
“Poligami seperti apa yang dimulai dengan perselingkuhan? Kamu pikir aku bodoh dengan syariat?” Anin berteriak. Bisa kudengar suara barang-barang jatuh, atau mungkin dilempar?
Suara pria tua yang menjadi suami Anin juga tidak kalah keras. Syukur-syukur rumah Anin tergolong jauh dari para tetangga.
Kebiasaan para pemburu nafsu yang setahuku menjadikan landasan agama sebagai dasar pembenaran untuk menambah jumlah istri. Pernah dengar, sih, saat Dean mengundang ustaz untuk pengajian di rumahnya bilang, “Poligami itu dasarnya boleh, tapi menjadi haram ketika berbuat zalim.”
Tahu apa sih aku?
Jadi menertawakan diri sendiri yang sok tahu. Perbuatanku berkali-kali bersama Anin juga terhitung dosa, bukan? Kalau dalam hukum agamanya Dean, pendosa sepertiku bisa dirajam. Lempar batu sampai mati.
Aku berjongkok, berusaha seimbang pada penopang di dekat jendela biar bisa mendengarkan setiap teriakan yang membuatku menggaruk telinga. “Berapa lama lagi, sih?”
Mereka masih betah bertengkar? Apa mungkin kayak orang tuaku dulu? Bertengkar, bercinta, lalu bertengkar lagi biar bisa bercinta lagi. Gitu aja terus sampai goblok.
Kuraih kotak rokok di saku celana. Tinggal sebatang yang bisa dinyalakan. Pahit, manis, seperti hidup. Belum termasuk asapnya yang penuh racun.
“Kamu sembunyikan dia di mana?” Kalimat tanya dalam intonasi teriakan membuatku segera berdiri, merapat pada dinding. Dinginnya langsung menerpa punggung yang tak terlindungi. Takut juga, sih. Kayaknya suami Anin termasuk pria yang suka bermain tangan alias memukul.
“Apa sih, Mas?” Itu suara Anin yang terdengar menyangkal.
"Ini bajunya siapa?"
Aku mendesis, mengingat kaus yang tersisa di dalam ruangan. Tidak ada jawaban dari Anin. Kurasa dia terdiam menghadapi cacian dari pria sok suci itu.
Kuisap dalam batang tembakau pada selipan jari, embuskan perlahan ke udara. Pegal, mungkin. Hawa dingin di penghujung malam sampai berjumpa mentari juga mulai membuatku bersin.
Jendela kaca seolah menyeret terbuka. Aku hampir lompat dari lantai dua jika saja bukan Anin yang bicara. “Masuk, Yo. Mas Zaki sudah pergi.” Suaranya terdengar parau. Bisa kulihat rambutnya yang acak dan beberapa lebam di wajah, seperti yang kutemukan pada beberapa bagian tubuhnya saat bermain.
“Ini berlebihan, Tan! Enggak lapor polisi?”
Aku memaksa Anin melihat padaku setelah berada di dalam. Tampak aliran air mata yang masih basah, menambah keadaan miris. Anin menggeleng, mengetatkan selimut tipis yang membalut tubuhnya.
“Dia masih memaksakan diri?” Aku bertanya lagi, berusaha menarik selimut yang Anin kenakan.
“Dia melakukannya. Membayangkan wanita itu dan menyebutnya berulang kali.” Suara Anin begitu rendah, terucap bersama air yang mengaliri pipi. Lirih.
Terenyuh mungkin jadi kata yang tepat. Aku hanya tidak menyangka pria tua yang sempat berlutut pada Anin saat di parkiran dulu, ternyata berani melakukan kekerasan.
Begitu yang katanya memaksakan ibadah?
Aku bejad tapi tak terbayang harus menyakiti. Bahkan, melepas Kea adalah keputusan terbaik daripada bertahan dengan segala pertengkaran di masa lalu. Ternyata, kami justru nyaman menjadi teman. Lagi pula, duniaku terlalu mengerikan untuk dikenali. Yang kulakukan juga dosa. Beberapa kali menemui Anin hanya untuk memuaskan diri dan menerima bayaran.
Iya. Aku, brengsek yang dibayar dengan sadar. Enggak hanya itu. Aku juga menyukai permainannya. Namun, jika rasa yang tumbuh kentara terlihat, Anin akan menghentikan perjanjian secara sepihak.
Aku belum siap. Aku belum mau kehilangan.
