
“Apa bedanya aku dengan si bangkot itu kalau menerima ajakanmu?” ucap Anin saat menamparku. Dia menolak tawaran ketika aku berhasil memojokkannya di meja wastafel dalam toilet perempuan.
Tidak peduli dengan ancaman pelecehan, aku mengikutinya masuk. Toh, Anin tidak berteriak meski setiap permukaan kulitnya telah kusentuh. Tentu saja kampus sudah sepi ketika kelas malam berakhir dan aku menemukan dia baru keluar dari kelas setelah semua mahasiswa pergi.
Aku tergelak. “Jelas saja beda. Bukankah kukatakan jasaku ini tidak gratis? Dia berselingkuh, sedangkan kamu membayarku.” Embus napasku masih membelai sudut telinganya.
Susah payah menahan diri lakukan hal lebih dari rengkuhan meski nyatanya tubuh ini butuh, meski kejadian terakhir menyakitkan hati karena dia menginginkan hubungan kami berakhir.
Bisa kulihat Anin menutup mata, mengeratkan genggaman tangan di pangkuan yang memberi jarak di antara kami. Bibirnya bergetar tanpa ucapkan kata.
“Tante tidak menginginkanku lagi?” Aku mundur perlahan, menurunkan pandangan. Tubuhnya seolah berusaha menolak keberadaanku dari dorongan lemah di dada.
“Aryo ....” Dia memanggil nama palsuku dengan lirih ketika punggungku bersandar pada sisi lain, menatap mata gelapnya yang membuka perlahan.
“Bisa kita hentikan ini?”
Aku menunduk, mendengar permintaannya. Sudut sepatuku seolah tak mampu berhenti mengetuk lantai selama berpikir.
“Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Tan.” Aku menggeleng, tak terima. “Apa karena ucapanku?”
“Aryo .... Kamu sudah tahu. Ketika hubungan ini sudah melibatkan perasaan, kita selesai.”
Perasaan? Dia menganggap aku menyimpan perasaan lebih padanya hanya karena penyatuan kami berkali-kali?
Aku menggeleng lagi ketika mendengar penjelasan Anin. Ya. Dia membahas salah satu klausul dalam perjanjian di atas kertas itu. Saat tanda tangan, kupikir rasa yang menggelayut hanya sebatas penasaran pada tubuhnya. Bermain hingga aku sendiri terjebak dengan simpati yang mendalam. Ternyata dia berharap aku memiliki setitik kasih sayang di sana.
“Tante ingin aku membunuh rasa ini?”
Anin tidak menjawab, tidak juga melihatku. Dia sibuk memperbaiki blus dan blazernya yang sempat acak karena ulahku yang tidak sabar mencari titik lenguhnya.
“Kita selesai, Aryo. Bukan cuma karena kamu, tapi aku juga tidak bisa menahan diri.”
Kulihat Anin berusaha menatapku sesaat, bahunya yang bergerak seolah menarik napas, lalu menatap cermin wastafel, mematut diri. Mungkin memperbaiki riasan.
Sementara itu, pikiranku masih menelaah tiap kata yang diucapkannya. Tidak bisa menahan diri. Artinya dia mengharapkanku, bukan?
“Aku tidak ingin tenggelam, Yo. Aku takut.”
“Kenapa Tante memblokirku?” Pertanyaan yang terlintas begitu saja ketika bicara membuat Anin meremas jemarinya di pinggiran wastafel.
Aku mendekat karena dia tak kunjung bicara.
Anin menggeleng. “Aku bahkan tidak memegang ponsel,” ucapnya. “Mas Zaki mengambil paksa semua yang dia inginkan sebelum angkat kaki dari rumah,” lanjut Anin.
Aku tercengang, menyadari mungkin ada hubungannya dengan labrakan beberapa hari yang lalu.
“Lalu, ada apa denganmu? Kenapa kita harus selesai?”
Anin menggeleng lagi. Kulihat dari pantulan kaca, dia menunduk. “Temukan gadis lain, Yo. Jangan aku.” Berulang kali kuminta penjelasan, Anin selalu menjawab hal yang sama. Aku jenuh.
Kekesalan membuatku melangkah keluar, membanting pintu tanpa peduli menyakiti. Pekerjaan ini bukanlah tempat untuk perasaan. Bukan letaknya hati untuk berlabuh.
***
“Kenapa enggak beli kendaraan sendiri?” Aku langsung melotot pada Dean. Sedetik kemudian mengernyit, memikirkan tanggapan Ibu soal anaknya yang selalu dianggap pengangguran, nyusahin orangtua karena biaya kuliah yang enggak murah.
