Nabastala

Nabastala
Landasan Pesawat



"Hei!" Aku menyapa begitu bertemu tatap dengan Anin di koridor dekanat fakultas bahasa. Enggak sengaja ketemu, sih.


Meski satu kampus, kami berada pada fakultas berbeda. Jadi sebenarnya susah banget buat ketemu di luar perjanjian. Aku mahasiswa akhir di fakultas keguruan, sedangkan dia dosen di fakultas bahasa. Kadang ketemu di fakultasku karena dia punya kegiatan gabungan, tetapi seminar itu juga sudah berakhir.


Makin pupus harapan ketemu Anin semenjak pengakuannya tentang larangan si suami bangkot biar tidak menghubungi siapa pun tanpa izin. Otoriter sekali. Rumah tangga seperti apa yang dijalani wanita moderen seperti Anin?


"Kamu ngapain di sini?" Mata lebar Anin tampak menjelajahi kesunyian di sekeliling, lalu melotot lagi ke arahku. Ngapain juga dia menampakkan kekhawatiran berlebihan seperti itu kalau toh kami bisa berlagak seperti mahasiswa-dosen biasa.


"Tadi disuruh Pak Dandy antar jurnal ke bagian administrasi, sekalian tanyain selebaran buat TOEFL nanti." Aku menggerakkan jempol ke arah belakang tubuh, menunjukkan tempat yang baru kutinggalkan. Ruangan dibatasi dinding kaca gelap itu berlapiskan tirai.


Anin melanjutkan berjalan melewatiku tanpa menoleh. Dia marah atau gimana?


Aku mengekor di belakangnya sambil bilang, "Santai kali, Bu. Bersikap biasa aja di depan orang-orang. Aku bukan musuh." Kutunjuk salah satu sisi koridor yang menunjukkan pergerakan. "Ada kamera di ujung koridor."


Anin berhenti melangkah, menoleh pada benda yang kayaknya baru dia sadari memantau pergerakan kami.


Berjalan melewatinya, kusempatkan membelai belakang tubuh Anin perlahan. "Sampai jumpa di parkiran." Seperti biasa, dia terkejut dengan sentuhanku di tempat umum.


Anin tidak menolak. Rona kemerahan tampak memenuhi pipinya ketika aku menoleh.


Ah, nunggu Anin enggak, ya?


Sebenarnya urusanku di kampus selesai begitu sidang skripsi tuntas. Tinggal menunggu kelengkapan berkas dan penjilidan yang harus dikumpul aja lagi biar bisa ikut wisuda.


Mau bicara sama Kea, kayaknya masih belum ada tanda kalau gadis tomboy itu bakal ngajak baikan. Baikan loh ya, bukan balikan.


Akhirnya aku cuma bisa berdiri, menyandarkan pinggang pada sisi mobil Anin seraya membakar batang nikotin. Sesekali menambah portofolio pekerjaanku dengan memamerkan foto hasil desain di salah satu situs media sosial pencari kerja.


Desain dari pekerja lepas sepertiku hanya bermain di intuisi dan mungkin tidak sehebat para desainer interior yang mengambil pendidikan khusus, tetapi melihat perhatian para komentator, mungkin suatu saat bisa lepas dari pekerjaan kotor dan mulai menata hidup.


Aku nyaris terkejut mendengar suara alarm tanda mobil terbuka. Anin menyalakan pengendalinya dari kejauhan ternyata. Kuinjak puntung terakhir dan menendangnya ke tempat sampah terdekat, sangat dekat sebatas selangkah di belakang mobil Anin.


"Dia udah ngebuka kuncian mobil, malah ngobrol dulu di sana," keluhku melihat keceriaan yang tampak jika dia berbicara dengan orang lain. Senyumannya memang lebar, tetapi sorot matanya tidak pernah bisa bohong. Anin sedih saat melihatku.


Peduli amat. Aku masuk lebih dulu di bangku penumpang dan sandarkan punggung. "Berapa lama lagi?" Panas kalau di dalam mobil tanpa pendingin udara. Mau buka jendela, teman Anin masih melihat.


Mobilnya Anin ini tergolong mahal untuk keluaran lama. Terawat. Andai aku bisa menyetir, mungkin bisa minta salah satu roda empat dari para tante yang menjadi pelangganku dulu, tapi ternyata otakku hanya sebatas mengendarai tubuh wanita.


Pintu di samping bangku kemudi terbuka. Anin merangsek masuk bersama tas-tas kertas yang langsung kupindahkan ke bangku belakang. Ini dianya yang bingung atau salah tingkah, sih? Padahal bisa lewat pintu belakang atau bagai sekalian.


"Apa?" tanya Anin begitu benar-benar duduk, melihatku tanpa terganggu hal lain.


Tanpa izin, kupeluk tubuh ringannya yang belakangan aku rindukan. "Hari ini kamu cantik." Kapan Anin tidak terlihat cantik? Tanpa riasan pun, dia mampu bangkitkan gairahku dengan aroma tubuhnya.


