai seimbang dan stabil, sistem regenerasinya mulai bekerja dengan baik" kata Elmer. Lalu ia menyodorkan ke Ophelia sebuah bungkusan. Eleazar langsung merampas bungkusan itu dan dia sendiri yang memberikannya kepada Ophelia.


Elmer yang maklumpun berkata, "Di dalamnya ada obat herbal regenerasi, dia harus meminumnya dua kali sehari setelah makan. Setelahnya, dia harus meminum teh hijau untuk menjaga daya tahan tubuhnya, ada di dalam sana juga."


Ophelia melihat ke dalam bungkusan itu, dan benar saja, ia mendapatkan bungkusan bertulis regenerasi dan sekotak teh hijau, "Terimakasih... Tuan?"


"Perkenalkan, aku Rubeus Elmer, panggil saja Elmer."


"Namaku Ophelia..."


Elmer menunduk sekali, lalu ia mendudukkan diri di sofa tepat di tengah ruangan, "Tadi aku datang ke rumah Tuan Brutus dan mengatakan kau telah melakukan ritual. Mereka menetapkan tanggal yang bagus untuk pernikahan dan perayaanmu-"


"Kau ke sana tanpa persetujuanku?" Tanya Eleazar dengan wajah kesalnya.


"Kalau aku menunggu persetujuanmu, kau hanya akan menunda-nunda hal itu."


"Kau-"


"Selamat malam, Ophelia" Elmer menunduk sekali lalu berubah menjadi burung gagak. Ia terbang lewat balkon yang nyaris memotong tubuhnya ketika Eleazar menutup pintu kaca di sana dengan kekuatannya.


"Apa itu tadi...?" Tanya Ophelia sambil membantu Eleazar untuk kembali berbaring seiring kamarnya kembali bergerak ke atas.


"Dia tangan kananku, kami berteman sejak kecil."


"Kau tak perlu memikirkannya, itu bukan urusanmu."


"Oh... Begitu ya.."


Kemudian seluruh pintu terkunci, jendela-jendela mulai menutup diri. Beberapa lampu besar juga digantikan dengan lampu-lampu kecil yang bergantungan di langit-langit. Semua hal itu mengejutkan Ophelia.


"Ini dunia yang berbeda..." Gumam Ophelia.


Seraya Eleazar menariknya untuk berbaring di kasur, dia berkata, "Rumahku punya rohnya sendiri, roh pohon beringin. Kau bahkan bisa berbicara padanya."


Ophelia menoleh melihat Eleazar, "Benarkah?"


"Heh, kau percaya?"


"Eh... Kau berbohong?"


"Tidak."


Mereka berdua tertidur di malam yang damai. Eleazar sungguh menikmati setiap percikan kekuatan dalam tubuhnya yang semakin terkendali dengan baik.


Hingga pagi itu, adalah hari yang baru untuk kehidupan Eleazar. Kehidupan baru bersama pegangan hidupnya. Beberapa burung pengirim pesan datang pada Eleazar saat ia duduk di balkonnya.


Di antara pesan-pesan tentang pekerjaannya, ia mendapati pesan yang lebih mengganggu paginya.


"Lusa adalah hari pernikahan dan perayaanmu, pastikan dirimu bersiap sebelum hari itu. Dari Elmer, teman setiamu" Eleazar langsung menghancurkan surat itu dengan kekuatannya sampai menjadi debu.


"Aku tak percaya... Aku telah memanggil pengantinku..." Gumamnya ketika ia menoleh mendapati Ophelia datang ke kamar dengan membawakan teh hijau pemberian Elmer.


Ophelia berdiri di ambang pintu, pandangannya tertuju pada Eleazar yang hanya menatapinya. Eleazar sungguh kebingungan saat melihat senyum Ophelia di sana.


"Kenapa kau selalu senyum-senyum?" Tanya Eleazar menghampiri Ophelia dan mengambil secangkir teh hijau dari tangan Ophelia.


"Aku hanya senang..."


Eleazar mendekati Ophelia dan bersandar di ambang pintu. Dia mulai menyuruputi teh hijau buatan perempuan itu, "Bersiaplah dan temui aku di kebun belakang" ucap pria itu.


"Untuk apa?"


"Aku tak mungkin membiarkanmu seperti ini saat pernikahan kita, 'kan?" Ucap Eleazar dengan meraih selimut yang menutupi tubuh Ophelia, ia hendak menariknya tapi perempuan itu langsung menahannya.


"T-tapi aku tak punya-"


Pria itu menyihir lemari pakaiannya agar terbuka, di sana penuh dengan pakaian Eleazar.


"Kamar mandinya ada di belakangmu."


Ophelia terus berbalik dan menyadari ada pintu di belakangnya. Ia hanya mengangguk kemudian membiarkan Eleazar melewatinya sambil menyentuh kepala Ophelia dengan lembut.


Perempuan itu memegang kepalanya dengan terus menatapi punggung besar Eleazar yang tak lama menghilang dari tangga. Dia tersenyum malu dan terkekeh sebentar, ia bergegas memasuki kamar mandi yang ada di depannya.


Pagi itu, benar-benar sebuah awal yang baru bagi Eleazar dan bagi Ophelia.