Nabastala

Nabastala
Istirahat Total



Abis mengajukan lamaran kerja di beberapa instansi di pertengahan kota, langkahku memilih menumpang angkutan kota ke wilayah perumahan di wilayah barat kota. Hanya sampai gapura terluar. Untuk masuk lebih dalam sebenarnya bisa menggunakan jasa ojek, tetapi sayang mengeluarkan isi dompet yang sudah tipis.


Bisa aja tarik tunai pada atm di pinggiran jalan, cuma aku masih bisa berjalan kaki sekitar satu-dua kilometer mencapai blok paling depan. Rumah didominasi suasana kayu yang hangat tampak di depan mata, tetapi kakiku ragu bergerak maju.


Apa Anin mau menemuiku tanpa janji?


Aku hanya khawatir. Perasaanku seakan meronta tanpa sebab. Akhirnya, aku berbalik. Urung temui meski sudah sejauh ini. Aku tidak ingin ditolak lagi.


Sepatuku nyaris menjejak pergi. Nyaris. Aku malah berlari ke dalam rumah begitu mendengar suara pecahan kaca. Tidak sulit melalui pintu utama ketika tahu kata sandi pengunci.


Langkahku memelan setelah sadar dari kejauhan jika tubuh Anin menabrak lemari kaca. Beberapa pecahan yang terlontar bahkan melukai bahunya. Perutku seakan tertonjok seketika. Bibirku mendesis. Ngeri membayangkan rasa sakit yang Anin terima.


Di sisi lain, pria tua yang selalu mengaku sebagai suami Anin tampak tidak tenang. Dia seperti mencari sesuatu, dan akhirnya mengangkat salah satu kursi rotan untuk dilemparkan.


Kedua tanganku sampai bergerak menutup wajah, mundur mencengkeram pangkal rambut, atau mengepal. Entah, aku seketika panik melihat pertengkaran mereka, tetapi kakiku terpaku di tempat. Apa yang bisa kulakukan?


Anin terlihat mengangkat lengan, melindungi wajahnya ketika kursi dilemparkan. Dia terpejam, begitupun denganku.


Nyatanya, Zaki justru melempar ke arah lain. Terdengar dari suara pecahan lain yang memaksa keingintahuanku dengan keadaan Anin. Aku perlahan menggerakkan kaki, bisa, berpindah melekat pada dinding yang melindungi diri.


“Apa kita enggak bisa bicarain ini baik-baik, Nin?” Zaki berjongkok, menyejajarkan diri dan mendekati Anin. Dia mengacak rambut yang basah dengan peluh, matanya melotot marah.


Perlahan, aku mendekat tanpa suara. Pria tua itu, dalam ingatanku, mengerikan. Aku masih ingat rasanya dipukul di depan umum. Bukan hanya sakit yang ditinggalkannya, tetapi juga rasa malu.


Anin mulai menurunkan lengan. Sesekali matanya terpejam. Tidak ada tanda dia akan bicara meski hanya menjawab pertanyaan si suami. Siapa pun dalam posisi Anin tentu akan merasa takut, seperti Ibu setiap kali Bapak mengamuk. Perlindungan yang Ibu berikan memang melindungi tubuhku, tetapi tidak dengan sakitnya hatiku melihat perlakuan Bapak.


Pria tua itu terdengar menggeram, lalu berteriak ketika menendang kaki Anin sebelum melangkah pergi. Mungkin dia tidak berpikir mengenai pintu yang masih terbuka di luar, melupakan kemungkinan ada orang lain yang melihat perlakuan buruknya, seperti aku yang bersembunyi di balik dinding.


Setelah memastikan suami Anin telah pergi, kupercepat langkah menuju tempat Anin terduduk, segera menghampiri dirinya yang mulai menangis. Bagaimanapun brengseknya aku dalam menikmati tubuh para wanita, melihat mereka meneteskan air mata justru mengundang simpati.


