
“Anak-anak besok kita akan ulangan, jangan lupa untuk belajar.”, Pak Berkat meninggalkan kelas dengan wajah sumringah. Tampaknya proses pembelajaran hari ini berjalan lancar. Hari ini adalah hari pertama Vechia mengajari Zhiel lagi. Seperti biasanya Vechia menunggu jemputan dari sepupunya. Namun tak disangka dia melihat pemandangan yang menyayat hati, pasalnya Albert, pria yang disukainya sedang berduaan dengan Dinda. Mereka terlihat sangat serasi. “Aku cemburu, benar-benar cemburu.”, Vechia pergi meninggalkan pemandangan yang mengesalkan untuknya. Dengan hati hancur Vechia meninggalkan sekolah itu dan memilih menunggu di depan gerbang sekolah. Vechia menggerutu sendirian melampiaskan segala kekesalannya. “Dasar laki-laki, omongannya tidak bisa dipercaya. Aku tak akan pernah lagi mengharapkan yang namanya laki-laki. Andai saja ada orang yang mengerti segala yang aku rasakan aku pasti tidak akan sesedih ini. Alice mana lagi, aku ingin bicara padanya.”, kesal Vechia menahan linangan air di matanya. Sementara itu Zhiel yang baru selesai mendapat pelajaran dari pak Maestro terlihat tertekan. Mungkin karena hari ini semua tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. “Hei, aku lelah.”, celetuk salah satu temannya. “Sama aku juga sahut yang lainnya.”, Zhiel tak ingin menanggapi mereka karena dia terlalu lelah. “Oh, bukankah itu pria yang bersama Kak Vechia.”, pikir Zhiel ketika melihat Albert bersama seorang wanita yang belum dikenalnya. Zhiel mengambil motornya dan langsung keluar dari sekolah. Namun dia menghentikan laju motornya ketika melihat Vechia sedang duduk sendirian di bawah pohon. “ Kak Vechia?”, Zhiel menghampirinya dan Vechia segera berdiri, “Azhiel? Kamu baru pulang?”, tanya Hana basa-basi. “Kakak nunggu jemputan ya? Bareng aku aja yuk, tapi apa Kakak ada masalah ? Kakak terlihat tidak sedang baik-baik saja.”, Zhiel memperhatikan raut wajah Vechia yang tampak lelah. “Ah tidak, aku baik-baik saja. Tapi benar nih kamu mau ngantar Kakak pulang?”, tangannya mengusap ramput pendek Zhiel , Zhiel senang karenanya. “Tentu saja, ayo Kak!”, seketika raut wajah Zhiel jadi senang. Diam-diam Vechia bersyukur karena Zhiel datang tepat pada waktunya. “Zhiel kamu sangat baik.”, batin Vechia.
Zhiel mengendarai motornya dengan hati-hati. “Zhiel, bagaimana pelajaranmu hari ini?”, tanya Vechia. “Biasa saja Kak, tapi aku selalu mendapat kesulitan saat belajar.”, jawab Zhiel. “Ah masak, tapi Kakak denger kamu sangat pintar di kelasmu.”
, “Ah, siapa bilang Kak? Aku biasa saja kok.”, jawab Zhiel malu-malu.
“Ada deh, guru-guru juga banyak yang bilang kayak gitu. Makanya Kakak merasa beruntung bisa ngajarin kamu.”, sahut Vechia lagi.
Dan tanpa disadari mereka, Albert berada di belakangnya. Albert melihat Vechia tersenyum senang dibonceng oleh Zhiel dan itu membuatnya kesal. Lain Albert, lain pula Azhiel. Dia merasa senang sekali hari ini. “Kak, jadikan belajar hari ini? Aku ada tugas nih.”, Zhiel mengendarai motor dengan hati-hati dan konsentrasi. Tapi Vechia tak menjawabnya karena matanya tengah tertuju pada sosok Albert yang sedang mengendarai motor di belakangnya. “Albert?”, desah Vechia namun bisa didengar oleh Zhiel.
