
“Kak, kok lama sekali? Aku sampai lumutan nungguin kakak di sini.”, omel pria gagah di atas motornya. “Dasar bocah edan, kau tahu ini belum waktunya pulang dan aku bebas jam pelajaran terakhir, dan kau bilang lumutan sebenarnya kau itu bolos atau apa sih?”, balas Vechia tak mau kalah. Pria itu tak mau melawan Kakaknya yang cerewet itu jadi tanpa berkata apapun dia segera melaju begitu Vechia naik ke motor. Setibanya di rumah Vechia, Alex sepupunya mengatakan kalau mungkin dia tak bisa menjemput Vechia karena besok dia olah raga pagi-pagi sekali. Vechia mengerti dan menyuruhnya segera pulang. “Aku pulang!”, seru Vechia dari depan gerbang lalu masuk begitu saja ke kamarnya. Dia malas melihat Papa dan Mamanya yang sedang bertengkar di ruang tamu. Mama dan Papanya bertengkar bukan karena mereka kurang harmonis tapi karena mereka saling kangen. Maklum mereka seperti pasangan muda saja kalau tak bertemu sehari saja sudah pusingnya minta ampun. Apalagi pekerjaan Papanya yang menuntut untuk sering keluar daerah. Baru saja Vechia mengganti pakaian terdengar gema suara Mamanya yang menyuruh anak kedua mereka itu untuk makan. Tanpa disuruh Vechiapun akan makan dengan sendirinya karena perutnya memang selalu saja kelaparan.
“Ish, aku malas melihat Papa dan Mama seperti itu.”, kesal Vechia ketika Papa dan Mamanya mulai menunjukan gejala-gejala romantisme mereka. Papanya yang mendengar keluhan Vechia segera angkat bicara, “Vechia, kau jangan membuat kami malu.”, disusul anggukan dari sang Mama. Vechia nyeloteh sendirian, “ Ini nih jeleknya kalau nggak ada Kak Vania, aku mau ke kamar dulu mau ngerjain PR. Awas jangan ganggu.”, Vechia masuk begitu saja ke kamarnya. Membuka buku ini dan itu hampir membuat kepalanya pusing. “Aku tidur dulu ah.”, segera Vechia pun terlelap dalam mimpinya. Satu jam berlalu, Vechia mendengar suara yang aneh di sebelahnya. Perlahan dia membuka kedua mataanya, “Alice?”, pekik Vechia saat melihat sahabatnya sudah tiduran di sampingnya. Alice nyengir tak jelas. “Hai, aku sudah ijin pada orang tuamu lo.”, bela Alice sebelum dia dimarahi Vechia. Mungkin efek dari kelelahan Vechia kembali memejamkan matanya dan membiaran saja apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya ini. Namun Alice tampaknya tak mau sendirian jadi dia sengaja membuat kegaduhan agar Vechia tak tidur lagi. Dan benar saja Vechia jadi tak konsen untuk tidur. Jadilah Vechia marah-marah dan hampir saja mengusir Alice dari kamarnya.
“Jadi gimana?”, Alice menutup buku bahasa inggris Vechia. Vechiamengernyit tak mengerti. “Itu tawaranku? Mau nggak kamu aku kenalkan dengan temannya adikku?”, Alice tampak gemas. Vechia menggeleng dan merebahkan diri di kasur empuknya. “Aku nggak mau memangnya aku begitu nggak lakunya sampai - sampai harus dijodohkan segala. Aku yakin kalau suatu saat nanti aku akan mendapatkan pria yang aku sukai.”. Alice cuma angguk-angguk ada perasaan geli mendengar Vechia bicara seperti itu, biasanya Vechia menasehatinya agar tidak memikirkan pria sebelum sukses. “Iya aku tahu tapi kapan?”, Alice mengetik sesuatu di ponselnya. “Entahlah yang pasti tidak sekarang.”, sahut Vechia enteng.
****
“Zhiel ! Kenapa nilaimu akhir-akhir ini kurang memuaskan? Padahal dulu di SMP kamu selalu mendapat nilai bagus.”, seorang Wanita dewasa memarahi anaknya, sayangnya sang anak cuek saja. Anak yang dipanggil Zhiel pergi begitu saja ke kamarnya meninggalakan Sang ibu yang masih marah-marah. “Dasar anak nakal. Ini ibumu yang sedang menasehatimu, hei Zhiel, Azhiel ! Jangan buat ibu menyesal memberimu nama Azhiel !”, teriak sang ibu lagi. “Baiklah.”, cuma itu yang dia katakan sebelum benar-benar lenyap dari pandangan ibunya. Sesampainya di kamar, Azhiel mengambil ponselnya dan membuka galeri. Membuka foto demi foto yang berhasil didapatnya secara diam-diam. “Kak, kapan ya? Aku bisa ngobrol sama Kakak?”. Dia menutup kembali ponselnya lalu memejamkan mata. Dia membuka matanya lagi dan tiba-tiba saja mengetik sesuatu di ponselnya, “Apa aku kirim saja ya? Tapi aku takut kalau dia tak mau kenal denganku, aduh aku bingung.”, Azhiel menutup ponselnya dan pergi ke luar rumah.
“Eh, benerkan Kak Vechia ada di rumahmu? Awas kalau kau bohong, aku tak akan meminjamkanmu buku lagi.”, ancam Azhiel yang terus mengendalikan motornya. “Hei, kau jangan jahat padaku. Kalau aku tak meminjam bukumu aku tak punya gairah untuk belajar tahu.”, “Itu urusanmu, aku tak peduli yang penting Kak Vechia bisa mengenalku.”
#tobecontinue
#like&vote Please🙏🏻