Kedua tangan Anin menutup wajah. Bahkan dia beringsut mundur, menabrakkan lagi punggungnya pada lemari kaca yang telah pecah saat aku mendekat. Sesaat dia tampak kaget, lalu menghela napas begitu melihat aku yang datang. “Aryo?” Anin langsung menghapus sisa aliran di pipi.


Dia benar-benar ketakutan. Mungkin Anin mengira langkah yang kujejak ialah sosok suaminya yang sadis itu. Kubantu Anin berdiri, tetapi berkali-kali dia terduduk lemas. Apakah sangat menyakitkan?


Kuselipkan lengan di belakang lutut dan bahu Anin, menggendongnya masuk dalam salah satu kamar terdekat tanpa bicara. Beberapa pecahan dari punggungnya menekan kulit lenganku yang tidak tertutup. Kebiasaan menggulung lengan kemeja sampai siku ternyata jadi masalah.


Anin masih bisu setelah kududukkan di kasur. Tatapannya terlihat kosong ketika menunduk. Kulepas terusan yang dikenakannya, memperlihatkan punggung yang terluka karena serpihan.


“Sebentar. Tante punya pinset? Kotak P3K?” Aku beranjak dari dekatnya dan melihat sekeliling. Kamar ini bukan kamar utama jika dilihat dari kasurnya yang lebih sempit dibanding tempat bercinta kami sebelumnya.


Ralat. Anin tidak akan suka jika aku menyebutnya bercinta. Kami bermain api, melakukan **** tanpa hubungan resmi.


“Ah?” Anin mendongak, mungkin baru menyadari pertanyaanku dan menunjuk deret laci di bawah televisi.


Kutemukan kotaknya, tapi tidak dengan pinset. Seenggaknya ini cukup untuk sementara waktu. Perlahan kucabut pecahan kaca yang bisa terjangkau menggunakan bantuan kain kasa. Namun, perih mendengar Anin meringis setiap kali kusentuh punggungnya.


“Ini, enggak bisa dibersihkan semua. Tante harus ke rumah sakit," usulku seraya balurkan alkohol setelah memastikan tidak ada lagi pecahan kaca yang besar.


Anin menggeleng. Apa yang dia pikirkan sebenarnya saat ini?


“Bisa infeksi, Tan. Ayolah! Jangan buat aku khawatir.”


Anin berbalik, memandangku yang masih memegang kasa dan cairan antiseptik kemerahan. “Khawatir?”


Aku mengangguk, menurunkan tangan yang sempat menggantung di udara karena terkejut dengan pergerakannya.


“Kenapa kamu datang?” Anin masih bertanya? Apa dia masih enggak suka kalau kudekati di luar panggilan? Atau dia hanya menemuiku jika membutuhkan kelembutan yang sensual, segala permainan yang tidak didapatkannya dari sang suami?


Aku akhirnya hanya bisa mendengkus, menepis segala keluhan dari dalam kepalaku. Kali ini, perasaanku yang terbakar. “Aku khawatir, Tan.” Aku takut kehilangan permainan hebat dan pembayar mahal seperti Anin.


Anin menghela napas lagi, bergeser ke tepi kasur hendak berdiri. Namun, tubuhnya merosot ke lantai. Terakhir kuingat, Zaki menendang kakinya dengan keras. Sakitkah?


Anin menangis lagi, lebih lepas dan semakin nyaring. Telapak tangannya memukul lantai berulang kali.


Segera kuraih kedua buku tangannya yang memerah karena meninju permukaan keramik. “Tante! Anin! Enggak gini.” Tanpa ragu, aku merengkuh tubuhnya, mendekap sedalam mungkin tanpa menyentuh luka.


Aku tidak tahu rasanya. Aku tidak tahu caranya menghibur untuk klien seperti ini. Melihatnya saja, sudah miris.


Kugendong Anin naik ke atas kasur. Kuraih lagi tubuhnya dalam pelukan, abai dengan sakit yang kembali terasa menekan lengan. Mungkin berdarah juga, tapi Anin lebih terluka.


Aku tidak tahu masalah mereka dan tak ingin tahu lebih jauh. Takut. Jika hal itu justru membuka luka yang telah kukubur dalam-dalam.


