
“Harusnya Anda yang bisa jaga baik-baik istri Anda!” Aku berusaha membela diri ketika mendapat pukulan dan hujatan berkali-kali dari pria tua di depan umum seperti ini.
Hal yang kukhawatirkan terjadi. Suami Anin melabrakku di area parkir kampus. Dulu kukira yang beginian cuma terjadi di sinetron atau cerita fiksi. Atau seenggaknya hanya dilakukan para perempuan yang berebut lelaki kaya. Nyatanya, aku ngalamin.
Masalahnya, aku dipukul tepat di depan Kea. Apa yang bakal Kea pikirin kalau mendengar segala tuduhan dari suami Anin?
Zaki—suami Anin—hampir melayangkan pukulan lagi jika saja Kea tidak merentangkan tangan di depan, melindungiku. Kepalan tangannya berhenti tepat di depan kening Kea.
"Brengsek!" Kudengar umpatan meluncur cepat. Tidak hanya mengucilkanku, tetapi juga menjelek-jelekkan Kea dengan kata-kata tidak pantas.
“Enggak apa-apa, Ke.” Kutarik Kea ke belakang punggungku seraya menegakkan tubuh dan berdiri mantap. Sambil berkacak pinggang, kulontarkan segala yang memenuhi kepala, “Istri Anda terlalu rapuh. Harusnya Anda menjadi bahunya bersandar. Imam yang benar. Bukan malah cari yang lain. Anda bodoh atau sinting? Anda nyari kambing hitam setelah air matanya justru terhapus oleh orang lain?”
Lebam di wajah tidak menyurutkan gelak yang ingin aku suarakan. Aku menertawakankenyataan di depan mata. Lelaki tua itu menatap nyalang padaku, tetapi tidak melanjutkan amarah yang masih tampak.
Tidak dengan raut yang kulihat di wajah Kea. Genggamannya di lenganku gemetar, dingin. Bisa kulirik dia menunduk, mengucap namaku berulang kali agar berhenti.
Zaki melihat sekeliling. Dia mungkin tidak tenang dengan keramaian. Padahal dia yang mengajak gelut duluan, tapi malah jadinya malu sendiri.
Aku? Terlanjur. Dia membongkar perselingkuhan istrinya sendiri di ruang publik. Sedangkan aku, mungkin saja terlupakan setelah menghilang dari kehidupan kampus. Siapa sih yang kenal Nabastala di antara ribuan mahasiswa?
Enggak banyak, kecuali ada yang memviralkan di media.
Kualihkan buket bunga--buket yang dia berikan setelah pengumuman kelulusan sidang skripsi--di tangan pada genggaman Kea, menggantikan ketenangan jika aku harus menghadapi Zaki. Setidaknya, aku lega jika harus membongkar keluh yang mengakar di benak. Seenggaknya satu per satu beban di hadapan telah selesai, salah satunya kelulusan.
Kulepas jas hitam yang membalut kemeja di tubuh sementara mendengar ocehan panjang dari Zaki yang lebih parah dari tukang gosip ngumpul di depan rumah. Sepertinya dia ingin membela diri dengan mengucapkan keburukan-keburukan Anin. Apa gunanya? Biar aku membenci dan membalas? Atau aku harus menjauhi Anin yang membutuhkan perlindungan?
“Enggak perlu Anda bongkar aib rumah tangga di sini. Malu, Pak. Sudah tua. Harusnya Anda mikir bahagiain istri sendiri daripada cari yang baru.”
Zaki kembali emosi mendengar kalimatku yang tidak berhenti pada satu kalimat seraya menunjuk-nujuk wajahnya. Dia maju dan hampir melontarkan tinjuan lagi jika saja pihak keamanan kampus tidak datang dan membubarkan kerumunan. Pria tua itu pergi sambil mengumpat. Tidak introspeksi kesalahan sendiri. Padahal wanita tidak akan mencari kehangatan yang lain jika pemimpinnya mampu memberi kenyamanan.
“Kamu enggak apa-apa, Bas?” tanya Kea begitu aku berbalik menghadapinya.
Kubalik pertanyaannya. “Kamu enggak apa-apa?”
Jelas sekali Kea masih tidak tenang. Bibirnya bergetar memucat. “Tadi itu apa, Bas?” Tatapan Kea tidak tertuju padaku, dia menghindar.
“Tadi itu orang, Ke.” Kuraih lengannya, tetapi Kea mundur, menolak peganganku.
