
Di saat yang lain, aku menemukan Anin beberapa kali beredar di dunia malam. Mungkin dia sekadar mengikuti temannya yang lebih dulu masuk dan mencari tempat duduk. Masih sangat jelas kuingat wajah Anin beberapa hari sebelumnya di pelataran parkir kampus ketika menoleh padaku.
Kali ini, kening Anin mengerut saat bertemu tatap. Aku spontan lemparkan senyum seakan pernah akrab, seenggaknya berkenalan meski lupa dengan namanya. Ingin lontarkan kata serupa yang diucap suami Anin, tetapi ragu masih memenuhi dada.
Aku menunggu bersama seorang gadis yang lebih dulu mendekat, mengajakku bicara mengenai event mural di salah satu sudut kota. Pakaiannya yang kurang bahan terkadang sesekali ditarik untuk memancing perhatian. Menarik, tapi aku lebih penasaran dengan seorang wanita yang ditinggalkan temannya di meja lain. Meski jauh lebih tertutup dengan pakaian kerja, kesedihan wanita itu bagai hidangan yang menggairahkan.
Biasanya aku lebih suka bicara dengan wanita yang jauh lebih dewasa. Selain mendapat ragam kisah, pekerjaan beragam dari para tante bisa memperluas wawasanku tentang dunia menengah ke atas yang mungkin tidak kudapatkan jika menolak pekerjaan sebagai penghibur. Tiga keuntungan sekaligus; uang, koneksi, dan kepuasan.
Gadis di hadapanku bukan salah satu pelanggan. Dia menghampiriku hanya karena tampan. Kata yang kerap kudengar semenjak di sekolah menengah. Kata yang juga menjebakku untuk memanfaatkan banyak hal dari para pengucapnya.
"Lo bisa kenalan sama berbagai seniman lokal entar. Pastiin datang, ya," katanya setelah bertukar kontak.
Tentu senyumanku bisa diobral ke mana-mana selama tidak terikat hubungan, termasuk pada gadis di hadapan yang langsung berjingkrak. "Of course. Kalau gue bawa teman, enggak masalah, kan?"
Pertanyaan barusan seketika lunturkan mimik senangnya, berganti rengutan kesal. "Siapa?"
"Adalah temen gue. Biasanya dia doyan ikut acara ginian."
Tau yang kupikirkan kalau berhubungan dengan para wanita cantik? Si playboy kampus yang rajin banget cari teman tidur, Dean. Baru juga dipikir, orangnya sudah menghampiri dan memberi tos tinggi. Untung posturku lebih tinggi dari Dean ketika berdiri.
"Udah lama?" Dean menyesap minuman dari gelas tinggi milikku tanpa izin. Kebiasaan.
Kualihkan tatapan dari bola mata yang memutar ke arah keramaian lantai dansa seraya mengisap batang nikotin di tangan. "Baru."
Musik yang semakin mengentak ternyata membuat pengunjung menggila di sana, tidak dengan wanita yang kuperhatikan. Dia masih duduk dan memutar gelas dalam pegangan. Mungkin melarikan diri dari rutinitas, melihat canggung bahasa tubuhnya.
"Siapa, nih?" Pertanyaan Dean mengambil alih atensiku untuk memperhatikan si gadis berpakaian kurang bahan.
"Kenalan aja dulu." Kuentaskan sisa puntung rokok pada asbak yang tersedia dan turun dari kursi. "Gue mau ke sana."
Memberi isyarat jari pada gadis di dekatku untuk menunggu dan dibalas dengan anggukan, kemudian aku mendekati wanita yang sedari awal membuatku lebih tertarik—Anin.
Luka dari tatapannya dalam tiap pertemuan memancing rasa ingin tahuku untuk menyentuhnya. Wanita seperti apa yang bisa ditinggalkan?
Kebanyakan pelanggan yang melarikan diri padaku dan berani membayar tinggi karena tidak mendapatkan kepuasan dari sang suami. Entah waktu yang tidak tersedia di tengah kesibukan pekerjaan atau mungkin keberadaan wanita lain yang membuat mereka saling berbalas dendam.
Menarik. Aku bisa menunjukkan kehebatanku dalam memuaskan dan dipuaskan, tentu saja. Salah satu penyebab para wanita dewasa itu kembali padaku karena aku bisa menunjukkan kalau mereka masih menggairahkan. Tidak sedikit tante yang merasa minder karena suaminya mencari wanita lain dengan dalih kepuasan.
"Sendiri?" tanyaku setelah berada di hadapan wanita yang kutuju sambil berkacak pinggang, memperlihatkan kelebihan dari parasku melalui pemangkasan jarak dengan sekali melangkah.