***


"Yakin mau ketemu di luar seperti ini terus?" Aku mengambil salah satu keranjang buah dari deretan bingkisan yang diterima Anin. Ada kartu ucapannya.


[Segera kembali bertugas, Bu.]


"Fans-mu banyak juga ternyata." Kuletakkan kartu ucapan di permukaan selimut yang menutupi pangkuan Anin. Ini, kartu ke ... enggak hitung.


Anin mengulum senyum yang terlanjur melebar. Dia mengangguk. "Untuk sementara, kita memang hanya bisa bertemu di rumah sakit setelah jam besuk berakhir, Yo."


Kukeluarkan pisang yang kulitnya masih kuning segar dari keranjang, mengupas dan menyuap daging buahnya ke mulut Anin. Dia terus melihatku dan berusaha tersenyum.


Ragu bicara, aku hanya menimbang apel di tangan. Menelisik warna merahnya dan teori gravitasi yang berlaku dalam hitungan. Entah apa yang memenuhi kepalaku, segalanya campur aduk saling memengaruhi.


"Beli kendaraan yang efektif, jadi aku bisa meminta kamu datang kapan pun." Ucapan Anin seketika membuatku menoleh.


Aku berpindah duduk pada pinggiran brankar yang ditempatinya, di samping Anin. "Tante ...." Kuraih jemarinya yang terasa semakin kurus dalam genggaman.


Anin sandarkan kepalanya di bahuku dan membalas genggaman. Hangat.


"Aku enggak bisa nyetir, Tan." Kutepuk punggung tangan Anin dalam genggaman sekalian menoleh ke arahnya, mencari raut kemerahan Anin ketika diperhatikan.


"Siapa yang minta kamu beli mobil?" Kepala Anin menjauh dari bahuku. Dia turut melihatku dan mencibir, menjulurkan lidahnya.


Refleks aku mendekat, pertemukan lidah, dan ternyata Anin terdiam.


"Ayolah, Tan! Kamu mempermalukanku?" ucapku ketika memberi jarak. Sekali lagi, kusentuh lidahnya, mengisap benda tak bertulang itu dalam-dalam.


Anin tidak lagi diam. Dia membalas pagutanku dalam irama yang menenangkan. Kemudian, wanita di dekatku ini tergelak.


Aku jadi malu, sadari terpejam karena menikmati rasanya yang sangaaat ... menagih.


"Tidak ada penolakan." Anin meraih tas kecilnya di nakas. Dia mengeluarkan lembar keras warna kelabu dari dalam dompet dan meletakkannya di telapak tanganku. "Kartu ini jadi peganganmu selama masih di bawah kontrak."


"Tan ...," kusentuh pinggiran kartu yang masih sangat mulus meski warnanya memudar, "Aku tanya ini, ya? Bukan apa-apa, cuma khawatir."


Aku menunduk, lalu menoleh pada Anin, berkali-kali. Mungkin memaksakan senyum karena merasa janggal dengan kemauannya.


"Apa?" Anin meletakkan kembali tasnya.


"Tante sebenarnya bisa punya uang sebanyak ini dari mana?" Kuangkat kartu dalam pegangan ke udara, menunjukkannya pada Anin.


Sebenarnya, bukan hal yang aneh jika klieku menawarkan kartu kredit atau kendaraan bermotor, tetapi hal seperti itu justru memudahkan mereka melacak keberadaanku. Tapi, Anin ....


"Ada masalah?"


"Ya, aku enggak mau terlibat aja sama kasus pencucian uang," alasanku. Yah, mengingat beberapa rekanku yang kena audit karena melayani istri-istri pejabat.


"Warisan." Anin membunyikan lidah dalam mulutnya setelah bicara. Dia mengalihkan pandangan pada kaca yang tertutup vitrase, samarkan pemandangan luar.


"Hanya itu?" Aku menuntut jawab dengan meraih rahang Anin, memintanya hanya melihatku saat ini.