***
“Aku mengajukan cerai.” Anin memulai pembicaraan setelah perbuatan terlarang kami yang ke sekian setelah kejadian menegangkan terakhir kali. Dia bersandar di dadaku dan menggerakkan jari, seolah melukis di antara rambut-rambut halus yang tumbuh jarang pada dadaku.
“Oh, ya?” Aku berusaha tercengang. Sebenarnya enggak kaget bakal kejadian sejak pertama melihat mereka bertengkar.
“Seperti katamu. Aku sudah melakukan visum, pemeriksaan dari perlakuan kasarnya terakhir kali. Itu bisa kujadikan bukti, alasan buat pisah.” Anin merapatkan jemarinya di tanganku, mengangkatnya naik ke langit-langit.
Senyumannya terpancar cerah saat bercerita. Tidak lagi penuh air mata seperti biasa.
“Hemmm ....” Anin memejamkan mata, seolah mengingat, “Nabastala. Nabastala Putera kan nama aslimu?” ucapnya begitu membuka mata, mendongak agar melihatku yang menjadi sandaran.
Buat kalanganku, nama asli adalah hal berbahaya. Kami bekerja tanpa diketahui orang-orang terdekat. Tentu saja bekerja sebagai gigolo adalah hal memalukan. Klise banget kalau ada makhluk sosial normal yang menerima masa lalu seorang lelaki bayaran.
Isu perceraian di ujung kompleks saja bisa tersebar sampai perumahan depan. Apalagi skandal dosen-mahasiswa. Bisa buat geger satu kampus.
“Aku melihat proposal skripsimu.”
Aku tak bersuara. Terdiam membisu. Hanya berharap Anin tidak memberitahu siapa pun. Kuraih helaian rambutnya, membelai perlahan sampai sudut bahu.
“Nama aslimu jauh lebih keren. Kenapa harus Aryo?”
“Biar kayak pangeran?”
“Bukan alasan yang bisa diterima.”
Aku memaksakan tawa. Berpikir jawaban apa yang sesuai untuk memuaskan rasa penasaran Anin.
“Apa, ya? Biar terdengar langka? Kebanyakan gigolo memilih nama kebarat-baratan. Aku kan anti mainstream.”
Anin memicing, masih tak percaya sebelum menertawakan. Rambut panjangnya kugerai di satu sisi agar lebih mudah menyesapi aroma dari tengkuknya, hal yang selalu mampu membuatku tergoda untuk melakukan lagi.
“Sudah berapa wanita?”
“Ah?”
“Yang membayarmu?”
Aku mengangguk pelan. Alih-alih menghitung, aku malah bilang, “Banyak.”
“Enggak takut penyakit?” Anin berbalik, menelungkup di atasku.
“Tante enggak takut penyakit?” Kubalik pertanyaannya.
Pekerjaan tersembunyiku mengharuskan pemeriksaan rutin. Setiap mendapat incaran baru, aku melakukan tes urin dan darah. Bukan cuma buat rekan baru, tapi juga kelangsungan hidupku sendiri.
Aku enggak mau mati muda karena penyakit menular. Mau enaknya, enggak mau sakitnya.
“Kamu yang memancing duluan, Yo.” Anin mulai bermanja. Dia merangsek masuk dalam selimut untuk menggoda.
Permainannya justru lebih lihai setelah beberapa kali kuajarkan. Seperti ledakan yang selalu harus diredam.
Aku mengikuti kemauannya yang jauh lebih liar daripada awal bermain, bergegas setiap kali menerima panggilan yang semakin sering.
Berarti, bukan salah Anin jika pernikahannya hambar. Seharusnya suami Anin yang berusaha untuk lebih kreatif. Bukan justru mencari pelarian ke luar dengan dalih enggak enak.
Wanita seperti Anin, sudah membantu nyari nafkah, mengurus rumah, merawat diri, masih dikatain konservatif dalam berhubungan? Kurang belajar di atas ranjang.
Pola pikir suaminya itu yang harus dibedah. Bukan Anin yang harus selalu menerima perlakuan kasar. Percuma punya istri lain jika hasilnya akan tetap sama nantinya. Apalagi dengan alasan anak. Memang yang di sana juga sudah punya anak?
Ah, aku harus menelan pertanyaan mentah-mentah. Perjanjian mengharuskanku menahan diri untuk tidak penasaran dengan hal selain yang bakal Anin bahas.
Pada dasarnya aku hanya mencicipi duka para wanita, menghapus air mata, dan mengganti kesedihan mereka dengan tawa. Hal yang tidak bisa para suami lakukan.
Apa salah?