Anin mendorongku, tampak canggung karena dia menunduk saat bibirku hampir mendarat di bibirnya. Dia mengerjap, sementara aku tergelak. Apa ini masih masalah izin suami? Bukannya dia berkali-kali mendapatkan pelepasan dariku juga tanpa izin?


Aku kembali letakkan punggung pada sandaran bangku dan melihat tampilan Anin secara keseluruhan. Kemeja lengan panjang dan rok span selututnya sangat ingin kulucuti.


"Kamu ngerokok, Yo?" Pertanyaan Anin terlontar seiring deru halus mobil yang melaju.


"Enggak suka?" Aku berdecak dan mengambil permen dari saku celana jinku. "Biasa juga Tante enggak protes."


Anin tidak menggubris pertanyaanku di sepanjang jalan. Dia terus menyetir lurus, memutar lagi pada jalan yang sama.


"Enggak punya tujuan, Tan?" tebakku. Ya, semenjak pertengkaran di toilet kampus malam itu, Anin lebih dulu menghubungiku menggunakan nomor lain. Seperti biasa, dia hanya memintaku menemani berpergian, makan, tanpa bercerita seperti dulu.


Aneh sekaligus menyenangkan. Aku menyukai setiap momen bersama Anin tanpa membicarakan si tua brengsek itu.


"Mau ke tempat temanku?" Aku menawarkan diri sambil menunjukkan layar ponsel yang kukeluarkan untuk memanggil seseorang. Tadi waktu masih di kampus, aku ada ngobrol dikit di grup alumni sekolah dan salah satu kenalan membahas mengenai kabarku yang sudah lama tidak nongkrong di tempatnya bekerja.


Padahal di masa sekolah dulu jarang sekali aku mendapat teman dekat selain Aksa. Sekadar kenal, terus diajak ngumpul-ngumpul seperti Dean yang ternyata temannya si ini-itu dan ternyata masih dalam satu lingkaran pertemanan di kota ini. "Gengs! Gue ke tempat lo sekarang."


Tanggapan omelan di seberang memberi tanda setuju, kebetulan sif kerjanya baru dimulai. "Temanku sedang bertugas di sana. Kali bisa lihat-lihat. Sepi tempatnya, tapi Tante bakal takjub, deh."


"Oh, ya?" Anin mulai tersenyum setelah rengutan sepanjang jalan. Masalahnya, rengutannya itu pengin kusentuh aja gitu, kalau perlu sampai tidak ada jeda untuk bernapas.


Kuarahkan belokan yang perlu Anin ambil hingga menyusuri jalan tanpa belokan di sepanjang pinggiran kota. Sekali memutar, kami berbelok melalui jalur di luar kawasan bandara internasional, lebih tepatnya berhenti di depan terminal kargo yang berhadapan langsung dengan kantor pengelola penerbangan lokal.


Begitu keluar mobil, tanpa canggung kugenggam jemari Anin untuk mengikuti ke salah satu pintu milik ekspedisi lokal. Sedikit berlari karena langit semakin gelap.


"Hai, Ndra!" sapaku sambil menunjukkan wanita yang kubawa ke petugas yang tampak mengangkat dus besar. Aku membisikkan niat menunjukkan aktivitas lalu lintas udara dari pinggiran lapangan secara langsung dan diangguki si Andra dengan bayaran uang rokok.


Pesannya si Andra kutanggapi dengan cengiran. Segera kubawa Anin melewati lorong-lorong penuh barang-barang pengiriman dari luar daerah. Di ujung, pintu geser terbuka lebar menunjukkan cahaya lampu malam yang menerangi sekitar.


Suara pesawat yang akan mendarat begitu kentara dari bawah sini. Suara mesin dan angin kencang yang berembus sesekali membuat rambut Anin berkibar. Jalur pesawat dari luar terlihat begitu luas. Bisa dibilang kami hanya melihat sekelumit bagian, berjalan di pinggiran, melihat malam temaram yang diterangi cahaya menara suar.


"Kenapa ke sini?" Dalam remang, dia semakin menggairahkan. Pegangannya di tanganku semakin mengerat. Siluet lengkung tubuh Anin di antara paparan cahaya membuat imajinasiku menjelajah.


Aku mengedikkan bahu. "Hanya jalan-jalan. Aku lama enggak ke sini." Sesekali Anin perlu suasana berbeda untuk menyenangkan diri. Enggak mungkin aku dadakan mengajaknya bercinta dalam kamar hotel hanya karena ingin.


Bisa kulihat senyuman Anin di antara remang. Senyum yang mampu membuat tubuhku terasa lebih ringan melangkah. Kulepaskan genggaman, membiarkan dia terdiam kagum melihat paduan cahaya di sepanjang lintasan raksasa. Badan pesawat yang merentang terbang.


Lengan Anin kurengkuh seraya mengeratkan diri di belakang tubuhnya. Debaran jantung ini seperti berkejaran ketika menyesap aroma sepanjang lekuk leher Anin dan membiarkan bibir terdiam di pundaknya. Aku ... terbangunkan.


