Nabastala

Nabastala
Tangguh



"Tan, jangan di sini!" Aku menolak, menghalau ciuman basahnya di kulit telingaku. Belum lagi tangannya menyelip antara kain celana dan kulit pinggangku, menggesek kejantanan yang semakin mengembang maksimal.


Parah! Aku perlu jepitan yang sangat hangat, lembab, basah, licin, apalah namanya yang bisa ngeluarin cairan di bawah sini.


“Kamu tadi bilang udah enggak sabaran?”


Baru aku sadari kalau klienku sudah berjongkok di depan ritsleting terbuka dan mengeluarkan isinya.


“Uh, Tan ….” Seketika aku mendongak, menopang diri dengan berpegangan pada baja melintang di sepanjang pinggiran lift.


Mataku terasa berkabut sementara milikku berkedut hebat dalam pijatan dan isapan bergantian yang sangat luar biasa. Beberapa kali aku menutup mata, lalu membuka hanya untuk melirik perlakuan si tante yang semakin liar.


Sedikit lagi. Ledakan itu hampir sampai.


“Nanti dulu," putus si tante.


Anjing! Dikit lagi. Kenapa enggak diselesaikan sekalian?


“Nanggung ini, Sayang!” Aku menahan diri untuk tidak berteriak, melotot, atau bisa saja mengamuk di tempat. Umpatanku tertahan sampai harus menggigit lidah biar tidak lepas kendali.


Wanita tua itu malah meledekku dengan gelak tawanya, tanpa menutup ritsletingku dia berlari keluar dari pintu lift yang terbuka.


“Sayang?” Terus kupanggil seraya mengejar langkah cepatnya yang memperolok-olokku.


Lorong yang kami lalui memang sepi, mungkin karena melewati tengah malam. Tetap saja aku was-was.


Ritsletingku masih terbuka karena harus mengejarnya. Enggak mungkin ditutup terburu-buru, isinya bisa kejepit.


Sementara itu si tante masih menggoda dengan mengeluarkan isi branya sesekali diiringi ajakan mendekat. Huh, salah apa aku, Tuhan? Kenapa harus dapet klien yang otaknya setengah, setengahnya lagi ngerjain mulu kayak gini?


Dan, dia menghilang di ujung lorong. Pintu terakhir lebih tepatnya.


Masuk ke dalam, ruangan yang memuat ranjang pasangan di pertengahan langsung menyapa penglihatan. Unit berukuran studio ini sudah lengkap dengan fasilitas televisi dan berbagai kabinet penyimpanan, juga meja pantri di sudut.


"Tan?" Kupanggil sekali lagi karena mendapati ruangan yang aku masuki benar-benar kosong.


“Baa!!!”


Punggungku ditimpa beban yang langsung mengalungi leher. Kedua kakinya menggantung di pinggangku dari belakang.


“Ngerjain banget ini, ya!” Aku juga melupakan letak kamar mandi yang bersebelahan dengan pintu masuk. Ternyata dia di sana tadinya.


Kugelitik si tante sambil menjatuhkan punggung di permukaan ranjang. Setelah bisa berbalik, aku langsung menurunkan gaun si tante dan menggeser penutup dari dua benda yang kemudian kuraup bergantian dengan beringas.


“Aryo! Geli!” keluh wanita di bawah kuasaku. “Geli! Beneran!”


Geli katanya? Kalau geli, kenapa semakin disodorkan?


Aku turun, menaikkan gaun yang menutupi kakinya hingga kain mengilap itu terkumpul di pinggang.


“Enggak mau lanjut?” tanyaku sambil menyelipkan jari tengah melalui samping penutup miliknya yang hanya berupa kain tipis dan sempit.


“Enggak!" Napasnya turut terengah, mendesah, melenguh, memekik hebat ketika cairan hangat yang keluar dari belahannya menuruni jariku.


Melihatnya mencengkeram kain seprai bahkan bantal di atas sana ketika mencapai pelepasan memberiku sensasi menyenangkan. Semacam prestasi awal seorang lelaki meski belum mencapai hidangan utama.


"Enggak apa, Tante?" Kugesekkan ketegangan hasil kejailannya tadi ke belahan yang telah siap dimasuki.


Si tante mulai meracau, menggeleng, mengacak setiap benda yang mampu digapainya sementara aku memelintir puncak dadanya bergantian.


Dia akhirnya meringis, melihatku dengan gairah yang kembali bangkit. "Enggak mau berhenti!”