Penasaran diapun melihat di kaca spion. Dilihatnya Albert tengah menatap , “Dasar bajingan!”, umpat Zhiel dalam hatinya. Vechia tak dapat memalingkan matanya dari Albert namun dia tak bisa terus begini. “Kak?”,
Arjun mencoba menarik perhatian Vechia. Setelah beberapa kali dipanggil barulah Vechia menanggapinya,
“I.. iya? Ada apa el?”,
“Jadikan kita belajar hari ini?”,
“Iya, jadi.”
, Vechia tersenyum lagi padanya namun hatinya masih memikirkan Albert yang sudah mendahului mereka.
“Kak, belajarnya di mana? Di rumah Kakak, atau rumahku?”, tanya Zhiel.
“Jangan di rumah kakak ya, orang-orang di sana suka iseng.”
, “Oh, kalau gitu di rumahku saja. Sekalian aku kenalin sama Mamiku. Tapi apa Kakak sudah bilang sama Mamanya Kakak?”
, “Iya gampang nanti tinggal Kakak Wa kan aja...”,
“Kalau gitu let’s go to my house...”, teriak Zhiel penuh semangat.
“Let’s go.”, sahut Vechia tak kalah semangat.
“Ini, Kak Vechia Mam, dia ini yang ngajarin aku, gimana baik kan?”,
“Iya, juga cantik.”,
“Ah tante bisa aja, aku jadi malu.”, Vechia malu karena dipuji.
Mami Zhiel pun mempersilakan mereka masuk.
“Oh iya Vechia, menurut kamu Zhiel itu gimana sih? Pasti anaknya bandel sekali ya?”,
“Oh nggak juga Tante, anaknya baik kok.”, sementara kedua perempuan itu ngobrol Zhiel pergi untuk mengganti bajunya. Pertama kali bertemu, Mami Zhiel kelihatannya menyukai Vechia. Zhiel pun turun,
“Kak, gimana kalau kita makan dulu, Kakak pasti lapar.”
, “Oh iya, maaf ya Nak, Tante jadi lupa. Ayo makan dulu.”,
“Tapi nggak ngerepotin kan Tante?”,
“Nggak lah, masak ngerepotin sih, malah Zhiel yang ngerepotin kamu, ayo makan dulu tadi Tante sudah masak loh...”. Siang itu Vechia sudah dianggap anak oleh Mami Zhiel.
“Momm! Vechia pulang!!!”, seru Vechia saat Mama Vechia sedang mandi. Diapun langsung mandi, ganti pakaian dan langsung belajar. Saat Mammanya menyuruhnya makan dia bilang sudah makan, jadi hanya si Mamma sendirianlah yang makan karena Papanya sedang ada di luar kota. Jam 9 malam Mammanya masih terjaga, Vechia yang saat itu juga masih terjaga manyadari kalau lampu di luar masih menyala. Jadi dia turun dan mendapati Mammanya tengah merenung sendirian. “Mamm?”. Mammanya tersenyum menyadari kehadiran anaknya.
“Vechia? Sini duduk Nak!”. Vechia duduk agak canggung menyadari kalau sesuatu pasti terjadi dengan Mammanya. Mammanya menangis menggenggam tangannya sendiri.
“Kamu sudah besar Nak…”, kata itu meluncur dari bibir sang Mamma.
“Mamm? Ada apa? Apa ada masalah?”,
“Tidak, tidak ada cuma Mamma rindu saat kita berkumpul bersama-sama. Papa, Mamma, Kakakmu, dan juga kamu. Tapi kalian sekarang sudah besar. Jadi kalian sudah punya kesibukan kalian sendiri. Tapi Mamma harap kau bisa menjaga diri Nak.”, si Mama membelai kepala anaknya. Vechia tak dapat menahan air matanya mengalir begitu saja. “Mamm...”, hanya itu yang mampu dia katakan. Memang aneh sekian lama, baru kali inilah Mammanya jadi melankolis seperti ini.