Anin menggeleng lalu menunduk, cukup menjawab pertanyaanku tanpa kata. Sembab di bawah matanya masih kentara meski ditutupi riasan yang menurutku ... masih berantakan. Tatapannya jatuh pada pinggiran gelas dalam pegangan jemari lentiknya, lagi. Dia tuh kayak ... ngapain sih datang ke tempat kayak gini?
Kutelisik setiap ciri yang membentuk wajahnya. Alis cenderung lurus dan menurun di akhir, bibir tipis bersapu pewarna bata, tulang pipi yang tinggi membentuk bingkai menyudut di dagu. Cantik. Kalau boleh menebak bentuk tubuh di balik seragam kerjanya, aku akan dengan senang hati melucuti keseluruhan penutupnya.
Anin menggeleng lagi. Sesekali anggukannya mengikuti musik yang mengentak. Jemarinya berpindah, bergerak mengetuk meja kaca. Terlihat sekali kecanggungan dari netranya yang tidak tenang—menghindari sorotan tatapanku. Lebih kaku lagi dari sebelum menyapa.
Aku mengambil kursi berseberangan, sekadar menandai kalau Anin tidak sendiri jika ada yang ingin mendekat. Teman wanita yang bersamanya juga belum memberi tanda akan kembali.
Enggak salah, kan? Siapa tahu ada pemain lain yang mengincar wanita seperti Anin. Selera pakaian kerjanya saja tampak mahal, bagaimana dengan isi dompetnya. Hanya ... ujung-ujung kuku Anin tampak seperti patah. Pekerja berat? Jika iya, bisa jadi tenaganya jauh lebih kuat dari pelanggan biasa.
"Entar kamu pulang sendiri?"
Bola matanya sempat memutar ke atas, seolah berpikir. Apa karena pertanyaanku? Dia masih juga tidak memberi jawab.
Sesekali Anin mengecek layar ponsel yang menyala di permukaan meja. Hanya melihat tanpa menyentuh. Apa dia menunggu seseorang? Kalau iya, berarti aku kedahuluan berpikir bisa mendapatkan kehangatannya.
Tidak boleh. Aku harus bisa mengambil perhatiannya kali ini. Menumpu kedua lengan pada meja yang menjadi pembatas kami, "Aryo," jemariku terulur di depan gelas lebarnya, menunggu jawaban selain gelengan.
Jelas sekali dia tidak bisu saat menyerapahi si pria tua yang mengaku sebagai suaminya beberapa hari silam. Kenapa kali ini malah mengabaikanku?
Sikap diamnya membuatku menghela napas panjang dengan jelas. Setidaknya dia harus memperhatikan gerakanku yang terlihat kecewa ketika menarik kembali uluran tak berbalas. Aku penasaran.
Anin mendengkus. Sudut bibir kanannya naik seolah meremehkan. Dia berseloroh, "Siapa yang percaya kalau itu nama aslimu?" Kebisuannya berubah ketus sebelum menenggak minuman bening kecokelatan di depan.
Aku jelas terkekeh. Bukan soal nama asli atau palsu. Hanya, ekspresi yang ditunjukkan setiap kelopak matanya turun membuatku berimajinasi.
"Anggap saja begitu. Kalau nama palsu, bukannya harus lebih keren?"
Aku tak menunggu lagi. Ponsel di atas meja telah berpindah dalam genggamanku ketika dia lalai. "Apa harus selalu basa basi kalau mau kenalan? Aku enggak punya bahan pembicaraan yang menarik, nih."
Tak peduli ia terkejut—turun dari kursi—bahkan hampir merebut jika tak kujauhkan. Kutekan sederet nomor untuk disimpan lalu mengembalikannya dengan cepat. "Ini."
Singkat. Ponsel dalam saku celanaku bergetar, menunjukkan nomor yang terhubung ketika kukeluarkan. Anin segera meraih ponselnya, menatap layar menyala yang masih menampakkan kontakku.
Aku berdiri—menghampiri tubuhnya sesaat—sekadar berbisik, "Hubungi aku kalau perlu teman," dalam tanda kutip.
Yakin jika dia tertegun dan memikirkan berulang kali, sentuhan napasku pada daun telinga wanita itu seharusnya memberi kesan, seperti pada wanita lain yang kerap terpesona.
Terutama ketika dia terpejam mendesah, tanpa reaksi penolakan ketika jemariku bermain sesaat di pangkal lengannya, kukatakan, "Aku menginginkanmu."