
Kata orang, move on itu bukan melupakan, tapi menghadapi. Cuma kalau hari-hari ketemu Anin, bagaimana mau move on?
Sebenarnya kami beda fakultas, sih. Kebetulan belakangan kami sering berpapasan terus di koridor fakultas. Enggak satu-dua kali dia menemui dosen--yang membimbingku untuk urusan skripsi--dalam kurun waktu seminggu.
Masalahnya, beberapa minggu setelah kejadian terakhir, dia memblokir semua kontakku, dari telepon sampai media sosial. Padahal permainan terakhir kali di rumahnya waktu itu sangat menegangkan. Kalau ikut perjanjian, rasanya enggak mungkin menegur Anin langsung di depan umum. Apalagi aku bukan mahasiswa mata kuliah yang diajarkannya. Berbahaya untuk bayaran dalam kontrakku.
“Kamu kenal sama ibu tadi?” Pertanyaan Kea menyadarkanku dari lamunan. Padahal cuma karena melihat Anin lewat tanpa menoleh.
Terkesan sombong, tetapi yang kutahu Anin tidak suka membuang waktu untuk basa-basi di luar kalangannya. Seperti caranya mengabaikanku pertama kali.
Ah, menunggu antrean konsultasi sama dosen pembimbing kayak gini kadang butuh tenaga lebih. Apalagi kalau dosennya tergolong famous macam Pak Dandy, selain mengambil bimbingan skripsi juga menjadi sasaran permintaan tanda tangan dekan. Kursi-kursi di ruang tunggu dekanat jadi penuh semua.
Coba dosen pembimbingnya perempuan, mungkin akan lebih mudah bagiku berkelit dan menggoda. Tapi melihat lagi model-model dosen perempuan di fakultasku yang sebagian besar tampak sangat berumur, kayaknya bakal susah juga mendapat jalan pintas kelulusan. Enggak bakal bisa dinego dengan permainan.
Ketika giliran Kea mau konsultasi, ternyata Pak Dandy sudah siap mengajar lagi. Rese, kan? Segitu perfeksionisnya bapak dosen sampai harus ditungguin demi cepet lulus. Enggak cuma aku yang kecewa, tetapi para pengantre setelahku turut berkeluh kesah.
“Jadi?”
Kea mengangkat bahu sekilas, menanggapi pertanyaanku dengan tanda tidak tahu.
Tahu gitu kan milih main ke kafenya si Dean. Teman seangkatan kami yang sejurusan setanah air. Dia milih menunda skripsi demi mengembangkann usaha. Investasi katanya.
Ada-ada aja si playboy kacang.
Kulirik Kea, iseng nanya, “Ke, Dean baru opening. Main ke sana?” sambil mengekor keluar gedung dekanat menuju mobilnya. Butut. Model kodok warna biru.
Wajah Kea menekuk, terlihat masih suntuk karena patah hati ditolak konsultasi sama bapak dosen.
“Temenin aja, Ke. Itung-itung ubah suasana.”
Akhirnya Kea mengangguk dan membuka kunci pintu. Tentu suasana baru juga buatku jalan sesekali ke tempat berkumpulnya anak muda, mencari pengalihan dari patah hati karena hal lain, daripada main sama tante-tante mulu.
Gadis itu lihai melintasi kemacetan, meski harus cari pegangan saat dunia mengguncang. Eh? Cuma bisa geleng kepala kalau menyaksikan kemampuan Kea ngebut. Kapan dia bisa benar-benar feminin?
“Bas. Kamu enggak bilang sama Ibu kalau kita sudah putus?” Dia bertanya di sela perjalanan ketika suasana sudah lengang.
Aku menggeleng. Sebenarnya lebih ke enggak mau bilang meski kejadiannya sudah lama sekali.
Ibuku bukan tipe yang bakal ngelepas anaknya dengan mudah untuk keluyuran apalagi bermalam. Kalau bilang putus, nanti aku jadi enggak punya alasan keluar rumah selain masalah futsal atau tugas.
“Kadang nanya kamunya tidur di tempatku atau keluyuran. Aku enggak enak, Bas. Entar dikira kumpul kebo lagi. Kebonya aja enggak mau sama kamu.”
Aku meringis. Lucu. Aku tuh sudah lebih dari dua puluh tiga, masih ... aja sering diawasin. Kalau enggak matiin ponsel, bisa bunyi terus sepanjang malam karena panggilan Ibu. Cuma dengan beralasan izin menginap sama keluarga Kea baru bisa tenang dari rentetan pertanyaan.
Nginap? Aku sama Kea tuh enggak pernah satu kasur. Orang tuanya lengkap di rumah dan sepakat menyediakan kamar terpisah kalau aku menumpang tidur. Apalagi pas masih pacaran. Sampai berisik gara-gara tanding Crusader1, dikira para orang tua malah tanding di atas kasur.
Kebayang gimana ribetnya pacaran dengan Kea. Mau cium aja dulu itu harus izin dulu. Keburu hilang nafsu. Belum pernah kesampaian.
“Yee... malah disamain dengan kebo.”
“Padahal kamu cowok yah, Bas. Tapi malah Ibu yang jadi overprotective.”
Aku mengangguk, mengiakan. Jadi anak sulung memang enggak mudah. Apalagi kalau manusia yang seharusnya jadi kakak tertua lebih dulu pergi karena penyakit. Enggak hanya itu, masih ada alasan lain yang bikin Ibu benar-benar ngejagain aku.