"Apa yang harus aku ceritakan?" Anin menepis jemariku. Egois seperti biasa. Apa orang kaya emang seperti dia? Harusnya aku tahu, bukan?


"Aku punya warisan semacam kepemilikan saham perusahaan." Anin melilitkan pinggiran selimut ke pergelangan tangannya. "Aku baru menggunakan hakku kali ini."


"Karena aku?" Apa ada alasan lain? Dia memberikan kartu kredit padaku. Pamrih mungkin? Seperti dia bilang, kalau sewaktu-waktu dia memerlukanku.


"Kamu cerewet banget, sih." Anin mencubit pipiku. Dia tampaknya memang senang menyiksa, terlihat dari tawa yang terurai setelah puas menarik-narik lapisan kulit di bawah tulang pipi.


Kutangkap kedua tangannya dan mengedipkan mata. "Tapi Tante suka, kan?"


Terlampau dekat, mungkin melekat. Aku mampu mencium aroma mulutnya. Tidak mengganggu sama sekali. Lebih tawar dibanding wangi pasta gigi di setiap pergumulan.


Anin terpejam ketika aku mampu membungkam lenguhannya. Ujung-ujung jariku sudah menyusup ke balik selimutnya dan temukan kehangatan di sana. Tubuh Anin semakin lekat padaku. Pinggangnya bergerak, menenggelamkan jariku yang menyelinap di antara belahan yang telah basah.


Gesekannya semakin cepat seiring kedutan menggila. Anin membiarkanku mengusap ketegangannya dari luar pakaian rumah sakit.


"Tan, aku enggak kuat nahan!" keluhku, lepaskan pagutan seraya menggiring tangan Anin memegang keteganganku yang semakin menguat. Anin mengeluarkannya dari kurungan ritsleting, mencengkeramnya kuat-kuat.


Gila! Ini rumah sakit, di atas brankar. Anin malah naik ke atas pangkuan, memaksaku bergeser ke tengah-tengah. Dia sudah sangat lihai mengisi liangnya sedalam mungkin. Pergerakannya memang sangat lamban, tetapi mampu membuai anganku yang telah melayang tinggi.


Kupegangi pinggangnya, menggerakkan pergesekan semakin cepat. Anin berusaha meredam suara dengan menggigit pundakku. Sakit dan nikmat bersamaan.


"Sedikit lagi!" bisik Anin.


Bisa kurasakan denyutannya menguat. Aku pun semakin ingin meledak. Dalam posisi seperti ini, tidak ada kemungkinan memuntahkan isinya di luar labirin. Aku mampu memenuhinya sebanyak mungkin, mengisi kehangatan hingga mengaliri sela di antara penyatuan kami.


"Tan?" Aku ragu bertanya, membiarkan Anin bernapas dulu.


"Aku lagi enggak subur," aku Anin seraya menaikkan letak kemeja yang kukenakan hingga tampilkan puncak yang sama dengan miliknya, dalam ukuran yang lebih kecil.


Anin bersandar di dadaku seraya memainkan lingkaran kecil dalam jangkauannya. Menggelikan, apalagi ketika lidahnya bergerak mengitari pinggiran kecokelatan yang terbentuk. Lagi, aku menginginkannya.


"Kita hanya akan merusak ranjang, Tan." Aku tergelak, menghadapi gelitikan di dadaku yang semakin menjadi. "Tante Anin?"


Kuraih punggung Anin, hendak meletakkan dirinya berbaring di sisi. Penampilannya harus diperbaiki, terutama rambut yang berantakan setelah guncangan-guncangan nikmat. Dia memekik ketika lukanya harus melekat dengan permukaan kasur.


"Tante harus istirahat total hari ini." Aku turun dari brankar dan menarik selimut yang sempat terjatuh hingga menutupi keseluruhan tubuhnya. Kalau perlu lehernya sekalian. Aku enggak bisa tahan kalau terus mendapat tampilan menggairahkan seperti dirinya.


"Kamu di sini saja." Anin memintaku.


"Iya, aku di sini."