Anin menggerakkan kepala, nyaris menjauh. Namun, kubisikkan di telinganya, "Tante enggak pengin nyoba?"


Lenguhan diselingi deru mesin pesawat lewat. Anin menikmati sentuhan dari jemariku yang merambat naik, menahan wajahnya untuk menatapku langsung. Bibirku menyapu indra pengecapnya, lembut.


Tanpa balasan atau hasrat menggebu, kami hanya diam menikmati hangat yang melekat. Anin terpejam.


Kulonggarkan pegangan darinya dan mundur selangkah. "Maaf, Tan." Suaraku terdengar pelan dengan napas tak beraturan. Aku menahan gejolak yang semakin memberatkan kepala. Aku menginginkan lebih darinya.


Anin ternyata berbalik dan menggantungkan kedua lengan di leherku. Sial! Aku tida bisa mengendalikan diri jika melanjutkan ini.


Kucecap permukaan bibir, menyicipi manisnya dosa yang tak berpenghujung dari tautan lembut dan perlahan. Anin membalas perlakuanku dengan merapatkan diri.


Sekilas, aku takut dia rasakan ketegangan yang memberontak, meminta dikeluarkan. Tanpa perlawanan, jemariku yang mencengkeram pinggang Anin turun meraba permukaan kulit di balik roknya yang semakin naik.


Bisa kuraih celana pendek dan dalaman Anin, meloloskannya hingga lewati sepatu dalam sekali injakan. Anin tidak melepaskan cumbuanku pada bibirnya yang sangat telah menjadi candu yang tak pernah cukup.


"Lakukan, Yo."


Permintaan Anin mejadi perintah yang harus segera dituntaskan. Kuturunkan ritsleting jinsku dan mengeluarkan bukti gairah yang menuntut seraya menaikkan Anin dalam gendongan. Miliknya yang telah basah menelanku dalam-dalam. Keduakaki Anin melingkari pinggangku dengan mantap.


"Ah, Tante ...." Merasakan denyutan yang mencengkeramku, mampu loloskan satu pengikat menyakitkan di kepala.


Anin mengeratkan pelukan di leherku selama penyatuan. Dia terus melenguh, bahkan menggigit bahuku ketika telah sampai. Ini jauh lebih menantang dari permainan kami sebelumnya.


Lampu-lampu dari kejauhan sempat menyorot, mengejutkan. Mungkin para pengawas. Aryo sempat mengumpat dan aku spontan membalas tertawa karena harus melepaskan diri di antara deru napas yang saling menuntut.


"Dikit lagi, Tan." Aku mempercepat pergerakan, tetapi sorotan lampu yayg melintas langsung menurunkan libido.


Bergegas kuturunkan Anin dari gendongan, khawatir kalau penjaga yang patroli menemukan kami. "Ayo!"


Tidak kupedulikan apa pun yang tertinggal, kami berlari menuju lorong kargo masuk sebelumnya setelah memastikan tidak ada yang mengikuti.


Pekerjaan di ruang kargo terlihat lengang setelah si Andra menyelesaikan catatannya, tampak dari pergerakannya yag bersantai dan mulai membakar batang nikotin yang terselip di bibirnya.


"Pacar, Bas?" Dia baru mempertanyakan setelah kami akan pergi?


Kulepaskan pegangan pada jemari Anin dan memintanya pergi lebih dulu seraya menurunkan rok Anin yang ternyata masih berantakan meski tidak terlihat orang lain.


"Bukan." Aku duduk di pinggiran meja dan mengambil sebatang dari kotak yang tersedia. Isyarat gesekan ibu jari dan telunjuk Andra memaksaku keluarkan lembaran biru dari dompet ke dekat kotak rokoknya. "Bini orang."


"Gelo, bini orang diajakin ***** gratisan. Ke hotel sana biar empukan dikit." Justru karena sering ke hotel, makanya cari tempat lain.


Tapi, dari mana coba dia tahu kalau aku sama Anin lagi gituan? "Cuma jalan doang liat pesawat."


"Jelas-jelas basah gitu pahanya, lo mau ngelak?" Cerewet juga ternyata si Andra, padahal mulut sudah disumpal asap. " Itu ritsleting dipasang dulu."


Basah? Anin banyak keluar? Wow! Padahal dia sering ngaku seret bahkan sakit kalau sama si suami karena enggak mendapat rangsangan yang cukup. Denganku dia menikmati?


Aku tergelak, merasa istimewa meski belum mendapat pelepasan. Moga aja setelah ini Anin mau diajak melanjutkan. "Gue balik. Thanks, ya."


"Rajin-rajin aja."


Sialan! Bilang aja minta disogok lagi. Aku bergegas keluar, menyusul Anin masuk mobil sambil bertanya, "Mau langsung pulang atau cari tempat?"


"Yo, Mas Zaki sudah menunggu di rumah."