“Hasil desain kemarin kan sudah ditransfer. Lumayan buat uang muka.” Dean memutar kemudinya, berbelok ke arah kafe yang baru buka beberapa minggu terakhir. Masih ramai.
“Beli cash juga bisa gue.”
“Sombong! Duit dari mana lo?”
“Ada.”
Hampir kelepasan bicara. Aku lebih dulu keluar dari mobil berlambang kuda milik Dean begitu tiba di parkiran daripada interogasi berlanjut. Aku berteriak, “Gue naik duluan!” sambil berlari menelusuri tangga.
“Hai, Yo!” Calys menyapa lebih dulu ketika aku mengambil salah satu kursi kosong di dekat mini bar. Aku juga baru tahu kalau janda satu anak itu menjadi pemasok utama bahan makanan di kafe Dean. “Lihat selera pasar,” katanya.
“Hai! Sendiri aja?”
“Aku bawa teman loh, Say.” Dalam hati ingin mengumpat sayton, tapi cuma berakhir menahan tawa. Kebiasaan orang pemasaran, bicaranya selalu terdengar bersahabat.
Kalau kubilang, suara para wanita yang bergerak dalam bidang marketing itu terdengar khas, lebih menggoda. Sayang bukan seleraku.
“Seumuran?” Calys mengangguk. Dia mengekori langkahku saat mengambil gelas berisi campuran buah dan vod*a dari bartender yang bertugas.
“Seumuran Tante apa seumuranku?”
Kursi sebelumnya ternyata telah ditempati. Mau enggak mau aku bersandar pada pembatas di salah satu sudut.
“Tengah-tengah lah, ya.” Calys masih mendekat, mengambil gelas yang isinya telah kuminum separuh.
“Enggak mau di tengah, Tan. Nanti malah aku jadi korban kayak dulu itu.”
Aku berpura-pura bergidik ngeri, membuat Calys tergelak.
“Aku enggak ngajak kamu main, Yo.”
“Oh, enggak. Kirain.”
Bercanda aja sebenarnya. Cuma, para wanita suka jika lelaki yang mereka ajak bicara menunjukkan ekspresi yang diinginkan. Nyatanya, cowok selalu salah. Berbeda jika konteksnya lelaki dewasa yang selalu dianggap pemimpin. Apalagi yang arogan dan otoriter.
Jadi kebayang gimana Anin menghadapi perceraian ke depan. Dari cerita Anin saja, terdengar mengerikan.
“Lo kenal?” tanya Dean yang baru bergabung setelah mengurus keperluan di kantornya. Mungkin tanda tangan kontrak baru bersama beberapa manajer bintang tamu yang akan tampil atau tanda kutip.
Di kota besar, lelaki seperti kami tergolong aktif dalam hubungan ranjang, tapi belum ingin terikat. Yah, aku tahu sekelumit dari hidup Dean. Namun, dia tidak mengenal sisiku yang berbeda.
Aku mengangguk perlahan, ragu untuk mengatakan iya. “Wow! Bisa kenal di mana? Gue aja ngontak dari nyokap.” Spontan Dean terkejut. Berarti aku salah langkah jika mengangguk.
“Enggak inget. Nyokap tiri lo?”
Dean tergelak, menghindari pertanyaanku dengan pengalihan. “Lo tau, Bas? Calys itu seksi banget—”
“Dara mau lo ke manain?”
Aku langsung memotong pembicaraan ketika Dean mulai berimajinasi. Bisa jadi kalau mereka dekat, bakal berlanjut. Calys sangat menyukai sentuhan.
“Dara mau gue nikahin.”
Aku jelas kaget. Hal yang mustahil mendengar Dean, si playboy kampus bilang mau nikah. “Lo ngehamilin anak orang?”
“Ya enggaklah! Gue kan always safe, Bro.”
Salah kalau ngomong sama Dean. Dia lebih ahli dalam hal menggoda.
Aku berbalik, menatap langit kota yang sendu. Bintang di cakrawala remang, tertutup cahaya dari bumi. Kunyalakan batang tembakau yang tersisa dari kotak di saku. Sekadar mengasap, melepas kesal.
“Nebeng.” Dean mengambil rokok dari jemariku, turut menghisap sebelum mengembalikannya lagi.
Tanpa canggung kuhisap lagi. “Sialan lo, De! Basah filternya!”
Dean tergelak, karena melihatku tetap mengisap meski mengumpat. “Kebiasaan lo! Ini filter, De! Bukan mulut cewek!”
Dean menghela napas sedalam mungkin. Sepertinya dia ingin bicara serius.
“Jujur aja, Bas. Lo sering minta jemput karena lagi enggak akur sama Kea, kan?”