Kea memutar kemudi, berhenti di depan deret pertokoan. Salah satunya berkonsep rooftop. Diapit distro dan toko roti. Jadi, kafe milik Dean berada di lantai tiga, dua lantai bawah disewakan untuk ruang meeting atau semacamnya. Kurang lebih, dominasi pagar kayak outdoor. Bedanya, old style yang diusung menggunakan palet-palet kayu sebagai furnitur utama.
Bagaimana aku tahu?
Anggaplah karya besar ini bentuk euforia anak muda yang belajar perencanaan dalam mencari rupiah. Tepatnya, aku yang desain.
“Cakep, ya?” Kea saja terpukau begitu menaiki anak tangga dan memperhatikan setiap detail. Tidak ada lukisan makhluk hidup, hanya permainan bingkai kayu dan kain batik berhias sospeso2.
“Aku cakep? Pasti.”
“Dodol dipiara! Jamuran entar!” protes Kea begitu mendengar sifat narsisku kembali menyeruak, hampir melayangkan pukulan ke kepala.
“Kamu juga sempat suka.”
Siapa sih yang enggak suka gratisan? Selama bukan racun gratis.
“Welcome, My Man!” Dean langsung memberi sambutan begitu melihat kedatanganku bersama Kea. Salam genggaman tangan dan menabrakkan bahu seperti biasa.
“Yang kemarin mana?” Pertanyaan Dean cukup membuat Kea mengernyit heran. Kea pasti bakal bertanya panjang kalau pulang bareng setelah acara karena lambe si playboy.
Aku memberi isyarat gelengan dan pelototan pada Dean biar enggak ngelanjutin. Mulutnya itu sering terang-terangan kurang ajar kalau enggak ketemu cewek.
“Padahal lumayan lama dari yang sebelum-sebelumnya.” Dean malah melanjutkan, menahan tawa.
Sial!
“Sebelum-sebelumnya?” Kea menoleh padaku dengan sengit. Anj*ng emang si Dean.
“Nabas enggak pernah cerita?”
Aku memijat pelipis yang mendadak nyeri. Enggak perlu lah orang lain tahu apa yang kujalani. Kea menggeleng pelan. Sesekali menatap takjub karena baru tahu mantannya ini sering berganti pasangan.
“Aku perlu minum.” Kuhindari interogasi, membaur dengan kerumunan yang berebut hidangan.
Mungkin Kea bakal bertanya lebih jauh. Sayang, Dean tidak pernah tahu yang sebenarnya terjadi. Dia hanya tahu aku selalu membawa pasangan yang berbeda meski tidak mengenalkan mereka sebagai pacar. Dan aku, tak tahu jika dalam keramaian bertemu lagi dengan salah satu dari yang sebelumnya.
“Aryo?” Wanita yang mengambil beberapa tusuk sosis bakar menghampiri. Lebih tua dari Anin. Rambutnya pendek hampir mendekati telinga. Blus biru muda dengan belahan rendah berpadu jin ketat mampu samarkan usianya yang ... dua kali lipat dariku.
“Hai! Calys?” Aku berusaha terlihat terkejut dengan menaikkan telapak tangan sebatas bahu.
Tidak sengaja bertemu dengan mantan pelanggan bukanlah hal baik. Hampir saja aku menghindar, mungkin ke toilet atau pulang lebih dulu dengan alasan tidak enak badan. Sayangnya, aku ditemukan.
Apalagi kalau Dean atau Kea tahu, mereka yang sebelum-sebelumnya bukan pacar, tapi....
***
“Kamu masih jualan?” Calys mengekor, membawa sepiring penuh camilan berbahan dasar cokelat.
Aku hanya membawa soda yang bisa diisi ulang jika habis. Sempat kuberi isyarat telunjuk di ujung bibir untuk membuatnya diam, tidak membahas soal bisnis masa lalu. Jualan dalam istilah kami lebih sebagai penjaja diri dan itu sulit diterima sebagian besar masyarakat yang sok bermoral.
“Sudah enggak, Yo?”
Kusunggingkan senyum yang begitu tipis, memaksa anggukan. Di sudut rooftop, Kea masih berbincang dengan Dean dan beberapa relasi. Mungkin bisa buat Kea belajar mengenai komunikasi, mengingat dia terlalu aktif, nggak bisa bertahan untuk mendengarkan lebih lama. Bicaranya egosentris3.
“Pacar?” Calys masih belum menyerah mengajak bicara.
“Mantan.” Aku menyesap lagi soda di gelas, berpikir soal hubungan aku dengan Kea di masa lalu. Ketika dia belum mengerti berpenampilan seperti sekarang.
Dulu, Kea bisa dibilang jauh lebih tomboy. Kaus dan celana selutut. Aku enggak perlu khawatir untuk berdekatan dengannya. Paling banter kami bakal tanding Crusader kalau ketemu di rumahnya.
“Masih sayang?” Calys terus bertanya di sela acara makannya. Ternyata dia memperhatikan. “Duduk sini, Yo.”
Dia menarikku, menemaninya bersantai di bangku panjang yang menghadap bar sudut.
Menunduk dan menertawakan, aku menjawab, “Sudah enggak. Enggak bisa diajak naik.”
Calys menertawakan alibiku. “Bohong banget. Cowok kalau sayang malah enggak berani main-main, Yo. Jelas kamu masih ngelihat dia.”
Ah, bener enggak, sih?
Enggak kayaknya.
Dibanding Kea, aku merindukan Anin. Wangi dan hangatnya tubuh Anin yang mampu memelukku sepanjang malam, termasuk denyut yang memeras gairahku.
Sayang, sejak bayaran terakhir, dia menyingkirkanku seperti sampah.
***