“Bukan waktunya bercanda, Bas!” Kea mengempaskan buket bunga ke wajahku dengan gusar. “Itu jelas-jelas suami orang protes istrinya selingkuh sama kamu! Kamu enggak mau jelasin?”
What? Apa yang perlu aku jelasin sama cewek yang tidak punya hubungan dekat denganku selain teman?
Aku menggaruk sudut pelipis setelah mengambil buket bunga yang Kea lemparkan. Masih belum rusak ketika digenggam. Kukatakan, “Iya. Suami orang. Siapa bilang monyet?” sambil menertawakan kemungkinan bakal diiterogasi lebih lama.
Aku menyusul setelah memastikan waktu yang Kea butuhkan untuk bernapas. Duduk di sebelah Kea justru terasa memanas meski jendela telah dibuka selebar mungkin. Belum ada tanda pergerakan, hanya duduk diam menghadap ke luar, saling membisu hingga Kea memulai pembicaraan.
“Apa yang aku enggak tahu dari kehidupan kamu, Bas?”
Aku menoleh, memperhatikan jemari Kea yang mengerat pada kemudi. Mesin belum juga dinyalakan, sedangkan aku ingin mengeluhkan pendingin mobil yang sangat diperlukan untuk mengeringkan peluh di sekujur tubuh. Hari ini mengerikan.
Bibir Kea bergetar seolah masih ingin bertanya, tapi aku lebih dulu memotong, “Bisa enggak kalau kita jalan aja dulu?”
“Bas! Aku enggak bisa kalau kamu belum jelasin semuanya!” Kea memukul kemudinya sebelum mengalihkan pandangan. Tatapan berharap yang pernah membuatku terpana di masa lalu kembali tertuju padaku.
Bukan saatnya terpesona. Kea butuh penjelasan.
“Apa yang harus kujelasin, Ke? Penjelasan mengenai aku yang terus berganti pasangan? Aku yang dibayar sebagai penghibur? Atau istri orang yang menjadi teman tidurku?” Intonasiku turut naik. Spontan mengeluarkan keseluruhan rahasia yang selama ini kujaga darinya. Berusaha tenang selama pertengkaran tidak lantas membuatku mampu terus menahan diri.
Kea memegangi kepalanya, antara bersandar atau bertumpu di kemudi. Sedangkan aku berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin agar tidak terbawa emosi dengan menopang lengan di jendela mobil.
“Sejak kapan, Bas?” Pertanyaan Kea merendah tanpa menatapku. Jelas kekecewaan dalam getir yang terdengar dari nada suaranya.
“Setelah kita jadian." Aku turut mengikuti rendah intonasi di antara kami dengan lebih tenang, meski debar jantung ini masih berkejaran.
“Bagus kayak gitu, Bas?”
Aku menggeleng, entah dia melihat atau nggak. Kuturunkan sandaran lebih rendah biar menatap langit-langit mobil.
“Ibu percaya padaku, Bas. Tapi, aku malah berbohong demi nutupin dosa kamu.” Kea membahasnya, jasanya selama berteman denganku setelah kami bubaran.
“Aku bisa apa, Ke?” Kuembuskan napas dengan kasar, lebih mirip mendengkus. Kedua tanganku bersilang di depan dada setelah letakkan buket pada celah di antara kami. Bentuknya berantakan, seperti kami saat ini.
“Berhenti, Bas. Berhenti.” Suara Kea yang bergetar diiringi isakan. Dia menutup wajah di kemudi.
“Ke ....” Aku berusaha bangkit dan meraih bahu Kea.
“Jangan sentuh aku, Bas!” tolak Kea. Dia menepis uluran tangan.
"Ke?" Merasa percuma. Aku keluar, membanting pintu mobil karena diabaikan. "F*ck!”
Kukenakan lagi jas hitam yang sempat membuat gerah. Aku melangkah menjauh dari parkiran dan menghubungi Dean. Anggap aja lagi butuh teman. Kali dia mengajak hangout. Bersyukur ketika takdir masih berpihak padaku. Dean mengajak pergi dan menyuruhku menunggu di depan dekanat.
Kampus sudah mulai sepi di penghujung hari. Mungkin setelah senja akan ramai lagi dengan kelas malam ketika pergantian jam perkuliahan.
Di kejauhan, mobil Kea sudah tidak lagi berada di parkiran. Tinggal aku menunggu, mengisap tembakau, merenungi kesepian.